Gadgets

Rabu, Desember 27, 2017

Beny Uleander

Aktivitas Ikada Bali

Tim Ikada Bali
Read More
Beny Uleander

Ketemu Dim Syamsudin

Ada banyak point yang kami diskusikan
Read More

Kamis, Juli 12, 2012

Beny Uleander

Pesona Raga: Akrobat Seni Dan Kekejaman Nasib


Kejenuhan menyambangi hari-hariku. Tak ada rasa stres. Tiada keinginan mengubur agenda kerja. Tubuh latahku hanya ingin diam terpekur di sini. Menatap parade raga manusia di Pulau Dewata. Ada pentas keindahan, tergambar derap adu nyali, dan di Pantai Kuta, kita melihat dunia yang lain. Ya …sekelompok manusia yang memanjakan raga mereka.
Sedangkan di pojok kota, nasib tak beruntung melilit pak tua. Hidup dari belaskasihan warga kota. Tangannya terbuka menengadah dengan sejumput doa memohon rejeki. Entah bagaimana ia memandang hidupnya, saya tidak tahu. Yang pasti…jantungnya terus berdetak merasakan denyut nurani yang tak pernah mati dilindas roda jaman.
Saya hanya ingin menatap raga manusia dalam keindahan dan kerapuhannya. Semuanya kutemui di sela-sela gerak aktivitas. Untuk sesaat kuingin menyajikan di blog ini. Cuma ingin menatap parade akrobatik tubuh manusia dengan gegap gempita aktivitas.
Aku bukan mengusir kejenuhan di sini…Apalagi ingin menertawakan keretakan hidup yang terkapling dalam keindahan atau eksploitasi, kekayaan atau kemalangan….
Tapi aku ingin mengatakan….Tuhan kehidupan itu indah dan tragis….


Indah…..karena kehadiranmu mengindahkan waktuku

Tragis ….karena pesona kecantikan tak bisa mengusir kejenuhan.

Hanya dentang kesepian ditingkahi hasrat syukur yang mendorong setiap insan untuk terus berbagi kebahagiaan.
Sementara luka dan duka tak bisa dijadi kado bagi sesama, kecuali menjadi arsip yang tersamai rapi di pahatan jiwa yang tabah.

Kita terus menatap matahari bukan melihat terang kehidupan.
Kita memandang rembulan bukan untuk menumbuhkan sayap agar kita terbang menggapai angkasa.

Ada keajaiban yang diwartakan dari bola mata….
Pernahkah kita melihat buluh mata….????
Ya Dia Yang Agung begitu dekat dengan kita melebihi buluh mata kita. DIA memeluk hangat dan memangku kita dalam bara kerinduan ilahi yang tak pernah terbalaskan oleh laku tapa dan jasa amal.

Semua karya hanyalah guratan tangan di pasir pantai
Akan sirna ditelan waktu…yang tertinggal hanyalah pesan keabadian.
Manusia akan terus tersesat saat raga dilepaspisahkan dari jiwa….
Entah sampai kapan.... raga kita kembali memeluk jiwa yang nelangsa...
Read More
Beny Uleander

Laskar Mandiri

Ketagihan dipicu rasa nikmat. 
Dua goresan hitam menyilang tebal pada wajah peradaban negeri ini. Dua guratan duka mengawali kematian sebuah negeri. Pertama, mega skandal korupsi massal legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kedua, rentetan eksekusi mati para terpidana mati yang melakukan aksi kriminal karena motif ekonomi.
Dari kedua pahatan peristiwa historis itu, bergulir topik debat publik nan hangat. Bagaimana kalau para koruptor digiring ke tiang pancung -hukuman mati. Alasannya, uang negara yang dicuri selama ini menjadi biang keladi kemiskinan yang menggurita dan membelit rakyat negeri yang kaya sumber daya alam ini. Sedangkan para pelaku kriminal yang ditembak mati hanya menghilangkan nyawa segelintir orang. Sementara kerakusan para koruptor membuat jutaan rakyat hidup terlunta-lunta di medan kemiskinan.
Montesquieu dengan cemerlang menggagas trias politika sebagai pilar-pilar penyangga eksistensi rakyat dan negara. Sebuah cetusan ide yang progresif dalam tataran sistem. Tapi apakah pernah terlintas dalam benak Montesquieu pada tahun 1748 bahwa tiga pilar demokrasi itu pada moment tertentu akan “berselingkuh ria” menghancurkan negara. Ya fakta telanjang “perselingkuhan” terpampang setiap hari di layar kaca dan kertas koran di negeri ini. DPR telah menjadi mafia korupsi uang negara. Kejaksaan diobok-obok karena sudah dari dulu tidak dipercaya kredibilitasnya. Setali tiga uang, aparat birokrat, termasuk mantan pejabat banyak yang dicokok KPK karena ada dugaan mark up tender dan proyek pembangunan.
“Permainan kotor” tiga tiang penyimbang kekuasaan itu menyebabkan angka golput terus meningkat secara signifikan dalam beberapa event pilkada gubernur maupun bupati yang dilakukan secara langsung di berbagai daerah. Meski begitu, negeri ini belum mati. Itu karena masih ada laskar-laskar mandiri yang tidak mau mencicipi sensasi kenikmatan hidup dengan uang haram. Mereka bukan pengikut setia Epikuros (342-271 SM) yang menganjurkan agar orang menjauhkan diri dari kesibukan ber-polis karena kegiatan itu berisiko tinggi terhadap ketenangan jiwa. Mereka juga bukan pengusung idealisme Kantian dan Fichte yang tidak mau menaklukkan diri kepada benda-benda berharga yang ada di alam ini. Siapa mereka?
Para laskar mandiri tidak lain adalah pribadi-pribadi yang tidak mau menjadi budak harta. Tujuan hidup tertinggi bukan pada kepuasan hidup bertabur emas dan dollar. Kalkulasi kenikmatan tertinggi ada pada kebebasan dan kreasi untuk menghasilkan karya berharga lewat sketsa pekerjaan. Kehidupan adalah ruang berbagi cinta, perlindungan, penghargaan, ketulusan dan gairah untuk menciptakan surga damai di dunia. Kru legislatif boleh serakah! Tim Yudikatif silahkan menebar jurus-jurus pemerasan! Grup eksekutif bebas menilep uang proyek! Tapi selama kebeningan nurani belum punah dari bumi pertiwi, detak jantung Republik ini akan terus berdenyut.
Kebahagiaan sejati ditakdirkan menjadi milik pribadi-pribadi yang bukan “tukang-tukang” kekuasaan. Juga kedamaian bersemayam dalam batin yang puas menikmati kehidupan dengan hasil karya. Mereka tidak membunuh karena kemiskinan dan mereka tidak merampok uang negara karena tahu letak sesungguhnya sumber-sumber kenikmatan batin. Karya agung hanya lahir dari jiwa yang setia menatap keluhuran kemanusiaan. Kemalangan selalu menghampiri pribadi yang bersandar pada kekuatan sihir kuasa dan uang. 
Read More

Jumat, Januari 16, 2009

Beny Uleander

Dewa Aristokrat Mati

Dunia memasuki malam gelap! Hitam dan gulita. Akhir tahun 2008 telah dikenang sebagai tahun kematian dewa kapitalis. Perusahaan-perusahaan raksasa sekelas Google yang menjadi simbol harta karun investasi masa kini kelimpungan. Sergey Brin dan Larry Page yang piawai mengasah naluri bisnis di ladang maya telah mem-PHK 100 karyawan di awal tahun 2009.
Jauh sebelumnya, perusahaan-perusahaan tua hingga medioker berlomba-lomba merumahkan karyawan. Semburat duka, kesedihan, dan kekalahan terpantul di setiap wajah penyembah dewa pencitraan kaum aristokrat Eropa itu. Pengusaha-pengusaha super kaya sekaliber Roman Abramovich menderita “virus migraine”. Was-was memikirkan pertumbuhan ekonomi yang melambat, lonjakan bunga bank dan beban utang yang bertambah.
Kematian dewa kapitalis di abad 21 ini diiringi suara tangisan yang membahana dari manusia-manusia lintas benua. Dukacita massal terjadi karena kemajuan ilmu dan teknologi membuat penghuni bumi akrab dalam mobilitas maupun interaksi. Dan, kematian itu menimpa dewa yang dikejar-kejar berkatnya oleh miliaran manusia.
Mistikus Spanyol Juan de la Cruz (24 Juni 1542 – 14 Desember 1591) dari desa kecil Fontiveros, menulis dengan rasa eksotik pengalaman malam gelap jiwa. Moment spiritual yang menghampiri setiap manusia yang merasakan Allah dekat namun jauh. Sangat jauh tapi amat dekat! Perasaan tersiksa di sekujur tulang jiwa menyadari Allah “seakan” telah mati. Harapannya sirna. Tonggak-tonggak keyakinannya roboh. Ia tak berdaya. Semua keindahan spiritual yang dikejar seperti menjadi fantasi kosong di siang bolong. Pengorbanan waktu, terutama hasrat batin sia-sia belaka. Itukah kado indah bagi mereka yang mengarahkan energi rohani untuk menyatu dalam sembah dan doa kepada Yang Kuasa?
De la Cruz dan para mistikus mewariskan satu kata hiburan untuk setiap manusia yang mengalami “malam gelap-pahit getir-duka nestapa” kehidupan: CINTA! Semua boleh hilang dalam kehidupan ini. Harta ludes tak masalah. Emas dan uang lenyap bukan persoalan berat. Sahabat, anak dan kekasih silahkan berlalu. Tapi gerak batin untuk terus mencintai tak boleh pudar.
Cinta adalah suara nurani yang terus berdetak lintas generasi. Ia tak pisah dipadamkan apalagi ditumpas oleh rudal rezim. Cinta adalah suara kebenaran yang bergema dalam relung sukma. Ia terus hidup meski berbagai peradaban tumbang dan tumbuh. Cinta adalah kendaraan terakhir sekaligus harta jiwa.
Ideologi kapitalis awalnya mengagungkan cinta sebagai “√©lan vital”; daya hidup untuk berkreasi. Manusia berlomba-lomba dengan gairah pengabdian kepada ilmu pengetahuan untuk mengungkap rahasia-rahasia alam. Dogma “cinta” inilah yang dijadikan senjata negara-negara kapitalis untuk memberangus komunisme dalam segala alirannya.
Sayang, kapitalisme pongah karena “cinta” hanya menjadi mesin raksasa penyedot kenikmatan badani. Kompetisi didewakan. Daya saing menjadi kredo iman kaum kapitalis. Wabah kerakusan adalah tipikal manusia yang sudah terjangkiti virus kapitalis. Kekuasaan dikejar dan dipertahankan dengan seribu satu cara. Tentunya menghalalkan segala jalan. Tak heran, penduduk-penduduk lemah hanya jadi penonton “ketidakadilan” hidup di alam yang satu, sama dan seudara.
Kita bersyukur dewa kapitalis telah terjungkal dari singgasananya. Meski kita harus melewati “malam gelap-krisis ekonomi” mahadashyat di tahun 2009, namun biarkan suara-suara cinta terdengar merdu dalam batin. Alam dalam segala kelimpahannya akan tetap memberi kecukupan untuk manusia, tapi tidak cukup untuk keserakahan! Dan, kekuatan alam pun akan melindungi cinta sejati yang tumbuh dalam jiwa yang berani berkorban dan memberi dengan tulus.

Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009
Read More

Rabu, Desember 31, 2008

Beny Uleander

Menapaki 365 Hari Di Tahun Baru

Inspirasi selalu bernyanyi; karena inspirasi tidak pernah menjelaskan! (Paul Amalo).
Waktu dalam ruang imajinasi adalah gudang yang setia menampung barisan ide. Serba luas, tanpa kapasitas dan setiap orang bebas menghapusnya hanya dengan lupa.
Di sana juga kita dimanjakan untuk menyimpan bayang-bayang kelepasan hidup. Impian kesuksesan dipahat dengan semangat kerdil yang tertatih-tatih. Setiap kita bebas menabur mimpi-mimpi “terkotor” hingga “tersuci” di alam khayal. Mungkin tentang sekeping keenakan hidup tanpa ternoda keringat susah payah. Atau harapan yang membara meraba-raba kerinduan hati yang tak pernah terpenuhi di ruang kesadaran.
Waktu dalam bilik imajinasi selalu penuh dengan ekspresi instant diri ideal. Itulah sisi lain “waktu” sebagai “bintik-bintik sejarah” yang menguap tanpa menjelma jadi fakta. Kekecewaan mencengkram pribadi-pribadi yang menganggap barisan impian tak lebih dari dongeng.
Ketidakmengertian misteri waktu menyeruak hadir saat kita coba mengartikan waktu sebagai perjalanan hidup. Waktu adalah kesadaran! Hidup menjadi berarti ketika manusia sadar “orgasme spiritual” adalah penemuan indah jati diri manusia. Gairah mengumbar hawa nafsu badani hanyalah mengotori waktu hidup yang amat pendek. Bahkan merusak waktu hidup yang indah. Sayang semua orang perlu waktu untuk menyadari hidup adalah berbagi hati, empati dan kasih.
Spirit memaknai waktu inilah yang kerap hilang saat warga dunia merayakan pergantian tahun. Waktu dengan amat rendah disanding dengan keinginan manusiawi. Padahal hasrat insani dimatangkan dalam parade waktu. Semoga kita tidak terbuai dalam kemeriahan pesta tahun baru tanpa meluangkan waktu merefleksikan tujuan hidup hakiki.
Manusia lahir dan bertumbuh dalam waktu. Kitapun jatuh cinta dan merasakan kehangatan pelukan penuh kasih sayang tidak setiap waktu! Sewaktu-waktu kegelisahan dan rintihan batin dalam pagutan kepahitan hidup akrab menghampiri manusia.
Makna waktu hanya ditemukan mereka yang membiarkan inspirasi selalu bernyanyi, karena inspirasi tidak pernah menjelaskan. Kita menyanyikan syair Indonesia yang makmur. Umat Allah menapak tangga kuil dengan perut terisi. Saudara kita sujud bersyukur dengan badan bugar. Dan, teman terdekat duduk bersila dengan wajah tenang karena isteri anaknya hidup sejahtera.
Mari kita gunakan waktu hidup yang terus bergulir untuk membuat hidup jadi makin bermakna. Karya jadi amal dan doa jalan penuntun hidup kita. Selamat menempuh hidup baru di tahun BARU!
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
Read More
Beny Uleander

Belby Enterprise Mendidik Model Profesional

Oleh: Beny Uleander
Industri hiburan menjadi ladang usaha yang digarap serius Pipiet Fitria, wanita berdarah Bandung yang lahir dan besar di Surabaya.
Setelah lama bekerja di beberapa event organizer, akhirnya sejak tahun 2002, ia pun mantap mendirikan EO sendiri dengan nama Belby Enterprise.
Fokus garapan di bidang modelling, sexy dancer, cheerleaders, aerobic, management artis, party organizer dan costum. Agency Belby Enterprise sejak tahun 2004 membuka sekolah kepribadian yang mendidik calon model profesional “Saya awalnya ikut dengan teman-teman dalam sebuah event, tapi saya selalu melihat ada hal yang selalu kurang. Karena itulah saya tertantang untuk membuat sendiri event organizer lengkap dengan bagian produksinya. Model kami sering tampil dalam berbagai event expo produk di Bali Galeria,” ujarnya.
Pipiet, sapannya, mengawali karir dancer di Bandung dan Surabaya. Ia menguasai beberapa jenis tarian, termasuk tarian perut yang kini diajarkan kepada para remaja dan model yang bergabung di Agency Belby Enterprise. “Mereka diajarkan tari kontemporer, dancer, modern dance, hiphop, belly dances (tarian perut), R&B, cabaret dan cheerleaders,” sebut Pipiet.
Saat ini Agency Belby Enterprise memiliki modeling yunior 180-an orang (TK-SMP) dan senior mencapai 60-an orang yang berasal dari kalangan remaja dan mahasiswa.
Sekolah kepribadian seminggu penuh pada sore hari untuk yunior dan senior. Mereka diajarkan materi kepribadian dan tatarias. Pada hari Rabu dan Sabtu khusus mendalami kepribadian. Hari Senin dan Jumat khusus tata rias dan modeling. Sedangkan latihan diisi pada hari Selasa dan Kamis yang didampingi 6 instruktur, 3 orang fokus di bidang modeling dan sisanya mendampingi para model di bidang dances.
Selama setahun pendidikan, ada kegiatan wisuda yang bertepatan dengan hari jadi Belby Enterprise tanggal 1 Mei. Saat itu, lulusan Belby Enterprise menerima sertifikat dan piala penghargaan untuk siswa yang berprestasi. Belby Enterprise sudah melahirkan 200-an angkatan siswa modeling. Sekali wisuda bisa mencapai 100-an orang. “Model dan dancer kami sering tampil regular setiap minggu di tempat hiburan Kuta dan Nusa Dua,” ujar Pipiet.
Menurut Pipiet, tidak ada kriteria khusus untuk anak-anak TK, SD maupun SMP yang ingin bergabung dengan Agency Belby Enterprise. Karena sekolah kepribadian di Belby Enterprise khusus menanamkan rasa percaya diri anak-anak untuk tampli di depan umum. “Ada pendidikan mental untuk anak yang minder dan kurang bergaul agar bisa bersosialisasi, pede berjalan di panggung, tahu cara bergaya dan berpose di depan kamera,” urainya.
Bagi calon model senior ada persyaratan tinggi badan: 165-172 cm untuk perempuan dan untuk pria berkisar 170-an cm. Para model dituntut bisa menamplikan kecantikan secara total, luar dalam, bukan cantik secara formalitas. “Misalnya, wajah yang eksotik dan bisa mengekspresikan jati diri dengan jadi model. Tentu saja mereka harus menunjukan prestasi dan kemampuan. Jadi bakat harus nomor satu di bidang catwalk, inner beauty, cara busana, tata rambut dan sebagainya,” tukas Pipiet yang membuka studio di Komplek Pertokoan Kertha Wijaya Jl Diponegoro No. 124 Denpasar dan Jl Tangkupan Perahu, Kuta.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
Read More