Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 04, 2008

Beny Uleander

Biofuel: Antroposentris Vs Ekosentris

Penggunaan energi terbarukan yang berasal dari bahan bakar nabati (biofuel) sangat terlambat dikembangkan di Indonesia. Biofuel adalah hasil pemanfaatan energi biomassa yang dikonversi menjadi bahan bakar. Biofuel bisa diproduksi dari kelapa sawit, tebu, jagung, singkong, tanaman jarak dan beberapa tanaman lainnya. Biofuel terbagi dalam tiga jenis: bioethanol, biodiesel, dan biogas.
Negara-negara maju dan berkembang lainnya sudah memproduksi energi biofuel seperti Amerika, Brasil, Swedia, Jerman, Australia, Cina, dan Ghana untuk menunjang aktivitas ekonominya. Brazil telah menggantikan bahan bakar untuk transportasi dengan ethanol dari bahan dasar tebu. Sedangkan Amerika memproduksi ethanol dengan menggunakan bahan baku jagung.
Indonesia memang selalu tertinggal dalam mengembangkan dan mengadopsi sebuah teknologi baru terutama di bidang pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam. Anehnya, sejak program pengembangan biofuel baru ditetapkan tahun 2006, gemanya kini melemah dan terkesan menghilang. Ada apa? Padahal para peneliti menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk pengembangan energi biofuel yang menyerap tenaga kerja dan menunjang perekonomian nasional. Selain itu masih terdapat ribuan hektar lahan tidur yang bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Terkait glamoritas wacana bioenergi, ada beberapa catatan kritis yang perlu dipertimbangkan matang oleh pemerintah dan sektor swasta yang ingin berinvestasi mengembangkan energi terbarukan dari minyak nabati. Perlu dikaji titik-titik matra antroposentris vs ekosentris pengembangan biofuel agar kebijakan yang berjalan kelak tidak tambal sulam. Pemilihan energi alternatif bertolak dari kesadaran ekologis atau lahir dari rasa cemas (manusia) akan keberlangsungan roda ekonomi.
Pertama, kita perlu memperhitungkan aspek ketersediaan bahan baku biofuel. Sebab akan terjadi tarik-menarik prioritas pemenuhan pasokan bahan baku seperti jagung, kedelai dan CPO/kelapa sawit untuk kepentingan pangan atau industri biofuel. Saat ini harga kedelai meningkat karena kedelai impor asal Brasil sebagian digunakan untuk menghasilkan bioethanol. Demikian juga harga minyak goreng akan terus naik karena sawit juga menjadi bahan baku industri biofuel.
Kedua, kebutuhan energi biofuel sangat besar karena digunakan setiap hari. Tentu saja kapasitas produksinya berskala besar dengan suplai bahan mentah yang sangat banyak. Itu berarti dibutuhkan areal penanaman bahan baku yang sangat luas. Padahal masa panen jarak, misalnya, hanya dua kali dalam setahun. Bila hal ini tidak diperhitungkan, maka akan terjadi penebangan hutan dan alihfungsi lahan pertanian untuk tanaman industri biofuel. Bukankah akan terjadi krisis pangan dan kehancuran ekologi bila hal ini tidak dikelola dengan bijak? Biofuel hanya membantu kita dalam hal pengadaan bahan bakar alternatif, tapi tetap tidak bisa memberikan solusi perbaikan kualitas lingkungan secara signifikan.
Ketiga, ada terobosan teranyar biofuel generasi kedua. Uniknya, bahan baku berasal dari limbah cair, residu, serta tanaman nonpangan. Tentu saja pemanfaatan limbah cair “perkotaan” ini sesuai dengan kondisi riil Indonesia. Selain itu tidak mengganggu tanaman tebu, jagung, kedelai, minyak sawit, ataupun bahan baku yang membutuhkan area lahan seperti biji jarak pagar. Teknologi generasi kedua biofuel ini memadukan teori biologi, kimia, maupun fisika mengolah limbah cair dari aktivitas rumah tangga, industri, perdagangan, pertanian, maupun fasilitas umum seperti rumah sakit menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan.
Bahkan gas metana yang berasal dari sampah bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen sebagai bahan bakar bio-fuel cell. Gas metana begitu melimpah di sekitar kita mengingat cara pembuangan sampah banyak memakai sistem open dumping. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tidak perlu lagi mengimpor gas metana untuk keperluan produksi bahan bakar hidrogen seperti yang dilakukan selama ini.
Kita perlu bertanya apakah anjuran pemerintah bagi rakyat untuk menanam jarak hanya untuk memenuhi permintaan industri biofuel Eropa? Hal ini beralasan mengingat parlemen Eropa tengah menggodok UU yang akan membebaskan pajak masuk bagi bahan baku nabati. Sebaliknya, bahan baku minyak bumi akan dikenai pajak 70 persen.
Pada konferensi dunia Biomassa untuk Energi dan Perubahan Cuaca II di Roma, tahun 2003, Volkswagen-Exxon Mobile menyebutkan bahwa berdasarkan jenis bahan bakar dan otomotif yang akan mendominasi pasar, dunia akan dihadapkan pada empat generasi bahan bakar transportasi. Generasi Pertama, merupakan generasi bahan bakar minyak (BBM) berbasis petroleum (minyak bumi) yang diperkirakan akan mendominasi pasar hingga tahun 2010. Generasi Kedua, merupakan generasi BBM mix atau campuran antara BBM terbarukan dan BBM petroleum yang saat ini telah cukup banyak digunakan, dan diperkirakan akan bertahan hingga tahun 2050. Masa ini ditandai dengan komersialisasi biodiesel dan bioethanol.
Generasi Ketiga, merupakan generasi BBM terbarukan (advance synthetic fuel), seperti flash pyrolisis oil (bio oil), Fischer Tropsch (FT) methanol, dan hydro thermal upgrading oil (HTU). Teknologi pembuatannya lebih sulit dan memakan biaya produksi yang tinggi. Produk ini diperkirakan baru akan ekonomis pada kisaran tahun 2050-2100. Generasi Keempat, merupakan generasi hidrogen. Pada tahun 2010, setelah minyak bumi benar-benar habis, hidrogen diprediksikan akan menjadi andalan, mengingat bahan ini memiliki nilai kalori yang tertinggi (143 MJ/kg) di antara sumber energi lainnya. Nilai kalori satu liter hidrogen setara dengan empat kali nilai kalori lima liter bensin atau empat liter diesel (solar). Semoga pemerintah Indonesia bijak membuat deregulasi yang mendorong tercapainya komersialisasi biofuel tanpa merusak hutan dan lingkungan sekitar. (Beny Uleander/KPO EDISI 145/FEBRUARI 2008)
Keterangan foto: Budidaya tanaman jarah sudah mulai dikembangkan di Nusa Penida, Klungkung, Bali. Di pulau berstatus kecamatan tersebut juga telah dibangun pembangkit listrik tenaga bayu dan surya.
Akankah penghuni bumi ini dengan aneka gaya hidup dalam glamour otomotif bersedia memanfaatkan kendaraan untuk menunjang aktivitas? Tidak gampang, dunia otomotif telah menjelma menjadi ruang rekreasi dan sketsa pencitraan gaya hidup.
Read More

Senin, Desember 31, 2007

Beny Uleander

Sayonara Mobil Mewah!

Alur seni terpatri sebagai jalur gelinding produktivitas keindahan yang mengalir dari kehalusan jiwa. Kedalaman kontemplasi memberi bobot pada pemaknaan karya seni yang diprodusir manusia. Demikian pula arsitektur otomotif menulis kisahnya sendiri. Semula denyut otomotif adalah dorongan keinginan anak manusia untuk menggampangkan hidup. Putaran lamban roda dokar yang mengandalkan tenaga kuda menimbulkan rasa geram ilmiah. Lantas mulailah diletakkan dasar-dasar pengembangan industri otomotif.
Definisi eksplorasi otomotif beranak-pinak pada ragam desain power mesin. Adu kecepatan, ketangkasan dan ketangguhan performa mesin. Itulah babak awal mengupas tekstur otomotif yang bertumbuh cepat, liar dan kadang sedikit galak. Pada dimensi ini, manusia belum berpikir soal batasan dan rajutan moral yang perlu dibangun dalam memaknai tumbuh kembang produk otomotif. Apakah manusia sebagai raja yang menentukan batas-batas pertumbuhan kendaraan roda dua dan empat? Ataukah laju kreativitas desain rangka dan interior sudah menjadi milik mesin waktu? Manusia hanyalah robot berakal budi yang selalu menggelar pesta syukuran dengan kelahiran-kelahiran kendaraan dari pabrikan Eropa dan Asia. Itu babak awal masa kecil “dunia otomotif”. Lalu apa yang terjadi pada babak selanjutnya?
Perlahan tapi sistematis, daya pacu mesin mulai dibarengi dengan mutu desain. Sinergi seni dan ilmu sukses merangsang hasrat kita untuk tak pernah puas membeli “label-label otomotif’’ geberan baru. Branding mode dan nama melekat erat dengan status sosial maupun cetusan gaya hidup. Seorang jutawan identik dengan kemewahan BMW. Tidaklah pantas dan humor gila bila konglomerat plesiran dengan mobil pick up L-300. Seting satir inilah yang cerdas digunakan para pebisnis yunior. Saat melakukan deal bisnis mereka menyewa sedan mewah dari rental untuk bertemu dengan partner bisnisnya. Apalagi yang dipertaruhkan kalau bukan prestise dan ingin mendongkrak gengsi bukan pebisnis melarat! Itulah ruang eksistensi otomotif di era akil balik.
Dan, fitur-fitur simbolis inilah yang memancing pelaku advertising melontarkan deretan kata-kata indah, menantang dan menggoda konsumen untuk mencoba sebuah produk otomotif terbaru. Memang pilihan adalah selera yang terbangun oleh desakan rayuan bahasa iklan yang datang bertubi-tubi. Jangan kaget bila konsumen kerap kaget lalu kecewa usai menikmati tunggangan mesin mereka. Ada kendaraan yang melaju bagaikan angin tornado, namun dengan “nakal” menguras kantong tuannya untuk selalu singgah di tempat pengisian bahan bakar. Selera tidak ada yang gratis.
Rupanya perguliran jaman tidak selalu memihak keindahan desain, termasuk kemewahan mobil yang dipuja BMW, Mercedes hingga Ford. Itulah realitas fantastik yang tumbuh secara terpaksa oleh situasi dan kondisi. Ketika harga BBM dunia merangkak naik, konsumen memalingkan wajah dengan ekstrim dari mobil mewah. Pilihan publik mulai merujuk pada kendaraan generasi terbaru yang hemat pemakaian bahan bakar.
Tahun 2007 menjadi catatan merah untuk pasar mobil bekas di Denpasar dan kota lainnya di Indonesia. Daya beli konsumen tergolong sangat lesu. Sementara konsumen sudah melambaikan salam perpisahan kepada cuap-cuap bombastis bahasa iklan di televisi, radio dan koran. Mereka dengan cermat memilih kendaraan yang lebih efisien, suku cadang (spare part) yang murah dan hemat konsumsi bensin maupun solar.
Inilah tamparan situasi yang menohok kemewahan mobil Eropa. Selera pasar lebih memilih produk keluaran Jepang ketimbang Eropa seperti BMW, Mercy, VW dan Jaguar. Kalau di era akil balik, konsumen lebih takjub dengan tampilan bodi dan daya pacu tanpa melihat susahnya mencari spare part serta tingkat keiritan BBM. Belakangan justru terbalik. Mobil dengan tawaran mewah malah dipandang sebelah mata.
Otomatis produsen otomotif dipacu mencetak sketsa dan kanvas mesin ekologis. Pada akhirnya, arsitektur industri otomotif harus dibingkai dalam kesadaran moral ekologis. Hal ini dengan elegan diungkap pemenang Nobel Perdamaian 2007 Al Gore. Sekarang saatnya penghuni bumi dengan rasa senang dan bangga merayakan kesempatan untuk menata hidup yang berpihak pada kelestarian lingkungan, penurunan emisi karbon dan pemanfaatan energi alternatif.
Dan, sesungguhnya alam adalah bentangan kemurahan karunia kehidupan dalam segala kelimpahan. Tinggal manusia kembali mengasah ilmunya untuk mencari energi alternatif yang tersedia di alam. Juga para produsen otomotif mulai merumuskan kerangka tumbuh kembang industri otomotif yang berpihak pada masa depan anak cucu. Kita menanti kehalusan jiwa mereka yang ditakdirkan berbakat mengembangkan industri otomotif. Saatnya ilmu dan seni kembali dipadukan untuk penyelamatan planet bumi yang kian keropos ini. Memang kita tidak berkawan dengan matahari dan bukan sahabat bulan. Ide dan daya ciptalah yang membuat matahari ramah menyinari 365 hari, di tahun 2008. (Beny Uleander/Sketsa Otomotif MONTORKU EDISI 59/DESEMBER 2007)



Read More

Sabtu, Desember 22, 2007

Beny Uleander

Wanita Dan Tubuh Motor

Refleksi Pemotretan Model MONTORKU & KORAN PAK OLES
Besi tak bernyawa dirangkai dengan sensasi visoner jadi kuda besi. Ditempeli dapur pacu mengeluarkan deru bertalu-talu. Lingkaran roda ban bergulir menjejak jengkal aspal. Melaju dalam kecepatan dan bunyi berderit di setiap tikungan. Ada akselerasi, ketepatan dan kemahiran membawa kuda besi tanpa pelana.
Di sebuah purnama dalam segala rangkuman keromantisan, bayang-bayang kecantikan alam menyembul dari cahaya lembut dewi malam. Sebuah moment terekam apik, perempuan memeluk manja motor besar tanpa desahan binal. Meski selangkang kerap terbuka menunggang Harley Davidson. Tubuh molek bestari rebahan pasrah di samping Ducati Spotser. Mata mereka memandang penuh intensitas dalam waktu dan tempat yang menyatu. Sebuah siluet menakjubkan sekaligus memikat hasrat.
Perempuan memelas penuh asa membelai tangki motor besar. Tanpa gejolak jiwa untuk mencengkram. Tangan mereka lembut terulur mengukir. Wajah mereka seperti bulan tidur di hati. Perempuan berpose indah di samping moge meniadakan hati kelam dan kedinginan seorang anak Hawa. Senyum mengembang membuat hati berdesir.
Ada kabut misterius menyingkap tirai keindahan dan kedalaman hati perempuan jika ia sendirian diterpa angin tanpa sentuhan visioner. Keindahan wanita tidak sebatas imajinasi. Demikian pula keunikan desain motor besar tanpa visualisasi adalah keindahan hampa yang menyakitkan. Itulah sebabnya para builder tak pernah kapok berkreasi. Ada sentuhan seni di alam teknologi. Lahirlah keindahan futuristik yang menjanjikan sensasi baru untuk memacu adrenalin.
Itulah pentas terselubung kolaborasi keindahan wanita dan keindahan mendesain kuda besi. Keindahan adalah bongkahan impian jiwa yang dirajut rapi, terus dituang dalam konsep perubahan. Sepeda motor generasi terbaru terus diciptakan tanpa koma dan titik.
Kita melihat karya surga dari mata seorang hawa. Dentingan kelembutan dan belaian kasih sayang seorang ibu adalah harta pertumbuhan jiwa. Di telaga kasih bunda, kita temukan samudera kasih Pencipta. Di ranah otomotif, kita pun diajak untuk melihat karya seni nan monumental dibangun builder dan modifikator dari rahim idealisme. Keindahan tubuh perempuan yang memeluk manja kuda besi adalah ekspresi dahsyat tentang keindahan yang tidak pernah punah di alam imajinasi dan visualisasi.
Tabloid MONTORKU dan KORAN PAK OLES rutin menggelar pemotretan model di Handlebar Jakresto & Grill, Sunset Road, Kuta sejak tahun 2004. Wajah cantik dan eksotik model didikan Point Management, C&C Angency Modelling, dan Profile Art Entertainment terus menghiasi Rubrik Modif MONTORKU dan Rubrik Eksklusif Life KORAN PAK OLES. Ekspresi dan gaya mereka lahir dari eksplorasi seni lewat sentuhan modis. Tidak ada figur binal dan liar dalam pose mereka. Tinggal mata pembaca yang dituntun merekam jejek keindahan terberi. Tetapi pikiran dan hasrat liar bin binal mengekspresikan keindahan dangkal yang masih tersemai rapi di jiwa yang kerdil.
Konon, kaum Adam akan kembali dalam satu purnama untuk menikmati keindahan wanita bukan dari tubuh yang molek tetapi dari dentingan lembut kasih sayang kaum hawa. Motor besar dan wanita cantik, ibarat cahaya lembut bulan yang menerangi malam hari. Malam pun jadi indah dan romantis.
Keterangan foto: Lokasi pemotretan model Montorku dan Koran Pak Oles selalu digelar di Jak Resto Handle Bar & Grill, Jl Sunset Road 135, Kuta, tempat mangkal dan markas Motor Besar Club (MBC) Bali, pimpinan Agung Jaka.
Catatan: untuk memenuhi permintaan Ayu dkk untuk dipublikasikan dalam blog sejak pemotretan edisi 2004, nanti akan direalisasikan oleh Kadek Fajar & fotografer Putu Wirnata.
Read More

Senin, Maret 20, 2006

Beny Uleander

Fanatisme Penggemar Harley Davidson


PENDULUM: Jogya Bike Rendesvous (JBR) 2006 yang berlangsung di Hall Jogya Expo Centre (JEC), selama tiga hari, 17-19 Maret 2006 lalu merupakan moment otomotif yang perlu dipublikasikan. Fenomena fanatisme penggemar harleymania dan mogemania mendapat catatan penting. Klub-klub bikers ‘didikan’ negeri Paman Sam, Amerika penuh dengan noda hitam perseteruan antara gengster. Bikers Indonesia ‘didikan’ pensiunan militer dan polri tampil lebih modis dan santun sebagai duta pariwisata, kolektor sejati motor lawas, dan mengembangkan kesadaran humanis maupun ekologis lewat serangkaian turing dan kegiatan sosial kemanusiaan. 

Kisah Kawan Setia & Isteri Kedua
OLEH: BENNY ULENDER

Kesan kemewahan dan glamoritas memang lengket erat menyertai eksistensi Harley Davidson (HD). Motor besar dengan kapasitas silinder rata-rata 100 cu.in (1000 cc ke atas) ciptaan William Harley dan Arthur Davidson di Milwaukee, Winsconsin, AS pada tahun 1903 bukan sekedar kuda besi yang dirancang untuk melahap tanjakan Milwaukee. Jika sepeda motor Jepang berorientasi pada manfaat fungsional (functional benefit), HD lebih mengunggulkan manfaat emosional dan ekpresi diri (emotional and self expressive benefit). Itulah karakter sosial yang dihidupi kaum Harleymania dan mogemania (sebutan untuk penggemar fanatik HD dan motor gede). HD pun menjelma menjadi kawan setia maupun isteri kedua yang paling dimanjakan para biker. 
Rata-rata pemilik HD (bikers) adalah kelompok sosial dengan tingkat pendapatan menengah ke atas. Bikers yang meramaikan JBR 2006 dari kalangan komisaris, direktur, mantan pejabat militer, kalangan profesional, eksekutif muda, banker, pengusaha kelas atas, public figur, seperti selebritis bahkan tokoh eksekutif puncak seperti gubernur, bupati atau walikota. Mereka mengaku benar-benar dapat menikmati asyiknya bermotor setelah berada di atas sadel Harley. 
Menilik segala sisi kehidupan bikers dan deskripsi transparan kehidupan mereka bukan hanya kesan eksklusif juga jati diri yang sangar, rambut kadang dibiarkan panjang atau dicukur botak, badan tegap, berotot dihiasi tato di lengan kiri dan kanan. Di tingkat internasional, perintis fanatisme HD dipelopori bekas pilot skuadron tempur PD I, pedagang obat bius hingga pribadi yang bangga disemat predikat antihukum. Ingat nama Hell's Angels Motorcycle Club terbentuk di San Bernandino, California, AS tahun 1948. Ada literatur yang menyebutkan bahwa cikal bakal kelompok ini adalah klub Pissed Off Bastards yang ada di Fontana, California.
Hell's Angels terkenal ke seantero jagat (ada 100 chapter di seluruh dunia dan sepertiganya di Amerika Serikat). Namun sekaligus sangat misterius. Baru Ralph ''Sonny'' Barger, lewat buku berjudul Hell's Angel, yang bisa menceritakan sepak terjang mereka. Yang membuat bulu kuduk merinding, 'Hell's Angels adalah sekumpulan laki-laki yang bersedia mati untuk teman-temannya apa pun taruhannya. Mereka menjadi dalang berbagai kerusuhan di stadion olahraga maupun saat konser musik Rolling Stones, November 1969. Merekalah yang menjadi pionir modifikasi Harley-Davidson menjadi motor-motor seram.
Ada Outlaws yaitu kaum bikers yang mengusung moto: God Forgives, Outlaws Don’t. Artinya, Tuhan mau memaafkan, tetapi mereka tidak. Itulah bikers antihukum di Florida dan Carolina Utara, AS, pada tahun 1974-1984 membunuh 80 orang dengan motif yang tidak jelas. The Pagan adalah kelompok bikers yang mengklaim diri sebagai penganut setan pada tahun 1950-an. Pemimpinnya dijuluki ‘Satan’. Mereka menjadi bikers yang ditakuti dan hidup nomaden di New York alias memiliki markas yang berpindah-pindah. Tahun 1970, putra Satan yaitu Vernom ‘Satan’ Marron ‘naik tahta’. Marron sangat agresif yang membangun kesetiaan di antara anggota dengan menebar rasa takut. Anggota yang berkhianat dibenamkan hingga tewas di dalam drum oli. 
Di Houston, Amerika pada Maret 1966, diproklamasikan kelompok bikers Bandidos dipimpin Donald Eugene Chambers yang berambisi melumat hegemoni Hells Angels, Outlaws dan Pagans. Simbol perlawanan dilambangkan dalam karikatur kobi Meksiko gendut memegang golok dan pistol sebagai sindiran bahwa anggotanya tidak boleh lamban. Memasuki tahun 1970, Bandidos dalam waktu singkat berkembang merajalela di Amerika meliputi Texas sampai Lousiana dengan markas besar di Corpus Chisti, ujung Selatan Amerika. Unik, tahun 1978, Bandidos bekerja sama dengan Outlaws. Tujuannya jelas untuk memperkokoh jaringan perdagangan obat bius, senjata, prostitusi hingga diskotek. 
Jauh sebelumnya, tahun 1938, sudah ada even balap motor dan lomba ketangkasan bermotor, dengan peserta 19 pembalap di track sepanjang ½ mil di Sturgis, sebuah kota di Selatan Dakota, AS. JC ‘Pappy’ Hoel menjadi perintis Sturgis Bike Week (SBW), yang Agustus nanti genap 68 tahun. Atraksi adu jangkrik motor dengan mobil dihelat dengan hadiah US $ 500. Dari tahun ke tahun, peserta dan pengunjung pun bertambah. Even Sturgis yang kembali dihelat seusai perang dunia II, pada tahun 1965, tercatat 1000-an biker, meningkat jadi 10 ribu biker di tahun 1980-an, lalu bertengger di angka 633 ribu di ulang tahun ke-60. Fakta itu, dicatat sebagai pesta rally terbesar yang pernah digelar di bawah kolong langit ini. Berada di Sturgis ibarat Anda sudah sedang berada di surganya dunia motor. (MONTORKU, Edisi XIX). 
Patut diakui klub moge dan harleymania yang tumbuh dan berkembang di Amerika erat dengan kehidupan liar para gangster. Meski begitu HD menjadi ikon sukses produk Amerika yang dicintai beragam penduduk dunia. Bagaimana pertumbuhan club HD di Indonesia? Menurut perkiraan, di seluruh Indonesia kini ada sekitar 10.000 unit motor Harley-Davidson dari berbagai tipe. Penjualan HD di Indonesia sampai tahun 2003 saja bisa menembus angka 1.000 unit atau rata-rata 200 unit per tahun. HD diimpor dalam bentuk CKD (Complete Knock Down) dari AS melalui Singapura. Harganya akan lebih mahal bila dipesan dalam bentuk CBU (Complete Build Up) karena terkena pajak barang mewah sebesar 75%. Tipe terbaru yang ada di negeri ini diperkirakan hanya 500 unit, selebihnya motor Harley tua dan hasil modifikasi bercorak stock custom, custom, full custom, , chopper, extrem chopper, hard core, psycodelic, rat bike atau resto classic.
Harga HD baru maupun klasik, menurut ‘pemburu’ HD asal Belanda yang berdomisili di Bogor, Mr Thijs Roosjen Sweek (49), relatif sama di atas Rp 150-an juta. 
Menurut Sweek, jenis HD favorit Sportster Sport, Touring, VRSCA V-ROD, Dyna Glide, Fat Boy dan Heritage Springer Softail yang digemari para mantan pejabat militer. Berat motor bervariasi dari 230 kg sampai 377 kg. Sportster Sport yang ramping dengan sadel tunggal cocok bagi pemula atau ladies bikers. Harganya pun tergolong paling murah yakni Rp 157 juta dengan kapasitas mesin 883 cc. Model Touring FLHTC Electra Glide Classic ideal bagi kendaraan keluarga dengan kapasitas mesin 1450 cc dihargai Rp 340-an juta. Untuk model VRSCA V-ROD dengan kapasitas mesin 1130 cc mencapai Rp 367 juta. 

Dirintis Pensiunan Militer
Pada periode PD II (1940-1945), armada militer AS dan sekutunya di daratan Asia termasuk Indonesia menggunakan HD sebagai kendaraan operasi. Pada periode perang revolusi, Pemerintah Indonesia pun ikut-ikutan memborong HD untuk memperkuat sarana operasi militer dan kepolisian. Usai perang, banyak veteran perang,pensiunan militer dan polisi yang kepincut performa motor itu, dan ingin mengembalikan romantisme. Pada tahun 1958 bermunculan penggemar Harley-Davidson ex Perang Dunia II, yang kepemilikannya melalui Dum AD,AU dan Kepolisian. Saat itu pada umumnya pemilik H-D adalah pensiunan ABRI dan sedikit masyarakat sipil. Dari kalangan pensiunan militer inilah mulai bertumbuh klub-klub moge di Indonesia
Sebelum terbentuk HOG (Harley Owners Group) Jakarta Chapter pada 29/9/1998 oleh HD Motor Company Internasional, sudah ada klub-klub penggemar fanatik HD. Ikatan Harley Cirebon ( IHC ) didirikan pada 20 Mei 1958. Harley Club Bandung ( HCB ) didirikan 1960, Harley Club Djakarta ( HCD ) dibentuk 1963, lalu menyusul Harley Club Tasikmalaya ( HCT ), Harley Davison Club Bogor (HDCB), Harley Club Sukabumi ( HCS ) dan terus menyebar.
Seluruh pengda/klub se-Indonesia dalam pertemuan di Jakarta 23 – 27 Mei 1990 sepakat meleburkan diri dengan nama Harley Davidson Club Indonesia (HDCI). Ketua pertama Kol.Pol. Suherman dan Sekjen Indro Warkop. Lalu ada biker Hell Driver yang berbau sport dengan nama Ikatan Sport Harley-Davidson (ISHD) pada tahun 1968. Pada akhir April 2003, ISHD membuat atraksi heboh saat ultah MACI Lampung, yakni membawa 21 penumpang di atas HD WLA tua sehingga tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).
Klub menjadi tempat para bikers berbagai pengetahuan maupun informasi soal perawatan, ajang temu kangen, saat refreshing, dan saling memperat tali persaudaraan lewat turing bersama, kegiatan bakti sosial. Jadi jangan berprasangka bikers tanah air itu serem, tidak berprikemanusiaan atau kehidupannya ‘penuh kabut hitam’. (Beny Uleander/KPO EDISI 103 APRIL 2006)

Read More
Beny Uleander

Tri Mutiara Karakter Biker Indonesia

(Catatan liputan Jogya Bike Rendesvous (JBR) 2006 yang berlangsung di Hall Jogya Expo Centre (JEC), selama tiga hari, 17-19 Maret 2006 lalu)

Pengda Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Jogjakarta akan tercatat dalam tinta emas sebagai perintis perhelatan pesta akbar motor gede di Indonesia. Jogja Bike Rendezvous (JBR) 2006 meninggalkan pesan ‘perdamaian’ dan persahabatan ke seantero persada Nusantara. Deklarasi JBR 2006 yang ditandatangani Walikota Jogjakarta Herry Zudianto dan disepakati semua pengurus motor besar se Indonesia yang hadir saat JBR 2006 menjadi tri-mutiara karakter bikers Indonesia. Deklarasi JBR 2006 Minggu (19/3) dibacakan biker HDCI Jakarta, Indro Warkop. Disebutkan, biker menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan etika dalam berkendara. Biker mematuhi peraturan dan undang-undang lalu lintas. Terakhir, komitmen biker memupuk kesadaran lingkungan sosial dan lingkungan ekologis.
Itulah karakter penggemar fanatik HD asal Indonesia yang ingin dibangun untuk memupus kesan angker klub-klub HD di luar negeri terutama Amerika yang didominasi para gangster. Gubernur DIY Sultan HB X sendiri memberi angin segar bagi eksistensi hajatan para bikers di Kota Jogja. HDCI Pengda Yogyakarta sebagai penyelenggara telah dipercaya Sultan Hamengku Buwono X sebagai Honorary Ambassador of Jogya Never Ending Asia di bidang pariwisata.
Ajang JBR 2006 ladang pameran dan sayembara produk-produk HD hasil modifikasi putra Indonesia. Tak pelak, bila stand customizer diserbu para pengunjung seperti Biker Station, Dodi Chrome, Kickass Choppers dan Retro Classic Cycles, selaku tuan rumah. Veroland, dedengkot Kickass Chopper menyebutkan dengan adanya JBR masyarakat awam bisa mengetahui sebuah motor custom yang bagus. Apresiasi pengunjung terhadap motor bisa dilihat dari pilihan berfoto dengan motor yang ada. Customizer alias builder pun bisa tertemu dengan calon pelanggan. Sesekali tampak komandan customizer menjelaskan perihal motor garapan kepada pengunjung.
Sementara Penasihat HDCI Pengda Jogja, Drs Benny Koeswanto, menilai JBR 2006 merupakan event yang digagas dengan dana di atas Rp 1 miliar. “Memang Pengda HDCI Jogja termasuk berani menjadikan JBR sebagai event tahunan. Tidak mudah buat event motor besar seperti ini. Saya sendiri bertugas untuk mendatangkan Indro Warkop agar event ini lebih semarak,’’ tutur pengusaha kulit asal Jogja yang terkenal sebagai ‘penggila’ HD klasik sejak remaja.
Dalam tiga hari, rata-rata tiap bikers menurut perkiraan Ketua Pelaksana JBR 2006 sekaligus pimpinan EO Jaran Production Yan Parhas, membelanjakan uang Rp 5 juta. Sementara bikers yang datang sekitar 1.500 orang. Uang yang mengalir ke masyarakat secara langsung sekitar Rp 7,5 miliar rupiah. Sebuah angka pendapatan dan devisa yang fantastis. Para bikers berdatangan dari berbagai penjuru tanah air dan luar negeri.
Peluang devisa ini benar-benar dilirik Badan Pariwisata DIY yang ingin mendongkrak devisa Kota Budaya dan Pendidikan tersebut. "Kalau dari segi pariwisata, hasil Jogja Bike Rendezvous 2006 ini konkret sekali, yaitu tingkat hunian hotel dan penginapan yang fully booked," kata Doddy Biwado (38), Ketua Pelaksana JBR 2006. Acara turing pun dikemas bernuansa promosi obyek-obyek pariwisata di DI Jogjakarta seperti Riding Through Merapi Vulcano untuk memperingati 1.000 tahun letusan Gunung Merapi.
Memang JBR yang digarap serius dan bertahap menurut pengamat HD Indonesia Mr Thijs Roosjen Sweek (49) asal Belanda, akan berkembang menjadi Sturgis kecil di Asia Tenggara. “Memang tidak dapat disamakan dengan Sturgis sebagai tempat berkumpulnya para bikers tetapi akan berkembang tahap demi tahap,’’ ujar salah satu pengurus HDCI Bogor.
KPO/EDISI 103 APRIL 2006
Read More
Beny Uleander

T-Shirt Clubmania

(Catatan liputan Jogya Bike Rendesvous (JBR) 2006 yang berlangsung di Hall Jogya Expo Centre (JEC), selama tiga hari, 17-19 Maret 2006 lalu)

Siapapun yang ingin menjadi pengusaha dan pedagang sukses harus cerdik membaca ‘arah ingin’ atau celah usaha dan kebutuhan konsumen. Di mana ada semut di situ ada gula. Di mana ada peluang, di situ ada usaha. Itulah kiat bisnis di masa krisis yang menginspirasi para pedagang aksesoris dan merchandise klub otomotif seperti Harley Davidson (HD) dan motor tua memanfaatkan fanatisme konsumennya.
Celah usaha ini amat jeli dimanfaatkan Ir Ahmad Saiful Adhi yang mengibarkan bendera usaha Zip yang memproduksi T-Shirt dan aksesoris clubmania otomotif. Sebelumnya, adik kandungnya Radif Fitrata Salim sudah berkecimpung merintis usaha sablon pakaian kaos atau T-Shirt di rumah mereka Perum Sidoarum II, Jl A32, Godean, Yogyakarta. “Waktu itu, adik saya masih bermain dengan kaos underground, style, sports dan custom,’’ tutur pria kelahiran Nganjuk, 2 Juli 1968 yang pernah menjadi konsultan survey dan pemetaan lokasi minyak di Pertamina.
Setelah berhenti sebagai konsultan teknik, tahun 2004, Saiful tertarik mendukung usaha adiknya dengan menerobos pasar merchandise clubmania. Pertama kali, mereka memasarkan baju kaos bergambar sepeda motor antik dan lambang-lambangnya dalam ulang tahun ke-5 Ikatan Klub Otomotif Surakarta (IKOSA), 26 September 2005. Ternyata baju kaos benar-benar laris. Bahkan ada yang order 300 kaos. Dari situ, Saiful membagi tugas kerja. Adiknya fokus pada bidang design dan setting di komputer sementara dirinya sebagai manajer pemasaran sekaligus mengembang tugas humas atau membangun jaringan dengan pelaku otomotif.
‘’Kami mulai merekrut tiga karyawan. Bahan kami beli, jahit sendiri dan mulai mencari pasar dengan melihat agenda event-event seperti pameran otomotif. Kami masih kerjakan semuanya di rumah karena tempat kontrakan masih cukup mahal,’’ tutur alumni Teknik Geodesi UGM Jogja 1996.
Saat ini Zip sudah memiliki 7 karyawan tetap dan tahun 2006, Saiful mulai menggarap pasar para penggemar fanatik harleymania. Diakuinya, untuk ikut sebuah event saja, pihaknya nekat meminjam uang dari pihak ketiga untuk mencetak aksesoris maupun merchandise yang dikerjakan dengan skala home industry. Namun, suami Nuriah Zahra ini bersyukur dagangannya selalu laris dan modal dari pihak ketika maupun dari karyawannya sendiri bisa dikembalikan.
KPO/EDISI 103 APRIL 2006

Read More
Beny Uleander

Four Speed Riding Arts

(Catatan liputan Jogya Bike Rendesvous (JBR) 2006 yang berlangsung di Hall Jogya Expo Centre (JEC), selama tiga hari, 17-19 Maret 2006 lalu)
Keberanian digandeng aksi nekat. Itulah spirit yang diusung tiga anak muda asal Bandung, Dennie H, Atep dan Along kala menekuni usaha pembuatan merchandise dan aksesoris kendaraan bermotor. Apalagi produk yang diciptakan diklaim pertama di Asia dan dipasarkan hanya di Indonesia, yaitu di Kota Bandung. Ketiganya bahu-membahu merintis pembuatan dan penjualan produk riding arts tiga dimensi dengan nama Four Speed. Produksi atau finishing dibuat di Jepang. Sebuah kisah usaha mandiri yang dimulai dengan sebuah ceritera panjang.
Ditanya soal modal awal, Atep pun mulai berkisah. Semuanya berawal dari hobi chatting. Kebetulan Atep dan Dennie memiliki bakat seni ukir. Dan, isi chatting pun berkisar soal bisnis seni ukir. Atep pun akhirnya bisa bertemu dengan teman sharing asal Jepang yang juga punya minat mengembangkan kreatifitas di dunia ukir. Pertukaran informasi dan komunikasi yang intens mendorong mereka untuk mengembangkan usaha bersama membuat seni ukir tiga dimensi. Pilihan jatuh pada produksi riding arts.
Atep dan Dennie dibantu Along yang pernah bekerja di Jepang untuk mulai merintis usaha mereka secara kecil-kecilan di Kompleks Margahayu Raya, Blok 1-2 No 106 Bandung. ‘’Kami desain gambar maupun display lewat setting komputer. Proses hard made dibuat sendiri di Bandung seperti desain pahatan pada kayu dan matres (cetakan). Jadi kami seperti menjual imajinasi saja,’’ tutur Atep. Lalu. ‘bahan kasar’ ini dikirim kepada rekannya di Jepang untuk diproduksi menggunakan bahan metal aloe yaitu campuran murni bahan logam, perak, tembaga dan aluminium dengan menggunakan teknologi mesin injeksi.
Diakuinya, produk riding arts ini menyasar kelas khusus yaitu penghobi koleksi berbagai jenis kendaraan klasik maupun favorit. Maklum saja harganya terbilang mahal berkisar Rp 7 juta sampai Rp 10 juta. ‘’Sebuah sepeda motor bisa terdiri dari 75 cetakan (matres) yang bisa dilepaskan. Keunggulan lainnya, dikerjakan secara detil per bagian termasuk menulis huruf yang terkecil sekalipun sehingga bisa menyerupai bentuk asli,’’ tutur Dennie.
Produk aloe ini, lanjut Atep, memiliki keunggulan. Bila makin digosok akan makin mengkilap. Khusus untuk aksesoris seperti kalung, gelang atau cincin jika dipakai tidak menyebabkan iritasi pada kulit. Untuk menerobos pasar, Denie dkk mulai membuka stand di berbagai pameran otomotif maupun pameran pembangunan. ‘’Untuk pameran otomotif, kami baru pertama kali ikut Jogja Bike Rendezvous 2006,’’ tutur Atep.
Kreatifitas menjual mimpi mendatangkan duit. Itulah sepak terjang nekat dan berani tiga punggawa Bandung dalam merintis usaha di tengah kesulitan mencari lapangan pekerjaan. KPO/EDISI 103 APRIL 2006


Read More

Kamis, April 29, 2004

Beny Uleander

Parkir Ibarat Bola Liar

Sejarah dunia mencatat kota-kota masyhur lahir di tepi pantai mulai dari Efesus, Florence, Iskandariah, Istambul, Lisabon, Malaka sampai Batavia di daratan Indonesia tempo doeloe. Letak strategis suatu wilayah menjadi kunci kemajuan di bidang perdagangan, ekonomi, pertukaran budaya dan sosio-politik. Kota-kota itu tercatat dalam sejarah sebagai miniatur kota peradaban bukan hanya karena terletak di garis pantai, yang kala itu menjadi pintu masuk utama manusia dari benua lain, tetapi juga keunggulan dalam arsitektur perkotaan.
Sekarang, laut bukan jalur tunggal masuknya orang-orang yang berbeda suku, agama dan ras ke sebuah benua. Sejak Orville dan Wilbur Wright bersaudara pada tahun 1903 menemukan pesawat terbang, mulailah era dirgantara.
Semula cuma Werdukoro alias Bima yang bisa terbang dalam kisah Mahabrata. Kini suatu daerah bisa dihubungkan lewat jalur laut, udara dan darat. Intinya manusia mulai mengenal alat-alat transportasi seperti kapal terbang, kapal laut, kendaraan bermotor baik roda empat, tiga maupun dua.
Tingkat mobilitas manusia yang tinggi dalam suatu wilayah perkotaan, menjadi tolok ukur kemajuan ekonomi. Tak pelak, kehadiran alat transportasi seperti ‘kacang goreng’. Industri kendaraan pun balapan merek mulai dari Zusuki Shogun kog dilawan, Kawasaki sampai Yamaha Jupiter, si bebek yang bandel atau jet metik Kymco wanita jangan mau ketinggalan. Itu baru sepeda motor. Belum lagi ‘adu jotos’ antara merek mobil. Pokoknya seru deh, pemasaran kendaraan bermotor zaman ini.
Sejak kuda ditukar dengan sepeda motor, pedati dan delman diganti mobil, manusia mulai sibuk dengan aksesoris kedua alat angkut itu. Selain BBM, produksi baja, hak paten pembuatan mesin dan ekspor-impor kendaraan, hal yang mulai digeluti secara harian adalah masalah kemacetan lalu-lintas termasuk soal tempat parkir.
Salah satu penyebab kemacetan lalu-lintas adalah melubernya kendaraan di pinggir jalan-jalan protokol. Mencari jalan alternatif, pengaturan tempat parkir menjadi bagian pemecahan keruwetan macetnya lalu lintas. Pemerintahpun menggolkan agenda parkir dalam bentuk Perda. Kebijakan retribusi parkir berlaku baik di pelabuhan, bandar udara maupun kendaraan bermotor di perkotaan yang dinilai bisa diandalkan untuk pendapatan asli daerah (PAD).
Belakangan, masalah retribusi parkir menjadi bias karena menjadi lahan basah menombok easy-money. Kelompok ‘swasta alias partikelir’ melakukan tender privat yakni penguasaan tempat parkir secara sepihak dan kreatif menciptakan arena parkir di tempat-tempat strategis. Uang parkir yang dipungut itulah sasarannya.
Alhasil, lahan parkir menjadi ladang pembantaian antara organisasi parkir versus kelompok preman yang seenak perut membuat pengkavelingan daerah parkir. Bukan pelayan kenyamanan parkir bagi yang empunya kendaraan tetapi ya itu tadi, UUD (ujung-ujungnya duit).
Adanya perebutan lahan parkir antara organisasi perparkiran hingga berujung perkelahian yang diakhiri dengan pertumpahan darah menjadi bukti dunia retribusi parkir bergelimang duit. Kasus penyerbuan para preman ke pasar Badung beberapa waktu lalu tidak lain dari ekspresi persaingan antara preman dalam memperebutkan lahan parkir yang menggelinding bagai bola liar.
Sementara segelintir orang memilih profesi sebagai ‘pengusaha lahan parkir’ karena menjanjikan pemasukan yang besar. Jika dulu seorang anak ditanya apa cita-citanya pasti menjawab, ‘Saya ingin menjadi presiden, dokter atau pilot’. Tetapi di zaman ini, ketika pengusaha parkir naik kelas dari lingkup ‘gembel’ menjadi OKB (Orang Kaya Baru), bukan tidak mungkin anak-anak kita membidik profesi tukang parkir sebagai cita-citanya.
Di Denpasar, kebijakan pemda menerapkan Sistem Parkir Tahunan (Siparta) tergelincir pada jurang dialektika antara retribusi dan pajak. Takaran penalaran menyiratkan metode Siparta upaya mengamankan aliran uang melalui satu pipa ke kas daerah dengan asumsi tak terjadi kebocoran dana. Caranya mudah; catat jumlah kendaraan pada saat samsat kendaraan dan dipungutlah iuran parkir. Beres ‘Kan! Mau mendeteksi jumlah pendapatan, eksekutif maupun legislatif tinggal minta data jumlah kendaraan. Gampang bukan?
Namun adilkah sistem ini. Ternyata tidak. Karena kebutuhan parkir per individu bervariasi, maka beragam pula biaya parkir yang dikeluarkan dari kantongnya. Lewat pisau bedah term retribusi parkir telah berganti wajah menjadi pajak. Parkir tidak parkir, ya harus bayar. Inilah sukarnya menjadi pengamat sepak bola liar ini. Sulit juga menebak ke mana arah gelinding uang retribusi. Apakah sering gelinding ke kantong ‘para drakula’ Koruptor Modern atau sesekali singgah di kas daerah?
Satu lagi arah gelindingnya yang sering acak, tak ada kesesuaian antara hitung-hitungan di atas meja dan hasil pungutan, karena tetap ada hitung-hitungan tertentu.
Pemerintah sah-sah saja menetapkan tarif dasar dan patokan pendapatan yang harus disetor setiap hari. Namun kita perlu mempertanyakan adakah sistem efektif dan mekanisme pengawasan baku dari Eksekutif, yang menjadi norma dasar dalam mengontrol dunia keparkiran? Jangan-jangan masih ada celah yang bisa dimainkan oknum-oknum tertentu di lapangan untuk meraup rupiah tanpa kontribusi sepeserpun bagi daerah.
Sudah bukan rahasia lagi kalau di lapangan beredar pungutan liar. Karcis retribusi ‘tanpa cap’ diedarkan kelompok tertentu. Realitas sosial ini adalah sisi buram kemajuan teknologi yang tak pernah dipikirkan Wright bersaudara maupun si jenius Albert Einstein menjadi pekerjaan rumah buat Dewan yang baru untuk membuat kebijakan tepat sasar demi terbentuknya miniatur kota peradaban.
Wright bersaudara, James Watt atau Tuan Honda dari Asia, tipikal manusia yang mampu membuat ‘loncatan garis-garis pikiran’ pola kembang kehidupan yang akan dilewati generasi jauh sesudah mereka. Namun kalau ketiganya tahu, buah gagasan brilian mereka kelak menghalangi manusia di kota besar membangun peradaban, pasti mereka berpikir 1001 kali untuk mengkonstruksi ide-ide cemerlang itu.
Mereka tak keliru mencipta buah kebebasan berpikir, cipta dan karsa, cuma kita generasi plagiator terhormat, yang tak cemerlang menata sistem sosial atas kehadiran sarana transportasi. Berapa lamakah uang memporak-porandakan perangkat sosial? Cuma agama dan hati yang bersih bisa menjawab tuntas!!! (Beny Uleander/KPO EDISI 59/MINGGU I JUNI 2004)
Read More