Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 31, 2008

Beny Uleander

Belby Enterprise Mendidik Model Profesional

Oleh: Beny Uleander
Industri hiburan menjadi ladang usaha yang digarap serius Pipiet Fitria, wanita berdarah Bandung yang lahir dan besar di Surabaya.
Setelah lama bekerja di beberapa event organizer, akhirnya sejak tahun 2002, ia pun mantap mendirikan EO sendiri dengan nama Belby Enterprise.
Fokus garapan di bidang modelling, sexy dancer, cheerleaders, aerobic, management artis, party organizer dan costum. Agency Belby Enterprise sejak tahun 2004 membuka sekolah kepribadian yang mendidik calon model profesional “Saya awalnya ikut dengan teman-teman dalam sebuah event, tapi saya selalu melihat ada hal yang selalu kurang. Karena itulah saya tertantang untuk membuat sendiri event organizer lengkap dengan bagian produksinya. Model kami sering tampil dalam berbagai event expo produk di Bali Galeria,” ujarnya.
Pipiet, sapannya, mengawali karir dancer di Bandung dan Surabaya. Ia menguasai beberapa jenis tarian, termasuk tarian perut yang kini diajarkan kepada para remaja dan model yang bergabung di Agency Belby Enterprise. “Mereka diajarkan tari kontemporer, dancer, modern dance, hiphop, belly dances (tarian perut), R&B, cabaret dan cheerleaders,” sebut Pipiet.
Saat ini Agency Belby Enterprise memiliki modeling yunior 180-an orang (TK-SMP) dan senior mencapai 60-an orang yang berasal dari kalangan remaja dan mahasiswa.
Sekolah kepribadian seminggu penuh pada sore hari untuk yunior dan senior. Mereka diajarkan materi kepribadian dan tatarias. Pada hari Rabu dan Sabtu khusus mendalami kepribadian. Hari Senin dan Jumat khusus tata rias dan modeling. Sedangkan latihan diisi pada hari Selasa dan Kamis yang didampingi 6 instruktur, 3 orang fokus di bidang modeling dan sisanya mendampingi para model di bidang dances.
Selama setahun pendidikan, ada kegiatan wisuda yang bertepatan dengan hari jadi Belby Enterprise tanggal 1 Mei. Saat itu, lulusan Belby Enterprise menerima sertifikat dan piala penghargaan untuk siswa yang berprestasi. Belby Enterprise sudah melahirkan 200-an angkatan siswa modeling. Sekali wisuda bisa mencapai 100-an orang. “Model dan dancer kami sering tampil regular setiap minggu di tempat hiburan Kuta dan Nusa Dua,” ujar Pipiet.
Menurut Pipiet, tidak ada kriteria khusus untuk anak-anak TK, SD maupun SMP yang ingin bergabung dengan Agency Belby Enterprise. Karena sekolah kepribadian di Belby Enterprise khusus menanamkan rasa percaya diri anak-anak untuk tampli di depan umum. “Ada pendidikan mental untuk anak yang minder dan kurang bergaul agar bisa bersosialisasi, pede berjalan di panggung, tahu cara bergaya dan berpose di depan kamera,” urainya.
Bagi calon model senior ada persyaratan tinggi badan: 165-172 cm untuk perempuan dan untuk pria berkisar 170-an cm. Para model dituntut bisa menamplikan kecantikan secara total, luar dalam, bukan cantik secara formalitas. “Misalnya, wajah yang eksotik dan bisa mengekspresikan jati diri dengan jadi model. Tentu saja mereka harus menunjukan prestasi dan kemampuan. Jadi bakat harus nomor satu di bidang catwalk, inner beauty, cara busana, tata rambut dan sebagainya,” tukas Pipiet yang membuka studio di Komplek Pertokoan Kertha Wijaya Jl Diponegoro No. 124 Denpasar dan Jl Tangkupan Perahu, Kuta.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
Read More

Rabu, Desember 05, 2007

Beny Uleander

Gelombang Indie

"Aku ingin tangan-tangan mendirikan bangunan yang megah, memainkan harmoni surgawi dan melukiskan gambar keagungan. Aku ingin kaki-kaki menjalankan para pesuruh, mata-mata melihat keindahan, lidah mengucapkan kebenaran dan menyanyikan lagu-lagu menakjubkan," ungkap Wallace D. Wattles penulis The Science of Getting Rich (1910) ketika menemukan teknik visualisasi kreatif.
Cetusan kegembiraan Wattles lahir dari kesadaran hakikat diri manusia sebagai makhluk revolusif sekaligus evolutif dalam berbagai bidang kehidupan yang dilakoni. Perubahan menjadi kata kunci pertumbuhan jati diri, peradaban maupun awal melahirkan potensi-potensi terdalam (teleologis) manusia.
Dalam bidang musik, tumbuh dan berkembang beragam aliran musik dengan genre yang khas karena dorongan revolutif dan evolutif dalam nubari manusia.
Kunci perkembangan dalam dunia musik adalah ledakan kebebasan berekspresi di kalangan musisi. Perubahan itu tepat bila berbuah sukses. Contohnya, gelombang indie yang tumbuh subur di blantika musik Nusantara pada penghujung abad 20.
Gelombang indie bukan jenis musik. Indie berasal dari kata independent, sebuah gerakan kebebasan yang -di dunia seni- bisa diartikan menolak kemapanan dan mengusung independensi dalam berkarya. Di dunia musik, lantas berkembang wadah rekaman yang disebut indie label.
Sejarah industri rekaman di Indonesia dimulai pada awal tahun 1960-an, tatkala Studio Irama mulai merekam lagu-lagu jenis hiburan (untuk menyebut 'lagu pop' jaman itu), melalui cakram (piringan hitam) untuk Nien Lesmana, Rachmat Kartolo dan Koes Bersaudara. Lalu, terjadi perkembangan berarti pada awal dekade 1970-an, tatkala almarhum Dick Tamimi mendirikan perusahaan rekaman Dimita, yang akhirnya merekam album Koes Plus (dengan drummer Murry menggantikan Nomo Koeswoyo), band wanita Dara Puspita dan grup Panbers. Pada jaya Dimita inilah Indonesia mulai memiliki band-band rekaman yang mulai menyemarakkan industri rekaman pop maupun panggung.
Dalam rentang waktu 1969-1980-an, ada sekelompok musisi yang populer dengan kebebasan berekspresinya. Pada awalnya bisa dilihat dari gaya panggungnya yang 'nyeleneh' dan komposisi lagu ciptaannya yang unik, antara lain dapat ditemui pada karya The Gang of Harry Roesli, The Rollies dan Giant Step (Bandung), God Bless (Jakarta), dan AKA Group (Surabaya).
Bayangkan tentang penampilan God Bless dengan peti mati atau AKA Group yang ke panggung dengan membawa roda pedati raksasa. Sementara band Rawe Rontek dari Banten manggung di belakang Gedung Sate (Bandung) pada tahun 1976 dengan memakai atraksi debus lengkap dengan penggorengannya di atas kepala vokalis.
Pada tahun 1994, Pas Band dari Bandung memulai revolusi rekaman band indie melalui mini album rock 4 lagu. Meski mini album Pas Band awalnya beredar terbatas di Bandung dan sekitarnya. Komunitas indie ini terendus oleh Aquarius Musikindo yang kemudian memutuskan mengontrak Pas Band untuk bergabung. Lantas, terbitlah album berisi lagu-lagu di album indie plus lagu-lagu baru Pas Band melalui major label Aquarius Musikindo (1995). Terobosan ini dilanjutkan dengan direkrutnya Suckerhead oleh Aquarius, dan juga direkamnya grup cadas Edane pada tahun berikutnya. Guna menampung puluhan band indie lainnya, Aquarius resmi membuka label baru dengan bendera Independent dan Pops pada 1997. Nama-nama Type-X, Betrayer, Rumah Sakit, solo album Agus Sasongko, adalah sebagian dari musisi yang pernah ber-indie ria.
Memasuki tahun 2000, album indie yang masuk hitungan laku keras di pasar. Ledakan band indie dengan sejuta penggemar dialami grup Slank, Padi, Naif, Dewa, Gigi dan kini Peterpan. Juga jangan lupa, Lolot Band yang tetap bertahan membawakan lagu pop Bali di tengah impor syair dan lagu barat. Album mereka, Meong Garong terjual 70 ribu kopi di pasar lokal Bali. Mereka pun tetap terobsesi masuk jagat musik dan band nasional.
Kehadiran dan kiprah mereka yang umumnya masih muda belia menjadi rujukan bahwa pembaharuan dan perubahan ada pada semangat kemudaan. Prestasi mereka memantapkan pamor musik Indonesia yang eksis di rumah sendiri dan tetap berprestasi di dalam negeri maupun di luar negeri.
Gelombang indie begitu fenomenal di Indonesia karena di sana ada kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya. Amat kontras dunia musik dan dunia politik yang penuh intrik dan borgol ketidakbebasan dalam menyatakan diri dan pendapat.
Paling tidak independen label merujuk pada kebenaran bahwa setiap gagasan orisinal selalu melahirkan gagasan lainnya. Sebab, kesadaran kita terus berkembang. Setiap fakta yang kita pelajari membawa kita kepada fakta-fakta lainnya. Pengetahuan itu terus bertambah. Setiap talenta yang kita tekuni membawa pikiran kita kepada hasrat untuk mengembangkan talenta lainnya. Sebab, kita adalah subyek dari desakan kehidupan, yang mencari ekspresi, yang mengarahkan kita untuk mengetahui lebih banyak, mengerjakan lebih banyak dan berkembang menjadi lebih dari sebelumnya.
Gelombang Indie mengajak kita untuk menerima esensi manusia sebagai homo-creator. Anda ada untuk mencipta, bukan untuk berkompetisi memperebutkan apa yang sudah diciptakan sebelumnya. Anda harus menjadi seorang pencipta bukan peserta kompetisi.
Kekayaan yang mengantungkan diri pada sarana persaingan atau perebutan sumber daya tidak akan pernah memuaskan dan permanen sifatnya. Inilah pesan sejati yang dapat kita timba dari medan laga para musisi.
Sudah selayaknya kita menaruh apresiasi dan hormat kepada para musisi. Sebab musik adalah suara abadi kehidupan yang mempersatukan umat manusia. Karena itu amat disesalkan bila dunia musik disesaki penyanyi yang cuma mencari ketenaran sesaat lantas miskin kreasi. Bukankah di tengah krisis kehidupan dan bencana alam yang bertubi-tubi,kita masih mendengar dendang harmoni surgawi yang mengingatkan kita bahwa hidup adalah pengharapan. Harapan itu ada pada syair-syair bermutu yang membangkitkan gairah kehidupan di dada berjuta-juta rakyat miskin di negeri ini. Mari kita ber-indie ria dalam parade generasi kreatif, kreator dan pembawa kebebasan sejati, termasuk dalam kebebasan beragama dan mendirikan rumah ibadat yang layak. (Beny Uleander/KPO EDISI 89)
Read More

Rabu, November 30, 2005

Beny Uleander

Film Ciptakan Perilaku Positif Masyarakat

3RD Bali International Film Festival 2005

Film merupakan media hiburan, informasi dan pendidikan. Sebagai cabang seni, film secara fungsional bernilai strategis dalam memberikan pengaruh tertentu terhadap perilaku ataupun pembentukan watak manusia. Bila penyajian sebuah hasil karya perfilm tidak mengacu pada akar nilai budaya yang positif akan menimbulkan dampak negatif dalam perilaku masyarakat.

Selain itu, dunia film merupakan pintu masuk pemahaman akan perbedaan kebudayaan, keanegarakan suku dan nilai-nilai budaya setiap suku bangsa. Kesadaran ini yang mendorong Swadeshi Bali Fashion menyelenggarakan 3RD Bali International Film Festival 2005. “Lewat festival ini kami berusaha memutar film-film dari negara lain yang tidak dapat dinonton masyarakat umum. Dengan harapan, lewat film tersebut masyarakat dapat mengenal budaya dan kekayaan cara hidup bangsa-bangsa lain,” tutur AA Ngrh Arya Wedakarma MWS, SE, Ms,I selaku Presiden Mahendratta Bali Holding Organization dalam acara penutupan festival ini Bali Hilton International, Nusa Dua.

Dalam laga penutupan ini, dewan juri pun mengumumkan nominasi kategori film Indonesia. Kategori scenario terbaik diraih film Gie (Miles) mengalahkan Janji Joni (Kalyana Shira), Untuk Rena (Miles), Banyu Biru (Salto), dan Catatan Akhir Sekolah (Rexinema).

Kategori aktor terbaik jatuh pada Rizky Hanggono dalam Ungu Violet (Sinemart) menyingkirkan Nocholas Saputra “Gie”.

Sedangkan artis terbaik ditorehkan Cornelia Agatha dalam Detik Terakhir (Indika). “Saya mendedikasikan penghargaan ini kepada dunia pariwisata Bali agar kembali bangkit,” ujar Cornelia Agatha usai menerima penghargaan didampangi pengacara dan aktor Ruhut Sitompul.

Sementara Detik Terakhir (Indika) dinobatkan sebagai film terbaik. Untuk best director diraih Joko Anwar dalam Janji Joni (Kalyana Shira). Untuk soundract terbaik dipilih Bad Wolves (BDI). Kategori film internasional terbaik diraih Swhaas dari India.

Festival Film Bali Internasional ini menurut Dr Mukhlis Paeni dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menjadi tonggak kebangkitan dan tantangan industri perfilm di Indonesia agar bisa bersaing dengan film-film impor dari luar negeri yang memang unggul dalam kualitas dan sarana. Film Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Sebelumnya, 3RD Bali International Film Festival 2005 menyelenggarakan road show di tiga tempat yaitu Candidasa, Denpasar, Ubud dan Lovina. Acara diisi dengan seminar seputar industri dunia perfilm, diskusi dan pemutaran film. (Beny Uleander/KPO EDISI 94/ November 2005)

Read More

Jumat, November 25, 2005

Beny Uleander

50 Artis ‘Tebar Surat Cinta Buat Teroris

C U In Bali

Baliku kembali berduka karena ulah teroris. Tetapi Baliku menangisi sikap kekanak-kenakan segelintir anak bangsa yang lupa akan gairah dan semangat juang revolusi para leluhur. Baliku berduka dalam rona keprihatinan melihat sekelompok anak bangsa menjadi antek-antek Dr Azahari dan Noordin M Top yang tidak hidup dalam kultur bertanah air satu, satu bahasa dan satu bangsa.

Dalam pusaran kesadaran ini, 50 artis papan atas dan penyanyi beken kembali menjejak kaki mereka di Tanah Bali meriahkan acara amal Bali Recovery dalam tiga gelombang atas sponsor A Mild Live Production pada tanggal 25 November, 1 Desember dan 9 Desember.

Penampilan perdana 15 artis pada Jumat malam (25/11) di Kamasutra, Kuta, Denpasar seakan menebar surat cinta kepada para teroris dalam laga pagelaran musik, fashion show dan lelang amal. Betapa tidak. Aksi goyang panggung dan fashion show mereka mencitrakan kebanggaan sebagai anak-anak Indonesia yang berprestasi dan kreatif. Wajar bila kehadiran mereka menyedot dan memagnet remaja muda hingga orangtua yang memadati hall Kamasutra sejak pukul 22.00 Wita.

Acara yang dimulai pukul 23.30 Wita diawali penampilan personil Warna dengan mendendangkan lagu favoritnya, disusul Firman IDOL, Nina Tamam yang membuat panas penonton dengan tembang Heaven dan Ayo, Ayo, Ayo, lalu Baim, Sutha Afi, To-Fu serta Katon Bagaskara.

Penonton kian histeris ketika para artis berlenggak-lenggok seperti di atas cat walk dalam sesi fashion show yang menampilkan Mario Lawalata, Reza Bukan, Ira Wibowo, Dewi Rezer, Rianti Rhiannon Cartwright, dan lainnya. Mereka mengenakan busana rancangan Ali Kharisma, Putu Aliki dan Ananda & Brunel. Sebagai lakon pamungkas tampil To-Fu, Desta & Vincent Club 80’S dan T-Five yang menggairahkan acara amal ini hingga pukul 01.30 dini hari. Menurut Joy Kamasutra, acara amal ini terkait dengan penggalangan dana yang akan dihibahkan kepada para korban bom Bali 2 melalui Bali Crisis Centre (BCC).

Kemeriahan acara ini mau menunjukkan kepada wisatawan lokal dan mancanegara bahwa Bali tetaplah sebuah destinasi pariwisata dunia yang aman. Setidaknya, kehadiran para artis dan penyanyi papan atas menegaskan bahwa anak-anak Indonesia tetap bersatu dalam seni dan budaya. Wajar bila malam itu, hadir Ketua DPD PHRI Bali dan juga tokoh Puri Agung Ubud Cokorda Gde Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace, Ketua IMI Bali dr Bagus Darmayasa dan penyair A Slamet Widodo.

Sebelumnya, Adhe Jane Marie Lumy dari BCC menegaskan pihaknya akan menggulirkan dana amal lewat lembaga tertentu . “Dana yang terkumpulkan akan disalurkan untuk kepentingan para korban bom seperti rehabilitasi, pendidikan dan keperluan lainnya,” ujarnya di sela konferensi pers, Selasa (23/11) di Kamasutra. (Beny Uleander/KPO EDISI 95/Desember 2005)

Read More

Minggu, September 25, 2005

Beny Uleander

Cocok Jadi Presenter

I Gusti Bulan Purnama

Menjadi seorang pemain senitron dan film yang ditonton banyak orang, tidak menarik minat I Gusti Bulan Purnama atau yang akrab disapa Bulan gadis kelahiran Denpasar, 31 Maret 1980 ini. Meskipun, modal untuk menjadi seorang bintang sudah dimilikinya. Selain wajah yang cantik, berakting di depan kamera pun sudah biasa ia lakukan karena tuntutan profesinya sebagai seorang model, bintang iklan dan presenter berita berbahasa inggris di stasiun TVRI Bali.

Berawal dari pemotretan untuk cover girl di sebuah majalah mode di Jakarta, Bulan yang pada saat itu berusia 16 tahun mulai menapaki jejak kariernya di dunia entertain. Hingga akhirnya ia merasa enjoy menjalani rutinitasnya dan enggan melompat ke dunia sinetron. ''Saya tidak tertarik untuk terjun ke dunia sinetron atau film. Saya lebih tertarik menjadi model atau presenter," katanya usai melakukan penjurian di Final Bali Casting 2005 (24/9).

Baginya berakting untuk sebuah sinetron lebih mudah ketimbang berakting dalam sebuah pemotretan atau dalam memperagakan sebuah busana. ''Siapa saja bisa tertawa, menangis atau tersenyum, tapi kalau akting untuk pemotretan atau untuk memperagakan busana jauh lebih susah karena kita harus bisa menunjukan karakter dan kemewahan foto dan busana tersebut," jelasnya.

Sementara itu, ketertarikannya menjadi seorang presenter jauh dari apa yang biasanya diinginkan oleh artis lain pada umumnya. Jika orang lebih memilih ketenaran, Bulan yang kini sibuk bolak balik Australia-Bali ini lebih memilih kepintaran. ''Saya lebih tertarik ke education, karena sebagai seorang presenter kita dituntut untuk menulis, mentranslet dan membaca sendiri. Cantik bisa hilang karena kalau kita tua kulit akan keriput. Tapi kalau kepintaran pastinya akan kita bawa selamanya," tegasnya. (Beny Uleander & Made Sutami /KPO EDISI 90/OKTOBER 2005)

Read More
Beny Uleander

10 Nominator Di Pintu Entertainment

Final Bali Casting 2005
Dari ajang ini Final Bali Casting 2005 yang digelar di Bali Design School, Sabtu (24/9), terpilih 10 nominator yang akan meretas karir mereka di ibu kota negara, Jakarta. Kemampuan akting mereka bakal dijajal berbagai rumah produksi ternama di Jakarta. Setidaknya, pintu entertainment sudah terbuka bagi mereka.

Satu persatu peserta Final Bali Casting 2005 memamerkan kemampuan akting mereka di atas panggung dengan beragam peran. Mulai dari peran seorang wanita penggoda, pengemis, dokter dan sebagainya. Persaingan ketat pun terjadi baik di kategori anak-anak, remaja, maupun dewasa. Empat juri yakni I Gusti Bulan Purnama, Cicilia, I Gusti Raniti (kuasa hukum artis) dan Reza (pemain sinetron) dibuat terkesima.

Akting lugu dan lucu kategori anak-anak mengocok perut sekaligus mencuri perhatian penonton, terutama akting Gabby Claudia Erzantha yang berhasil merebut peringkat pertama. Akting dalam kategori remaja dan dewasa pun tak kalah serunya. Peran kocak diekpresikan Maria Waniyono sebagai pengemis jalanan dengan dandanan rambut acak kadul dan dibalut pakaian compang camping sambil membawa keranjang sampah. Waniyono pun dinobat sebagai peserta favorit.

Ni Putu Sutrisnawati, pemeran Jero Sandat dalam sinetron Memedi (Bali TV), sangat ekspresif ketika berakting sebagai Prita dalam drama sistem monolog yang berjudul 'Apel Beracun'. Dirinya menuangkan semua image bagaimana menjadi seorang wanita korban kejahatan. Akibat memakan buah apel beracun pemberian seorang wanita jahat yang sirik akan kecantikan Prita, akhirnya Prita harus menderita sepanjang hidupnya. Tubuhnya ditumbuhi bulu dan sisik.

Sutrisnawati, yang pernah bergabung dengan rumah produksi Multivision Plus, akhirnya terpilih sebagai juara pertama. "Harapan saya agar artis-artis Bali dapat go nasional dengan tidak melupakan kebudayaan Bali," ujar mantan agency Modeling Rosye era 90'an. Ia pun membeberkan kunci suksesnya. Pikiran dan perasaan diharuskan total dalam akting, seperti menjalani kehidupan nyata.

Beberapa peran yang dimainkan Sutrisnawati tak lepas dari pengamatan di lapang sebelumnya. Contoh, ketika harus berperan sebagai orang gila, ia rela memantau bagaimana karakter setiap orang sakit jiwa. Berdasarkan pengamatan itulah, dia dapat menjiwai bawaan dan mimik orang gila.

Sementara Krisna Dara yang menyabet juara dua merasa seperti mendapat suntikan energi baru dalam Bali Casting 2005. Bagi pria kelahiran Singaraja, 23 tahun silam ini, kesempatan menjadi pemain film yang diimpikannya bakal terwujud. Sebab sebelum masuk dunia hiburan, ia sudah bergabung dengan Agency CNC, tahun 2002.

Peringkat pertama kategori anak-anak diraih Gabby Claudia Erzantha, siswi kelas satu SD 2 St Yoseph Denpasar. Gabby pun harus bersiap-siap berangkat ke Jakarta untuk dikasting lagi oleh rumah produksi ternama di ibukota. Kemenangan Gabby disambut gembira ibunya Sri serta sanak keluarganya yang hadir. "Gabby memang berbakat dan anaknya sangat nekat. Saya tidak pernah menyarankan dia untuk ikut lomba kasting ini. Dia yang minta sendiri setelah membaca iklan di koran," kata perempuan asal Sumbawa ini.

Diceriterakan, keberhasilan Gabby memang murni dari bakat alami yang ia miliki. Tidak ada persiapan yang dilakukan. "Padahal tantenya sudah menyuruh dia untuk latihan. Tapi dia malah menjawab dengan enteng 'wah gampang'. Tadi sebelum naik ke panggung dia hanya mikir soal tema yang akan dibawa yaitu anak kecil yang diculik," ungkap sang bunda. Modal Gabby adalah rasa percaya diri yang tinggi ketika menaiki panggung.

Tanpa canggung, akting Gabby menyihir dewan juri serta para penonton. Berakting sebagai anak kecil yang diculik dengan berlari kesana kemari dan sesekali menjatuhkan dirinya seolah-olah menghindari tankapan si penculik, mencuri banyak perhatian penonton. ''Kasian deh elo (sambil memperlihatkan jari telunjuknya yang digoyangkan ke kiri dan ke kanan), makanya jangan beraninya cuman sama anak kecil saja," kata Gabby menutup penampilannya yang disambut tawa dan tepuk tangan dewan juri dan penonton. Itulah kiprah para nominator yang memang brilian dan cerdas bukan semata menampilkan pesona fisik semata dalam Final Bali Casting 2005 tersebut. (Beny Uleander &, Sri Rahayu, Made Sutami/KPO EDISI 90/OKTOBER 2005)

Read More
Beny Uleander

Kasting Sebuah Ladang Ekspresi Diri

Menakar Kualitas Final Bali Casting 2005

Dunia kasting kini naik daun seiring dengan kesuksesan berbagai rumah produksi melahirkan bintang iklan, top model, presenter dan bintang film yang berkualitas. Langkah audisi-kasting dengan segala prosesnya untuk menjaring aktor dan aktris berbakat di berbagai daerah harus dimaknai sebagai wadah membenihkan apresiasi seni. Sehingga kualitas karakter lebih diutamakan ketimbang ornament kecantikan atau kegantengan semata. Lahir harapan, dunia keartisan tidak disesaki remaja yang sekedar numpang lewat dengan menjual tampang.

Gemerlap dunia selebritis dengan segala kemewahannya ternyata menyihir sebagian remaja Indonesia berlomba-lomba menjadi aktor dan artis. Ketenaran disertai perubahan status hidup akibat menjadi tokoh publik berpengaruh pula pada penebalan kantong pribadi. Remaja pun mulai antre mengikuti proses kasting yang diselenggarakan rumah-rumah produksi sebagai batu loncatan untuk menjadi bintang iklan, pemain sinetron dan film.

Pemilihan pemeran untuk membintangi suatu film atau sinetron dalam satu acara audisi disebut kasting. Kaster adalah orang yang bertugas melakukan seleksi. Kaster adalah kelompok ahli yang memiliki proyeksi, kategori bentuk fisik, mental dan karakter kepribadian tokoh yang dikehendaki oleh script atau skenario.

Aspek spesifik yang dicari saat kasting adalah fisik, karakter dan kepribadian peserta kasting. Tiga hal ini terkait erat dengan kebutuhan kamera, agar film atau sinetron yang lebih menekankan ekspresi dengan bahasa gambar, tak menjadi terlalu cerewet dengan dominasi kata.

Kini kasting telah menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Rumah produksi (production house) bertebaran bak cendawan di musim hujan. Proses audisi selalu ditandai dengan gebyar dan kemeriahan termasuk final Bali Casting 2005 yang melahirkan 10 nominator. Puluhan remaja putera-puteri berkumpul mengadu nasib dengan harapan dirinya bisa terpakai.

Menurut Ketua Panitia Bali Casting 2005, Arief Martha memang tidak gampang menjadi pemain senetron/film yang profesional. Selain karakter dan penjiwaan yang kuat, peserta kasting juga harus memiliki kamera face, kemampuan sikap tubuh (gesture) dan kemampuan berbahasa. "Penilaian sangat tergantung dari penjiwaan dan karakter mereka. Susah lho ketawa, kemudian menangis hanya dalam hitungan menit," ungkap Martha yang juga bintang iklan dan pemain sinetron Rahasia Ilahi, Di Balik Kuasa Tuhan, dan Mutiara Hati. Sambungnya, kemampuan akting orang Bali cukup berkualitas karena sudah terbiasa dengan kesenian Drama Gong namun belum ada media penyaluran yang tepat. Jadi tinggal dipoles saja.

Sementara presenter jenaka Irfan Hakim, yang sempat dijuluki Raja Kasting, menilai dunia kasting dengan segala prosesnya seperti penjiwaan karakter individu, tingkah lucu, vulgaritas, realisme dan teaterikal merupakan bagian dari berkesenian. Artinya, kemampuan berakting dan penjiwaan karakter berdasarkan script wujud apresiasi seni.

Kasting juga di mata raja rapper Indonesia Iwa K merupakan lahan persemaian bakat seni. Karena itu, pemilik nama lengkap Iwa Kusuma ini prihatin bila sasaran remaja mengikuti kasting adalah ketenaran sebagai selebritis semata. "Biasanya artis atau aktor yang instan tidak bertahan lama. Sebab mereka tidak melalui proses alamiah pencarian bakat," tandas lajang berusia 35 tahun ketika tampil bersama bintang KDI 2 di Padanggalak, Denpasar, malam Minggu (24/9).

Remaja yang mengikuti proses kasting setidaknya memiliki sebuah persepsi atau filosofi nilai berkesenian. Menurut Silvira Citra, salah satu bintang KDI 2 perwakilan Makassar, proses kasting adalah saat mencari dan menemukan potensi diri dalam menjiwai sebuah peran yang ditawarkan sutradara atau produser. Proses kasting bukan kesempatan eksploitasi diri secara serampangan. Karena itu, dirinya berjanji akan mempelajari naskah yang disodorkan. "Saya tentunya lihat dulu naskah yang ditawarkan apakah masih dalam batas-batas wajar atau nggak. Kalo kelewatan ya ditolak dong meski bayarannya tinggi," cetus dara kelahiran Makassar, 23 September 1984.

Pada akhirnya, audisi-kasting yang kerap ditandai dengan acara gebyar gemerlap padat sponsor dan berkumpulnya ratusan wanita cantik dan pemuda ganteng dari mana-mana tetaplah sebuah lahan apresiasi dan ekspresi berkesenian.

Bali Casting 2005 tetaplah harus menjadi ladang berkreasi bagi bibit-bibit remaja Bali sebelum masuk dunia sinetron, presenter dan iklan televisi. Bali adalah gudang seniman. Kualitas kasting akan melahirkan bintang lokal Bali yang berkualitas. Lihat artis asal Bali sudah ada yang mengetop dan berkibar baik di tingkat nasional maupun internasional, seperti Tracy Trinita dan Luna Maya. (Beny Uleander & Made Sutami/KPO EDISI 90/OKTOBER 2005)

Read More

Kamis, September 08, 2005

Beny Uleander

Walau Dimakan Zaman Iwan Fals Tetap Eksis

Siapa yang tak kenal dengan seniman yang super cuek dengan lirik lagu berbau kritikan sosial ini? Ialah Iwan Fals. Di masa Orde Baru, lagu-lagu Iwan sempat dicekal dan ia dilarang melakukan pertunjukan di beberapa daerah. Pada 1984 ia mendapat masalah karena lagunya yang berjudul Mbak Tini. Lagu ini berkisah tentang Mbak Tini, seorang pelacur yang membuka warung kopi di pinggir jalan dan mempunyai suami bernama Soeharto, seorang supir truk. Oleh pihak yang berwenang waktu itu, lagu tersebut dianggap menghina presiden RI, Soeharto. Akibatnya, Iwan terancam bakal masuk penjara. Padahal, menurut Iwan, lagu tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan Soeharto dan istrinya, (mendiang) Tien Soeharto.

Mungkin ini sekelumit kisah Iwan Fals yang memiliki nama asli Virgiawan Listianto ini sepanjang karirnya di dunia musik ia telah terbukti memiliki kelompok penggemar khusus yang dekat dengan kemiskinan, ketidakadilan dan pengangguran. Lagu-lagunya kerap dihubungkan dengan protes-protes sosial seperti pernah terkenal lewat Oemar Bakrie (1981) dan Bento (1991).

Nama besar yang disandangnya ini melalui jalan penuh kerikil dan berdebu di bawah hujan dan terik matahari dalam komunitas ‘pengamen jalanan’. Pria yang diberi julukan “Pahlawan Besar Asia” menurut majalah Time Asia edisi 29 April 2002 lalu, mengalami banyak perubahan selama beberapa tahun terakhir. Coba ihat saja, aksinya di TV-TV swasta ia keihatan sejak dan karismatik dengan rambutnya yang sudah muai beruban.

Sebelumnya, Iwan -- yang sempat kuliah di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (sekarang Institut Kesenian Jakarta) -- menghilang selama kurang lebih 10 tahun dari hingar bingar industri rekaman. Dalam kurun waktu itu, Iwan bergabung dengan berbagai kelompok, yakni Swami, Dalbo, Kantata Takwa, dan Kantata Samsara. Kolaborasinya itu melibatkan beberapa musisi dan budayawan ternama, seperti Setiawan Djody, Sawung Jabo, WS Rendra, dan Jocky Suryoprayogo.

Di tengah kevakumannya di dunia rekaman, sesungguhnya Iwan tetap sibuk dengan urusan-urusan di dunia musik. Di samping membuat lagu-lagu baru dan menggelar beberapa konser, sejak tahun lalu Iwan bersama manajemennya sibuk menyatukan para penggemar ke dalam sebuah forum. Kini forum tersebut sudah terbentuk dan diberi nama ‘Orang Indonesia’ atau disingkat Oi.

Sekarang ini Iwan sudah mulai eksis kembali di dunia musik. Sosoknya sering tampil di televisi, olah vokal-nya masih seperti dulu, ia semakin matang. Emosinya selama membawakan lagu sangat terjaga. Inilah Iwan yang sekarang ini, masih bertengger di tengah belantika musik Indonesia. Berkat idealismenya yang tinggi, Iwan masih menyandang nama besar.

Pada Album baru ia menuturkan album kompilasi ini memiliki arti penting. ‘’Ini menjadi ajang untuk memperkenalkan diri dan karyanya kepada generasi baru, penikmat musik Indonesia. Di tengah persaingan industri musik dalam negeri yang semakin ketat serta bermunculannya banyak pendatang baru,’’katanya. Iwan memang harus berjuang keras untuk merebut pangsa pasar tersebut dengan penyanyi pendatang baru yang sekarang ini digandrungi para remaja. (Agus Salam & Beny Uleander/KPO EDISI 89/OKTOBER 2005)

Read More

Minggu, Agustus 28, 2005

Beny Uleander

Ada Apa Denganmu Peterpan?

Sebuah moment kegamangan di Pulau Serangan, Sakenan, Bali, Minggu (28/8), melekat erat di benakku. Jam menunjukkan pukul 18.55 WITA. Rasa gamang itu seperti tarikan napas panjang yang menarik keluar kelelahan dari sekujur tubuhku menggantinya dengan sebuah refleksi. Maklum, sejak pagi, pukul 09.45 WITA, aku bersama fotografer Gede Sustrawan sudah berada di lokasi konser terakbar di tanah air A Mild Live Soundrenaline 2005 putaran terakhir.

Hadir 90 musisi, grup band dan para penyanyi papan atas serta pendatang baru di blantika musik Indonesia. Karena itu, kami harus membuat pengamatan lebih awal soal lokasi dan suasana jelang konser. Syukur, matahari tetap bersahabat meski menyengat kulitku. Aku tak peduli. Para penonton juga cuek akan sengatan mentari kala konser dimulai pukul 11.30 dengan penampilan Reza Herlambang.

Para wartawan dan fotografer standby di Media Center ditemani EO Prisma PR, Endah Dwi Ekowati yang selalu membagi keramahan kepada awak media. Lokasi Media Center berada di tengah antara kedua panggung Simpati Stage dan A Mild Stage yang berjarak 15 meter. Lalu lintas kesibukan merekam data dan berita kian meningkat ketika mulai digelar jumpa pers di Media Center. Setelah Reza Herlambang bergantian dengan Funky Kopral, Meteor, Melanie Subono, Suicidal Sinatra, Meta & Band, Navicula, Kara, Sunset, Don’z Gank, Galagasi, ROXX, Lolot, Sucker Head, Gamma, Crowned King Band dari Kanada, Ello & Band, PAS Band, Audy, SID dan Radja…...lalu Peterpan, Slank dan terakhir God Bless.

Peperangan informasi pun terjadi di antara wartawan walau secara diam-diam. Masing-masing media berusaha mencari kesempatan di tengah kesempitan waktu untuk wawancara ‘super eksklusif’ dengan para musisi berdasarkan ‘angle redaksi’. Para petugas keamanan selaku pengawal sangat ketat. Belum selesai wawancara pasca jumpa pers, sang artis atau personil grup band sudah digiring paksa ke tenda istirahat. Memang ketat. Betapa beratnya perjuangan wartawan untuk mencari sela-sela berita eksklusif yang berbeda dengan rekan media lainnya. Bukankah lain dapur, lain pula menu dan masakannya?

Aku sendiri memutuskan untuk berkonsentrasi meminta komentar singkat meski datar para artis maupun kelompok band yang menghipnotis 55 ribu penonton. Patokannya sederhana…saat para bintang akan melewati red carpet untuk difoto sebelum memasuki Media Centre, aku melihat reaksi penonton terutama para remaja yang berlarian dan berhimpitan di pagar pembatas. Mereka berdesakan ingin melihat dari jarak 5 meter para idola mereka. Ada yang berusaha mengabadikan wajah idolanya dengan kamera HP, digital maupun manual. Bila ada artis atau band yang diserbu penggemarnya, maka aku pun berusaha mengumpulkan data para artis/band ketika jumpa pers berlangsung. Bukankah aku harus mengetahui perkembangan terkini band maupun artis yang memiliki sejuta penggemar?

Tibalah moment kegamangan itu. Pukul 18.55 WITA, usai Radja Band, aku terpana melihat penampilan Peterpan yang menghipnotis penonton. Bayangkan, begitu Peterpan tampil di panggung A Mild Stage, WC umum yang sebelumnya penuh sesak dengan antrean penonton tiba-tiba kosong melompong. Akupun mulai bertanya. Ada apa denganmu Peterpan?

Aku menderita kesepian di tengah gemuruh suara penonton. Semua mata di arena itu berkonsentrasi memelototi Ariel (vocal), Loekman (lead guitar), Uki (guitar), Andika (keyboard), Reza (drum), dan Indra (bass) yang memanjakan penggemarnya dengan lagu-lagu favorit mereka.

Akupun bergegas kembali ke Media Center menunggu kedatangan Peterpan. Saat itu tiba. Ribuan penonton beralih menyerbu pagar pembatas red carpet. “Pintar juga pihak panita membuat pagar pengaman dari besi baja. Kalau tidak bisa ambruk,” gumamku dalam hati. “Pak tolooong. Toloooong Pak. Tolong dong Paaa. Pliiiisss…,” pinta beberapa remaja dengan suara memelas memohon agar aku yang berada di dalam pagar bisa membantu memotret personil Peterpan dengan kamera yang mereka bawa dari rumah. Aku cuma tercengang dalam kegamangan. Ada aura dan energi apa yang dipancarkan personil Peterpan yang masih muda belia dengan tampang tak berdosa?

Di dalam Media Center, jelang konferensi pers, suasana lebih hiruk pikuk. Jumlah reporter seperti membengkak dua kali lipat dari sebelumnya. Kami berdesak-desakan. Para wartawan pun terserap dalam kharisma Peterpan. Semua melepaskan kartu pengenal di dada dan meletakkan di meja untuk ditandatangani Ariel dkk. “Ini wawancara atau jumpa penggemar,” tanyaku diam. Usai konferensi pers, wartawan pun masih antrean minta tanda tangan. Ini membuat kesal reporter sebuah media televisi yang sudah siap wawancara eksklusif pada akhirnya batal. Berujung, kejar-mengejar wartawan dengan Ariel yang dikawal ketat. Aku heran kenapa pada waktu konferensi pers semua wartawan seperti kehilangan bahan pertanyaan. Ada apa denganmu Peterpan?

Didorong rasa penasaran, aku menguntit Ariel dkk. Mereka masuk tenda paling pojok untuk bertemu para penggemar dan menandatangani pakaian segelintir fans yang diizinkan masuk. Petugas keamanan kewalahan ketika penggemar di luar pagar mulai berteriak histeris karena tak beruntung bertemu idolanya. Delapan menit kemudian, Ariel dkk sudah diamankan ke lokasi khusus. Aku kembali ke media center.

Tiba-tiba dua gadis remaja cantik menghampiriku dengan senyum ramah. “Mas wartawan ya,” tanya seorang di antaranya yang ternyata datang dari Surabaya untuk menonton aksi Peterpan. “Ya. Saya memang wartawan,’ jawabku ramah. Tanpa malu gadis yang satunya lagi memelukku manja dan menggesekkan buah dadanya di lenganku. Aku terbengong. “Mas..tolong ya foto Ariel dengan hapeku,” bujuknya. Aku merasa gamang. Koq bisa sampai begini penggila Peterpan. Ada apa denganmu Peterpan? Sudah lahir BonJovi di Indonesia. Bisakah para anak muda ini tak larut dalam ketenaran yang kadang memabukkan berujung pada kehancuran karir? Biarlah itu cuma dialami New Kids On The Block. (Beny Uleander/KPO EDISI 89/OKTOBER 2005)

Read More
Beny Uleander

Tak Pusing Soal Multi Karakter

Melanie Subono

Berkenalan dengan sosok Melanie Subono memang membingungkan. Publik pun tak bisa memahami siapa sih sebenarnya Melanie. Memang, Melanie dikenal sebagai presenter, pemain sinetron dan pendatang baru di blantika musik dengan satu album indie. Apa sih profesi atau aliran musik yang dipilihnya.

Di tengah kebingungan publik ini, Melanie mengeluarkan statement yang matang dan dewasa. “Omong imij memang susah. Soalnya orang Indonesia sudah terbiasa melihat orang yang suka ambil banyak pekerjaan dinilai nggak fokus. Aku masih ingin main film. Pokoknya aku tak ingin masuk dalam penilaian yang terkotak-kotak. Aku lempar imij ke publik untuk menilainya sendiri,” papar puteri sulung bos Java Musikindo, Adrie Soubono bersemangat.

Melanie pun mengaku tak mau membangun karir di bawah bayang-bayang nama besar ayahnya Adrie Subono yang terkenal sebagai promotor musik di tanah air. “Aku kalau ke mana-mana atau urus sesuatu tak pernah mau pakai nama orangtua. Memang ada teman yang sempat menyarankan pakai nama bapa sebagai keberuntungan tapi aku mau tampil dengan diri sendiri,” ujar mantan isteri Raja Simatupang yang bercerai 23 November 2004 lalu.

Di arena Konser A Mild Live 2005 di Serangan Bali akhir Agustus lalu, model video klip ‘’Gadis Galaksi’’ nyanyian grup Telephone ini memang tampil mengejutkan dengan tembang-tembangnya yang keras. Diakuinya, saat ini dirinya tengah berkonsentrari mempelajari karakter musik punk rock yang selama ini dianut SID, mantan band indie yang kini menjadi band jagoan label Sony BMG Music Indonesia. Dipilihnya aliran musik 'punk' yang identik dengan kejantanan laki-laki menjadi satu bentuk jati diri yang harus dihargai kaum Adam karena perempuan mampu berkreasi dan ekspresi laiknya mereka.

Soal gaya hidup, perempuan kelahiran hamburg 20 Oktober ini menyukai karakter punk. “Gue nggak suka yang slow,” tandas penyanyi yang sempat mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa pembajakan kaset/album justru menguntungkan seorang artis karena karyanya akan semakin dikenal masyarakat. (Beny Uleander/KPO EDISI 89/OKTOBER 2005)

Read More
Beny Uleander

Diguyur Duit, Slank Mulai Berinvestasi

Sebagai band papan atas Indonesia, Slank memiliki sejuta penggemar yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Ketenaran dan duit menumpuk di kantong Kaka (vokal), Bimbim (drum), Abdee (gitar), Ridho (gitar) dan Ivanka (bas). Lantas, slank pun mulai berinvestasi ala manajemen partai politik.

Massa Slank yang disebut Slanker membentuk organisasi di setiap kota yang memback-up kiprah Slank. Band yang bermarkas di Jl. Potlot Jakarta ini telah menyimpan fans fanatik terdaftar dalam komunitas Slankers sebanyak 400.000 orang. Slankers inilah pembeli fanatik kaset dan CD, merchandise Slank, dan penonton konser Slank, yang terus mencoba menghindari membeli barang bajakannya. “Kami selalu mengagendakan pertemuan dengan para slankers. Yang pasti di mana ada Slankers pasti kami akan konser di tempat mereka. Hanya jadwalnya harus disusun jauh hari sebelumnya. Kami berusaha sisihkan waktu untuk curhat,” ujar Kaka yang ditemui di arena Konser A Mild Soundrenaline 2005 di Serangan, Bali.

Untuk Bali, pernah terbentuk Slankers di Singaraja tahun 1999 namun kepengurusan sempat vakum. “Di Bali, kami kukuhkan kembali funs club dengan nama Bidadari Penyelamat. Mereka mengenakan busana adat Bali. Kami resmikan ulang pengurus dengan ketua dan anggota yang baru,” tambah Kaka.

Kini ada 70 cabang Slankers di Indonesia. Karena itu, Slank tetap terobsesi menjaga keutuhan negeri ini dari bahaya pertikaian horizontal. Salah satunya, slank pada tanggal 5 desember mendatang akan menggelar konser perdamaian di Aceh. “Kami ingin melihat langsung realisasi perdamaian RI-GAM di Aceh. Udah lagu tentang kisah perjanjian Aceh

Jilid II. Kita akan lihat apakah perjanjian itu murni atau tidak,” tegas Bimbim. Kaka juga menegaskan bahwa slank tetap berkomitmen mengusung semangat muda sebagai diri nasionalisme.

Dikorek soal penggunaan duit yang mereka terima, jawaban personil Slank ini beragam. Tapi yang pasti mereka tak mengelak duit yang diterima sudah dipakai untuk memenuhi standar hidup layak dan membangun bisnis kecil-kecilan. “Saya mendirikan pabrik gitar dengan label Marlik Gitar. Usaha ini allhamdulilah sudah berjalan,” ujar Ridho. Untuk Abdee, penghasilan yang diterimanya digunakan untuk membangun rumah dan menjalankan bisnis-bisnis kecil yang ditawarkan relasi terdekatnya. Sedangkan Kaka dengan serius menyebutkan uang yuang didapat selama ini terus ditabung untuk masa tua. “Cita-cita saya nanti ingin keliling dunia dan membeli tanah di pesisir pantai. Suatu saat saya ingin menjadi nelayan,” ujar Kaka serius. Sementara Bimbim dengan guyon berkilah sedang merintis usaha penanaman cabe keriting. “Aah nggak. Cuma guyon,” elaknya menghindari rasa penasaran wartawan media ini.

Ditanya kiat menjaga kekompakan, Bimbim yang dituahkan menjawab bahwa kuncinya adalah saling percaya di antara sesama mereka. “Kami sering bertemu bukan hanya ada job untuk manggung atau latihan tetapi seperti keluarga kapan saja. Karena sering kumpul kami jadinya selalu saling percaya,” ujar Bimbin.

Slank berdiri pada Desember 1983 yang bermula dari Cikini Stones Complex (CSC), band yang terdiri dari anak-anak SMA perguruan Cikini. Di band inilah Bimo Setiawan alias Bimbim (dram), Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bas), Uti (vokal) dan Well Welly (vokal) mengekspresikan kesukaan mereka terhadap karya-karya Rolling Stones.

Tapi sayang kemudian band ini dibubarkan. Bimo Setiawan atau lebih dikenal dengan sebutan Bimbim tetap bertekad untuk bermusik. Lalu bersama dua orang saudaranya Denny dan Erwan, ia membentuk Red Evil. Berbeda konsep dengan CSC, Red Evil mulai menyisipkan karya sendiri ketika mereka tampil membawakan karya-karya Van Halen.

Merasa tidak puas dengan satu gitaris, Bimbim pun mengajak serta Bongky yang saat itu tercatat sebagai gitaris Reseh Band. Namun kedatangan Bongky di Red Evil membuat mundur gitaris yang akan didampinginya. Penampilan mereka yang terkesan asal-asalan kadang urakan membuat mereka kerap disebut slenge’an oleh teman-temannya. Mulai saat itulah Red Evil pun berubah nama menjadi Slank dengan formasi awal, Bimbim (drum), Erwan (vokal), Bongky (gitar), Denny (bas) dan Kiki (gitar).

Sejak itu pula, rumah Bimbim di Jl. Potlot III/14 Pancoran, Jakarta Selatan dijadikan tempat ngumpul alias markas kelompok Slank.

Penampilan pertama Slank digelar di Universitas Nasional. Kendati berlangsung kacau, tapi kejadian ini tak menyurutkan Slank untuk ikut festival band KMSS di Istora Senayan, Jakarta.

Melihat Slank yang tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan Erwan pun memutuskan untuk keluar. Posisinya digantikan Uti dan Lala. Tapi tak lama kemudian posisi mereka digantikan Well Welly yang dulu menjadi vokalis CSC.

Formasi Slank terus berubah hingga menjadi solid ketika Bimbim dan Bongky merekrut Kaka (vokal), Pay (gitar) dan Indra Q. (kibor). Mereka kemudian memutuskan serius di jalur musik mereka dan mencari jalur untuk rekaman. Keunikan Slank adalah berani menampilkan warna musik yang berbeda dari pop, rock, sampai etnik.

Tahun 1991, dalam ajang BASF Award, Slank meraih predikat “Pendatang Baru Terbaik” dengan album album Suit-Suit... Hey Hey... (Gadis Sexy) yang menampilkan hits Memang dan Maafkan. Slank pun mulai panenprestasi danpenghargaan seperti MTV Asia Awards Nominator 2003 aaatau BASF Awards Best Selling Album 1994/1995for Rock category dengan meraih perikat Double Platinum Album Category

Sayang, formasi solid ini pun ternyata harus pecah. Pay, Bongky dan Indra memutuskan hengkang. Posisi mereka digantikan oleh tiga personel baru, yakni Abdee (gitar), Ridho (gitar) dan Ivanka (bas). Seiring dengan itu, semangat bermusik, penampilan Slank pun mulai berubah. Bagi Bimbim dan Kaka, tiga personil baru ini membawa gairah yang baru. Sampai saat ini, Slank sudah mengeluarkan 15 album: Suit-Suit Hehe/Gadis Sexy 1990, Kampungan 1991, Piss 1993, Generasi Biru 1994, Minoritas 1996, Lagi Sedih 1997, Tujuh 1998, Mata Hati Reformasi 1998, Konser piss 30 kota (Live Album) 1998, 999 + 09 (Double Album) 1999, Virus 2001, Slank Virus Road Show (Live Album) 2002, Satu Satu 2003 dan Slank Bajakan (Kompilasi Live 2003). (Beny Uleander/KPO EDISI 89/OKTOBER 2005)

Read More
Beny Uleander

Banteng Tua Menyodok Panggung Musik Cadas

God Bless Grup Rock Legendaris

Berkarya hingga uzur dan memompa semangat muda di usia senja. Itulah tekad God Bless, sebuah grup band rock legendaris di tanah air yang sudah berusia 32 tahun. Dari 5 personil God Bless, empat orang berusia di atas 55 tahun yaitu Achmad Albar (vokalis), Ian Antono (gitar), Dony Fatah (bas), Abadi Susman (keyboard). Termuda cuma Gilang Ramadhan (drum), 42 tahun.

Menyebut nama God Bless, orang langsung teringat akan si ‘kribo’ Achmad Albar yang menjadi ikonnya. Juga nama God Bless sudah tertancap kuat di benak generasi muda yang lahir di era 60 – 70-an. God Bless lahir di Jakarta tahun 1973 dan manggung pertama kali di ‘Teater Terbuka’ Taman Ismail Marzuki. Tempat ini pada jamannya dianggap sebagai test case praktisi seni menggelar karyanya.

Ketika ditemui di Serangan, Sakenan, Bali, Minggu (28/8), Achmad Albar bersama personil pendukung God Bless menyatakan niat come back. Memang ada keraguan menengok usia mereka sudah tak layak lagi tampil membawa musik rock yang membutuhkan energi yang besar. Namun melihat penampilan mereka di panggung A Mild Soundrenaline 2005 di Serangan yang tetap energik, ‘sangar’ dan menghipnotis ribuan penonton, keraguan itu lenyap seketika. God Bless kembali ke zaman keemasannya. Publik seakan tak percaya, God Bless tampil dengan jiwa sporty dan muda.

Soal latihan, Achmad Albar mengakui tidak membutuhkan waktu yang panjang. Karena tingkat kematangan yang memadai di antara personil God Bless maka penyesuaian dan penguasaan beberapa lagu cuma dalam satu sampai dua kali latihan bersama. “Untuk tampil di Surabaya lalu kami sempat latihan dua kali. Untuk tampil di Bali hanya latihan sekali saja,” ungkap Albar yang akrab dipanggil Bang Iyek kelahiran Surabaya, 16 Juli 1946 dari pasangan Farida Hasni dan Syech Albar.

Kini God Bless sedang merencanakan untuk meluncurkan album baru. “Materi memang sudah ada tetapi kami masih menunggu waktu yang tepat,” ujar Dony Fatah kelahiran Ujung Pandang, 24 September 1949. Hal ini ditanggapi Achmad Albar dengan menyebutkan kendala masih pada manajemen God Bless yang masih ditangani secara internal. Yang pasti ada target. Tahun 2006, God Bless akan melakukan tour Reinkarnasi keliling beberapa kota di Indonesia.

God Bless memang tak lepas dari sosok Achmad Albar yang kembali menyatakan tekad akan kembali menghidupkan God Bless. “Yah..saya berharap kami semua tetap bersatu dalam God Bless,” tekadnya.

Ketika masa kanak-kanak, Albar sempat membintangi sejumlah film layar lebar antara lain Jenderal Kancil. Tahun 1966-1967. Achmad berangkat ke Belanda dan bergabung dengan kelompok musik “Take Five” kemudian pindah grup band “Clover Leaf” hingga tahun 1972. Bersama Cloxer Leaf Achmad menghasilkan satu album dengan lima buah single hitsnya antara lain “Don’t spoil My Day” & “Grey Clouds”.

Sekembali dari negeri Belanda pada Desember 1972, Ahmad Albar bersama Dony Fattah membentuk God Bless tepatnya pada bulan Mei 1973.

Sulit mencari gitaris rock andal, Ahmad Albar harus merekrut teman sesama musisi asal Belanda, Ludwig Lemans. Gebrakan perdana pada konser musik bergengsi SUMMER 28 yang diselenggarakan di Ragunan, pasar Minggu, Jakarta Selatan. Formasi awalnya Fuad Hassan (drum), Ahmad Albar (vocal). Ludwig Lehmans (gitar), Donny Fattah (bas) dan Deddy Dores (keyboard) setahun kemudian (1973) ketika mereka tampil di Taman Ismail Marzuki, Deddy Dores posisinya digantikan banyak Jockie Suryoprayogo (keyboard) yang pada akhirnya banyak memberikan kontribusi pada group band ini.

Bongkar pasang personel di tubuh God Bless terus terjadi, apalagi ditinggal Ludwig ke negeri Belanda pada akhirnya 1973, otomatis harus mencari gitaris yang setara dengannya. Di posisi gitar pernah tercatat nama Dedy Dores dan Odink Nasution. Yang dramatis, ketika bulan Juni 1974, penggebuk drum berbakat Fuad Hasan dan Soman Lubis (keyboard) mengalami kecelakaan lalu lintas di Tugu Pancoran, Jakarta Selatan. Pecinta God Bless berkabung lama. Untuk mengisi kekosongan, direkrutlah Nasution bersaudara (Odink Nasution, keenam Nasution dan Debby Nasution ). Namun pada tahun 1975 terbentuk formasi solid untuk eksistensi God Bless di masa datang.

Album perdana GOD BLESS diluncurkan tahun 1975 dengan formasi Achmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Donny Fatah (bass), Teddy Sujaya, (drum) dan Yockie Suryoprayogo (keyboard). Lagu Hits andalan ‘Huma di Atas Bukit’ dan ‘She Passed Away’.

Nama God Bless semakin berkibar. Anak-anak band yang memilih aliran musik rock ini menguasai seluruh panggung pertunjukkan di Indonesia. Maka pada tahun 1980 mereka merilis album kedua “CERMIN” , dengan pemain keyboard Abadi Soesman yang menggantikan posisi Yockie yang harus mengerjakan sejumlah proyek musik di grup. Lagu hits CERMIN: Musisi, Selamat Pagi Indonesia dan Balada Sejuta Wajah.

Sejak merilis CERMIN, God Bless lama vakum. Masing-masing personelnya sibuk. Donny Fatah, salah satu pendiri grup ini berangkat ke Amerika untuk memperdalam bisnis musik, sedangkan Achmad Albar sibuk sengan solo kariernya. Hingga tahun1986, sepulang Donny dari Amerika, God Bless kembali masuk rekaman dengan kembali ke format : Achmad Albar, Donny Fatah, Yockie Soeryoprayogo, Ian Antono dan Teddy Sujaya dengan merilis album Semut Hitam yang didanai Log Zhelebou8r, yang sekaligus menjadi promotor pertunjukan musik gaek ini dan meraih sukses dan penjualan albumnya. Lagu hits: Semut Hitam, Kehidupan dan Rumah Kita.

Di tahun 1989, Ian Antono cabut dari group dan posisinya digantikan Eet Syahranie, gitaris muda yang cukup potensial. Lahirlah album RAKSASA (1989) dengan lagu hits Menjilat Matahari dan Raksasa. Tahun 1990 mereka menggubah serangkaian hits God Bless dari album-album terdahulu yang dikemas dengan apik dalam THE STORY OF GOD BLESS sebagai almub V dengan hits panggung Sandiwara dan Sesat.

Kemudian terjadi kevakuman kali ini cukup lama. Masing-masing personil terpencar berkolaborasi dengan para musisi lain seperti Setiawan Djodi, Iwan Fals, Totok Tewl, Sawung Jabo dan beberapa musikus lain. Sedangkan Ahmad Albar dan Donny Fattah bergabung bersama Ian Antono dengan Yay Moekito (drum) dan Harry Anggoman (keyboard), yang menghasilkan album BARA TIMUR (1991) double album LIVE IN JAKARTA (1992), LASKAR (1993), PRAHARA-LIDAH PETAKA (1997).

Kejenuhan dari kesibukan masing-masing personel God Bless mulai terasa. Justru mereka merasa rindu dan kangen untuk bergabung kembali di God Bless yang mereka bangun dengan susah payah, Di tahun 1997 mereka sepakat untuk berkumpul dan terealisasilah formasi God Bless yang XII (1997-1999): Achmad Albar (Vocal),Ian Antono (Gitar), Eet Syahranie (Bass), Donny Fattah (Drum), Yockie Suryoprayogo (Keyboards). Lahir album “APA KABAR” tahun 1997.

Sampai dengan tahun 2003, perjalanan God Bless sudah diwarnai dengan formasi personil sampai XVIII. Group musik cadas God Bless masih tetap berdiri kokoh bagai ‘karang’. Kini ia sudah menjadi legenda bagi perjalanan musik rock di Indonesia. God Bless yang masih tetap berdiri bagai banteng tua. (Beny Uleander/KPO EDISI 89/OKTOBER 2005)

Read More
Beny Uleander

Sempat Tak Direstui Ortu

Kara Gunawan

Nama Kara Gunawan sebagai penyanyi belum setenar Agnes Monica, Audy atau Pinkan Mambo. Namun menengok kiprahnya di jalur musik, pemilik nama asli Tathya Sarasmi Astungkara bukan sekadar kebetulan menjadi penyanyi. Saat ditemui di Serangan, Bali, akhir Agustus lalu, dara cantik ini mengaku kian percaya diri bernyanyi di atas panggung dengan disaksikan ribuan penonton di ajang A Mild Soundrenaline 2005. Dengan goyangan atraktif, Kara membawakan lagu album pertama Beri Aku Waktu bernuansa pop R&B.

“Saya terkejut mendapat sambutan hangat di Bali,” ujar Kara yang didampingi Anindya Novianty Maharani (24) selaku backing vocal. Meski sebagai penyanyi solo, Kara tampil bersama band sendiri. “Dalam konsep band dan untuk live musik lebih bagus bawa band sendiri karena ada penyesuaian dan latihan bersama,” jelas Kara yang mengenakan celana pendek coklet muda dipadu tangtop putih.

Penyanyi dengan senyum indah ini awalnya tak ada niat menjadi penyanyi. Cewek kelahiran Jakarta 24 September 1984 sudah tertarik pada dunia musik sejak duduk di bangku SD. Kara pernah tercatat sebagai anggota paduan suara di SD Al-Azhar, Pondok Labu, Jakarta. Kala duduk di bangku kelas II di SMP Al-Azhar, Kara menjadi penyanyi lepas band sekolah.

Hobinya di dunia tarik suara terus berkembang. Ketika Kara menuntut ilmu di Ascham School, Sydney, Australia, Kara menjadi pemain bas dalam kelompok orkestra sekolah dan juga di band sekolahnya yang beraliran pop alternatif.

Saat kembali ke Jakarta, kurun waktu 2000-2002, buah hati Maxi dan Andang Gunawan menjadi penyanyi di band sekolahnya, Cita Buana Highschool. Ia biasanya mengusung lagu-lagu milik kelompok No Doubt.

Berkat dorongan rekan-rekannya yang melihat bakat besar Kara, akhirnya ia memberanikan diri untuk terjun ke dunia rekaman. Di bawah arahan kakak beradik, Iwang Noorsaid dan Imaniar, pada Mei 2003, album debut Kara yang berjudul Beri Aku Waktu dirilis Karabi Production dan diedarkan oleh EMI Indonesia.

Masuk ke lingkungan musik R&B menjadi pilihan yang berani bagi Kara sebagai penyanyi pendatang baru. ”Saya sudah pikir masak-masak, untuk meniti karir sebagai penyanyi jangan dilihat sebagai hobi sampingan,” tegasnya. Kara memang doyan musik kulit hitam. Ia mengidolakan Marvin Gaye, penyanyi Soul/R&B gaek yang legendaris. ”Tapi saya harus sadar dengan keterbatasan yang ada. Resepnya, saya masih harus belajar secara teknis,” ungkap gadis yang sejak bocah sudah gemar bersenandung.

Pada masa kecilnya, Kara terbiasa mendengar musik Rock dari Beatles, Rolling Stones, dan Led Zeppelin—karena ayahnya yang mantan personel band Big Man Robinson sering memutarkan lagu-lagu mereka. Dari situlah, unsur Pop Rock terasa di album debutan Kara yang menampilkan singel perdana, ”Beri Aku Waktu”.

Di usianya yang muda Kara sudah masuk dalam nominasi Rocketeer di ajang penghargaan Clear Top Ten 2003 bersama Shiva, Jackpot, Ratu dan Astrid. Penilaian itu dipantau langsung oleh Supervising Committee yang bertugas memantau perhitungan tangga lagu dan nominasi Awards Clear Top 10. Padahal awalnya berkarir, Kara tak mendapat restu orangtua karena ada Kara disuruh fokus dulu pada sekolahnya. ”Saya itu backstreet ke dunia rekaman. Waktu itu, saya ingat, tinggal sisa dua lagu lagi ketika ketauan, yang langsung menghasilkan rapat keluarga,” kenangnya.

”Saya nantang, rekaman harus jalan terus dengan janji pasti lulus SMA. Saya bisa berkarier nyanyi sekaligus sekolah. Beri Aku Waktu,” sambung Kara meniru judul lagu debutannya.

Alhasil, album perdana Kara yang diperkuat dukungan Imaniar, Iwang Nursaid, Bagoes AA, Tohpati, dan Bintang Indiarto berhasil mendapatkan izin orang tua. Maxi, ayahnya, lantas ikut berkolaborasi sambil menyumbang lagu ”Dalam Bayangmu” dan ”I Promise”. Selain itu Kara menciptakan lirik lagu khusus buat ayahnya, yakni ”Your Love”.

Dia membuktikan bisa lulus dari sekolahnya di SMU Cita Buana. Kini Kara sadar jalan menuju tangga penyanyi ternama masih panjang tapi dalam hal kualitas, Kara kian pede. Karena itulah Kara harus rela menunda kelanjutan studinya di Monash University, Melbourne, Australia. (Beny Uleander/KPO EDISI 89/OKTOBER 2005)

Read More
Beny Uleander

Lolot Tak Mau Bohongi Diri

Siapa sih yang tidak mau dikenal seluruh masyarakat Indonesia bahkan ke manca negara? Mungkin Lolot adalah salah satu diantaranya. Meski telah memiliki nama besar di Bali sebagai seorang penyanyi beraliran Bali Rock Alternatif, Lolot tidak berani melebarkan sayapnya ke panggung nasional meski keinginan itu ada. Apa yang menghambat keinginannya tersebut? ‘Bahasa’ itulah jawaban yang keluar dari mulut ayah satu anak ini.

Memang benar, untuk bisa melejit ke panggung nasional bahkan internasional modal utama yang harus dipersiapkan adalah album berbahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Lolot yang terbiasa berkomunikasi dengan bahasa daerahnya yakni Bali, merasa canggung jika berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, apalagi bahasa Inggris. ‘’Memang anak muda sekarang lagi gila-gilanya dengan musik rock berbahasa Inggris, tapi mereka ngerti nggak artinya apa? Saya tidak mau membohongi diri saya sendiri. Buat apa saya bernyanyi jika saya sendiri tidak ngerti artinya. Selain itu bahasa Indonesia saya juga kaku,” katanya polos.

Meski tidak berdaya mencapai panggung nasional, namun Lolot yang dibantu teman-temannya Lanang pada Bas, Doni pada gitar melody dan Deni pada Drum, tetap merasa bangga karena telah berhasil mengisi blantika musik Bali, apalagi berhasil meraih anugrah dari SCTV Musik Award kategori Grub Band Indie Paling Ngetop. ‘’Sebenarnya kita tidak terlalu menargetkan untuk mendapat penghargaan, karena takut jika kita terlalu antusias ingin mendapatkan tapi akhirnya gagal, kita jadi stres sendiri. Biarlah mengalir seperti air. Tapi kalau dapat kita sangat bersyukur,” jelas pria kelahiran Denpasar 15 Mei 1976.

Lolot Band yang berdiri sejak tahun 2000, telah berhasil menelurkan tiga album berbahasa Bali dibawah rumah produksi Pregina. Masing-masing albumnya berjudul Gumi Mangkin tahun 2003 yang laku 70 ribu kopi, Bali Rock Alternative tahun 2004 yang laku 70 ribu kopi dan Meong Garong tahun 2005 yang sudah laku 30 ribu kopi. Nama Lolot sendiri, diambil dari nama masa kecilnya yang sering dipanggil Lolot karena kenakalan dan kebodohannya. ‘’Lolot itu nama saya waktu kecil. Saya baru tau kalau kata lolot itu dibalik jadinya tolol. Namanya manusia, tidak ada yang sempurna. Pasti memiliki kekurangan bahkan kebodohan,” tuturnya. (Beny Uleander & Made Sutami/KPO EDISI 89/OKTOBER 2005)

Read More
Beny Uleander

Percayai Faktor X

Marcello ‘Ello’ Tahitu

Selamat tinggal kasih,
sampai kita jumpa lagi,
aku pergi ta'kan lama...

Secuil syair lagu pop klasik ‘’Pergi Untuk Kembali’’ itu menyentak kuping telinga pecinta lagu Tanah Air. Lagunya lama, dengan pendendang baru, plus cita rasa nan baru. Sentuhan lagu menjadi lebih jazzy ketimbang sebelumnya yang pop balada. Penyanyi baru itu adalah Ello dengan nama lengkap Marcello Tahitoe.

Meski terkategori pendatang baru, Ello sudah mampu mencuri simpati publik. Di manakah pesona dan keunggulan lajang 22 tahun ini? Ello adalah sosok penyanyi muda dengan segudang potensi. Darah musiknya mengalir deras dari kedua orang tuanya, Minggus Tahitoe, pelantun asli lagu Pergi Untuk Kembali dan ibunya Diana Nasution dengan hits Benci Tapi Rindu.

Penampilannya yang elok, senyum simpatik, suara yang oke dan kepiawaiannya bermain piano, membuat Ello segera merebut perhatian musik maniac. Tak heran jika debut album bertajuk sama dengan nama panggilannya itu, meledak di pasaran. Berdasarkan data perusahaan rekaman Sony BMG Music Entertainment (SBME), album Ello mencetak angka penjualan tertinggi untuk periode pertengahan April 2005. Vokalnya yang keren bisa dinikmati dalam album Audy berjudul 20-02, di mana ia berduet dalam lagu Silang Hati.

Kini jadwal manggung Ello cukup tinggi. Setiap penampilannya pun selalu disambut histeris para penggemarnya seperti terekam di konser akbar A Mild Live Soundrenaline 2005 di Serangan, Bali, Minggu (28/8) lalu.

Saat ini jadwal manggung Ello sudah lumayan tinggi. Mulai dari jadi pembuka konser Boyz II Men hingga manggung di berbagai kota di seluruh tanah air. “Dulu kegiatan Ello sebatas kampus dan gereja tetapi sekarang banyak jadwal manggung. Kebetulan gue lagi liburan kuliah sehingga dimanfaatkan untuk manggung. Bulan Juli lalu, kami hanya istirahat lima hari,” ujar mahasiswa FISIP UI.

Ello sosok penyanyi religius yang selalu melihat campur tangan ilahi dalam setiap penmpilannya. “Kami sebelum tampil selalu berdoa bersama. Kalau penonton menyambut dengan baik itu karena faktor X,” ujar Ello yang masih bersaudara dengan Glenn Fredly merendah.

Soal kiprahnya di jalur musik, Ello menyatakan sudah menjadi keputusan final. “Dari kecil gue udah bercita-cita jadi penyanyi. Gue menyukai profesi ini. Apalagi gue lahir dari keluarga musik. Mereka selalu memberi support moral seperti kesabaran dan doa,” ujar pria yang berharap dirinya tak larut dengan ketenaran.

Pemuda kelahiran Jakarta 20 Februari 1983 itu sejak usia empat tahun sudah mengenal alat musik piano. Maklum, lingkungan keluarganya adalah kelompok pecinta musik. Waktu di bangku SMP, Ello sempat membentuk band yang kemudian bubar. Penggemar musik Jamiroquai, Maxwell dan Stevie Wonder tetap merawat cita-citanya untuk menjadi penyanyi.

Ello pun mulai menemukan eksplorasi bakatnya dalam menulis lagu. Karya-karya itu kemudian dikemas dalam bentuk demo yang diserahkan ke sejumlah perusahaan rekaman sejak tahun 2000. Berkat kesabarannya, demonya itu baru mendapat jawaban pada tahun 2003 dari Sony Music –kini berubah jadi SBME.

Sejak manajemennya dipegang oleh papanya sendiri, Ello tampil lebih jantan. Untuk menyiasati agar nilai jualnya tetap menggetarkan, Ello acapkali memanfaatkan kemampuannya sebagai player pada keyboards. Ia sering menyanyi sambil main keyboards, meski tetap dikawal oleh backing band yang dibangunnya sejak album Ello beredar awal tahun 2005.

Menyinggung, karakter penampilan dan suara dekat dengan Glenn Fredly, Ello tetap komit bahwa setiap penyanyi tetap punya jati diri. “Musisi dan penyanyi yang baik adalah mereka yang mampu menampilkan karakternya di panggung dan rekaman, tanpa harus dibanding-bandingkan dengan musisi atau penyanyi lain. Saya sedang menuju ke sana,” tambah Ello yakin.

Dari catatan sepanjang perjalanan A Mild Live Soundrenaline digelar dari tahun 2002, baru Ello seorang pemusik solo yang dapat sejajar dengan artis papan atas Indonesia. Ini bukan semata-mata karena Ello adalah hits maker, tapi itu lebih disebabkan, pada kapabilitasnya sebagai multi instrumentalis sekaligus vokalis, pencipta lagu dan arranger. (Beny Uleander/KPO EDISI 89/OKTOBER 2005)

Read More