Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Desember 22, 2007

Beny Uleander

Wanita Dan Tubuh Motor

Refleksi Pemotretan Model MONTORKU & KORAN PAK OLES
Besi tak bernyawa dirangkai dengan sensasi visoner jadi kuda besi. Ditempeli dapur pacu mengeluarkan deru bertalu-talu. Lingkaran roda ban bergulir menjejak jengkal aspal. Melaju dalam kecepatan dan bunyi berderit di setiap tikungan. Ada akselerasi, ketepatan dan kemahiran membawa kuda besi tanpa pelana.
Di sebuah purnama dalam segala rangkuman keromantisan, bayang-bayang kecantikan alam menyembul dari cahaya lembut dewi malam. Sebuah moment terekam apik, perempuan memeluk manja motor besar tanpa desahan binal. Meski selangkang kerap terbuka menunggang Harley Davidson. Tubuh molek bestari rebahan pasrah di samping Ducati Spotser. Mata mereka memandang penuh intensitas dalam waktu dan tempat yang menyatu. Sebuah siluet menakjubkan sekaligus memikat hasrat.
Perempuan memelas penuh asa membelai tangki motor besar. Tanpa gejolak jiwa untuk mencengkram. Tangan mereka lembut terulur mengukir. Wajah mereka seperti bulan tidur di hati. Perempuan berpose indah di samping moge meniadakan hati kelam dan kedinginan seorang anak Hawa. Senyum mengembang membuat hati berdesir.
Ada kabut misterius menyingkap tirai keindahan dan kedalaman hati perempuan jika ia sendirian diterpa angin tanpa sentuhan visioner. Keindahan wanita tidak sebatas imajinasi. Demikian pula keunikan desain motor besar tanpa visualisasi adalah keindahan hampa yang menyakitkan. Itulah sebabnya para builder tak pernah kapok berkreasi. Ada sentuhan seni di alam teknologi. Lahirlah keindahan futuristik yang menjanjikan sensasi baru untuk memacu adrenalin.
Itulah pentas terselubung kolaborasi keindahan wanita dan keindahan mendesain kuda besi. Keindahan adalah bongkahan impian jiwa yang dirajut rapi, terus dituang dalam konsep perubahan. Sepeda motor generasi terbaru terus diciptakan tanpa koma dan titik.
Kita melihat karya surga dari mata seorang hawa. Dentingan kelembutan dan belaian kasih sayang seorang ibu adalah harta pertumbuhan jiwa. Di telaga kasih bunda, kita temukan samudera kasih Pencipta. Di ranah otomotif, kita pun diajak untuk melihat karya seni nan monumental dibangun builder dan modifikator dari rahim idealisme. Keindahan tubuh perempuan yang memeluk manja kuda besi adalah ekspresi dahsyat tentang keindahan yang tidak pernah punah di alam imajinasi dan visualisasi.
Tabloid MONTORKU dan KORAN PAK OLES rutin menggelar pemotretan model di Handlebar Jakresto & Grill, Sunset Road, Kuta sejak tahun 2004. Wajah cantik dan eksotik model didikan Point Management, C&C Angency Modelling, dan Profile Art Entertainment terus menghiasi Rubrik Modif MONTORKU dan Rubrik Eksklusif Life KORAN PAK OLES. Ekspresi dan gaya mereka lahir dari eksplorasi seni lewat sentuhan modis. Tidak ada figur binal dan liar dalam pose mereka. Tinggal mata pembaca yang dituntun merekam jejek keindahan terberi. Tetapi pikiran dan hasrat liar bin binal mengekspresikan keindahan dangkal yang masih tersemai rapi di jiwa yang kerdil.
Konon, kaum Adam akan kembali dalam satu purnama untuk menikmati keindahan wanita bukan dari tubuh yang molek tetapi dari dentingan lembut kasih sayang kaum hawa. Motor besar dan wanita cantik, ibarat cahaya lembut bulan yang menerangi malam hari. Malam pun jadi indah dan romantis.
Keterangan foto: Lokasi pemotretan model Montorku dan Koran Pak Oles selalu digelar di Jak Resto Handle Bar & Grill, Jl Sunset Road 135, Kuta, tempat mangkal dan markas Motor Besar Club (MBC) Bali, pimpinan Agung Jaka.
Catatan: untuk memenuhi permintaan Ayu dkk untuk dipublikasikan dalam blog sejak pemotretan edisi 2004, nanti akan direalisasikan oleh Kadek Fajar & fotografer Putu Wirnata.
Read More

Selasa, Maret 28, 2006

Beny Uleander

Potret Realitas & Impian Sidik Jari

Jati Diri Museum Dalam Jejak Cap Jempol
Istilah sidik jari selalu identik dengan cap jempol untuk urusan pembuatan KTP, SIM dan persoalan kriminal dan kejahatan. Istilah ini akan berubah bila orang berkunjung ke Museum Sidik Jari di Jl Hayam Wuruk 175, Denpasar. Museum milik Ngurah Gede Pemecutan ini memajang berbagai ukuran lukisan sidik jari yang dikerjakan dengan sentuhan ujung jari tangannya sendiri.
Dengan sentuhan warna yang ingin ditampilkan, Ngurah, demikian sapaan pria asal Puri Pemecutan, Denpasar ini, mulai ‘menjempol’ kanvas atau kertas. Hasil sentuhan tersebut akan meninggalkan bekas-bekas guratan layaknya cap sidik jari. Itulah sebabnya, hasil lukisannya disebut lukisan sidik jari (pointilisme).
Gaya lukisan ini sebenarnya sama dengan aliran pointilisme barat, yang melukis hanya menggunakan sidik jari atau ujung jari tangan. Setiap lukisan sidik jari dari berbagai aliran mesti memiliki ciri, karakter dan pesan berbeda. Kesamaannya terletak pada pengerjaan dengan menggunakan sidik jari atau ujung jari tangan. Fungsi kuas dipakai saat proses pewarnaan dasar kanvas atau kertas.
Bagi pengunjung baru, sepintas akan kelihatan bahwa lukisan itu sudah jadi, lalu baru diberi titik-titik sidik jari. Semua dilukis dengan menggunakan sidik jari, baik yang kelihatan berupa garis maupun bentuk. Beda antara jauh dekat, cembung cekung hanya menggunakan permainan warna cerah dan gelap secara kontras.
Selaku pemilik museum, Ngurah Gede Pemecutan tentunya memiliki sejarah panjang penemuan jati diri lukisan sidik jari. Awalnya, Ngurah muda menapak karir sebagai pelukis biasa dengan menggunakan kuas. Suatu saat di awal tahun 1967, ada sebuah lukisan berjudul Tari Baris yang gagal diselesaikannya. ‘’Kegagalan ini membuat perasaan jengkel, marah, tidak senang. Karena perasaan ini muncul seketika, maka lukisan yang belum selesai tersebut diaduk-aduk dengan jari yang diberi cat warna,’’ kata seniman yang belajar melukis sejak duduk di bangku SD ini.
Ketika lukisan tersebut diperhatikan, ternyata punya efek, kesan yang indah dan memuaskan perasaan. Saat itulah timbul suatu pikiran dan niat bahwa kalau seandainya suatu lukisan seluruhnya hanya dikerjakan dengan sentuhan ujung jari pasti akan menjadi suatu lukisan yang indah dan luar biasa. Sejak itulah, perlahan-lahan penggunaan kuas dikurangi dan akhirnya tidak dipakai sama sekali. Hingga kini, Lukisan Sidik Jari menjadi jati diri museum itu.
KPO/EDISI 101 MARET 2006
Read More

Sabtu, September 10, 2005

Beny Uleander

Kritik Sosial Dalam Kartun Cece Riberu

Pribadi yang dewasa dan matang, kelompok atau bangsa yang besar akan kian sempurna bila dikritik. Namun cara mengkritik itulah yang perlu diperhatikan agar bisa diterima. Kritik yang tidak membangun bisa mendatangkan reaksi negatif. Misalnya, orang akan merasa tersinggung, malu, muncul reaksi pembelaan diri dengan memakai kekuasaan dan senioritas. Singkatnya, orang lebih memahami kritik sebagai usaha mencari kelemahan pihak lain dan atau sebagai strategi licik untuk menjatuhkan seseorang.

Padahal, kritik sosial adalah penilaian ilmiah dan pengujian terhadap sikon yang tercecer. Berhadapan dengan fenomena ini, solusi terbaik adalah kritik dengan menggunakan bahasa yang santun dan jenaka agar bisa dipahami seluruh lapisan masyarakat. Jenis kritik seperti ini rupanya hanya ada dalam kartun. Kartun bisa berfungsi sebagai jembatan dialog nan dinamis dalam masyarakat dan artikulasi segala persoalan yang terjadi. Untuk itu, seorang seniman kartun perlu berwawasan luas dan peka terhadap persoalan hidup dan kehidupan manusia dengan mengandalkan kemampuan reflektif analitif. Adalah Cece Riberu, seorang kartunis dalam “The Passion of Me”.

Dalam karyanya, kartunis kelahiran Denpasar 1967 ini ingin membahasakan sebuah dialog antara budaya kapitalis yang menghambat budaya Bali. Budaya kapitalis sekarang sedang masuk Bali dan bahkan sedang menggerogoti budaya Bali dari dalam. Nilai-nilai budaya Bali kian hari kian merosot. Anehnya, ini tidak disadari orang Bali sendiri, bahkan tertawa ketika dipasung budaya kapitalis. Orang Bali tertawa di atas penderitaan budayanya sendiri,” tutur Riberu yang pernah menjadi design Karikatur SCTV Jakarta tahun 1994.

Benar apa yang dilukiskan Riberu. Kini, Bali sedang dikepung dari berbagai sudut. Perkonomian, industri, teknologi informasi dan perputaran uang banyak dikuasai orang asing. Degradasi dalam berbagai nilai kemanusiaan sedang melanda Bali. Ada narkoba, seks bebas, kekerasan dan pembunuhan, perjudian, urbanisasi, kemiskinan, pencemaran lingkungan hidup dan setumpuk persoalan klasik lain. (Beny Uleander & Arnold Dhae/KPO EDISI 89/OKTOBER 2005)

Read More

Selasa, September 06, 2005

Beny Uleander

Jejak Kecantikan Dibalut Tutup Botol & Karung Goni

Desainer Yenli Wijaya

Ide kreatif adalah buah inspirasi yang lahir dari suatu permenungan. Yenli Wijaya, kelahiran Pupuan, Tabanan, 16 Juni 1969, selaku disainer, inspirasi adalah ketukan suara halus di lubuk hati. Ia mencari jejak kecantikan dengan berpetualang mengumpulkan aneka pernak-pernik, artikel dan mengamati busana harian setiap suku bangsa. “Saya membuat busana untuk masyarakat lokal dengan sentuhan baru. Orang biasanya jatuh cinta dengan sesuatu yang baru itu,” ujar isteri Eddy Suryawiajaya.

Pengembaraan Yenli sampai di tanah Papua. Ia terkesan dengan kecantikan alami perempuan Papua yang mengenak rok dari alang-alang yang teranyam rapi. Ia pun improvisasi mengumpulkan karung goni putih bekas dan tutup botol bekas sembari menakar jejak kecantikan, elegan, modis dan menghilangkan kejenuhan berbusana standar. Untuk busana dari balutan tutup botol bekas, Yenli mengambil dasar warna pink dengan suatu filosofis. Warna pink identik dengan yang lembut, manis dan glamour. Namun rasa jenuh kadang mengikat satu ide untuk bermain lebih explore.

Potongan busana remaja: Sebuah atasan dengan tumpukan bahan tiller mirip sayap bis sebagai aksen dan aneka jenis kancing yang tidak berguna bisa jadi pemanis. Bustier ornament tutup botol disematkan dengan kancing bungkus berwarna pink. Pada rok, dibuat seperti lingkaran penuh (circle) yang dijahit menyerupai sangkar ayam dengan sobekan bahan sisa yang diobras ujung kanan dan kiri, lalu dijahit segi empat, dan diberi aksen tutup botol dan kancing.

Busana anak-anak: Potongan rok terbuat dari karung goni yang dibiarkan tanpa finishing. Bagian atas adalah robekan kain chipon sulk yang ditumpahi lem agar bisa berefek shinning. Pun bisa disematkan korsage yang cantik sebagai pusat perhatian.

Seluruh inspirasi diambil dari gaya berpakaian masyarakat pedalaman Papua. Sebuah rok bawah yang dibuat perpotongan rias dengan seluruh ornament dari bahan yang manis seperti aplikasi bordiran dan beads. Bagian atas agak seksi, kemben cantik yang hanya diikat di bagian belakang, dan diberi ornament agak juntai menutupi bagian perut di bagian depan. Mode ini bisa dijadikan pilihan jika Anda ingin tampil beda. ‘’Eksperimen gito loh,” tandas pemilik Yenli Costume Design di Jl P Ambon 6X Denpasar ini. (Beny Uleander /KPO EDISI 89/OKTOBER 2005)

Read More

Jumat, Juli 08, 2005

Beny Uleander

Demokrasi, Ibarat Ideologi Janji Dan Merebut Kursi

Sejak runtuhnya rezim Orde Baru, perkembangan politik Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Satu hal yang paling menonjol adalah pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat. Sistem pemilihan seperti ini memang sangat cocok dengan pengertian demokrasi yang sebenarnya. Demokrasi berasal dari dua kata yakni demos yang artinya rakyat dan kratos yang artinya pemerintah. Jadi demokrasi berarti pemerintah yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tidak hanya itu, pemilihan langsung juga berlaku bagi kepala daerah baik propinsi maupun kabupaten.

Banyak calon yang bersaing dalam memperebutkan kursi kepemimpinan. Mereka berjuang untuk menarik simpati rakyat dengan mengobral janji-janji politik, melalui visi dan misi yang akan dijalankan setelah menduduki posisi puncak. Berbagai metode kampanye pun dijalankan. Ada team sukses, ada team lobi. Ada yang mendatangkan para artis serta membagi-bagikan makanan kecil kepada para simpatisan. Tetapi setelah menduduki posisi puncak mereka menjadi lupa akan janji-janji politiknya, akan visi dan misi yang pernah diungkapkan atau dipaparkan. Rakyat yang memilih pun tidak mampu berbuat apa-apa.

Memaknai fenomena yang terjadi di Indonesia, I Made Sudyatmika coba melukiskan lewat karya Merebut Kursi, yang dipamerkan di Museum Sidik Jari, Jl Hayam Wuruk, Denpasar. Dalam karyanya, Sudyatmika ingin mengungkapkan sosok para pemimpin yang ingin merebut kursi jabatan dengan menunggang ideologi yang disebut dengan demokrasi. Persaingan untuk menduduki posisi puncak, diwarnai usaha saling menjatuhkan, dan jegal menjegal. Menurut pelukis kelahiran 26 April 19985 itu, usaha merebut kursi puncak dengan cara demikian akan membuat pohon ideologi demokrasi menjadi lemah, tidak subur dan akhirnya jatuh dan mati.

Ideologi tidak hanya meniscayakan teknik dusta tetapi bisa menjadi sanggahan dan kritik terhadap segala kenyataan yang ada. Di bawah payung ideologi demokrasi, para pemimpin memformat pikiran rakyat sedemikian rupa dengan janji-janji politiknya. Hal ini bisa mencegah sikap kritis rakyat terhadap pemimpinnya. Di sini ideologi demokrasi telah melahirkan budaya verbalisme kosong. Pemimpin merasa puas, begitu juga rakyat yang memilihnya.

Orang yang berambisi merebut kursi kepemimpinan adalah orang yang jatuh dalam budaya verbalisme kosong, cepat puas dengan apa yang ada dan lupa dengan tugas-tugas dan kewajibannya sebagai pemimpin. Ambisi itu cenderung negatif karena selalu didasari oleh tujuan-tujuan semu yang kadang-kadang bisa mencelakakan kehidupan orang banyak. Inilah kritik bagi para pemimpin yang akan dan yang sudah terpilih. Janganlah mematikan pohon demokrasi yang sudah bertumbuh dengan subur di Indonesia. (Arnold Dhae & Beny Uleander/KPO EDISI 85/JULI 2005)

Read More
Beny Uleander

Ideologi Sandal Jepit Dalam Revolusi Kebebasan

Filsuf dan rohaniwan, Mudji Sutrisno, SJ melihat moment revolusi sosial politik tahun 1998 yang disponsori mahasiswa merupakan suatu ruang historis menyemaikan tekad menggapai kebebasan dilandasi jiwa dan pengalaman ‘kemudaan’. Insting kemudaan menjadi tolok ukur kualitatif nilai-nilai kebaruan. Sayangnya, begitu rezim Orba tumbang, benih kebebasan politik yang ditabur generasi muda dipersempit kembali pertumbuhannya oleh sepak terjang kaum tua. Cita-cita kebebasan dalam membangun Indonesia baru mati muda diterpa pengkhianatan kaum tua yang sok reformis. Itulah kelemahan fundamental ketika reformasi berbuntut ‘repot-masih’ hingga kini.

Kelemahan inilah yang barangkali tak mau diulangi 12 mahasiswa Seni Rupa ISI Denpasar, yang tergabung dalam Komunitas Sandal Jepit. Hanya keledai yang jatuh dalam lubang yang sama. Kebebasan ada pada jiwa yang sederhana. “Kami melihat hanya para pejabat yang selalu bersepatu ke kantor. Sedangkan orang kecil ke mana saja pasti bangga memakai sandal jepit. Kami menilai sandal jepit identik dengan orang kecil yang berjiwa sederhana,” ungkap I Made Mahardika, personil Komunitas Sandal Jepit.

Pelopor Komunitas Sandal Jepit, I Putu Edy Asmara Putra bergulat dengan pertanyaan revolusioner, “Mengapa kaum muda selalu menjadi pelopor perubahan tetapi tak bisa mengarahkan dan mengisi perubahan itu dengan nilai-nilai ‘kemudaan’? Jawabannya singkat. Kaum muda tak mampu menakar kekuatan diri, mudah bangga disemat atribut pahlawan dan tak lihai meramu ideologi perjuangannya. Itulah sebabnya, kaum muda mudah diperalat kaum tua. “Kami sebagai rakyat seperti sandal jepit yang selalu dimanfaatkan mereka para elite politik dalam perjalanan untuk mencapai suatu kedudukan (baca: kekuasaan). Kami hanya dijadikan alas kaki bagi mereka untuk melindungi kakinya dalam perjalanan mereka,” komentar Putu Edy dalam liris Akhir Sebuah Perjalanan.

Menarik, Putu Edy merangkum situasi carut-marut negeri ini dalam suatu seni instalasi. Penikmat seni bisa saja menabur sikap anggap remeh kala melihat berbagai karya seni Komunitas Sandal Jepit. Pasalnya, berbagai karya yang dipajang terkesan biasa-biasa saja. Spiritualitas sandal jepit tidak terletak pada kuantitas ornamen maupun kualitas aksesoris. Sebaliknya, sandal jepit identik dengan kaum terpinggirkan yang mudah diinjak-injak haknya oleh masyarakat kelas atas. Namun kaum sandal jepit selalu menjadi ‘prajurit pagar betis’ di medan laga revolusi sosial budaya dan sosial politik. Bahkan, penggerak utama bangkitnya roda-roda humanitarian di perhelatan nilai-nilai kebebasan dan demokrasi.

Sejauh mana keunggulan spiritualitas sandal jepit ada pada karya instalasi Putu Edy. Ada dunia ideal ‘gaya Plato’ yang mau dicapai lewat pendakian tangga simbol proses perjuangan dan kematangan. Tangga awal ada sandal jepit, tangga tengah ada sandal jepit, di puncak pun ada sandal jepit dan di jurang kematian (keranjang kardus) ada sandal jepit. Ini artinya, jiwa revolusioner merupakan gerak daya cipta, karsa dan kreasi yang tak ternoda dengan nafsu kekayaan dan kekuasaan.

Lihat, tak ada sandal kulit apalagi sepatu kulit di puncak perjuangan. Kelemahan mendasar kaum muda dalam setiap perjuangan revolusioner adalah selalu cepat tergoda dengan tawaran kekuasaan dan bisa menjual cita-cita dengan tawaran rupiah atau dollar. Kebebasan hanya dicapai dengan memupuk dan mempertahankan jiwa kesederhanaan sampai ajal menjemput. Selamat berkarya buat I Putu Edy, I Wayan Darmawan, Miranti Kusuma Putri dkk! (Beny Uleander/KPO EDISI 85/JULI 2005)

Read More

Rabu, Juli 14, 2004

Beny Uleander

Geliat Pasar Malam Di Pentas Seni PKB XXVI 2004

Pesta Kesenian Bali (PKB) XXVI 2004 meninggalkan banyak catatan yang perlu dievaluasi secara cermat. Sebagai ajang tahunan apresiasi seni dan budaya, rangkaian acara yang dipentaskan tetap mendapat respon positif dari pengunjung. Membludaknya jumlah pengunjung terutama pada malam hari di areal Taman Budaya Art Centre, Denpasar ini menjadi indikasi tingginya minat masyarakat akan pementasan dan pameran karya-karya puncak para seniman.
Memang ajang PKB telah menjadi perhelatan seni baik lokal, nasional maupun internasional. Selain mengenal seni budaya Bali, para pengunjung juga dimanjakan dengan pementasan kesenian daerah dari Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat atau NTT. Di sisi lain, yang juga sangat menyita perhatian pengunjung adalah kehadiran pasar malam akibat disiapkan kavlingan tempat. Jumlahnya stand pasar malam jauh lebih menjamur dibanding stand pameran.
Ini penting dicatat dan menjadi bahan refleksi buat panitia, karena berbagai kalangan cukup serius menyoroti fenomena bisnis di tengah menggelindingnya acara PKB. Ada kesan bahwa PKB lebih ditonjolkan unsur bisnisnya, justru benar adanya. Ratusan stand yang dijadikan tempat berdagang bisa disaksikan para pengunjung. Di pasar tersebut, juga terjual obralan barang dengan harga, mulai setara super market, restoran hingga paling murah. Terkesan terjadi pemindahan tempat jualan bagi para pebisnis yang lihai membaca peluang pasar. Jika di Pekan Raya Jakarta, kesan yang mencuat adalah pemindahan mall, maka di PKB, terkesan pemindahan pasar rakyat dan taman mainan anak-anak. Bila ini dibiarkan, bagaimana regenerasi pelestarian budaya bisa ditanamkan kepada anak-anak.
Deretan los pakaian dan sepatu dengan jalan selebar 1 meter, pengunjung pada malam hari jauh lebih berdesakan. Kondisi ini menyiratkan plus membenarnya layak sebuah pasar, dan denyut nadi perekonomian jauh lebih terasa dibanding pementasan karya-karya seni yang sudah lama dipersiapkan. Banyak orang tua yang datang bersama anaknya cuma sekedar membeli sepatu sekolah, mainan atau menikmati ‘taman’ hiburan anak-anak. Ibu Angga, yang berdomisili di Banjar Geladag, Denpasar Selatan, mengaku mengunjungi lokasi PKB bersama anggota keluarganya sekedar membeli sepatu sekolah untuk anak keduanya yang siap duduk di bangku TK.
Beberapa pedagang sepatu dan pakaian mengakui, mereka menjual dagangannya dari pameran ke pameran. Dikatakan, kegiatan PKB selama sebulan penuh menjadi lahan subur memanen duit. Pasalnya, banyak pengunjung yang usai menikmati kegiatan seni bertandang ke los pakaian dan sepatu. Bahkan pantauan reporter pada malam hari, ada pengunjung yang langsung datang untuk berbelanja dan menonton pementasan kesenian.
Pada siang hari, los pakaian dan sepatu pun tetap ramai dikunjungi pembeli. Selain itu terdapat beberapa ‘stand judi’ yang masih bebas berkeliaran seperti mainan menebak angka, lemparan bola pingpong berhadiah dan gangsing berhadiah tape rekorder. Fakta ini seakan menciderai perhelatan seni adiluhung tersebut.
Padahal Ketua Panitia Penyelenggaraan PKB XXVI, Ir I Wayan Subagiarta menilai event tersebut bisa dijadikan momentum untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap nilai budaya bangsa. Kehadiran para pedagang yang begitu ramai bukan berarti mengurangi kadar pementasan karya-karya puncak para seniman di ajang ini. Hanya saja mutu penyelenggaraan yang ditangani kalangan birokrat perlu dievaluasi dan direfleksikan, demi perbaikan kualitas penyelenggaraan event bergengsi ini agar kesan terutama bukan pasarnya yang lebih mengundang pengunjung tetapi atraksi-atraksi para seniman. Eksploitasi
Pada sisi lain, sejumlah praktisi seni dan budaya baik di maupun di luar Bali menilai, PKB yang seharusnya dijadikan salah satu mosaik promosi wisata seni budaya Bali dan Indonesia umumnya, sedang digiring menjadi ‘lahan eksploitasi’. Sayangnya, Kadis Pariwisata Propinsi Bali, Drs Gede Nurjaya, MM ketika dimintai keterangannya malah mengungkapkan keengganannya untuk diwawancarai dengan alasan sakit. Padahal wartawan menyaksikan sendiri orang nomor satu bidang pariwisata ini dengan wajah segar menyambut dan menerima sejumlah tamu di ruang kerjanya. ‘’Maaf, Bapak sedang sakit,’’ kata Agung salah seorang sekretaris di kantor tersebut.
Bukan tidak mungkin, kalau acara PKB tak dikemas dengan baik, perhelatan seni ini menjadi bumbu di tengah hingar-bingar pasar malam. Akhirnya yang lebih mengemuka cuma komersialisasi PKB itu sendiri. PKB 2004 yang mengambil tema ‘Sabda Alam Kedamaian dan Keindahan dalam Kebhinekaan’ seharusnya menjadikan seni sebagai panglima perhelatan tersebut.
Menomorsatukan seni merupakan tuntutan mutlak bagi kelangsungan PKB itu sendiri yang telah menasional dan mendunia ini. ‘’Berkesenian bagi masyarakat Bali adalah sebuah persembahan, oleh karena seni merupakan sebuah karya cipta, maka yang dipersembahkan adalah karya terbaik, dan kekuatan inilah yang menjadikan kreativitas berkesenian orang Bali tidak pernah terhenti,’’ ungkap Subagiarta .
(Beny Uleander/KPO EDISI 62/MINGGU II JULI 2004)
Read More
Beny Uleander

Biarkan Di Bali, Kita Menari

Duduk berjam-jam menunggui barang dagangan ternyata menjadi pekerjaan yang ditekuni dara manis Ari Novianti sejak tamat bangku SMU di Kota Malang, Jatim, tahun 1998. Kini, Novi, demikian nama manisnya, mendapat tugas baru sebagai penjaga Stand Ayu Collection di areal pameran Pesta Kesenian Bali (PKB), Art Center, yang berlangsung selama sebulan penuh. Stand tersebut milik Wayan Rudiana, pengrajin sandal dan tas asal Singaraja.
Sehari-harinya, Novi, bekerja di toko Ayu, Jl Ratna Denpasar. Ia disuruh majikannya menjadi penjaga stand secara bergantian dengan rekan-rekan kerjanya yang lain. Penghasilan dari penjualan tas tangan, bantal hias, sepatu dan sandal hias setiap hari tidak sama. “Kalau ramai, terutama malam Minggu bisa laku sampai Rp 500 ribu. Tetapi kalau sepi penghasilannya di bawah Rp 100 ribu,” ungkap gadis kelahiran Malang Selatan, 23 Juli 1978 ini polos.
Ditanya kesannya tentang penyelenggaraan PKB pada tahun ini, gadis berbintang Leo ini, menilai kegiatan PKB selama ini amat menyenangkan sekali. Ada banyak kegiatan seni dan pertukaran budaya dari setiap daerah di Indonesia. Peristiwa unik ini hanya terjadi dan berlangsung di Pulau Dewata ini. “Mas biarkan orang lain tahu di Bali ini kita menari. Meski di daerah lain ada kerusuhan dan perkelahian,” tuturnya dengan mimik wajah serius.
Novi mengaku jenuh dengan hingar-bingar politik di tanah air saat ini. Masing-masing calon pemimpin bangsa berlomba-lomba mencari dukungan. Padahal baginya, siapa saja yang bakal menjadi presiden tidak akan membawa banyak perubahan. Pasalnya, terang Novi, seorang presiden dituntut melakukan perubahan instant hanya dalam beberapa bulan saja. “Bayangkan saja Mas, reformasi baru jalan beberapa tahun, Masa harus ada perubahan mendadak,” ucapnya kritis.
Lebih jauh Novi menyatakan dirinya tak banyak peduli dengan siapa yang bakal jadi presiden. Memang ia sering ikut berita di televisi. Hanya saja ia tak suka dengar adanya kerusuhan di tanah air ini. “Semoga kebiasaan menari dan pentas seni setiap tahun di Bali ini masih menunjukkan kita ternyata bisa bersaudara meski berbeda agama dan suku,” harap gadis yang mengaku tengah menjalin cinta yang serius dengan pemuda Bali ini.
Read More

Selasa, Juli 06, 2004

Beny Uleander

IB Indra Dalam Getaran Cinta Perempuan

Tanah Bali tak putus-putusnya melahirkan seniman muda penuh talenta. Ida Bagus Indra (30), seorang pelukis berbakat yang bakal menambah daftar seniman brilian Pulau Dewata ini. Dunia seni lukis menjadi pilihan hidup IB Indra, yang ditekuninya sejak kecil. Baginya dorongan untuk melukis adalah dorongan kehidupan yang harus diekspresikan lewat gerakan kanvas. Karena itu, Gus Indra, sapaan akrabnya, memutuskan mendalami dunia seni lukis meski awalnya ia mendapat penolakan yang amat keras dari ayahnya Ida Bagus Lolec.
Bakat seni yang mengalir di tubuhnya diwarisi dari sang ayah yang punya hobi melukis dan menggambar karikatur. Meski masih teramat muda, Gus Indra sudah menghasilkan 300 karya seni yang bermutu tinggi. Tak heran, Gus Indra berani menggelar pameran tunggal di Australia pada Mei lalu, di Lynne Wilton Gallery, Melbourne.
Kali ini, seniman bertubuh jangkung ini memamerkan 28 buah karya seninya di Ganesha Gallery, Four Seasons Resort, Jimbaran 6-30 Juli 2004 dengan tajuk Women and Children. Karya-karya IBI dinilai kuat, memadukan kelihaian teknik, pewarnaan dan sudut pandang suatu tematik yang digarap dengan matang.
IBI adalah salah satu seniman otodidak yang tekun belajar menggambar dari lingkungannya. Seperti halnya kebanyakan anak-anak di Bali, dia menikmati berbagai suguhan seni tradisional yang kelak memberikan pengalaman visual yang memperkaya proses perjalanan kesenimannya. Berpijak dari seni tradisional, IBI menarik benang merahnya ke cakrawala seni modern melalui representasi karya sejak 1996 yang banyak mengambil tema seputar spiritual, humanisme, sosial-politik dan berbagai sisi kehidupan.
Perempuan dan anak-anak melengkapi deretan serial karyanya yang mewakili figur-figur anganan IBI dalam warna-warna mencolok dalam aksentuasi bidang-bidang kanvasnya. Pembagian ruang yang terkesan hati-hati menghadirkan nuansa tersendiri yang terjaga secara cermat. Ruang-ruang kosong dalam kanvas IBI memberikan kesempatan (meningatkan) perlunya melakukan perenungan.
Dalam menggerakkan kanvasnya, IBI menggali inspirasi dari pengalaman pergaulan dengan orang-orang terdekatnya. Anak perempuannya yang sedang lucu dan menggemaskan misalnya, banyak membantu IBI menerjemahkan sesuatu yang ia pikirkan menjadi pencitraan yang mewakili satu atau lebih pesan yang ingin disampaikan. IBI tidak memotret kehidupan anak-anak semata, tapi juga membuat komparasi dengan kehidupan para orangtuanya.
Upaya tersebut diharapkan menjadi semacam ‘cermin’ bagi kehidupan manusia dewasa yang masih saja rentan akan ketidakdewasaan. “Paling tidak hal itu bisa mengingatkan saya sendiri terhadap kearifan, kebijaksanaan, atau kematangan sebagaimana yang seharusnya dimiliki manusia yang beranjak dewasa,” tutur pria kelahiran Denpasar, 9 Mei 1974 ini.
Dia juga mengambil moment kelahiran anak keduanya belum lama ini sebagai gambaran perjuangan seorang ibu, kasih sayang dan mengingatkan awal perjalanan kehidupan manusia dengan kepolosan dan kesuciannya. Dalam beberapa karyanya memperlihatkan ketangkasan IBI mengamati lingkungan dan menyerap intisari hakikat kehidupan.
IBI merasa terpanggil pula mewacanakan fenomenan peran perempuan. Dalam kehidupan yang sepenuhnya ‘didesain’ kaum lelaki, posisiperempuan sangat subordinat.Tetapi belakangan ini keterdesakan kaum perempuan telah melahirkan pembangkangan fisik maupun kultural. IBI memotret berbagai perlawanan moral ini di antaranya melalui serial Kung Fu Master.
Dia mencontohkan, siapa sangka republik ini pernah dipimpin seorang ibu rumah tangga. Atau siapa mengira seorang Marsinah mampu mengilhami ribuan buruh pabrik untuk menuntut hak-haknya. Juga seorang Inul yang mampu mengebor dan menggoyang kemunafikan lelaki. Para Srikandi perempuan seperti itu kini banyak mewarnai sisi kehidupan di negeri ini.
Karya-karya lukis IBI menurut kritikus seni Jean Coutean menunjukkan peningkatan bersifat psikologis. IBI melihat ke dalam batin hubungan dengan sesama manusia. Perlahan IBI terus melakukan pencarian aliran seni yang mulai terarah pada ekspresionis karena mementingkan gerakan dan spontanitas.(Beny Uleander/KPPO EDISI 62/MINGGU II JULI 2004)
Read More