Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 05, 2007

Beny Uleander

Wisatawan Sandal Jepit

365 hari yang membentuk rangkaian 12 bulan pada tahun 2005 menorehkan suatu realitas sosial politik dan ekonomi bangsa yang amat meresahkan. Pengelola negara dan elite politik menjelma menjadi gurita yang membelit berbagai sumber pendapatan negara. Rakyat kebanyakan ditindih kenaikan harga barang dan jasa yang berlipat-lipat. Rakyat sudah terlampau tabah di tahun 2005, sedangkan elite politik sudah kelewatan batas menikmati gaji dan tunjangan yang berlebihan.
Di bidang ekonomi, sektor swasta sebagai penopang ekonomi negara berjalan tertatih-tatih. Ribuan buruh menyambut akhir tahun dengan bayang-bayang ancaman PHK. Sementara pemerintah tidak memperlihatkan kegeniusan dalam kebijakan yang mempertajam sektor-sektor potensial. Contohnya, dunia pariwisata Indonesia kini terancam kolaps. Pariwisata Bali yang kini lesu menjadi barometernya. Apa langkah konkrit pemerintah pusat?
Faktor keamanan sesungguhnya bisa menjadi alasan klise menutup ketidakmampuan dan keseriusan pemerintah menggarap sektor pariwisata sebagai sektor potensial. Data tahun 2000 sebelum bom Bali I tahun 2002 sudah memperlihatkan Indonesia lemah dalam mempromosikan pariwisata negeri ini. Buktinya kunjungan wisatawan asing ke Malaysia 10,58 juta, Thailand 9,51 juta sedangkan Indonesia cuma dikunjungi 5,06 juta wisatawan. Secara absolut kelihatannya memang besar, tapi kalau kita bandingkan dengan wisatawan yang datang ke Malaysia (10, 58 juta), jumlah ini belumlah seberapa. Bahkan dari satu negara saja (Singapore), Malaysia berhasil menangguk 7, 55 juta wisatawan. Kunjungan sebesar 5 juta orang itu sudah termasuk turis-turis asing yang hanya turun beberapa jam dari kapal cruise yang merapat di Tanjung Benoa (Bali).
Bukti lainnya, Bali yang menjadi destinasi wisata dunia kini kehilangan roh karena nilai-nilai tradisional dan tatanan sosial seperti subak kian terpinggirkan. Pertanian Bali tersisihkan dan menuju kehancuran karena tanpa subsidi proteksi.
Sistem distribusi pun tidak adil. Karyawan hotel berpakaian rapi mengerubuti pedagang kaki lima saat istirahat makan siang. Ini semua dilema bagi masyarkat Bali. Praktisi pariwisata Bali sudah berani bersuara lantang –belum terlambat dan harus lebih lantang lagi- kalau Bali selama ini menjadi sapi perahan tangan-tangan pusat. Strategi pemasaran ‘versi pemerintah’ hanya terbatas di atas kertas. Tidak ada strategi cluster yang memadai, dan servisnya buruk. Kita masih ingat komplain wisman yang harus antri berjam-jam di bandara saat diberlakukan visa on arrival. Padahal di negara-negara tetangga mereka bebas masuk tanpa visa. Sudah begitu airline dari kontinen tertentu dibebaskan landing fee selama 2 tahun sehingga tiketnya lebih murah.
The World Travel and Tourism Council (1991) mengungkapkan bahwa pariwisata adalah industri penting dan terbesar di dunia, negara-negara pun sibuk mereposisi industrinya. Pada awal abad ini, seorang ahli ekonomi mikro, Joseph Pine II dan James H. Gilmore, menyebutkan negara-negara industri telah mereposisi ekonominya dari brand-based economy (ekonomi manufaktur berbasiskan produk-produk bermerek) menjadi experience economy (ekonomi berbasiskan experience atau kesan).
Experience adalah kegiatan ekonomi produktif yang menimbulkan efek keterlibatan. Segala sesuatu yang berakhiran ing dalam bahasa Inggris, seperti diving, skiing, dogsledding, hot-air ballooning, whale kissing, snorkeling, dan seterusnya masuk dalam kategori ini. Dan semua itu, merupakan kemasan pariwista modern yang menimbulkan pengaruh kenaikan lapangan kerja sebesar 5,3% (jauh di atas jasa yang hanya tumbuh 2,7%, atau manufaktur yang hanya naik 0,5%) dalam perekonomian Amerika antara 1959-1996.
Kelesuan pariwisata Indonesia selain karena teror bom, juga kelemahan di bidang pemasaran dan promosi. Lihat Malaysia setelah memperoleh kekuatan hukum melalui Malaysia Tourism Promotion Board Act 1992 sangat serius mencetak kantong-kantong kunjungan baru seperti area sirkuit balap Formula I di Sepang, membangun kota air di Kuching, memasarkan Orang Utan Serawak, dan sebagainya. Sedangkan iklan promosi pariwisata Indonesia ”Never Ending Asia” tidak memiliki gema di kalangan pelaku pariwisata. Ketidak seriusan semakin terlihat ketika kita membuka situs informasi pariwisata (www.indonesiatourism.go.id). Selain informasinya tidak up to date, kita juga tidak mencantumkan kantor perwakilan luar negeri. Lebih menyedihkan lagi, saat link-link pada situs yang memuat file video multimedia mengenai lokasi pariwisata Indonesia diklik, yang keluar ternyata pidato menteri. Jadi tepat usulan Prof Dr Ir I Nyoman Sutjipta, MS agar pemerintah berbenah diri dengan berpromosi lewat media teknologi seperti internet dan website sehingga Indonesia tidak melulu menampung wisatawan kelas sandal jepit tetapi juga wisatawan berdasi.
Dengan visi yang jelas, industri pariwisata diarahkan sebagai industri berkelanjutan yang tak boleh berhenti sedetikpun karena peristiwa-peristiwa politik. Arahnya tidak boleh berubah hanya karena berganti pemerintahan. Demikian juga tidak bisa dihadang hanya karena ada negara kuat yang melarang warganya bepergian ke sana. Kekuatan destinasi (Image of a destination) yang dibangun secara sistematis, konseptual dan bertahap akan mampu menembus semua itu. Itulah yang diperoleh Israel yang turisnya tetap berkunjung ke Yerusalem kendati perang terus berkecamuk.
Thailand sendiri merumuskan konsep ”Amazing Thailand” lewat sebuah proses visioner yang panjang. Visi itu dituangkan dengan baik dalam “Thailand 2012”. Kecenderungan kita adalah melebih-lebihkan apa yang dapat kita capai dalam satu tahun dan menyepelekan apa yang dapat kita capai dalam sepuluh tahun. (Richard Foster). (Beny Uleander/KPO EDISI 96)
Read More

Minggu, Januari 01, 2006

Beny Uleander

Harapan Pariwisata Bali 2006

365 hari yang membentuk rangkaian 12 bulan pada tahun 2005 menorehkan suatu realitas sosial politik dan ekonomi bangsa yang amat meresahkan. Pengelola negara dan elite politik menjelma menjadi gurita yang membelit berbagai sumber pendapatan negara. Rakyat kebanyakan ditindih kenaikan harga barang dan jasa yang berlipat-lipat. Rakyat sudah terlampau tabah di tahun 2005, sedangkan elite politik sudah kelewatan batas menikmati gaji dan tunjangan yang berlebihan.

Di bidang ekonomi, sektor swasta sebagai penopang ekonomi negara berjalan tertatih-tatih. Ribuan buruh menyambut akhir tahun dengan bayang-bayang ancaman PHK. Sementara pemerintah tidak memperlihatkan kegeniusan dalam kebijakan yang mempertajam sektor-sektor potensial. Contohnya, dunia pariwisata Indonesia kini terancam kolaps. Pariwisata Bali yang kini lesu menjadi barometernya. Apa langkah konkrit pemerintah pusat?

Faktor keamanan sesungguhnya bisa menjadi alasan klise menutup ketidakmampuan dan keseriusan pemerintah menggarap sektor pariwisata sebagai sektor potensial. Data tahun 2000 sebelum bom Bali I tahun 2002 sudah memperlihatkan Indonesia lemah dalam mempromosikan pariwisata negeri ini. Buktinya kunjungan wisatawan asing ke Malaysia 10,58 juta, Thailand 9,51 juta sedangkan Indonesia cuma dikunjungi 5,06 juta wisatawan. Secara absolut kelihatannya memang besar, tapi kalau kita bandingkan dengan wisatawan yang datang ke Malaysia (10, 58 juta), jumlah ini belumlah seberapa. Bahkan dari satu negara saja (Singapore), Malaysia berhasil menangguk 7, 55 juta wisatawan. Kunjungan sebesar 5 juta orang itu sudah termasuk turis-turis asing yang hanya turun beberapa jam dari kapal cruise yang merapat di Tanjung Benoa (Bali).

Bukti lainnya, Bali yang menjadi destinasi wisata dunia kini kehilangan roh karena nilai-nilai tradisional dan tatanan sosial seperti subak kian terpinggirkan. Pertanian Bali tersisihkan dan menuju kehancuran karena tanpa subsidi proteksi.

Sistem distribusi pun tidak adil. Karyawan hotel berpakaian rapi mengerubuti pedagang kaki lima saat istirahat makan siang. Ini semua dilema bagi masyarkat Bali. Praktisi pariwisata Bali sudah berani bersuara lantang –belum terlambat dan harus lebih lantang lagi- kalau Bali selama ini menjadi sapi perahan tangan-tangan pusat. Strategi pemasaran ‘versi pemerintah’ hanya terbatas di atas kertas. Tidak ada strategi cluster yang memadai, dan servisnya buruk. Kita masih ingat komplain wisman yang harus antri berjam-jam di bandara saat diberlakukan visa on arrival. Padahal di negara-negara tetangga mereka bebas masuk tanpa visa. Sudah begitu airline dari kontinen tertentu dibebaskan landing fee selama 2 tahun sehingga tiketnya lebih murah.

The World Travel and Tourism Council (1991) mengungkapkan bahwa pariwisata adalah industri penting dan terbesar di dunia, negara-negara pun sibuk mereposisi industrinya. Pada awal abad ini, seorang ahli ekonomi mikro, Joseph Pine II dan James H. Gilmore, menyebutkan negara-negara industri telah mereposisi ekonominya dari brand-based economy (ekonomi manufaktur berbasiskan produk-produk bermerek) menjadi experience economy (ekonomi berbasiskan experience atau kesan).

Experience adalah kegiatan ekonomi produktif yang menimbulkan efek keterlibatan. Segala sesuatu yang berakhiran ing dalam bahasa Inggris, seperti diving, skiing, dogsledding, hot-air ballooning, whale kissing, snorkeling, dan seterusnya masuk dalam kategori ini. Dan semua itu, merupakan kemasan pariwista modern yang menimbulkan pengaruh kenaikan lapangan kerja sebesar 5,3% (jauh di atas jasa yang hanya tumbuh 2,7%, atau manufaktur yang hanya naik 0,5%) dalam perekonomian Amerika antara 1959-1996.

Kelesuan pariwisata Indonesia selain karena terror bom, juga kelemahan di bidang pemasaran dan promosi. Lihat Malaysia setelah memperoleh kekuatan hukum melalui Malaysia Tourism Promotion Board Act 1992 sangat serius mencetak kantong-kantong kunjungan baru seperti area sirkuit balap Formula I di Sepang, membangun kota air di Kuching, memasarkan Orang Utan Serawak, dan sebagainya. Sedangkan iklan promosi pariwisata Indonesia ”Never Ending Asia” tidak memiliki gema di kalangan pelaku pariwisata. Ketidak seriusan semakin terlihat ketika kita membuka situs informasi pariwisata (www.indonesiatourism.go.id). Selain informasinya tidak up to date, kita juga tidak mencantumkan kantor perwakilan luar negeri. Lebih menyedihkan lagi, saat link-link pada situs yang memuat file video multimedia mengenai lokasi pariwisata Indonesia diklik, yang keluar ternyata pidato menteri. Jadi tepat usulan Prof Dr Ir I Nyoman Sutjipta, MS agar pemerintah berbenah diri dengan berpromosi lewat media teknologi seperti internet dan website sehingga Indonesia tidak melulu menampung wisatawan kelas sandal jepit tetapi juga wisatawan berdasi.

Dengan visi yang jelas, industri pariwisata diarahkan sebagai industri berkelanjutan yang tak boleh berhenti sedetikpun karena peristiwa-peristiwa politik. Arahnya tidak boleh berubah hanya karena berganti pemerintahan. Demikian juga tidak bisa dihadang hanya karena ada negara kuat yang melarang warganya bepergian ke sana. Kekuatan destinasi (Image of a destination) yang dibangun secara sistematis, konseptual dan bertahap akan mampu menembus semua itu. Itulah yang diperoleh Israel yang turisnya tetap berkunjung ke Yerusalem kendati perang terus berkecamuk.

Thailand sendiri merumuskan konsep ”Amazing Thailand” lewat sebuah proses visioner yang panjang. Visi itu dituangkan dengan baik dalam “Thailand 2012”. Kecenderungan kita adalah melebih-lebihkan apa yang dapat kita capai dalam satu tahun dan menyepelekan apa yang dapat kita capai dalam sepuluh tahun. (Richard Foster). /Beny Uleander dalam PR Januari 2006

Read More

Sabtu, Desember 31, 2005

Beny Uleander

Wajah Pariwisata Ringsek

Wisatawan Jepang Siap Disasar
Pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi. Aktivitas perpelancongan yang semula hanya dinikmati oleh segelintir orang yang relatif kaya pada awal abad ke-20, kini telah menjadi kebutuhan manusia dan menjadi industri tanpa cerobong yang menguntungkan. John Naisbitt dalam bukunya Global Paradox (1994) seperti dikutip Prof Dr Nyoman Sutjipta dalam Pariwisata Revolusi di Pulau Dewata (2005) mengungkapkan pariwisata mempekerjakan 204 juta orang di seluruh dunia, atau satu dari sembilan pekerja yang ada, 10,6 persen dari angkatan kerja global.

Pariwisata merupakan industri terbesar dunia dalam hal pengeluaran bruto, yaitu mendekati US$ 3,4 triliun. Pariwisata merupakan 10,9 % dari semua belanja konsumen, 10,7 % dari semua investasi modal dan 6,9 % dari semua belanja pemerintah. Pariwisata akan menghasilkan 144 juta pekerjaan di seluruh dunia sampai tahun 2005 dan di antaranya 112 juta pekerja berkembang di pesat di Asia Pasifik.

Prediksi John Naisbitt bahwa dalam abad ini akan terjadi gelombang wisatawan Asia di pasar-pasar di seluruh dunia dan negara-negara Asia akan menjadi tujuan wisata yang utama ada benarnya. Untuk Bali sendiri, menurut Dirut PT Pengembangan Pariwisata Bali (Bali Tourism Development Corporation) Ir I Made Mandra, wisatawan Jepang khsususnya kalangan lansia di atas 50 tahun menjadi target pasar yang siap disasar. “Selama ini orang-orang Jepang yang sudah pensiun memilih beristirahat di daerah-daerah tropis seperti Bangkok atau Hawaii yang memiliki banyak kondominium,” ungkapnya. Kini BTDC sedang membangun secara patungan Recuperation & Wellness Resort di atas lahan seluas 8 Ha di kawasan wisata Nusa Dua khusus untuk kalangan lansia dari Jepang yang ingin berlibur menikmati hari tua. “Mereka memiliki asuransi selama bekerja. Kami bekerja sama dengan pihak asuransi yang memungkinkan mereka bisa berkunjung ke Bali. Tentunya kami menyiapkan berbagai fasilitas untuk orangtua. Untuk pelayan hotel sendiri kami utamakan mereka yang memiliki latar belakangan pendidikan perawat,” ungkap Made Mandra. Selain itu, BTDC yang memiliki karyawan 180 orang saat ini memfokuskan diri pada revitalisasi asset yang tidak produktif dan pengoptimalan pemanfaatan lahan di dalam kawasan Nusa Dua yang mempekerjakan 7 ribu karyawan.

Indonesia sebenarnya pernah menikmati masa-masa jaya dari peningkatan pariwisata dunia terutama pada periode 1990 - 1996. Badai krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak akhir tahun 1997, bom Bali I dan II merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi masyarakat pariwisata Indonesia untuk melakukan re-positioning sekaligus re-vitalization kegiatan pariwisata Indonesia. Image pariwisata Bali kini seperti mobil ringsek karena ditabrak. Karena itu selaku praktisi pariwisata, aku Mandra, pihaknya pesimis menghadapi tahun 2006 karena BTDC mengalami penurunan keuntungan 25 persen, yaitu hanya 22 miliar pada tahun 2005. Namun ada harapan agar pemerintah lebih proaktif dengan reposisi sikap lebih kepada kegiatan memasarkan produk-produk pariwisata yang dimiliki daerah. “Ya kalau mau tangkap buaya maka umpannya harus besar,” ujar Mandra beranalogi secara sederhana.agar ada bujet yang besar untuk biaya promosi pariwisata Indonesia di kancah internasional. Peran fasilitator disini dapat diartikan sebagai menciptakan iklim yang nyaman agar para pelaku kegiatan kebudayaan dan pariwisata dapat berkembang secara efisien dan efektif. (Beny Uleander/KPO/EDISI 96/DESEMBER 2005)

Read More

Senin, Desember 26, 2005

Beny Uleander

Nusa Dua, Bukit Tandus Jadi Taman Romantis

Kawasan Zero Accident Dilengkapi 16 Unit CCTV

Bunga warna-warni dibalut hamparan padang rumput hijau segar dihiasi jejeran pohon palma mekar menjadi pesona alami bagi wisatawan yang menjejak kaki di pintu gerbang kawasan wisata Nusa Dua. Tata taman nan apik menjadi santapan mata para pelancong yang rindu melihat dandanan taman romantis di tengah hingar-bingar kendaraan dan polusi udara. Kawasan wisata Nusa Dua, seluas kurang lebih 350 Ha, bagaikan kota impian yang bertabur hotel-hotel berbintang dan berbagai fasilitas hiburan bagi wisatawan yang berlibur ke Bali.

Nusa Dua, dahulunya adalah daerah tandus, tidak produktif dan terpencil di Bukit Peninsula, Badung. Pada tahun 1970, Pemerintah Indonesia menunjuk sebuah Konsultan Perancis, societe Centrale pour I’equipeent Touristque Outre-Mer (SCETO), untuk membuat rencana induk pengembangan pariwisata Bali dengan pemkiran bahwa akomodasi pariwisata pada masa yang akan datang harus dikembangkan lebih lanjut di daerah Sanur dan Kuta.Namun tujuan utama pengembangan di masa yang akan datang akan dikonsentrasikan di Nusa Dua.

Berdasarkan PP No 27 Tahun 1972, pada tanggal 12 November 1973 berdiri PT (Persero) Pengembangan Pariwisata Bali (Bali Tourism Development Corporation). BTDC pun sukses menyulap lahan tandus menjadi kawasan wisatawan yang menarik dan terkenal di mancanegara sebagai salah satu dari 6 kawasan wisata terbaik di dunia. BTDC mengundang investor untuk membangun fasilitas pariwisata yang berkuakualitas internasional.

Pada tahun 1981, Garuda Indonesia Airways sebagai investor pertama, membangun Hotel Nusa Dua Beach, investor berikutnya membangun Bali Sol/Melia Bali dan Hotel Putri Bali. Selanjutnya Club Mediterrance. Tahun 1987 dibangun Sheraton Nusa Dua Indah, Sheraton laguna, Galleria Nusa Dua, Grand Hyatt, Bali Hilton dan lapangan golf. Amanusa berdiri tahun 1991, Lown Bowling tahun 1999 serta pembangunan Villa Kayu Manis.

Meski pariwisata Bali sedang dilanda mendung kelabu, Dirut BTDC Ir I Made Mandra menegaskan BTDC tetap terus berkiprah mengembangkan kwasan siap bangun yang berwawasan lingkungan dengan infrastruktur yang berkualitas internasional. Kini ada tiga hal yang ditanya turis asing sebelum datang ke sebuah destinasi wisata, yaitu security check, patrol check dan call center online. “Kami berusaha meningkatkan keamanan berstandar internasional. Sekarang pintu masuk cuma satu dan ada pemeriksaan umum di pintu masuk serta pemeriksaan berkala keliling kawasan. Pemeriksaan intensif terhadap tamu dan kendaraan dilakukan satpam masing-masing hotel,” ungkap Mandra ketika mengumumkan PT BTDC meraih penghargaan dari Majalah Investor sebagai BUMN Terbaik 2005 untuk Kategori Jasa & Perdagangan.

Meski pernah meraih penghargaan sebagai kawasan Zero Accidennt 2001-2004, kawasan ini berusaha memberikan rasa nyaman bagi wisatawan. “Kami menyiapkan 16 unit cctv untuk merekam setiap orang yang keluar masuk Nusa Dua yang tersimpan selama 10 hari.Untuk tenaga pengamanan, ada 80 satpam dan masing-masing hotel memiliki 16 sampai 20 satpam. Kemudian dibantu polisi pariwisata, polisi air dan polisi Bualu,” ungkap Made Mandra. (Beny Uleander/KPO/EDISI 96/26 DESEMBER 2005)


Read More

Sabtu, Desember 24, 2005

Beny Uleander

Perlu Bangun Image Sekaligus Produk

Recovery Pariwisata Bali
Sudah dua kali, Bali diguncang bom yang oleh kalangan media disebut dengan bom Bali I dan II. Akibat langsung dari dua peristiwa yang memilukan ini adalah anjloknya kunjungan wisatawan ke Bali. Hal ini sangat berpengaruh terhadap berbagai sektor lainnya, misalnya ekonomi, pendapatan, tenaga kerja, keamanan. Pada bom Bali Oktober 2004, tingkat kunjungan wisatawan anjlok seketika tetapi dalam waktu yang relatif singkat sudah pulih bahkan melejit dengan sangat pesat. Bahkan tahun 2004 adalah tahun rekor tertinggi dalam sejarah untuk jumlah kunjungan wisatawan ke Bali. “Kondisi ini sudah menuju ke recovery pariwsata Bali akibat bom Bali I, yang berjumlah 1.453.000-an orang atau naik lebih dari 60-70%. Namun kondisi ini tidak berlangsung lama karena meletusnya peristiwa bom Bali II,” ungkap Nurjaya, Kepala Dinas Pariwisata Propinsi Bali.

Pada peristiwa bom Bali II, kondisi kunjungan tidak langsung anjlok seketika, tetapi menurun secara perlahan-lahan. Harapan dan prediksi dari berbagai kalangan agar kondisi serupa bisa terjadi seperti pada peristiwa bom Bali I sia-sia. Sepinya tamu yang berkunjung ke Bali menjadi keluhan klasik para pelaku hotel, travel agen, pemilik art shop, para sopir dan berbagai usaha jasa lainnya. Banyak kamar hotel ibarat gua dingin tanpa penghuni. Data terakhir menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan menurun hingga 2.000 orang perhari dari 4.500 orang perhari. Angka ini mungkin terus akan merosot bila tidak segera disolusi secara bijakasana oleh berbagai kalangan yang berkompeten di dalamnya.

Menurut Nurjaya, kondisi pariwisata Bali akan pulih dengan membangun image bagi masyarakat umumnya yang disertai dengan penataan produk-produk baru dari berbagai aset wisata. Perlunya membangun image disebabkan isu sentral yang berkembang adalah keamanan yang tidak kondusif. Padahal dari segi keamanan sudah mengalami kemajuan yang pesat. Hal ini terbukti dengan tertangkapnya gembong teroris Dr. Azhari, terungkapnya kasus ledakan bom Jimbaran dan Kuta, terbentuknya Badan Potensi Pengamanan Daerah, dan bahkan sekarang ada tambahan 6.000 personil polisi yang ditempatkan di Bali, serta bantuan intelijen TNI untuk memperkuat intelijen Polri. “Kita mengakui bahwa fakta di lapangan menunjukkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan sepi, tetapi kita mesti menunjukkan kepada dunia tentang berbagai hal yang kita lakukan untuk pemulihan kondisi yang ada,” ungkap Nurjaya optimis.

Nurjaya mengakui masih lemahnya para Public Relation untuk giat promosi di luar negeri, dalam rangka menggarap pasar-pasar baru selain pasar lama yang telah digarap. Sasaran pasar baru terutama Cina dan India, sedangkan pasar lama adalah Australia, Jepang, Korea, Jerman, Perancis. Dalam kondisi seperti sekarang, alternatif terbaik adalah mendorong wisman lokal untuk datang ke Bali. Survei membuktikan banyak orang Indonesia yang tidak mengenal wilayah lain selain wilayahnya sendiri. Kondisi ini membuat pemerintah SBY menghimbau agar orang lebih banyak berlibur ke Bali. Akibatnya, para pelaku pariwisata Bali harus lebih mengutamakan produk-produk lokal yang bisa dinikmati tamu lokal. (Arnold Dhae & Beny Uleander)

Read More

Kamis, Desember 22, 2005

Beny Uleander

Kunjungan Turis Sepi, PR Lemah Berpromosi

Sudah dua kali, Bali diguncang bom yang oleh kalangan media disebut dengan bom Bali I dan II. Dua peristiwa ini mengakibatkan lesunya kunjungan wisatawan ke Bali. Menurut Gede Nurjaya, lesunya kunjungan wisatawan ke Bali adalaha akibat dari lemahnya promosi para Public Relation (PR) ke luar negeri dalam rangka menggarap pasar-pasar baru selain pasar lama yang telah digarap. Sasaran pasar baru terutama Cina dan India, sedangkan pasar lama adalah Australia, Jepang, Korea, Jerman, Perancis. “Kita mengakui kenyataan di lapangan bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke Bali menurun drastis akibat isu sentral keamanan yang tidak kondusif. Tapi kita juga mesti menunjukkan kepada dunia bahwa kita telah berbuat banyak untuk mengatasi kondisi ini. Dan ini adalah tugas para PR, para pelaku pariwisata dan pers,” urai Nurjaya meyakinkan.

Nurjaya melanjutkan, tahun 2004 adalah tahun rekor tertinggi dalam sejarah untuk jumlah kunjungan wisatawan ke Bali. Kondisi ini sudah menuju ke recovery pariwisata Bali akibat bom Bali I, yang berjumlah 1.453.000-an orang atau naik lebih dari 60-70%. Namun kondisi ini tidak berlangsung lama karena meletusnya peristiwa bom Bali II. Pada peristiwa bom Bali II, kondisi kunjungan tidak langsung anjlok seketika, tetapi menurun secara perlahan-lahan. Sepinya tamu yang berkunjung ke Bali menjadi keluhan klasik para pelaku hotel, travel agen, pemilik art shop, para sopir dan berbagai usaha jasa lainnya. Banyak kamar hotel ibarat gua dingin tanpa penghuni. Data terakhir menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan menurun hingga 2.000 orang perhari dari 4.500 orang perhari.

Kondisi pariwisata Bali akan segera pulih dengan membangun image bagi masyarakat umumnya yang disertai dengan penataan produk-produk baru dari berbagai aset wisata. Ini menjadi prioritas promosi oleh para PR dan pelaku pariwisata lainnya. Promosi ini tidak mesti harus berkunjung ke luar negeri tetapi dengan menguasai teknologi informasi. Promosi harus diperkuat dengan akurasi data dan foto-foto tentang pemulihan kondisi pariwisata Bali.

Penangan dalam bidang keamanan sudah mengalami kemajuan yang pesat. Hal ini terbukti dengan tertangkapnya gembong teroris Dr. Azhari, terungkapnya kasus ledakan bom Jimbaran dan Kuta, terbentuknya Badan Potensi Pengamanan Daerah, dan bahkan sekarang ada tambahan 6.000 personil polisi yang ditempatkan di Bali, serta bantuan intelijen TNI untuk memperkuat intelijen Polri. Dalam kondisi seperti sekarang, alternatif terbaik adalah mendorong wisman lokal untuk datang ke Bali. Survei membuktikan banyak orang Indonesia yang tidak mengenal wilayah lain selain wilayahnya sendiri. Kondisi ini membuat pemerintah SBY menghimbau agar orang lebih banyak berlibur ke Bali. Akibatnya, para pelaku pariwisata Bali harus lebih mengutamakan produk-produk lokal yang bisa dinikmati tamu lokal. (Arnold Dhae & Beny Uleander)

Read More

Selasa, Desember 20, 2005

Beny Uleander

Pariwisata Lesu Promosi Digencarkan

Banyak kalangan yang mengatakan bahwa pariwisata Bali, kini mengalami mati suri setelah mengalami pukulan untuk kedua kalinya. Masalah keamanan Bali tentunya menjadi kendala utama untuk mengembalikan pariwisata Bali kepunak kejayaannya. Untuk itu dibutuhkan kerja yang cukup ekstra dari pemerintah, pengusaha serta pelaku pariwisata untuk membangkitkan kembali dunia pariwisata Bali. Seperti yang diungkapkan Grace Jeanie, Public Relation Manager Sector Bar & Club, Bali Beach Golf Course.

Berbagai cara pun ditempuh untuk meramaikan acara malam tahun baru, 31 Desember 2005. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan menggandeng production Jakarta serta artis ibu kota untuk mempromosikan keamanan Bali yang mulai pudar akibat terjadinya bom. ‘’Saya mengajak salah satu production di Jakarta untuk melakukan promosi di kawasan Jakarta seminggu sebelum acara. Kebetulan partner kita kenal banyak artis, jadi sekalian untuk melakukan promosi kalau Bali sudah aman,” jelasnya.

Selain itu, promosi juga gencar dilakukan di kota semarang dan Bali tentunya. Apa yang dilakukan Sector Bar & Club di malam akhir tahun pertama kali ini, bagi Jeanie merupakan langkah kongkrit untuk turut serta menggairahkan kembali pariwisata Bali. ‘’Harapan kami acara ini bisa menarik minat wisatawan domestik baik dari Jakarta maupun daerah-daerah lain di Jawa untuk datang ke Bali. Sehingga kepercayaan wisatawan mancanegara akan keamanan Bali kembali pulih,” harapnya.

Perayaan malam tahun baru dengan tema Coyote Nite, memberikan ambience yang sexy dan luscious ala film coyote ugly yang sangat terkenal di Inggris. Selain itu, acara tersebut juga dimeriahkan dengan kehadiran Kaimsasikun Band dan DJ dari Embassy Club Jakarta. Untuk lebih menarik minat pengunjung di tengah sepinya wisatawan ini, Jeanie pun memberi harga spesial yang relatif murah. ‘’Kita tidak seperti tempat lain yang biasanya mematok harga mahal. Kita disini memberikan harga yang sangat terjangkau, di bawah harga pada hari-hari biasa,” jelasnya. (Beny Uleander & Made Sutami)

Read More

Rabu, Oktober 12, 2005

Beny Uleander

50 Bidadari Tionghoa Lepas Penyu Di Tanjung Benoa

Tanjung Benoa yang tenang dan sepi, Rabu siang (12/10), pukul 13.45 Wita, jauh dari hiruk-pikuk peringatan massal Bom Bali I di Kuta dan Renon, Denpasar, menjadi saksi bisu ‘turunnya 50 bidadari cantik menawan dari khayangan’ di pantai berpasir putih itu.

Orang nomor satu Bali, Drs I Dewa Made Beratha bersama isteri didampingi owner Grand Mirage Resort, Lindratini turut mengantar 50 Miss Chinese Cosmos Pageant (MCCP) 2005 sampai di bibir pantai kala menumpang 30 jukung yang ‘melaut’ sekitar 1 km dari garis pantai untuk melepas 50 ekor penyu.

Jukung dengan layar terkembang ditumpangi dua peserta semifinal MCCP berlayar pelan ke laut lepas. Sementara di atas langit yang cerah, seekor burung Garuda raksasa (layangan khas Bali –Red) melayang-layang dengan ekor berwarna merah, hitam dan putih sepanjang 30 meter menaungi “Bidadari Tionghoa.

Sungguh, sebuah perbauran alami antara aura kecantikan batin dan pesona keindahan pantai yang kian mempertegas cita rasa Bali sebagai Taman Surga yang tak perlu lagi berduka dengan musibah Bom Bali II.

Sementara tiupan angin pantai mengibas lembut rambut para ‘Bidadari Tionghoa’ yang terurai panjang. Alam pun seakan ikut menyapa mesra kehadiran para dara jelita bertubuh langsing dibalut kulit putih mulus mengenakan ‘you can see’ dan kain pantai yang seksi.

Lindratini, owner Mirage Resort Bali tersenyum bangga dimintai komentar soal agenda pelestarian lingkungan yang mulai rutin digelar hotelnya. “Kami tawarkan agenda ini kepada para tamu yang peduli dengan pelestarian lingkungan. Ini program mempromosikan Bali kepada para tamu yang mau mengadakan acara di Bali. Kami mengemas dengan bagus dan rapi seperti turtle for life dan kampanye no drugs sehingga para tamu tahu orang Bali care dengan lingkungan,” tandas perempuan paruh baya ini.

Sejurus kemudian, 50 Miss Chinese yang kembali ke gubuk alang-alang di tepi pantai itu dikejutkan dengan kunjungan 100 siswa/wi kelas V dan VI SD 2 Tanjung Benoa yang mengenakan celana/rok merah berbaju putih membawa bendera merah putih dari kertas minyak sebagai lambing kehangatan dan keramahan anak bangsa yang sempat terdistorsi dengan segelintir teroris gila.

Lantas, para Bidadari Tionghoa dihadiahi bendera merah putih. Masing-masing Miss Chinese menggandeng seorang siswa dan siswi berjalan menuju tenda lain untuk berdiskusi perlunya melawan peredaran narkoba sejak dini dan kampanye Indonesia Bersatu. (Beny Uleander/KPO EDISI 91/NOVEMBER 2005)

Read More
Beny Uleander

Amrozi Tinggalkan Bali Yang Sedang Menangis

Jangan tinggalkan Bali selagi aku menangis. Walaupun darah telah membasahi bumi Bali, kembalikanlah Baliku. Bagi Anda yang mencintai, tinggal dan menghidupi Bali, mari kita mendorong pemerintah segera melakukan eksekusi mati Amrozi cs. Jangan bertindak anarkis. Mari kita menjaga Bali”.

Demikian isi SMS (short message service) yang beredar di antara masyarakat Bali, khususnya Denpasar dan Badung disertai ajakan melakukan aksi demo menuntut ekesekusi terpidana mati Amrozi cs. SMS gelap tersebut memang efektif mengumpulkan ratusan massa yang terkonsentrasi di depan Pengadilan Negeri Denpasar dan LP Kerobokan,Kuta.

Massa yang mendatangi LP Kerobokan sejak 14.00 WITA, Rabu (12/10) menyebabkan ruas jalan antara Legian-Petitenget dan Malboro sempat macet. Massa yang sulit teridentifikasi itu terus meneriakan yel-yel agar para pelaku peledakan Bom Bali I pada 12 Oktober 2002, Amrozi cs yang sudah diungsikan ke LP Nusakambangan, Cilacap, segera dihukum mati di Bali.

Massa umumnya mengenakan pakaian adat Bali terus membludak merangsek maju ke halaman depan lapas tersebut. Akibatnya, atap dan tembok pintu gerbang LP Kerobokan sepanjang 20 meter dirobohkan massa. Sementara ratusan polisi bersiaga di depan lapas tersebut.

Setelah melalui dialog yang alot, Kalapas LP Kerobokan Drs Bromo Setyono, BCIP didampangi Kapolres Badung, AKBP I Nyoman Gede Sujarna menerima perwakilan massa yaitu Made Adnyana, Ketut Dompu, Wayan Pusnadi dan Nyoman Sunada. Keempat wakil massa ini menyampaikan dua aspirasi. Pertama, segera eksekusi terpidana Amrozi dkk di Bali. Kedua, masyarakat ingin tahu kapan eksekusi dilaknasakan.

Setyono berjanji akan menyampaikan aspirasi masyarakat Bali ini kepada instansi terkait. “Pemindahan Amrozi cs itu permintaan atas dengan alasan keamanan. Saya hanya unit pelaksana. Pemindahan itu hanya sementara. Kalau sudah aman mereka tentunya akan dikembalikan ke Bali,” jelasnya.

Menurut Kabid Humas Polda Pola Kombes AS Reniban, pihaknya mengerahkan satu peleton polisi dalmas dan satu peleton brimob. Meski begitu, Reniban mengeluhkan aksi massa tersebut yang dinilainya tidak dewasa dan bertanggung-jawab. “Memang kami menilai aksi ini murni sebagai aspirasi masyarakat Bali. Tapi sayangnya ini digerakan oleh SMS yang beredar di masyarakat. Seharusnya ada yang bertanggung jawab sehingga kepolisian dihubungi sebelumnya,” keluh Reniban yang mengaku pada peringatan tiga tahun bom Bali I ini, aparat kepolisian sangat sibuk.

Meski begitu, papar Reniban, pihak kepolisian tidak akan mencari atau menangkap para dalangnya. “Tidak ada penyelidikan atau penangkapan,” ujarnya dengan wajah kelelahan usai berakhirnya aksi demo pada pukul 18.45 Wita di halaman depan Lapas Kerobokan.

Pihak keamanan rupanya sudah mencium secara dini bakal adanya demo besar-besaran pada peringatan tiga tahun bom Legian Kuta di Lapas Kerobokan yang dihuni para pelaku peledakan bom Bali I. Buktinya, demi keamanan, Amrozi cs segera dipindahkan ke Nusakambangan. Aksi ledakan bom di Jimbaran dan Kuta Square awal Oktober itu menjadi pemicu bangkit kembali perasaan traumatis bagi warga Bali. Ibarat luka lama yang belum sembuh kembali berdarah. Itulah situasi yang dirasakan penghuni Pulau Dewata yang menyandarkan detak nadi ekonomi pada sektor pariwisata. Demikian pendapat Dewa Putu Sudarsana (35) salah satu warga yang ikut dalam aksi demo tersebut.

“Kami kecewa kenapa sampai sekarang Amrozi cs belum dieksekusi. Padahal grasinya sudah ditolak presiden. Kenapa nyawa seorang Amrozi begitu dilindung padahal akibat perbuatan biadab mereka 202 orang meninggal,” tandas Putu yang berhenti berkarir sebagai GM sebuah hotel di Ubud paska bom Bali I. (Beny Uleander/KPO EDISI 91/ OKTOBER 2005)

Read More

Senin, Oktober 10, 2005

Beny Uleander

Sasar Tamu Domestik

Profil D Riana Bismarak, PR Waterbom Kuta

Selamat datang masa depan yang cerah bagi industri pariwasata Bali. Inilah nada optimis yang disampaikan D. Riana Bismarak selaku Director of Sales & Marketing Waterbom, Jl Kartika Plaza, Tuban, Badung. Bukan sembarang optimisme di tengah kecemasan pelaku pariwisata Bali akan dampak bom Bali II yang mengganggu kunjungan wisatawan dunia ke Bali.

Paling tidak, menurut Riana, para pelaku pariwisata Bali sudah dibekali pengalaman bertahan di masa krisis dan kiat jitu membangun kembali image Bali yang aman di mata pelancong mancanegara. Salah satu terobosan adalah mengoptimalkan market lokal dengan menyasar tamu domestik se-Indonesia. Tiga bulan tersisa ini ada masa liburan Lebaran dan Natal. Diharapkan, para karyawan dengan THR tertentu dapat berkunjung ke Bali.

“Soal harga kami tidak turunkan. Karena belajar dari pengalaman bom Bali I ketika harga diturunkan akan sulit untuk dinaikkan kembali ketika situasi sudah kembali pulih,” tandas Riana alumni Akademi Pariwisata Sahid Jakarta angkatan 1997.

Sedangkan upaya membangun citra positif, pihaknya kini sedang menjajak kerja sama dengan Garuda dan Air Paradise untuk bisa mendatangkan media dan travel agency dari Australia guna bertemu di Bali. “Kami akan mengadakan host dengan mereka. Juga mereka bisa melihat sendiri kalau Bali sudah bersih, aman dan oke untuk dikunjungi kembali,” papar wanita yang berulangtahun tanggal 5 Juli. Upaya ini akan secepatnya direalisasi mencegah terbentuknya citra negatif keamanan di Bali.

“Kami berharap media juga turut mendukung pemberitaan yang oke tentang Bali. Tolong estetika fotonya.jangan lagi memuat gambar bom melulu atau gambar orang yang mau mati akibat bom. Itu bukan tragedy harian,” cetusnya.

Sementara Kadispar Propinsi Bali Gede Nurjaya memuji dan mendukung langkah praktisi perhotelan di Bali yang mulai membidik wisatawan nusantara. Menurutnya, turis domestik memiliki dua fungsi. Selain berkunjung ke Bali,mereka juga bisa memberi gambaran bahwa kemanan di Indonesia umumnya dan Bali khususnya sudah kondusif.

Terkait sistem keamanan,menurut Nurjaya, harus meliputi seluruh Bali sebagai suatu kesatuan geografi. “Pengamanan di hotel memang ketat tapi sesudah itu mulai mengendor. Karena itu pemda pasti akan menyiapkan anggaran pengamanan untuk aparat kemanan atau untuk pembiayaan lain terkait keamanan. Anggaran itu di luar luar pajak hotel. Sedangkan di bandara sudah ada sistem pengamanan tersendiri. Orang tidak mudah lagi masuk ke bandara,” ujarnya usai menghadiri pemaparan roadshow Bali Village di Australia dan Selandia Baru di Vila Segara, Sanur. (Beny Uleander/KPO EDISI 91/Oktober 2005)

Read More

Sabtu, Oktober 08, 2005

Beny Uleander

Mencari Pesan Angin Surga Di Pantai Muaya, Jimbaran

Angin malam Minggu (8/10) di Pantai Muaya, Jimbaran bertiup segar menerpa tubuhku yang duduk bersandar di bawah sebuah pohon yang tumbuh antara Menega Café dan Teba Café. Mataku menatap nanar ke arah laut lepas. Lampu-lampu dari perahu nelayan yang sedang melaut seperti lambaian tangan bocah-bocah yang kegirangan. Secercah kedamaian menelusup masuk dalam jiwaku. Aku duduk bersila di bibir pantai Muaya tepat depan Menega Cafe dan Nyoman Café, yang hancul luluh lantak dihantam bom. Meski sendirian, aku tidak takut.

Aliran rasa damai seperti mengikuti gerakan mataku. Pandanganku beralih melihat ‘ujung laut’ setapak demi setapak mengikuti gelora gulungan ombak yang datang silih berganti. Itulah gelora kehidupan yang dimiliki manusia juga pasutri Dharmawan dan Mintarsah yang menjadi korban pemboman saat sedang menikmati sajian sea food dengan aroma lobster bersama putri dan menantunya Shery dan Reza di tempat ini. Gulungan ombak kehidupan itu berakhir pecah ketika tiba di bibir pantai. Itulah simbolisasi kematian. Sangat sederhana memahami kehidupan dan kematian sebagai awal dan akhir seperti diucapkan Gede Pramana. Khasnya, kehidupan itu terus berlanjut dalam gulungan ombak yang datang silih berganti.

Bidadari malam menatapku dengan cahaya yang lembut seakan mendekatkan aku dengan pesan surga dan episode ketragisan hidup manusia. Hidup adalah anugerah Pencipta dan kematian adalah pintu manusia bersua lagi dengan Khaliknya. Namun sulit diterima detik-detik kematian itu seperti pencuri di tengah malam, tak terduga dan merenggut nyawa di tempat yang kerap dicari manusia untuk menanam kemesraan, membenihkan keromantisan dan melepas lelah kehidupan yang berat bergelayut di dada ke arah lautan bebas.

Sudah sejam aku sengaja berada di pantai ini. Kala waktu menunjukkan pukul 17.45 Wita, aku mengamini kejahatan dan aksi teroris tak mampu membinasakan nilai-nilai kehidupan. Mataku kembali merekam para korban tewas dan terluka yang masuk silih berganti diantar ke RS Sanglah, Denpasar. “Entah apa yang dicari para teroris di tempat ini. Kog tega mereka membunuh orang yang sedang makan di lokasi ini,” gumam Made Loka (52) pemilik Pantai Sari Café Jimbaran yang kembali terngiang di telingaku.

Air mata itu sudah sirna berganti harapan. Termasuk air mata ibunda Dwi Yuniatri yang menyaksi kematian anaknya Teuku Deffansyah dalam pelukannya di RS Sanglah. Deffansyah terluka parah di bagian belakang kepalanya saat sedang makan malam dengan ibu dan ayahnya Danielsyah di Madeka Café. Kini bingkai harapan itu kembali merekah di dada penghuni Pulau Seribu Pura ini. Betapa sabarnya masyarakat Pulau Dewata ini menerima cobaan kedua kalinya setelah peristiwa Sabtu kelabu 12 Oktober 2002 lalu. Pantai Muaya yang tetap damai mewakili taksu Bali yang senantiasa menebarkan angin surgawi. Itulah yang dicari para pelancong dalam dan luar negeri yang siang hari tetap berlarian di tepi pantai berpasir putih ini seakan merayakan kehidupan sebagai anugerah. (Beny Uleander/KPO EDISI 91/NOVEMBER 2005)

Read More

Rabu, Oktober 05, 2005

Beny Uleander

Serpihan Ledakan Bom Bersimpuh Di Kaki Penjor

Hari Raya Galungan tiba. Penjor-penjor berdiri berbaris rapi di halaman depan setiap rumah di Bali dalam lengkungan keindahan. Sepanjang Jl Legian Kuta hingga Denpasar menjelang Hari Raya Galungan, Selasa sore (4/10), warga sibuk menggali lubang dan mendandani penjor –bambu melengkung yang dihiasi janur dan bunga- ditanam di halaman depan rumah. Penjor adalah simbol kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan) yang diperingati lewat Galungan.

Keagungan penjor kali ini seakan menyeret manusia penghuni Pulau Bali masuk dalam benteng-benteng perlindungan tak kelihatan. Benteng yang menjaga manusia Bali dari amukan badai bom Bali II yang memporak-porandakan Jimbaran dan Kuta Square, pekan lalu. Juga benteng yang memberi ketenangan batin bahwa kebaikan adalah jiwa kehidupan yang tak mungkin binasa oleh aksi kebiadaban. Serpihan pecahan bom di Sea Food Centre Jimbaran dan Kuata Square bersimpuh di kaki penjor. Itulah dandanan eksotik Pulau Surga ini.

Warga Kuta yang tinggal di jantung pariwisata Bali dengan wajah sukacita menghiasi penjor. Beberapa remaja terlihat bercengkrama akrab menggali lubang. Selain rumah warga, toko-toko, restoran, pub, bar dan warung-warung kecil pun memasang penjor di halaman depannya. Sementara di kawasan Kuta Square beberapa polisi masih berjaga-jaga di lokasi pemboman yang porak-poranda dan sudah diisolasi untuk kepentingan penyelidikan polisi. Sebuah pemandangan yang kontras tetapi memberi peneguhan bahwa kejahatan selalu terjadi di atas muka bumi tetapi kehidupan senantiasa diperkaya dengan kegembiraan, ketenangan, kesabaran dan kedamaian.

Manusia Bali tetap bersolek dalam balutan kecantikan spiritual dalam menyambut Galungan. Sehingga pada Senin (3/10), warga desa Jimbaran beramai-ramai mengadakan upacara penyucian ‘Pamrastitha Sayud Dur Mangala’ di Pantai Muaya, Jimbaran. Prosesi dan ritual penyucian ini untuk mempersiapkan desa secara ‘sekala’ dan ‘niskala’ –jasmani dan rohani—memasuki rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan, yang jatuh pada 15 Oktober depan.

Pada Galungan, Rabu (5/10), sejak pagi pukul 07.00 Wita, warga Kota Denpasar dan Badung melakukan persembahyangan di pura-pura Kahyangan Tiga di banjarnya masing-masing. Sebagian kemudian bersembahyang di Pura Jagatnatha, pura terbesar di Kota Denpasar –setelah rampung menghaturkan sesaji di rumah dan tempat kerja masing-masing. Kaum perempuan berdandan kebaya membawa canangsari, banten berisi bunga dan buah-buahan aneka rupa. Sedangkan kaum lelaki mengenakan destar putih, kemeja putih dan berkain saput putih kuning. Di dalam pura, dua orang ‘pedanda’ –pemimpin keagamaan- perempuan berusia renta memimpin jalannya upacara. Denting genta dari tangan para pedanda memecah keheningan pagi. Untaian doa dalam semangat Galungan membawa harapan pulau ini dibersihkan dari aura kejahatan yang ditebar para teroris.

Usai bersembahyang, warga Hindu melepas lelah, duduk-duduk di lapangan Puputan, tepat di depan pura. Sebagian memesan makanan dari pedagang bakso, sate ayam, dan jajan lain yang sudah memenuhi pelataran pura sejak upacara dimulai.

Perayaan Galungan diperingati setiap tahun dalam kalendar Bali atau tepatnya setiap enam bulan dalam tahun masehi bersamaan dengan hari pertama bulan Ramadhan. Warga Bali yang muslim sejak Selasa malam sudah ramai melakukan sholat tarawih di masjid-masjid yang bertebaran di Denpasar. Terbentang pemandangan indah soal toleransi beragama yang begitu kuat tumbuh mengakar di dada manusia Bali. Waktu Nyepi yang jatuh pada hari Jumat lalu, warga muslim diizinkan keluar bersembahyang di masjid. Padahal semua aktivitas dibekukan pada Hari Nyepi. (Beny Uleander/KPO EDISI 91/Oktober 2005)

Read More

Selasa, Juli 27, 2004

Beny Uleander

Saya Merasa Aman Di Bali

Shannon
Selasa siang, 27 Juli 2004 di pantai Kuta, Bali. Terik mentari terasa menyengat, membakar setiap tamu yang berjemur di bibir pantai sepanjang 8 km itu. Udara pantai yang menerpa wisatawan asing, termasuk wisman cilik tidak pernah digubris. Yang bisa direkam adalah impian keceriaan setiap raut wisatawan untuk bermandi matahari di pantai yang sudah melegenda itu. Wisatawan usia senja, remaja dan anak-anak tidak peduli terpaan hawa gerah yang menyatu dengan pasir putih. Ada yang mandi, bermain selancar, membaca buku di bawah tenda payung dan banyak yang lagi menikmati terik matahari dengan apa yang disebut sumur (susu berjemur) yang beralaskan kain pantai, produk pedagang asongan. Sebagian anak menguji kreatifitasnya dengan membuat rumah dari gundukan pasir, dan ada pula tertidur di pangkuan ibunya.
Shannon (24) merupakan salah seorang wisatawan yang juga asyik menikmati semilirnya angin laut dan hangatnya pasir putih tersebut. Gadis cantik kelahiran Denver, Kanada ini memilih Bali sebagai tempat liburan musim panas. Shannon berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di salah satu SMU Tokyo, Jepang. Sudah dua minggu, ia berada di Bali. Uniknya, semua waktu dihabiskan dengan berjemur diri di pantai Kuta. Sejak pagi, Shannon sudah datang ke pantai dan berenang, disusul jerjemur diri. Katanya, waktu berjemur diri, hatinya diselimuti sebuah perasaan damai dan tenang.
Shannon datang sendirian di Bali dan mengaku tidak takut dengan isu seputar terorisme. Buktinya, liburannya kali ini merupakan kunjungan keduanya ke Indonesia. “Saya merasa Bali sekarang sudah aman. Masyarakat internasional tahu bom Legian dilakukan kelompok yang menjadi musuh dunia saat ini. Saya menilai orang Indonesia itu baik dan bisa bergaul dengan orang dari bangsa lain. Orang Indonesia tidak tertutup. Saya merasa aman tinggal di sini,” ujar lajang ini polos.
Membludaknya jumlah wisman ini dimanfaatkan para pedagang asongan, kelompok pijat tradisional, pembuat lukisan tato dan penjual cinderamata untuk mengais rejeki. Tidak sedikit bule yang merasa kegiatan mereka di pantai terganggu dengan aksi mereka menawarkan jasa pijat dan tato. Ada juga yang sampai memaksa wisatawan untuk membeli, lukis tato di badan atau dipijat.
Banyak penjaja asongan, kaki lima, dan ‘kaum preman’ pada amburadul, liar, tidak mau tunduk pada peraturan, dan berbias pada terjadinya aksi pencopetan, jambret, setengah perampokan, pemaksaan dan kekerasan. Tak segan mereka membangunkan turis yang tengah tertidur saat berjemur itu. Padahal seorang turis datang berlibur untuk menikmati suasana nyaman, melepas rasa frustrasi, menghirup udara bebas, dan bebas dari segala gangguan yang terkesan membatasi ruang geraknya.
Shannon yang senang berdiam diri menikmati istirahatnya tak luput dari gangguan-gangguan kecil para pedagang asongan dan penawar jasa pijat dan tato itu. Meski mereka datang silih berganti, Shannon mau juga melayani tawaran mereka dengan senyum dan menolaknya secara halus. “Maaf, saya ingin sendiri,” tolaknya ketika seorang ibu menawarkan jasa pijat.
Shannon mengaku tidak merasa terganggu dengan ulah mereka. “Ya, saya memahami situasi di sini. Apalagi pekerjaan sulit dan banyak yang menganggur. Di sini banyak turis, jadi wajar kalau mereka mencari uang. It’s okey,” ungkapnya.
Tingkat pengertian Shannon yang lugas ini setidaknya menjadi cermin bahwa wisman yang berkunjung ke Indonesia telah mendapat informasi tentang situasi krisis ekonomi yang tak kunjung berakhir. Hanya saja, suasana aman, nyaman, ketenangan dan kepastian yang dijanjikan pemerintah bagi para pelancong jangan dinodai dengan aksi kekerasan seperti penjambretan, perampokan dan penipuan.
Bercermin dari tragedi bom Bali, misalnya, roda industri pariwisata di Indonesia dan Bali khususnya, sempat macet. Dua bom, yang diledakkan tepat di jantung pariwisata Bali, Kuta melemahkan denyut nadi pariwisata Bali. Dampak empiris jelas terlihat, jumlah kunjungan langsung wisatawan asing ke Bali menurun drastis dan mencapai titik terendah sepanjang sejarah kunjungan wisman ke Bali.
Catatan Kantor Imigrasi Pelabuhan Udara Ngurah Rai per 18 Oktober 2002 menunjukkan, 4.202 orang meninggalkan Bali melalui bandara internasional, dan yang berani datang hanya 936 orang. Dampak terpuruk justru dialami para pemilik industri tanpa cerobong asap. Tingkat hunian hotel di Bali merosot hingga 9,9%, terjadi penghematan di berbagai bidang dan buntutnya, banyak pekerja di sektor pariwisata harus bersedia dirumahkan. Untuk itu, jangan dan jangan lagi biarkan The Last Paradise kehilangan taksunya. (Beny Uleander/KPO EDISI 63/MINGGU I AGUSTUS 2004)
Read More

Senin, Juli 26, 2004

Beny Uleander

Australia Minta Warganya Tetap Waspada

Nama Bali identik dengan kegiatan kepariwisataan. Bali, sebelum bom Legian 12 Oktober 2002 merupakan salah satu ‘perkampungan komunitas internasional’ di dunia. Kita bisa bertemu dengan bule dari berbagai belahan benua --Eropa, Amerika, Australia, Afrika dan saudara serumpun Asia--. Sayangnya, pasca bom Legian, pariwisata Bali benar-benar anjlok. Wisatawan asing diliputi perasaan traumatik untuk berkunjung ke Bali. Korban paling banyak berasal dari negeri Kanguru, Australia. Akibatnya, memasuki tahun baru 2003, tingkat hunian hotel menurun tajam.
Berdasarkan catatan dari Disparbud Bali, tingkat hunian dan pemesanan kamar hotel bintang tiga sampai bintang lima seperti di Kuta, Sanur, Ubud dan Nusa Dua menurun drastis, apalagi travel warning masih diberlakukan sejumlah negara. Kini pariwisata Bali kembali pulih meski sempat goyah akibat isu virus SARS dan Flu Burung. Namun ada ganjalan yang dirasa bisa memicu menurunnya tingkat kunjungan wisatawan asing yakni meningkatnya aksi kekerasan yang menimpa turis mancanegara.
Konjen Australia di Bali, Brian Diamond ketika dimintai pendapatnya seputar tindak kekerasan yang menyasar wisatawan asing hanya meminta pelakunya diadili sesuai hukum yang berlaku di Indonesia. Selebihnya, Diamond enggan berkomentar soal adanya bule Australia yang disasar maling. “Maaf, saya belum bisa berkomentar tanpa data yang akurat,” ujarnya. Namun, lanjutnya, Pemerintah Australia tidak melarang warganya untuk datang ke Indonesia termasuk Bali. “Memang pemerintah kami memberikan informasi soal keamanan di semua kepulauan Indonesia, termasuk Bali dan nasihat untuk selalu berhati-hati. Jadi sepenuhnya terserah pada warga kami sendiri,” imbuhnya.
Sebelumnya, guna mengantisipasi aksi kekerasan dan tindak terorisme, Kepolisian Federal Australia (AFP) telah membuka kantornya di Konsulat Jenderal Australia, Jl Muh Yamin, Renon, Denpasar pada 5 Juli lalu. Keberadaan kantor AFP yang diresmikan Menteri Kehakiman dan Bea Cukai Australia, Christopher Ellison diharapkan bisa mengefektifkan upaya memerangi kejahatan lintas negara seperti terorisme, wisata seks anak-anak, perbudakan seks dan penyelundupan manusia.
Saat itu Kapolda Bali, Irjen Pol Mangku Pastika menilai, Bali bisa mengambil keuntungan dari keberadaan kantor AFP. Alasannya, sebagian besar wisman yang berkunjung ke Bali berasal dari Australia. Kehadiran kantor AFP tentu memberi rasa aman bagi turis asal Australia.
Pada paro pertama tahun 2004, keadaan di Bali terutama kawasan wisata seperti Kuta, Sanur dan sekitar Denpasar, terjadi kekerasan yang mengganggu kenyamanan turis. Banyak ‘kaum preman’ yang melakukan aksi pencopetan, jambret, setengah perampokan, pemaksaan dan kekerasan. Umumnya, wisman dianggap banyak uang, mudah diperas, ditipu dan diancam. Tercatat Alexdra Sonia Miranda Gonzales, guide dan pemandu wisata asal Timor Leste dibekuk 16 Mei lalu karena memasukkan bubuk obat bius ke minuman James Cristie, warga Australia. Dari tangan korban disita Rp 3 juta, 2 kartu kredit dan 1 bungkus bubuk obat bius.
Mengejutkan, perampok turis asal Taipeh, Chang Chuang Chieng (40), diduga oknum polisi yang bertugas di Polda Bali, Bripka Joan Anaka dan Kornelius. Chieng ditodong senjata api dan uangnya Rp 37,4 juta diembat. Kedua pelaku akhirnya diringkus petugas Sat Reskrim Poltabes Denpasar, 4 April lalu. Ada juga oknum pengacara, Ny Aryana Sary SH (36), spesialis penipu orang asing dengan nilai miliaran rupiah terkenal ‘licin’ dalam menghilangkan jejak kejahatannya. Ia akhirnya diringkus aparat Polda Bali, beberapa waktu lalu.
Secara umum, tujuan utama seorang wisatawan adalah mengenal dari dekat negeri tertentu. Mereka mau beristirahat, mau cari yang enak, yang bagus, yang menyenangkan, melepaskan stres, frustrasi, mencari suasana baru, menghirup udara baru, segar dan bebas dari segala ketidakenakan. Bagi para pelancong yang kembali ramai berkunjung ke Indonesia adalah soal kepuasan, kesenangan dan kenikmatan. Karena itu, jika seorang wisatawan banyak menemui gangguan –sekecil apapun-- di tempat yang dituju, baginya perjalanan berwisata dianggap cacat dan mungkin untuk ke daerah tersebut, dianggap yang pertama dan terakhir kalinya. (Beny Uleander/KPO EDISI 63/MINGGU I AGUSTUS 2004)
Read More

Rabu, Juli 14, 2004

Beny Uleander

NTT, Kaya Budaya Tapi Mandul Kreativitas

Ajang seni yang paling kesohor di tanah seribu pura ini adalah penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diadakan rutin setiap tahun sejak tahun 1978 silam. Uniknya, pesta kesenian ini diikuti juga juga daerah-daerah lain di seluruh Indonesia. Setiap kabupaten berusaha menonjolkan kekhasan budaya daerahnya yang tertuang dalam aneka barang kerajinan seni dan pentas kesenian seperti seni tari.
Hal yang patut disoroti dalam PKB adalah ketidakikutsertaan berbagai kabupaten di NTT dalam ajang kesenian di Art Centre, Denpasar. Yang patut diacungi jempol cuma Pemkab Alor di bawah Bupati Ir Anis Takalapeta yang berani menginvestasikan citra budaya Pulau Kenari di mata masyarakat internasional. Perlu diingat, Bali adalah ikon pariwisata Indonesia dan salah satu komunitas internasional. Amat disayangkan mayoritas kepala daerah di NTT tutup mata dan telinga dalam menangkap peluang dan kesempatan tersebut.
Di gedung Bali Production Export, pengunjung dan wisatawan asing tahu budaya dan kesenian NTT hanya lewat ‘miniatur tenunan khas Alor’. Padahal selama ini NTT berkoar-koar sebagai propinsi dengan ratusan pulau (ada 556 pulau di NTT) dan ratusan budaya dan bahasa daerah. Tetapi ‘kemegahan’ budaya itu cuma menjadi kepuasan semu dikandang sendiri.
Memang pemerintah daerah NTT perlu memiliki semangat generasi muda dalam diri Katrida Omalor, Farida Obail dan Imanuel Maateng yang setia memperkenalkan ‘mosaik kebudayaan NTT’. Ketiganya tanpa kenal lelah menunggui stand pameran Pemkab Alor hampir selama sebulan penuh.
Di stand Pemkab Alor ini dipamerkan tenunan ikat motif Alor bergambar binatang seperti kura-kura, kupu-kupu atau gajah yang berasal dari Kolana, Pura, Lembu dan Kuwi. Ada juga peninggalan zaman perunggu pertengahan seperti moko dan nekara. Hasil tanaman perkebunan daerah Alor yang diperkenalkan berupa cengkeh, vanili, buah pinang, biji kenari dan jagung titi.
“Saya ingin memperkenalkan kebudayaan khas daerah Alor kepada dunia. Saya ingin orang luar negeri itu tahu kekayaan seni budaya kami,” ungkap Katrida. Memang disayangkan, ajang ‘nasional’ pertukaran dan perkenalan budaya ini diabaikan pemda kabupaten se-NTT, kecuali Alor. NTT memang kaya akan khasanah budaya daerahnya tetapi miskin dalam kreativitasnya. Sayang.
Read More