Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juni 15, 2008

Beny Uleander

Menata Agrowisata Terkonsep

Sudah saatnya, pembangunan industri terutama industri pertanian berada di desa. Bukankah segala sumber daya yang berhubungan dengan industri pertanian berada di desa? Desa, dengan segala aktifitas dan potensi pertaniannya tetap menjadi aset utama pembangunan industri di seluruh wilayah perkotaan. Bila masyarakat desa sejahtera, maka Indonesia juga akan sejahtera.
Untuk mengembangkan industri pertanian di desa, misalnya PT Karya Pak Oles Tokcer menggulirkan lima gagasan pokok. Pertama, Konsep Pengembangan. Konsep pengembangan industri pertanian harus lebih banyak menggunakan bahan baku lokal, yang diproduksi petani setempat. Petani dibina agar mampu memproduksi hasil pertanian sehingga hasilnya bisa ditampung oleh industri dengan harga yang telah disepakati, masing-masing mendapatkan keuntungan nyata untuk saling menghidupi antara petani dan pengusaha industri. Industri pertanian hendaknya terletak tidak jauh dari sentra pengembangan bahan baku demi menekan biaya transportasi, mampu menyerap tenaga kerja di pedesaan.
Industri memberikan pendapatan kepada desa berupa pajak desa dan bantuan insentif yang bertepi pada pembangunan desa. Industri mampu meningkatkan investasi Pemerintah Daerah untuk pembangunan infrastruktur di desa-desa, sekitar lokasi industri. Dengan begitu industri mampu meningkatkan daya beli masyarakat desa karena adanya aktivitas ekonomi dalam bidang jasa dan perdagangan di desa.
Kedua, Teknologi Pengembangan. Industri pertanian dikembangkan berdasarkan teknologi lokal atau nasional (bukan impor), mesin-mesin dirakit dan dimodifikasi secara nasional. Teknologi yang digunakan hendaknya dikembangkan berdasarkan budaya lokal yang dimodifikasi untuk kebutuhan industri modern. Modifikasi teknologi merupakan tugas lembaga penelitian yang dibiayai pemerintah daerah untuk mengembangkan industri pertanian, sehingga efisiensi, kualitas dan kontinyuitas produksi dapat ditingkatkan. Penggunaan teknologi lokal dapat menghasilkan harga jual produk yang dijangkau masyarakat luas, sehingga rakyat terpenuhi kebutuhannya dengan harga yang riil dan industri dapat menghidupi dirinya, karena pangsa pasar mampu membeli dan memberikan keuntungan riil.
Ketiga, Konsep Pemasaran. Pangsa pasar produk industri adalah masyarakat lokal (Indonesia). Potensi penduduk sebanyak 220 juta jiwa merupakan pangsa pasar yang sangat besar dan belum tergarap. Selama ini, justru negara lain yang datang untuk berdagang produk industri pertanian ke Indonesia, karena kita selalu menganggap enteng potensi pasar yang dimiliki. Industri dari hasil pertanian sebagian besar berupa produk makanan dan minuman, yang hasilnya bisa dikonsumsi masyarakat Indonesia, jika produknya didukung kualitas, jaringan pasar dan informasi yang kuat.
Keempat, Konsep Permodalan. Industri pertanian hendaknya didukung permodalan dari bank dalam negeri, yang uangnya bersumber dari dana masyarakat. Uang yang dipinjamkan secara perlahan akan membesar sesuai kemajuan perusahaan. Untuk mengembangkan industri pertanian tidak diperlukan modal yang besar karena faktor produksi seperti bahan baku, sumber daya manusia. Industri juga harus didirikan dari kecil dan perlahan menuju yang besar. Modal yang dimaksud bukan semata-mata uang yang dibutuhkan dari bank, tapi jauh lebih penting adalah modal kreatifitas, ilmu pengetahuan dan modal keberanian untuk menjalankan usaha. Bila semua modal itu cukup kuat dan saling menopang, jelas memberikan nilai tambah secara terus-menerus kepada produk, dan itulah yang menghasilkan penjualan dan keuntungan bagi sebuah perusahaan.
Kelima, Konsep Pemanfaatan Sumber Daya Manusia (SDM). SDM yang digunakan hendaknya direkrut dari SDM lokal (asal Indonesia). Kita bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku yang masing-masing mempunyai keahlian (bakat alami) sesuai adat istiadat setempat. Perlu menempatkan SDM pada tempat yang tepat sesuai keahliannya, dan meningkatkan SDM melalui program pendidikan dan pelatihan secara kontinyu. Gunakan sesedikit mungkin atau tidak sama sekali tenaga-tenaga dari luar negeri karena biayanya sangat besar. Kalaupun ada SDM luar negeri, segera diserap ilmu dan pengalaman mereka untuk diajarkan kepada SDM lokal. Dengan cara ini, SDM lokal miliki nilai keahlian yang lebih untuk bekerja di bidang menejerial menengah ke atas.
Pola pikir industri pertanian bukan berarti harus membangun dalam skala besar, memakai teknologi tinggi dan mahal, alat canggih dan perizinan ketat. Industri pertanian berarti produksi yang kontinyu, harga produk stabil, kualitas terstandar, pemasaran terjamin dan keuntungan jelas. Konsep pembangunan pertanian harus dibalik dari hilir ke hulu, dari industri pasca panen ke produksi budidaya pertanian.
Konsep tersebut akan merubah pola pikir petani dari pemasaran ke produksi. Pasar yang jelas akan memperkuat produksi budidaya. Sebaliknya produksi budidaya tidak menjamin pasar yang baik, dan sebaliknya justru bisa merusak pasar. Membangun industri di desa adalah usaha mendidik dan mengajarkan kepada para petani untuk memberikan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. Salah satu nilai tambah, yakni dengan memperluas cakrawala berpikir petani ke arah industri, baik perorangan (industri rumah tangga), kelompok (koperasi) maupun perusahaan. Secara ilmiah, aktivitas untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian itulah yang lebih dikenal sebagai pengolahan pasca panen, dan dalam bahasa menejemen, menjalankan industri pertanian. (KPO Edisi 154)

Read More

Selasa, Mei 27, 2008

Beny Uleander

Lumbung Padi Dunia

James Simpson, penemu Chloroform, ketika ditanya apakah penemuan terbesarnya? Ia memberikan jawaban yang mengguncang kepongahan manusia. “Penemuan terbesar yang pernah kubuat adalah bahwa aku adalah orang berdosa yang tersesat,” ujarnya mantap. Secuil kisah pengakuan Simpson memberikan gambaran faktual bahwa manusia adalah pribadi-pribadi yang menghidupi tiang-tiang peradaban. Kerapuhan, kebodohan dan kesombonganlah yang membuat manusia jauh tersesat dari rahasia kekayaan alam.

Kemampuan manusia mengekplorasi alam dan tatanan sosial tidak lahir dari kipasan mimpi, tapi dari pencarian nilai-nilai abadi. Tentu saja, rasa rindu imanen tertanam rapi dalam lubuk jiwa. Ya rindu akan perdamaian abadi, kesejahteraan dan kerukunan hidup membuat kita tetap bertahan sebagai satu bangsa dan negara. Meski hidup makin sulit, tapi optimisme bahwa kesejahteraan itu benar-benar ada di muka bumi ini. Kemakmuran bukanlah ideologi “pepesan kosong”.

Dalam ranah kegelisahan melihat situasi sosial politik Indonesia, kita dapat mengambil sketsa tubuh sebagai penjara jiwa versi Plato. Komponen tubuh merujuk pada kebijakan politik artifisial yang mengikat dan mengatur kehidupan rakyat. Sedangkan “ruang jiwa” berisi daya hidup dan daya cita pendirian bangsa ini yaitu: masyarakat adil makmur dan terciptanya perdamaian dunia.

Potret riil konstelasi politik saat ini mengingatkan kita bahwa sejarah tengah berulang. Ya, pemerintah dan elite politik tanpa kita sadari telah menjelma menjadi raja-raja feodal klasik. Rakyat jelata terus diberi beban membayar upeti yang terus meningkat. Tapi apa yang terjadi? Upeti itu bukan untuk meringankan biaya pendidikan, membantu pengobatan gratis atau memperbaiki fasilitas publik! Dana publik bergulir ke mana? Kenapa anak jalanan terus meningkat? Jiwa muda mereka laksana embun yang mongering di pagi hari tanpa merasakan kasih sayang. Kenapa gelandangan dan fakir miskin terlunta-lunta di pinggir jalan? Padahal kita punya departemen sosial? Dan, konstitusi kita –barisan tulisan ayat dan bab- mengatakan bahwa negaralah yang akan menjamin dan memelihara hidup mereka.

Rasa syukur dan bangga kembali terpatri saat kita melihat sederet anak bangsa dengan hati suci membuat berbagai gerakan pemberdayaan bagi kaum papa. Suatu pertanda bahwa di tengah bangsa yang bebal hatinya masih ada orang-orang yang mengaktualisir rindu rasa hati nan abadi.

Selama gairah menumpuk harta menjadi hawa kompetisi di bidang politik, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan, maka semakin jauhlah bangsa ini dari peradaban modern. Di bidang ekonomi terasa sekali berbagai bantuan untuk orang miskin justru jatuh ke tangan orang kaya. Memang wajar bantuan “kembang gula” selalu direbut semut-semut yang rakus untuk ditimbun sebagai persiapan di musim hujan.

Hal yang menggelikan melanda dunia pendidikan kita. Saat musim ujian nasional tiba, siswa-siswa “bebas dari tekanan mental”. Sebaliknya para guru dan orangtua yang cemas dan bingung bagaimana meluluskan anak-anak mereka. Memang lucu kita menyaksikan sekarang sebuah ujian sekolah dikawal polisi. Lebih tragis lagi, ada guru dan kepala sekolah yang digiring ke kantor polisi karena membocorkan soal ujian.

Bangsa ini membutuhkan “sumber air” yang mengaliri sungai peradaban. Dan, sumber air itu adalah kemampuan untuk menerima perbedaan. Itulah sumber kecerdasan sejati yaitu menempatkan keragaman sebagai mosaik peradaban. Selama berbagai perbedaan pendapat, pandangan hidup, budaya dan suku dilihat sebagai ancaman, maka sendi-sendi kebangsaan yang kita bangun selama ini penuh guratan kepalsuan.

Itulah sebabnya kita berharap pemerintahan SBY-JK tidak tumpul hati. Bahwa bantuan tunai langsung kepada orang miskin adalah bantuan yang sia-sia. Kenaikan BBM otomatis harga barang dan jasa turut naik. Toh hidup makin sulit. Janganlah rakyat disiksa terus-menerus dengan upeti-upeti demi kelanggengan kursi kekuasaan. Padahal garong besar dan lintah darat di tubuh Pertamina dibiarkan saja menggelapkan distribusi BBM bersubsidi.

Bantuan Rp 100 ribu per bulan selama ini belum dievaluasi total. Lebih baik dana yang besar itu digunakan untuk membuka lembaga-lembaga kursus yang mengasah ketrampilan putra-putri Indonesia. Kelak di tanah rantau –entah di Malaysia atau Arab Saudi- mereka dihargai sebagai orang-orang yang “berilmu”. Para majikan pun segan untuk menyiksa atau memperkosanya karena ada rasa hormat. Jarang kita dengar ada tenaga kerja asal Filipina yang diperlakukan kurang ajar. Karena mereka rata-rata dikirim sebagai tenaga perawat atau dokter dengan kualifikasi pendidikan yang baik.

Kunci perbaikan DNA manusia Indonesia ada pada akar “peradaban Shindu”. Kita lahir dari satu rumpun, tentu saja kita memiliki konstruksi budaya yang satu dan sama. Inilah sebenarnya “ikatan tersembunyi” yang jarang dieksplorasi demi penyegaran kontrak sosial budaya kita sebagai satu bangsa. Memang dari luar dunia internasional terkagum-kagum. Bangsa yang besar dengan keanekaragaman budaya, suku dan agama selalu kompak mendukung tim kesayangan entah timnas sepak bola maupun tim merah putih Thomas & Uber Cup.

Perbaikan konstruksi budaya adalah agenda besar yang tidak bisa ditawar lagi. Tapi itu adalah syarat utama membuat mimpi kita menjadi kenyataan. Kita bermimpi menjadikan Indonesia sebagai LUMBUNG PANGAN DUNIA! Laut dan daratan kita memiliki potensi tersebut. Kita tinggal perlu kemauan dan kemampuan mengerahkan kerja keras dan kerja cerdas kita di semua lini --iptek, sosial, ekonomi dan politik. Semoga seperti James Simpson, elit politik, garong besar dan lintah darat di negeri ini sadar bahwa mereka telah tersesat. (Beny Uleander/KPOEDISI 152/MEI 2008)

Read More

Rabu, Desember 05, 2007

Beny Uleander

Agribisnis Kerakyatan

One district one commodity. Slogan mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra menjadi inspirasi aktual mengedepankan idealisme agribisnis kerakyatan di Indonesia. Sebab birahi kapitalisme telah menggagahi kekayaan bumi dan alam Indonesia.
Pemerintah pun terlena oleh rangsangan devisa maha besar. Bahkan di era Soeharto, perusahaan-perusahaan manufaktur besar diberi suntikan modal gede dari pinjaman utang luar negeri. Asumsi pemerintah saat itu bahwa perusahaan besar bisa menjadi dewa penyelamat perekonomian nasional. Mereka mampu membuka lapangan pekerjaan dan menyerap angkatan kerja dalam jumlah besar.
Bangunan pola pikir tersebut hancur berantakan disapu “tsunami krisis moneter” yang menerpa Asia tengah dan tenggara. Perusahaan-perusahaan raksasa kelimpungan, banyak yang bangkrut dan akhirnya pilih tutup. Beban utang mereka dijadwal ulang dan lucunya kembali menjadi beban pemerintah. Itulah salah satu kesalahan mendesain struktur pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Lantas rezim penguasa dari era Habibie hingga pemerintahan SBY berputar haluan dengan mengembangkan dan mendukung usaha di sektor agribisnis (pertanian, perkebunan, tambak, peternakan, kehutanan, kelautan). Namun lagi-lagi kembali terjadi kepincangan struktural. Virus-virus warisan Orba belum punah total bahkan berevolusi dan beradaptasi secara serba baru. Pemerintah masih terbuai dengan kehadiran investor bermodal besar. Cengkraman jaringan usaha perusahaan raksasa bertebaran di pelosok Indonesia yang menggarap berbagai sektor agribisnis. Meski usaha mereka menukik langsung pada pemberdayaan potensi alam sebuah daerah, namun sekali lagi kita bertanya, sudahkah rakyat Indonesia merasa diberdayakan secara ekonomi?
Perusahaan besar dalam aktivitas ekspansi usaha tetap mengusung bendera profit-oriented. Karena itu mereka hanya merespon usaha di tempat yang strategis dan tentunya dilengkapi fasilitas infrastruktur yang memadai dari pemerintah. Terbentang kegelisahan bernada minor. Kenapa pertumbuhan ekonomi sangat lambat di daerah luar Jawa terutama Indonesia timur? Padahal setiap daerah memiliki keunggulan sumber daya alam tertentu. Mengapa belum digarap optimal? Tapi lagi-lagi oleh siapa; pemerintah atau investor? Lahir pula kekecewaan kenapa geliat sektor swasta sangat Jakarta-sentris, Jawa-sentris? Buktinya, pabrik-pabrik besar terpusat di daerah Jawa. Wajar bila terjadi migrasi penduduk besar-besaran ke kota besar terutama Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan dan Denpasar. Sudahkah sektor agribisnis dikembalikan ke panggung kerakyatan?
Era abad 21 atau secara lokal di era reformasi ini, kreatifitas dan inovasi anak-anak muda bangsa ini patut diacungi jempol. Meski jumlah mereka sedikit, tapi karya-karya mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Memang masih skala mini di ranah usaha mikro, kecil dan menengah. Mereka merintis usaha dengan modal dengkul, tentu tanpa pinjaman lunak dari perbankan. Apa yang dapat kita petik dari kesuksesan mereka?
Pertama, mereka mengusung sebuah idealisme yang rasional dan membumi: bisa mandiri dan membantu sesama. Kedua, mereka menentukan bidang usaha yang akan digarap dengan mengandalkan atau mengolah bahan baku yang tersedia di daerah. Ketiga, mereka fokus menggarap pasar lokal, memasarkan dari rumah ke rumah lalu membuka stan dan outlet. Tak lama kemudian usaha mereka merambah luar negeri. Keempat, mereka terus belajar berinovasi tiada henti dalam soal produksi, packing, motif dan membaca selera pasar. Itulah jurus-jurus sukses kaum muda yang terjun di bidang agribisnis dan agroindustri. Mereka berada di daerah-daerah dan jauh dari perhatian pemerintah.
Dari kiprah perjuangan mereka kita dapat belajar bahwa pola-pola pembangunan mercusuar di negeri harus dikoreksi kembali. Seindah apapun upaya pemerintah tetaplah bahwa roda pertumbuhan ekonomi ada di tangan sektor swasta, yakni kumpulan rakyat yang memiliki jiwa wirausaha. Hal terpenting yang mendesak untuk menata agribisnis kerakyatan adalah perbaikan paradigma: membangun desa, membangun bangsa.
Bagaimana caranya? Ya, saatnya anak-anak muda di negeri ini dicegah keluar desa, diberi pendidikan (muatan lokal sekolah) dengan fokus menguasai komoditi andalan yang ada di daerah. Pabrik dibangun di desa dan industri eksis di desa. Bukan pabrik masuk desa yang cuma menebalkan kantong investor. Sementara penduduk desa menjadi buruh dengan upah minimum. Desa jadi ladang produksi, tapi penduduknya merasa terasing dengan produk yang dihasilkan. Inilah proses alienasi ekonomi yang meninabobokan intelektualitas dan kecerdasan finansial penduduk kecil; kaum buruh; kelas pekerja. Kemandirian ekonomi hanya dicapai dengan kebebasan berusaha memanfaatkan potensi alam dan segala usaha warisan leluhur yang bernilai ekonomis. Tugas pemerintah tinggal menjadi pelayan administrasi publik yang baik dan bebas pungli. Kenapa Cina sukses? Kenapa Jepang sukses? Karena pemerintah benar-benar mendukung usaha rakyatnya. Tapi di Indonesia ada kesan pemerintah sebatas jadi debt collector yang hanya menagih pajak, iuran dan berbagai beban tagihan tanpa mau peduli usaha tersebut berkembang atau tidak. (Beny Uleander/KPO EDISI 140)
Read More
Beny Uleander

Manajemen Pertanian Tambal Sulam

Berita kelaparan, busung lapar, rakyat makan nasi aking atau umbian hutan dan impor beras adalah sebuah ironi yang kini dianggap hal lumrah di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Barisan syair, lantunan pantun dan gema lagu daerah seluruh Nusantara warisan lelulur dihiasi dengan latar belakang alam, kehidupan riang di kebun , sukacita panen di sawah, kekompakan kerja bersama merintis ladang baru. Kita adalah keturunan leluhur agraris. Kita adalah bangsa agraris. Namun mengapa kita seperti induk ayam yang mati mengeram di atas tumpukan jerami.
Manajemen pertanian Indonesia berada di titik simpang-siur. Nasib petani yang terus terpuruk dalam pergantian rezim demi rezim menjadi 'petunjuk' bahwa kita belum memiliki blue print mengelola pertanian Indonesia dari sektor hulu dan hilir. Kekacauan manajemen pertanian setali tiga uang dengan sistem pendidikan nasional yang compang-camping. Pertanyaannya, apakah generasi muda yang kini didaulat sebagai pengambil kebijakan publik memiliki kualitas SDM yang keropos? Tentu saja tidak sebab kita memiliki menteri, dirjen atau staf ahli kementerian dengan titel akademis yang meyakinkan. Bahkan, sebagian besar menimba ilmu di universitas ternama di Eropa dan Amerika.
Letak kekeroposan pertanian Indonesia ada pada aspek kerumitan birokratis dalam mengimplementasikan berbagai terobosan pengembangan sektor pertanian. Berbagai terobosan itu dikemas dalam nama 'proyek-proyek pertanian'. Spirit proyek adalah batas waktu pengerjaan jangka pendek dan ditutup dengan evaluasi. Sedangkan aspek investasi visi pembangunan pertanian berkelanjutan itulah yang menjadi titik pincang kemajukan dunia pertanian Indonesia. Akibat lebih tragis, lantas dunia pertanian dilihat generasi muda sekarang sebagai bidang pekerjaan yang kotor dan tidak menjanjikan masa depan yang cemerlang. Padahal ada banyak peluang bisnis dalam mengelola sektor ini.
Gegap gempita revolusi hijau era 1960-an yang timbul di negara-negara 'Barat' sukses mengantar Indonesia mencapai swasembada pangan era Presiden Soeharto tahun 1980-an. Salah satu pilar revolusi hijau itu adalah peningkatan produktivitas lahan pertanian dengan menggunakan pupuk kimia dan pestisida kimiawi. Upaya peningkatan produksi pangan yang salah, dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan kimia dan pestisida lainnya, memberikan dampak kimia negatif, yang berlanjut pada pertaruhan nilai kesehatan manusia akibat residu kimia yang ditinggalkan. Dampak negatif yang serius terhadap lingkungan menyebabkan penurunan kualitas produksi akibat kerusakan unsur hara tanah yang diikat oleh residu kimia dalam tanah.
Ketika negara-negara 'Barat' sudah sadar akan kekeliruan menggunakan pupuk dan pestisida kimiawi (back to nature), pertanian Indonesia tetap mengandalkan pemakaian pupuk kimia yang memberi sumbangan besar marjinalisasi lahan-lahan kritis dan tandus. Indonesia seperti orang yang tergagap-gagap mengaplikasikan spirit back to nature dalam merevitalisasi pertanian Indonesia. Padahal, jauh ke belakang, nenek moyang kita amat lihai, cerdas dan arif mengembangkan pertanian organik. Bahkan khususnya di Indonesia, pertanian modern yang serba sintetis seperti sekarang ini, adalah sesuatu yang baru kita kenal beberapa puluh tahun terakhir ini saja. Selama beribu tahun (setidaknya seperti yang terlukis di dinding Borobudur), petani kita selalu menerapkan sistim pertanian organik Penggunaan pupuk dari kotoran hewan atau sisa-sisa panenan, adalah hal yang selalu digunakan sebagai penyubur tanah oleh kakek nenek kita.
Sementara permintaan pasar global akan produk pertanian organik terus meningkat tajam. Hal ini ditandai dengan perguliran trend mengomsumsi fast food menjadi slow food. Sementara sektor swasta di Indonesia 'lebih tanggap' mengantasipasi dampak serius di atas dan cekatan merespon ancaman pasar global akan kebutuhan produk organik. Sehingga cepat atau lambat, pemerintah Indonesia, entah di era SBY atau penggantinya, harus membuat blue print pertanian organik dan pertanian berkelanjutan dengan visi perbaikan kualitas lahan, kualitas produk organik, reformasi sektor agribisnis dan menata mata rantai industri dengan penciptaan pasar skala lokal, nasional dan global. Dengan visi yang berkesinambungan ini, kebijakan implementasi hendaknya tidak lago 'dikerangkeng' dalam proyek-proyek jangka pendek yang hilang bersama waktu.
Itulah solusi tepat yang harus kita kerjakan sekarang ini. Paradigma pertanian kita harus kita ubah secara radikal. Pertanian organik yang ramah lingkungan berbasis penggunaan pupuk dan pestisida alamiah menjadi pilihan bijak menyelamatkan lahan pertanian kita yang kritis. Memang mungkin akan timbul pertanyaan mengenai efisiensi. Karena untuk kembali ke pupuk kandang, pupuk hijau atau kompos, petani kita kita akan mengeluhkan ongkos produksi yang tinggi dan keterbatasan bahan baku. Tapi perlu diingat, Koran Pak Oles edisi ini memprofilkan berbagai kiprah kalangan LSM dan praktisi pertanian yang sukses mengembangkan 'percontohan' kebun organik di daerah mereka. Kemajuan teknologi seperti inilah yang harusnya kita serap dan sosialisasikan kepada masyarakat pertanian kita. Sekaligus juga mengubah nuansa berpikir kebanyakan orang, bahwa pertanian organik adalah pertanian berbiaya mahal yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang Jepang, Eropa dan Amerika saja.Tidak ada salahnya kita meniru pola pertanian yang "low cost economy". Dan ini harus menjadi trend menata dunia pertanian Indonesia agar aroma kemiskinan yang membalut nasib petani bisa menjadi kenangan masa lalu. (Beny Uleander/KPO EDISI 124)
Read More
Beny Uleander

Suksesi Sistem

Pasar massal mulai ditinggalkan penduduk metropolis. Itulah salah satu mega trends yang dieksplorasi Patricia Aburdene dalam Megatrends 2010 (2006). Ada kecenderungan warga dunia mulai mengonsumsi dan membeli barang berdasarkan urutan nilai yang dianutnya. Fanatisme dan militansi atas sebuah barang dan jasa tidak bisa dikerangkeng dalam desakan iklan bertubi-tubi sekalipun. Peta pasar telah berubah. Sikap militansi terhadap nilai yang dihidupi menjadi 'arus isap' dalam menentukan gaya hidup dan pola belanja harian. Contohnya, penganut vegetarian pasti menyandarkan hidup mereka pada makanan organik. Di sini, ada sebuah ceruk pasar sekaligus peluang untuk melakukan penetrasi barang dan produk yang sesuai dengan 'pilihan hidup' konsumen.
Sebuah produk barang dan jasa akan langgeng sejauh korporasinya secara lihai mengedepankan tatanan nilai yang bisa ditawarkan kepada publik. Perang pasar bukan lagi pertarungan ketat kualitas dan kuantitas produk tetapi daya penetrasi perusahaan mempopulerkan nilai-nilai baru. Salah satu nilai yang kini dipertaruhkan ialah sosialisasi pertanian organik dan kesehatan bertumpu pada ramuan tradisional berbasis teknologi effective microorganism (EM) yang murah, mudah dan ramah lingkungan.
Ketika berkutat dengan fenomena 'pencerahan' di abad pertengahan, JJ Rousseau berteriak lantang, "Berilah kami fakta, fakta! Kami sendirian yang akan memberikan penilaian tentangnya." Memang benar ketika berbagai teori pembangunan melimpah ruah di lautan wacana, setiap individu pasti kian terdesak oleh suatu kegusaran eksistensial. Serumit dan sejenius apapun sebuah ide pembangunan, ia harus bermuara pada pemberdayaan masyarakat dan berujung pada jejaring kesejahteraan.
Manusia abad ini setidaknya telah memiliki suatu kebijaksanaan bahwa alam adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Alam tidak seenak lagi dieksploitasi dan disakiti. Berbagai tragedi bencana alam dan prahara belakangan ini terjadi karena pola dan arah pembangunan mengabaikan keseimbangan alam. Inilah suatu tatanan nilai yang perlu dihayati dan ditularkan dari satu manusia kepada lainnya.
Banjir, tanah longsor dan bencana alam lainnya di Indonesia memang dipicu oleh kesalahan dan keserakahan manusia yang merusak keseimbangan ekosistem. Satu lagi, keserakahan yang tidak mendapat 'pencerahan' dari media massa, kritikus dan praktisi pertanian yaitu kultur pertanian di berbagai daerah yang berbasis produk kimiawi . Krisis pangan yang berujung pada kebijakan pemerintah melakukan impor beras sebenarnya sudah bisa diprediksi ketika harga pupuk kimia melonjak naik. Betapa tinggi ketergantungan petani kita kepada pupuk kimia. Padahal pakar pertanian tidak membantah bahwa penggunaan pupuk kimiawi akan merusak unsur hara, tanah jadi kurus dan tidak menciptakan revitalisasi tanah pertanian. Hal ini memang luput dari lalu-lintas wacana karena memang pola pertanian organik belum menjadi tatanan nilai yang dianut masyarakat agraris dan di-back-up penuh pemerintah.
Pertanian Indonesia mencatat prestasi sensasional tahun 1984 yaitu swasembada pangan. Ternyata torehan prestasi ini dalam kurun waktu 23 tahun (1984-2007) melorot menjadi bangsa pengimpor beras. Ini berarti ada suatu kesalahan sistem pertanian yang perlu dibenahi. Salah satunya adalah ketergantungan lahan akan pupuk kimiawi menjadi pemicu berkurangnya kesuburan tanah, matinya mikroorganisme positif yang mendukung kesuburan tanah dan tanaman.
Saatnya, pemerintah mengibarkan bendera putih atau dengan kata lain menyambut antusias berbagai teknologi pertanian yang ramah lingkungan menjadi master plan suksesi sistem pertanian baru. Bagaimana sampah yang organik yang menumpuk di berbagai TPA diolah menjadi pupuk kompos. Pemerintah bisa menggandeng pihak swasta yang sukses membangun bisnis pupuk kompos dari tumpukan sampah. Bukan hanya di bidang pertanian, masih banyak lagi catatan penemuan spektakuler anak bangsa tetapi tidak 'diadopsi' oleh pemerintah. Pemerintah bisa belajar bagaimana membuat pembangkit listrik mikrohidro untuk daerah terpencil, membuat mobil marmut listrik lipi (marlip), metode belajar fisika yang diterapkan Prof. Yohanes, dan masih banyak lainnya.
Suksesi sistem pertanian mendesak dilakukan agar bangsa ini bisa menjadi bangsa yang mandiri. Apalagi kita masih memiliki lahan pertanian potensial yang belum tergarap serius. Langkah perubahan itu lahir dari suatu konsensus yang terus berkembang bahwa bahwa suatu kekuatan majerial baru dan dahsyat diam-diam menjalar menembus ribuan perusahaan, mengubah mereka --dan juga kita-- untuk menjadi lebih baik
Sekarang ini adalah saat yang tepat bagi para manajer grassroot; para pemimpin spiritual, para manajer menengah; karyawan rendahan; para agen perubahan; pelaku; praktisi; co-conspirator bahwah-atas yang lihai; para pemimpin tim; para eksekutif wanita; para pengusaha; para konsultan; para aktivis dan pelatih eksekutif untuk melangkah keluar dari balik bayangan dan merangkul misi yang tidak begitu rahasia suatu panggilan 'mistik' untuk turut serta mengembangkan lingkungan hidup yang lebih familiar, mengupaya pembangunan yang memihak kepada keseimbangan lahir dan batin serta meretas pemberdayaan komunitas masyarakat yang peduli dengan kelestarian lingkungan dan alam sekitar. Dengan agenda dan tawaran visi yang berbeda ini, kita berharap perubahan menuju Indonesia baru ada di tangan masyarakat. Semoga. (Beny Uleander/KPO EDISI 123)
Read More

Rabu, Juli 21, 2004

Beny Uleander

Membangun Negara Harus Mulai Dari Desa

Mengapa lokasi Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) harus di sebuah desa yang terpencil dan jauh dari keramaian? Justru keanehan letak lokasi dan suasana desa itu menjadi daya pikat utama bagi Dr IR GN Wididana, M.Agr untuk memulai semboyan “Membangun Desa Membangun Bangsa”. Bengkel adalah kampung halamannya. Di atas tanah pekarangannya, pria yang populer dengan sapaan Pak Oles ini mendirikan sebuah gubuk sederhana.
Maklum, saat itu Pak Oles baru merintis usahanya dari nol. Ketiadaan modal merupakan salah satu kesulitan awal yang dihadapinya. Namun akhirnya berkat kerja keras dan fokus, Pak Oles berani membabat ratusan pohon cengkeh untuk ditanami aneka bunga berkhasiat obat. Di atas lahan tersebut, juga dibangun gedung penelitian IPSA berlantai dua dan 10 buah rumah inap berbentuk rumah panggung khas Bali (Glebek).
Sore hari sambil duduk di atas rumah panggung, Anda akan menikmati suasana alam pedesaan dengan hamparan sawah diselingi ratusan pohon kelapa yang ditanam warga Banjar Teben, Bengkel, Asem, Kalibondan, Bukit Telu, Betelan, Atuh, Uma Basa dan Banjar Salya. Hidung Anda juga dengan leluasa menghirup wewangian aroma dari 315 jenis tanaman bunga berkhasiat obat.
Aktivitas IPSA meliputi penyuluhan dan pelatihan kepada petani, mahasiswa, pemuda/i tentang pertanian akrab lingkungan dengan teknologi EM. Penelitian dan pengembangan sistem pertanian berkelanjutan yang hemat energi dan akrab lingkungan serta membina kerja sama antara lembaga pemerintahan dan swasta di bidang pertanian organik berbasis EM.
Pelatihan pertanian terpadu dengan teknologi EM, menurut Kepala Operasional IPSA, Asep Agus, dilakukan 3-4 hari pada minggu ke-4 setiap bulan. Materinya berupa penerapan teknologi EM dalam bidang pertanian, perikanan, peternakan, pengolahan limbah, budi daya jamur merang dan jamur tiram. Untuk praktek diberikan latihan pembuatan bokashi pupuk tanaman, bokashi pakan ternak, pembuatan EM5, pestisida alami, media dan bibit jamur. Pupuk Bokashi Kotaku kini menjadi pupuk andalan masyarakat Desa Bengkel, Banyuatis, Pelapuan, Kekeran, Umajero dan Busungbiu.
IPSA sebagai tempat magang penerapan pertanian organik berbasis teknologi EM, juga merupakan tempat penelitian dan pengembangan Teknologi EM ke segala bidang termasuk bidang kesehatan. Penelitian dalam bidang kesehatan atau pengobatan lebih ditekankan pada pengembangan obat-obat tradisional yang banyak sekali terdapat di bumi nusantara.
Pemicu ketertarikan Pak Oles di dunia kesehatan, ketika krisis ekonomi tahun 1997 harga obat-obatan melonjak tajam. Maklum bahan bakunya serba diimpor dari luar negeri. Ia tertarik untuk mempelajari aneka bahan pengobatan tradisional Bali yang tertulis dalam Usadha dan kumpulan lontar. Lewat teknologi EM, ia berhasil menemukan cara mengekstrak minyak rempah dari tanaman obat yang disebut Minyak Oles Bokashi. Dari sinilah, Sinshe Widi dihormati dengan panggilan populer Pak Oles.
Dalam perjalanan waktu, Pak Oles mendirikan pabrik untuk mengolah rempah-rempahan bunga yang dijadikan bahan baku pembuatan Minyak Oles Bokashi dan kini sudah menjadi maskot utama produk Ramuan Pak Oles. Akan tetapi, usaha ini tidak dapat berkembang karena adanya keterbatasan waktu simpan produk, aspek kebersihan dan dokumentasi.
Guna lebih fokus pada pengembangan dan produksi obat tradisional, tahun 1998 didirikan Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) Bokashi. Kini karyawan IKOT berjumlah 20 orang dan 4 satpam. Konsentrasi IKOT pada produksi sedangkan pemasaran ditunjuk PT Brahmashiro Wididana (BSW) yang didirikan tahun 1994. Dengan kian meluasnya lingkup kerja, maka perusahaan ini disatukan dalam group PT Karya Pak Oles Tokcer (Holding Company), yang dalam perkembangannya dibagi menjadi divisi (bidang kerja). (Beny Uleander/KPO EDISI 63/MINGGU I AGUSTUS 2004)
Read More