Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Agustus 14, 2008

Beny Uleander

Selebritas Pemberitaan

Setiap insan dalam segala keelokan talenta menyisir alur kehidupan terberi. Jejak fase kehidupan menghidangkan kerumitan dari masa kana-kanak, remaja hingga dewasa. Di belahan pengalaman kegembiraan maupun semburat duka bercampur tangis bersemi sinar harapan. Ya…manusia mencari dan terus mencari hari demi hari sebuah alasan eksistensial. “Untuk apa saya hidup dan ke mana saya akan melangkah!”
Kegamangan yang amat mendalam ini kerap mendorong manusia masuk dalam alam refleksi. Ada saat di mana seseorang diam hening berbincang intens dengan dirinya. Ia mematangkan pandangan hidupnya secara rohaniah dengan menekuni kitab-kitab keagamaan yang diyakini. Ia menenangkan kegelisahan nurani dengan menyerap butir-butir kebijaksanaan dari orangtua, guru, sahabat dan teman hidup yang dijumpai. Muara penemuan diri berujung pada kerendahan hati: setiap insan –yang berbeda ras, agama dan budaya—adalah duta-duta kehidupan.
Keajaiban terjadi kala seseorang menyadari dirinya sebagai pribadi yang mandiri, bebas dan otonom. Pribadi yang memiliki potensi pengembangan diri dan aktualisasi karakter. Hanya ada satu Barack Obama. Cuma ada satu Sheila Marcia. Juga Osama Bin Laden berbeda dengan Mike Tyson. Setiap pribadi mengukir kisah hidupnya sendiri. Kita tidak ditugaskan untuk bertanggung jawab atas kehidupan orang lain. Namun kesadaran kita akan benih-benih kebaikan membuat kita lebih awas untuk tidak melukai kehidupan dengan amarah, dendam dan irihati.
Saat ini gendang pengungkapan korupsi terdengar ramai. Silat lidah politikus muda dan tua seperti sebuah ketoprak humor. Pengurus partai maupun tokoh independen gencar mengiklankan diri. Sementara rombongan aktor dan artis yang terlanjur tersohor mencoba peruntungan di panggung politik maupun kekuasaan. Koruptor, aktivis, penjahat sekelas Verry Idam Henyansyah alias Ryan hingga elite politik di negeri ini menjadi “tokoh publik”. Itulah kekuatan selebritas pemberitaan maupun parade iklan yang berlangsung kontinyu.
Setiap saat selalu ada wajah baru maupun lama yang nongol di layar kaca menyapa kita lewat akrobat peran mereka dalam kisah tertentu. Wajah Artalyta Suryani begitu familiar bak artis dadakan. Sosok Roy Surya sang pengamat IT dengan suara analisis terekam akrab di telinga pemirsa. Tawa renyah Oprah Winfrey menyapa bintang tamu sudah seperti suara orang terdekat di hati kita.
Selebritas pemberitaan membuat obyek pemberitaan menjadi subyek tontonan mengasyikkan. Tragedi maupun bencana seperti pentas kolosal di sebuah tempat. Masyarakat digital kerap tak peduli dengan masalah-masalah krusial kemanusiaan dan kehidupan itu sendiri.
Demikian pula di pentas politik, rakyat digiring mendewakan tokoh-tokoh muda yang dicitrakan dinamis dan penuh daya dobrak. Tapi, perangkat-perangkat pencitraan “lupa” bahwa yang tersajikan adalah selebritas wacana, opini, asumsi dan prediksi. Bukan selebritas aksi.
Itulah kelemahan krusial yang membuat kita lupa bahwa setiap kita adalah duta kehidupan. Pribadi-pribadi yang menjadi khalifah Allah di muka bumi ini. Karya kita adalah eksistensi kita. Bakti kita adalah kualitas kemanusiaan kita. Itulah yang tidak tertanam sebagai gerak kesadaran untuk membangun bangsa dengan kerja keras dan karya cerdas. Akibatnya kita (bangsa Indonesia) lamban membaca peluang-peluang usaha. Saatnya kita meneladani bangsa Cina dan India yang mulai menawarkan kejayaan peradaban baru di tengah pudarnya dominasi “peradaban Amerika”. Mereka bangsa yang tekun dan pekerja keras. Apakah manusia Indonesia jarang berkomunikasi dengan dirinya, memasuki alam refleksi sehingga tidak mau tahu bahwa hidup adalah berkarya bukan bermimpi. (KPO/EDISI 158/AGUSTUS 2008)
Read More

Rabu, Agustus 13, 2008

Beny Uleander

Memetik Hikmah Pemimpin Pro Rakyat

Sharing “Gubernur Jagung” Fadel Muhammad (4-habis)
Pusaran arus pergulatan pembangunan pro rakyat di kawasan Amerika Latin mulai meluas di negara-negara berkembang. Hugo Chaves sukses meraih dukungan rakyat Venezuela untuk kedua kali. Meski sejarah masih menyisakan kisah yang belum terjawab: apakah Chaves akan tergoda oleh kenikmatan kekuasaan. Demikian pula, mayoritas petani miskin Bolivia mendaulat Evo Morales yang sukses menasionalisasi perusahaan asing untuk mengembalikan kedaulatan kekayaan negara.
Trend mengejutkan datang pula dari jantung Amerika Latin, yaitu Paraguay. Uskup Emeritus Fernando Lugo yang dikenal gigih menerjemahkan teologi pembebasan option for the poor terpilih menjadi pemimpin negeri itu. Kembali arsip sejarah yang akan bercerita sukseskah Lugo sebagai pemimpin agama berkiprah di panggung politik yang kotor dan serakah? Yang pasti percikan ideologi kesejahteraan mulai tercecer di berbagai belahan dunia.
Ideologi kesejahteraan entah berbaju sosialisme atau neososialisme tetap sebuah gerakan kesadaran baru era digital ini. Pergulatan pasar bebas yang kapitalistik membentang kenyataan pahit: penjajahan ekonomi yang amat keji. Negara-negara kaya dengan perusahaan raksasa berkolaborasi menancapkan mega proyek pengerukan kekayaan alam di sebuah negara. Jurus lain kolonialisme di abad 21 yang penuh eksploitasi sumber daya alam maupun manusia. Indonesia pun terjepit genggaman arus modal asing dalam berbagai perusahaan asing maupun “blasteran” dari Sabang sampai Merauke.
Seiring debur kencang “tsunami” ideologi kesejahteraan, regenerasi kepemimpinan yang diproduksi kalangan elite politik mulai memudar. Kini pemimpin pinggiran yang tidak terkenal, tapi dengan dukungan rakyat bisa menggapai poros kekuasaan. Uniknya lagi, di tengah “ideologi baru”, rakyat merindukan pemimpin muda yang dianggap segar, penuh vitalitas, dinamis dan jiwa yang terbuka menggapai kemungkinan terjauh menuju perubahan baru.
Lalu apa hubungan ideologi kesejahteraan dan jejak pembangunan yang dirintis Gubernur Fadel Muhammad di Propinsi Gorontalo? Di saat para pengamat politik dan aktivis mencalonkan diri sebagai calon presiden, diam-diam Fadel yang berada di lingkaran elite partai Golkar memilih kembali mengabdi di daerah. Ketika perguliran rezim dikritik gagal memberantas kemiskinan, diam-diam pula Fadel membuat grand desain pembangunan ekonomi lokal yang memadukan kinerja birokrasi dan potensi kerakyatan sebagai tonggak pembangunan daerah.
Sepak terjang Fadel Muhammad memang tidak serta merta mendaulat sosok pemimpin muda itu layak “melirik” kursi RI 1. Namun setidaknya, langkah-langkah pembangunan agraris bisa diretas di negeri ini dan oleh seorang pemimpin muda. Entah tua ataupun muda…pemimpin negeri ini harus berani dan tegas merintis penguatan ekonomi kerakyatan. Tentunya berani menggusur jejaring kapitalis-neokolonialisme modern yang memiskinkan rakyat.(KPO EDISI 158/AGUSTUS 2008)
Read More

Rabu, Juli 30, 2008

Beny Uleander

Kalkulasi Kenikmatan

Dua goresan hitam menyilang tebal pada wajah peradaban negeri ini. Dua guratan duka mengawali kematian sebuah negeri. Pertama, mega skandal korupsi massal legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kedua, rentetan eksekusi mati para terpidana mati yang melakukan aksi kriminal karena motif ekonomi.
Dari kedua pahatan peristiwa historis itu, bergulir topik debat publik nan hangat. Bagaimana kalau para koruptor digiring ke tiang pancung -hukuman mati. Alasannya, uang negara yang dicuri selama ini menjadi biang keladi kemiskinan yang menggurita dan membelit rakyat negeri yang kaya sumber daya alam ini. Sedangkan para pelaku kriminal yang ditembak mati hanya menghilangkan nyawa segelintir orang. Sementara kerakusan para koruptor membuat jutaan rakyat hidup terlunta-lunta di medan kemiskinan.
Montesquieu dengan cemerlang menggagas trias politika sebagai pilar-pilar penyangga eksistensi rakyat dan negara. Sebuah cetusan ide yang progresif dalam tataran sistem. Tapi apakah pernah terlintas dalam benak Montesquieu pada tahun 1748 bahwa tiga pilar demokrasi itu pada moment tertentu akan “berselingkuh ria” menghancurkan negara. Ya fakta telanjang “perselingkuhan” terpampang setiap hari di layar kaca dan kertas koran di negeri ini. DPR telah menjadi mafia korupsi uang negara. Kejaksaan diobok-obok karena sudah dari dulu tidak dipercaya kredibilitasnya. Setali tiga uang, aparat birokrat, termasuk mantan pejabat banyak yang dicokok KPK karena ada dugaan mark up tender dan proyek pembangunan.
“Permainan kotor” tiga tiang penyimbang kekuasaan itu menyebabkan angka golput terus meningkat secara signifikan dalam beberapa event pilkada gubernur maupun bupati yang dilakukan secara langsung di berbagai daerah. Meski begitu, negeri ini belum mati. Itu karena masih ada laskar-laskar mandiri yang tidak mau mencicipi sensasi kenikmatan hidup dengan uang haram. Mereka bukan pengikut setia Epikuros (342-271 SM) yang menganjurkan agar orang menjauhkan diri dari kesibukan ber-polis karena kegiatan itu berisiko tinggi terhadap ketenangan jiwa. Mereka juga bukan pengusung idealisme Kantian dan Fichte yang tidak mau menaklukkan diri kepada benda-benda berharga yang ada di alam ini. Siapa mereka?
Para laskar mandiri tidak lain adalah pribadi-pribadi yang tidak mau menjadi budak harta. Tujuan hidup tertinggi bukan pada kepuasan hidup bertabur emas dan dollar. Kalkulasi kenikmatan tertinggi ada pada kebebasan dan kreasi untuk menghasilkan karya berharga lewat sketsa pekerjaan. Kehidupan adalah ruang berbagi cinta, perlindungan, penghargaan, ketulusan dan gairah untuk menciptakan surga damai di dunia. Kru legislatif boleh serakah! Tim Yudikatif silahkan menebar jurus-jurus pemerasan! Grup eksekutif bebas menilep uang proyek! Tapi selama kebeningan nurani belum punah dari bumi pertiwi, detak jantung Republik ini akan terus berdenyut.
Kebahagiaan sejati ditakdirkan menjadi milik pribadi-pribadi yang bukan “tukang-tukang” kekuasaan. Juga kedamaian bersemayam dalam batin yang puas menikmati kehidupan dengan hasil karya. Mereka tidak membunuh karena kemiskinan dan mereka tidak merampok uang negara karena tahu letak sesungguhnya sumber-sumber kenikmatan batin. Karya agung hanya lahir dari jiwa yang setia menatap keluhuran kemanusiaan. Kemalangan selalu menghampiri pribadi yang bersandar pada kekuatan sihir kuasa dan uang. (KPO EDISI 157/AGUSTUS 2008)
Read More

Rabu, Desember 05, 2007

Beny Uleander

Make-Up Pembangunan

Usia 62 tahun perjalanan negeri ini dalam perspektif peradaban bangsa modern masih tergolong bangsa yang muda belia. Belum matang ikhwal berdemokrasi dan masih hijau dalam meretas evolusi mental menjadi anak bangsa yang tangguh dan berprestasi. Seperti halnya awal reformasi yang membawa eforia, demikian pula kemerdekaan seolah menjadikan kita serba baru dalam penampilan di bidang pemerintahan, sistem pendidikan, hukum dan praktik ekonomi.
Padahal di tengah ‘kebaruan’ itu terselip aroma ‘make-up’ di segala bidang kehidupan. Romantisme perjuangan Generasi 45 pun menyelip indah dalam kurikulum pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi. Betapa keroposnya generasi muda memahami semangat nasionalisme dari kegiatan baris-berbaris. Di era Orde Baru, begitu lugunya penduduk Jakarta sampai pelosok desa mewaspadai PKI dan antek-anteknya. Sementara mereka diperintah oleh rezim yang mempraktikkan secara nyata aksi-aksi yang lebih biadab dari kaum komunis. Dan, di zaman Reformasi ini, kita menelan secara mentah-mentah gaya hidup kapitalis-konsumtif dengan mengeksploitasi alam habis-habisan.
Kini negeri ini mulai panen bencana demi bencana karena birokrat yang bermental korup. Semua pelanggaran dibiarkan asalkan menguntungkan kantong mereka saat ini. Yang penting bisa bangun rumah gaya Spanyol, naik Mercy, parkir Harley-Davidson di garasi rumah, dan plesir dengan uang Negara ke Singapura. Itulah sejarah kita yang bangga dengan make-up pembangunan sehingga sampai detik ini, pemerintah (Negara) gagal menjamin hak-hak dasar warganya seperti: pendidikan yang murah, pelayanan kesehatan murah, lapangan pekerjaan, dan berbagai layanan sosial lainnya.
Kegagalan ini karena negara tidak memiliki konsep akan identitas dirinya yang panjang jauh sebelum kemerdekaan, kita mengubur dalam-dalam kejayaan ‘peradaban Sindhu’ yang melahirkan Indonesia. Kita lupa bahwa nenek-moyang kita hidup dalam satu peradaban. Agama dan identitas sosial kita jadikan sebagai pilar-pilar untuk pembangunan bangsa ini. Akibatnya, penduduk negeri ini terus bergumul-bertengkar-berkelahi bodoh dalam dikotomi mayoritas-minoritas, kota-desa, Jawa-non Jawa, pribumi-non pribumi, modern-primitif, dan selaksa dikotomi yang membuat kerdil identitas ‘peradaban Sindhu’. Keindonesiaan pun kian kabur.
Bangsa ini sebenarnya mempunyai sejarah cemerlang yang amat panjang dan membanggakan. Hanya selama ini, penguasa lintas rezim sukses mendoktrin ‘rasa kebangsaan’ yang dimulai dari fase pergerakan kemerdekaan melawan penjajah Belanda. Kemerdekaan dijadikan garis start untuk merajut keindonesiaan. Kita (penguasa lintas rezim) lupa bahwa keindonesiaan bukanlah sebuah akhir tetapi sebuah proses. Tentunya keindonesiaan adalah proses historis yang dibangun di atas pilar-pilar ragam kerajaan, suku, dan adat-istiadat di Persada Nusantara.
Amatlah naïf bila generasi mudah terus didikte untuk melihat keindonesiaan yang dimulai dengan nama besar Pangeran Diponegoro sampai Soekarno. Jauh sebelumnya, di tengah rumpun Melayu, berdiri kerajaan-kerajaan besar di bagian timur dan barat Indonesia. Kerajaan Melayu Jambi, Tulang Bawang, Srivijaya, Keritang di Sumatera. Ada kerajaan Salakanagara, Tarumanagara, Sunda Galuh, Kalingga, Mataram Kuno (Hindu), Medang, Kahuripan, Kediri, Kanjuruhan, Janggala, Majapahit, Pajajaran, Blambangan, Sailendra, Sanjaya di Jawa. Di Borneo (Kalimantan) ada kerajaan Kutai, Po Ni, Banjar, Negara Daha, Negara Dipa, Tanjung Puri, Nan Sarunai dan kerajaan Kuripan. Belum terhitung kerajaan-kerajaan kecil di Bali, Sulawesi, Papua, Ternate, Tidore, Bima, Flores, dan Timor Barat.
Mereka memiliki tata kenegaraan sederhana dengan seorang pemimpin (raja kecil), struktur masyarakat, tradisi, simbol-simbol sosial, aturan-aturan normatif dan nilai-nilai budaya serta paradigma berpikir soal identitas diri di tengah keragaman. Mereka paham akan cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah saling membangun interaksi, perdagangan dan hubungan diplomatik serta kerja sama di bidang tertentu. Bercermin dari kekayaan masa lalu, kita seharusnya sadar bahwa keindonesiaan adalah sebuah identitas historis. Kita berasal dari satu sumber peradaban, satu leluhur. Namun mengapa kini hanya karena agama dan perbedaan status ekonomi dan politik, kita saling memfitnah, menindas dan menjajah? Untuk apa kita menjadi negera merdeka tetapi miskin identitas diri?
Pertanyaan di atas adalah desakan kegelisahan melihat konsep-konsep pembangunan yang keliru dan naïf. Anak-anak bangsa mengukur keberhasilan dari sejumlah harta yang dapat dikoleksi. Kesuksesan ditimbang dari jabatan dan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif yang dimiliki. Padahal sejatinya, keberhasilan adalah sejauh mana minat anak-anak bangsa untuk terus belajar mengembangkan diri dan keahlian di bidang tertentu. Sedangkan tolok-ukur kesuksesan bukanlah jabatan tetapi produk yang bisa diciptakan, meski sederhana tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Paradigma inilah yang hilang dari khasanah pemikiran anak bangsa yang terjerumus dalam mental instan.
Kita mewarisi sebuah ‘masa lampau tradisi’ yang cemerlang dan penuh kebanggaan. Tinggal sekarang, kita belajar membangun sebuah negara bangsa dengan mengutamakan karya (produk barang dan jasa) bukan dengan mengedepankan perbedaan agama, suku dan budaya. Semoga. (Beny Uleander/KPO EDISI 133)
Read More
Beny Uleander

Sketsa Idealisme

Air mata duka membasahi lubuk hati Soedjatmiko, Duta Besar RI untuk PBB pada era 1960-an, ketika mendengar kabar kematian tragis intelektual muda Soe Hok Gie di puncak Gunung Semeru, 19 Desember 1969. Soedjatmiko, si kutu buku yang mendulang ilmu sosial secara otodidak itu, memaknai alur idealisme dan laku hidup Hok Gie di ranah Nusantara ibarat sketsa tipikal sejati roh kaum muda Indonesia.
“Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok Gie, salah seorang intektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi pasca kemerdekaan….Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan ….bagi saya memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat, 27 tahun,” ujar Soedjatmiko di dalam pertemuan The Asia Society di New York (Belok Kiri, Jalan Terus, hal 70, 2005).
Sejarah Bumi Pertiwi tidak pernah sepi dari torehan kisah pergumulan idealisme dan pencarian jejak jati diri bangsa yang mekar merunyak di sanubari kaum muda. Airlangga yang menjadi raja di usia 17 tahun sudah meretas aturan-aturan hukum negara yang melindungi hak asasi warga kerajaan, Soekarno dalam usia 27 tahun sudah menjadi target individu berbahaya di mata kolonialis Belanda, Syahrir muda mulai menggulirkan ide masyarakat sosialis sebagai masyarakat pembangun, Chairil Anwar mendendangkan bara api perjuangan yang patut dihidupi kaum muda hingga seribu tahun, dan masih banyak lagi penggalan kisah anak muda yang sudah mampu membangkitkan kesadaran baru di kalangan saudara sebangsanya.
Nama Soe Hok Gie kali ini menjadi sorotan berkat ucapannya yang ‘bertuah’ untuk situasi carut-marut pembangunan ekonomi, hukum dan politik di era pemerintahan SBY-JK ini. “Kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. Dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi chaos. Lebih baik mahasiswa yang bergerak.” Masalah perut kini menjadi seuntai lagu duka di negeri ini. Rakyat kelaparan di atas negeri yang kaya sumber daya alamnya. Sementara kaum muda memilih jalan sendiri untuk bertahan hidup. Ada yang merantau ke Malaysia, Brunei, Jepang Amerika hingga Arab Saudi untuk menjadi pekerja kelas bawah. Sebagian sibuk membentuk kelompok pembela identitas agama/sekte lewat aksi kekerasan dengan pentung di tangan dan belati terselip di pinggang. Kalau di daratan Amerika ada cowboy yang memegang senjata api dengan menunggang kuda mengejar musuhnya. Di negeri ini, para ‘cowboy; menunggang atribut agama sambil membantai siapa saja yang bukan kelompok mereka. Aparat keamanan pun dibantai brutal hingga tewas bersimbah darah.
Di persimpangan lain, organisasi kepemudaan sulit merumuskan isi perjuangan bersama untuk dijalani di negeri ini. Tingkat kesulitan itu bukan pada tataran idealisme tetapi lahir dari kepentingan dan mata rantai menangguk untung sebesar-besarnya dari proposal proyek-proyekan –maaf termasuk proyek fiktif tetapi laporan operasionalnya dibubuhi meterai.
Terasa sekali, kaum muda saat ini kehilangan vitalitas dan kekeringan spirit kebangsaan dalam mengelola organisasi. Mereka yang terjun ke partai mulanya berteriak atas nama rakyat. Ketika jadi wakil rakyat berteriak soal tambahan tunjangan kesejahteraan. Mereka yang memilih jadi jurnalis mulanya mengaku terinspirasi oleh idealime. Ketika sudah memiliki nama dan pengaruh lantas menjadi corong menulis bait-bait keberhasilan penguasa. Tanpa peduli akibat dan fakta sesungguhnya di lapangan. Mereka yang berlomba jadi presiden mengeluarkan slogan bersama kita bisa. Setelah berkuasa, rakyat berjalan sendirian dalam kelaparan. Kini bersama kita sekarat, bersama kita serbu rumah ketua RT yang tak tahu menahu soal kriteria pendataan KK miskin dan bersama kita gorok leher kepala desa yang tidak mengerti proses pendataan warga miskin versi BPS.
Bangsa ini sedang dalam situasi sekarat. Kenaikan harga BBM yang gila-gilaan efektif memindahkan pokok persoalan ketidakjeniusan ‘orang-orang istana’ mengatur negara kepada masalah ‘baku hantam’ antar rakyat di tingkat akar rumput. Beban hidup kian berat ditambah daya beli yang rendah menyebabkan hampir semua warga berlomba-lomba mencatatkan diri sebagai KK miskin. Percuma kita mengutuk sesama warga menggadaikan harga diri sementara elite penguasa sudah tidak punya harga diri.
Apalagi berdasarkan teori dan fakta historis, rakyat yang miskin merana akan nekat berbuat apa saja. Tak sadarkah pemerintah negeri ini bahwa sebagian kasus kriminal maupun penyakit sosial yang menjamur di negeri dilakukan karena motif ekonomi? Suami jual ganja untuk beli pakaian lebaran buat isteri dan anak. Gadis SMP menjajakan diri ke om-om senang untuk menombok biaya sekolah. Seorang pemuda mencuri sepeda hanya untuk membeli makanan karena lapar. Apalah arti lantunan slogan dibalut kepiawaian berpidato sementara setiap hari masalah demi masalah di negeri ini beranak-pinak. Rupanya kita harus jujur kepada diri sendiri bahwa kita bukanlah generasi impian karena masih berkubang dengan kehebatan diri, egoisme, gila jabatan dan nikmat kekayaan dari tunjangan fasilitas negara. “Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh - - dan pemuda, bangkit dan berkata, stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apapun, dan bangsa apa pun, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik,” tandas Hok Gie yang lahir 17 Desember 1942. Inilah visiun Hok Gie yang harus menjadi sketsa menata pencarian identitas kaum muda Indonesia yang tak sekterian, pluralis dan melihat karya agung Tuhan terpampang indah dalam keragaman budaya, suku dan agama serta jejak eksotik alam sekitar.
Bangsa ini tetap merindukan hadirnya sosok-sosok kaum muda yang genius intelek, visi dan moralnya. Kita tetap optimis karena kita adalah keturunan dari nenek moyang yang sudah menghidupi sebuah peradaban yang tinggi di masa lampau. Hingga kini masih ada segelintir kaum muda negeri ini yang mampu menunjukkan prestasi cemerlang di bidang akademik, musik, perfilm, olahraga dan sebagainya. Sekarang tinggal pertanyaan bernada harapan. Sejauh mana pemerintah merespon api ‘sketsa idealisme’m kaum muda agar turut membakar gairah kaum muda yang lain. Persoalannya, selama korupsi masih dipelihara selama itulah berbagai penyakit sosial tumbuh subur di negeri ini. Juga semakin banyak generasi muda yang membudayakannya. Maukah kita terus berkubang di tubir-tubir keserakahan diri? KPO/EDISI 92
Read More
Beny Uleander

Pasar Impian

David Morley, kelahiran Amerika 1958, tercatat sebagai pria yang sukses memasarkan berbagai produk mobil. Kunci kesuksesannya ada dalam upaya tiada henti membangun dan menata impian demi impian. Impiannya, hari ini ketegaran hati konsumen luluh oleh presentasinya yang sederhana namun meyakinkan. Besoknya, lagi diimpikan ada ketokan subuh di pintu rumahnya. Siapa lagi kalau bukan konsumen yang tergesa-gesa ingin membeli produknya. Lusa, ada tantangan yang akan mematangkan impiannya. Begitulah seterusnya, impian itu dihidupi dan tentu saja diberi ‘injeksi’ harapan.
Di bawah kolong langit yang beradab, selalu terjadi gesekan nilai horizontal versus nilai vertikal. Pertarungan nilai dimulai ketika hadir wakil-wakil Sang Pencipta di berbagai kelompok masyarakat, suku dan negara. Mereka ‘menerima’ sebuah nilai adikodrati lewat suatu lintasan kesadaran baru yang memandang keseharian dengan perspektif nilai ilahi. Makanan itu penting tetapi manusia juga tak bisa hidup tanpa cinta kasih. Kepintaran itu harus diusahakan tetapi lebih mulia meraih kebijaksanaan. Harta benda harus dimiliki namun berbahagialah manusia yang merdeka dari perbudakan nafsunya. Itulah nilai vertikal yang turun dari atas langit dan dihidupi suatu kelompok masyarakat lalu berkembang pula ke berbagai belahan dunia lewat kegiatan perwartaan.
Sementara manusia sebagai individu dalam ziarah peradaban selalu menggagas aneka ide teleologis dengan keterahan tertentu. Juga, manusia seakan bakal tak lepas dari determinisme kausal. Salus vestra in manu vestra, demikian pepatah Latin, nasibmu ada di tanganmu sendiri. Masa depan bukanlah suatu ruang yang sudah layak dan siap dilalui siapa saja dengan perasaan lega. Masa depan bukanlah penantian akan hari esok dalam parade waktu. Masa depan adalah kehidupan hari ini. Masa depan adalah impian yang dibangun ketika pikiran mencari kepastian dan hasrat menuntut dipenuhi.
Bisakah tanpa ajaran agama, manusia sanggup menyadari pentingnya cinta kasih? Mampu manusia menjadi bijaksana tanpa tuntunan nilai-nilai keabadian? Layakkah manusia hidup demi memuaskan nafsu yang selalu meningkat dalam kuantitas dan kualitas? Buku sejarah dengan apik mencatat kebanggaan sejati perkembangan peradaban dari abad ke abad dan dari milenimum lama menapak milenium baru yang ditandai dengan penemuan nilai-nilai humaniora.
Kita tak boleh putus asa hidup dalam suatu zaman yang gelap. Meski langit-langit runtuh, harapan tak boleh pudar. Kekuatan masa depan yang cemerlang ada pada energi harapan di dada yang optimis. Tanpa kekuatan pengharapan maka manusia sudah tak layak menjalani kehidupannya. Alasannya sederhana. Hidup manusia bukanlah suatu rumusan baku matematis. Sebaliknya hidup adalah ‘pameran’ seribu kemungkinan: keberhasilan dan kegagalan, penderitaan dan kebahagiaan, kekenyangan dan kelaparan, kepahlawanan dan kekonyolan. Bagaikan angin yang berlalu demikianlah umur hidup mansuia, pendek dan singkat.
Republik yang kita bangun ini tengah sakit payah. Penyakit sosial dan penyakit ragawi benar-benar mengganyang anak-anak bangsa. Di Jakarta ada yang menderita ‘penyakit busung lapar di hatinya’. Mereka lapar akan kekayaan dan haus kekuasaan. Harta kerabat dan saudara ditilep, disruduk dan diklaim dengan pedang hukum legal. Di NTB, ada yang menderita busung lapar di perut. Mereka kekurangan gizi karena hidup dalam lilitan kemiskinan yang amat menyakitkan.
Seorang Indonesia sejati di zaman ini akan selalu menderita lahir batin. Ia menderita bukan karena perbuatannya yang buruk dalam hukum determinisme kausal. Batinnya terluka bisa karena bangsa yang besar ini gagal membangun dan menemukan landasan nilai-nilai humaniora. Bisa juga, ia menderita oleh kemunafikan anak bangsa yang protes aksi pamer aurat Miss Indonesia, Artika Sari Devi di forum dunia. Sementara aksi bugil ria di setiap tempat hiburan diberi tepukan aplaus supaya sexy dancer tambah liar dan binal menanggalkan busana satu per satu. Memang moral dan norma agama itu penting tetapi sungguh naif kalau dipraktekan pada ruang formalitas dan sekat verbalisme semata.
Kalau memang bangsa ini meniti hari-hari hidupnya dalam tuntunan nilai-nilai adikodrati pasti kehadiran lansia tidak menjadi beban sosial bagi masyarakat dan negara. Pasti ada jaminan hari tua dan tatakelola sistem asuransi yang dijamin negara. Pasti, banyak nyawa yang mati terbakar karena hubungan pendek arus listrik alias korslet bukan karena ledakan bom yang direncanakan dari kota ke kota. Akan ada banyak janda yang hidup kesepian karena teman hidupnya ‘ditakdirkan’ mati muda bukan karena aksi kawin cerai seperti binatang yang punya musim kawin. Kelakuan beberapa anak bangsa ini memang menjadi tumbal kehancuran negeri ini di semua bidang. Arah pendidikan nasional tidak jelas. Pembangunan ekonomi sekedar tambal sulam. Penataan kebudayaan bangsa cuma atraksi gagah-gagahan.
Anehnya, ada anak bangsa yang ingin menunjukkan identitas dirinya dan bangsanya di jagat global dituding amoral dan asusila. Memang haruskah kita sama-sama menjadi orang ‘gila seragam’ di pentas ortodoksi-formalisme keagamaan? Memang tidak harus demikian. Barangkali harapan akan bangsa yang beradab dan sejahtera lahir batin tidak dinanti pada tahun 2050 tetapi dimulai dengan impian saat ini. Ya, kita layak mengimpikan ada pemimpin bangsa (baca: mudah-mudahan Presiden SBY) yang sanggup mengoptimalkan potensi-potensi kekayaan luar biasa yang dikandung bumi Pertiwi ini. Sehingga kita layak berdiri sejajar dengan negara maju. Impian itu penting tetapi lebih penting lagi HARAPAN.
Di persimpangan ini, kita juga berharap industri kerajinan rakyat diberdayakan Pemerintah dan stakeholders dengan suatu visi: menggali khasanah budaya, mendukung kreativatas anak bangsa dan membangun armada eksportir yang tangguh. Kenapa orang Amerika bisa. Orang Cina dan Jepang juga mampu. Padahal tubuh mereka sama seperti kita terdiri dari daging, darah dan tulang yang rapuh.
Kesuksesan mereka terletak pada kemampuan membangun impian. Sedangkan kita hanya mampu menjadi pasar ‘turis-turis’ manca benua menjual impian mereka. Kunci pembenahan industri kerajinan tangan dimulai dengan penataan sistem industri kerajinan terpadu yang dapat mengintegrasikan berbagai kekuatan pendukung produksi, antara lain kekuatan SDM dan divisi pengembangan penelitian, serta lebih mendekatkan strategi perusahaan dan sistem produksi dengan apa yang dikehendaki pasar.
Untuk itulah perlu adanya riset yang tak kenal lelah. Artinya, kekayaan SDA harus disinergiskan dengan peningkatan kualitas SDM secara berkesinambungan. Karena ada produsen yang cepat merasa puas dengan apa yang telah mereka peroleh sehingga tidak mengembangkan diri. Padahal memulai perubahan yang berarti dapat memberikan dampak positif bagi masa depan perusahaan dan industri. Di samping itu, harus ada pola manajemen yang mampu menggerakan roda industri yaitu menciptakan sistem pemasaran, manajemen kompetitor dipelajari kelemahan dan keunggulannya, serta teknologi kerja yang profesional ditunjang dengan pengelolaan informasi yang tepat. KPO/EDISI 82
Read More

Kamis, Juni 15, 2006

Beny Uleander

Sasar Ruang Publik, Buat Kunjungan Privat

Keelokan Kiprah SPG
Cukup gampang mencari sebab-sebab kehancuran suatu perusahaan tetapi amatlah sulit menemukan sisi lemah perusahaan-perusahaan sukses sepanjang sejarah dan dikelola dengan baik tetapi kehilangan posisi puncaknya. Praktik manajemen yang amat penting untuk kebaikan perusahaan –seperti memenuhi kebutuhan pelanggan terbaik dan memfokuskan investasi pada bidang yang sangat menguntungkan –pun dapat menyebabkan kegagalan. Demikian komentar Michael E Raynor dalam Solusi Sang Inovator.
Di penggalan situasi berbeda, kerap kita mendengar seruan, ‘’Jangan pakai kacamata kuda alias berjalan sendiri dalam membesarkan perusahaan tanpa mau menoleh pada dinamika pasar’’. Sebuah saran yang bercita rasa elegan tetapi harus dikritisi dengan berpijak pada visi dan misi perusahaan. Selama manajemen dan karyawan bersinergi dalam alur visi seirama dan selaras, maka dapatlah dipastikan bahwa ada sekelompok ‘orang gila’ yang sedang meretas sebuah masa depan gemilang. Titik-titik kelemahan dikelola bijak jadi ‘silabus’ pelajaran menuju perusahaan sukses. Itulah inti inovasi dalam perspektif E Raynor: ‘meng-upgrade’ kualitas intelektual bermuara pada peningkatan kualitas produk dan jasa.
Sesungguhnya, kejar-mengejar segmen pasar, kategori selera konsumen dan intrik persaingan bisnis perusahaan menuju pertumbuhan yang sukses berpangkal pada keelokan teoretis, cendekiawan yang keras hati, analisis data yang kreatif dan berjalannya fungsi manajerial.
Salah satu pendampingan manajerial adalah upaya melahirkan salesman atau sales promotion group (SPG) yang siap jadi ‘manusia gila’ tapi punya penghasilan halal untuk minum kopi di Bakery Corner atau beli kudapan. Indonesia yang dibandrol sebagai negeri 1001 keanehan terus berdiri. Rakyat negerinya tetap butuh pekerjaan dan pendidikan. Pekerjaan halal bermuara pada pembaktian diri kepada kesejahteraan sesama manusia. Meski dalam skala kuantitas amat kecil tapi bernilai dari segi kualitas. Itulah satu dimensi mulia kiprah para SPG PT Karya Pak Oles Tokcer yang menegakkan kesehatan manusia berbasis herbal, alami dan nyaman tanpa efek samping. SPG menjadi obor dan pembawa suara kehidupan bahwa alam menyiapkan berbagai fasilitas dan sarana untuk kesehatan manusia. Sebut saja madu organik/budidaya, tanaman berkhasiat obat atau segala jenis tanaman mengandung antioksidan yang mendukung revitalisasi hidup.
SPG atau salesman yang mampu menjual pasir ke Arab, daerah padang pasir, patut diacungi jempol. Benarkah ia akan sukses menjual apa saja? Termasuk menjual gigi palsu untuk orang yang giginya masih lengkap? Setiap orang punya potensi membeli tapi yang paling penting apakah ada kesesuaian antara produk dengan kebutuhannya? Kalau orangnya tidak membutuhkan, tapi kita bisa mengakali supaya dia membeli, bukankah itu aksi manipulatif? SPG Pak Oles memasarkan produk kesehatan dan jamu yang sudah merakyat. Tidak ada strategi manipulatif. Karena SPG berlogo GNW itu memasarkan sebuah produk yang berkualitas, bermerek dan dikawal dengan informasi, Koran Pak Oles dan Tabloid Montorku.
Berbekal pemahaman produk (product knowledges), mereka menggelar promosi, menyasar ruang publik dan kreatif melakukan kunjungan privat dari rumah ke rumah. Menyapa konsumen dan pelanggan. Mereka memahami marketing sebagai segala upaya untuk membuat orang membeli. Kalau menjelaskan manfaat produk dengan baik membuat orang membeli, ya itulah pemasaran. Penguasaan manfaat materi produk bukan sebatas hafalan tetapi merasuk menjadi kebanggaan diri, kegembiraan citra dan fanatisme merek.
Dalam film “Life is Beautiful”, ada kata-kata indah dari Uncle Alicio. “Menunduklah seperti bunga matahari mencari sinar matahari. Bunga matahari yang terlalu menunduk itu bunga mati. Melayanilah tapi kamu bukan pelayan. Seperti Tuhan melayani manusia, tapi Tuhan bukan pelayan’’. Dalam proses penjualan itu, SPG tidak harus “melacurkan diri” karena asal laku, tapi bangun sikap keperwiraan dalam menjual. Hormat bukan untuk merendahkan diri, meskipun tetap rendah hati. KPO/EDISI 108 JUNI 2006




Read More

Sabtu, April 15, 2006

Beny Uleander

Semua Orang Bisa Jadi Pengusaha

Semua orang sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi pengusaha. Hal ini dapat diketahui dari bagaimana ia dapat memperoleh penghasilan untuk membiayai kehidupan hariannya. Menurut pengusaha perbankan, Alex Chandra, manusia dapat dikenal dari apa yang ia hasilkan dan apa yang ia kerjakan. “Kita dapat menyebut bahwa ia seorang pengusaha atau tidak dari apa ia kerjakan dan ia hasilkan,” urai Chandra dalam seminar sehari bertajuk “Semua Bisa Menjadi Pengusaha” di Hotel Orange Denpasar Bali, April 2006.
Di hadapan 500 peserta, Chandra menguraikan empat cara bagaimana manusia bisa memperoleh penghasilan. Pertama, dengan bekerja untuk orang lain (others employer), artinya orang lain yang menggaji. Ia hidup dari apa yang digaji tersebut dan ia bekerja hanya semata-mata memperoleh penghasilan. Contoh dari kelompok ini adalah para karyawan, pegawai negeri sipil, para buruh. Kedua, orang yang bekerja untuk dirinya sendiri (self employer). Artinya, ia bekerja dengan kekuatan sendiri, bakat dan pengetahuan yang dimilikinya, sekaligus ia hidup dari apa yang dikerjakannya tersebut. Contohnya para artis dan seniman. Ketiga, bisnis owner yaitu orang yang memiliki usaha sendiri. Ia hidup dari usaha tersebut tetapi ia sendiri tidak langsung bekerja. Ia memiliki tenaga-tenaga yang bekerja untuknya. Contoh dari kelompok ini adalah para pengusaha. Keempat, investor. Kelompok ini tidak memiliki usaha, bahkan tidak bekerja, tetapi mereka memperoleh penghasilan dari hasil investasi.
Klasifikasi cara memperoleh penghasilan seperti ini bisa membantu orang untuk menempatkan dirinya, bahwa ia sebenarnya berada di kelompok yang mana. Untuk menjadi seorang pengusaha, minimal orang harus masuk dalam kelompok bisnis owner sekalipun dalam skala yang sangat kecil. Syaratnya, harus memiliki pengetahuan dan wawasan, kerja keras, tekun, pandai membaca peluang, memiliki visi dan misi yang jelas, mengambil keputusan secara cepat dan tepat dan didukung oleh tenaga dan sarana yang memadai. Masalah modal bukan sesuatu yang sulit. Bila semua syarat dipenuhi dan dieksekusi secara tepat maka ia bisa dikatakan sebagai pengusaha sukses.
Kesuksesan seorang pengusaha ditandai oleh terpenuhinya empat kebutuhan dasariah dan dua kebutuhan spiritual. Kebutuhan dasariah adalah financial freedom (kepastian keuangan), time freedom (bebas menentukan waktu, tidak tergesa-gesa, tidak merasa dikejar-kejar waktu), control (manusia selalu ingin mengontrol, tetapi tidak mau dikontrol), growth (usaha selalu bertumbuh dan berkembang, dan sudah menjadi hukum alam, bila tidak bertumbuh maka ia sama dengan mati). Sedangkan kebutuhan spiritual adalah contribute (beramal, ada kepuasan untuk beramal dan tidak merasa rugi dan menyesal), kebutuhan akan penghargaan. Bila telah memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini maka ia bisa disebut sebagai pengusaha sukses.
KPO/EDISI 102 APRIL 2006
Read More

Sabtu, April 08, 2006

Beny Uleander

Kerja Keras Dan Baca Peluang

Besarnya modal dan tingginya tingkat pendidikan tidak menjadi ukuran dalam berwirausaha. Keberhasilan dan kesuksesan dalam wirausaha sangat ditentukan oleh kerja keras dan kemampuan untuk melihat peluang dan tantangan yang ada. Untuk menjalankan usaha, modal utama adalah kualitas pribadi yang tinggi. Benarlah apa yang dikatakan Shibusawa Eiichi, seorang wirausahawan legendaris dan aktor perubahan sosial Jepang. “Jika engkau seorang yang berkemampuan tinggi, jadilah seorang pedagang, tetapi jika engkau seorang yang setengah-setengah jadilah pegawai biasa.’’ Kata-kata Shibusawa ini perlu dicermati oleh setiap orang yang ingin memulai wirausaha, karena kualitas individulah yang akan menentukan usaha tersebut akan tetap bertahan atau tidak.
Di mata pengusaha jamu asal Bali, Dr Ir G.N. Wididana, M.Agr, kesuksesan suatu usaha bukanlah hal yang mudah, melainkan harus diperjuangkan dengan mata dan hati yang bersih, pikiran yang jernih dan semangat yang tak pernah padam. “Inilah modal dasar, agar usaha yang dijalankan tetap bertahan, sekalipun diterpa berbagai tantangan dan godaan, baik secara internal maupun secara eksternal,” urai Wididana di hadapan 40-an peserta pengusaha komputer yang tergabung dalam Assosiasi Perusahan Komputer Indonesia, di Hotel Nikki, Denpasar, Sabtu, (8/4/2006).
Menurutnya ada lima kunci utama agar wirausaha tetap bertahan di masa krisis yaitu fokus, produk yang dihasilkan, citra atau merk, pemasaran, dan SDM. Fokus akan kelihatan dalam keketapan hati, ketekunan, kesabaran dalam menjalankan wirausaha. Tindakan ini harus dimbangi dengan kekuatan doa, perumusan visi misi yang tepat sasar dan diwujudkan dalam aksi nyata. Aksi nyata ini akan menghasilkan produk tertentu entah berupa barang atau jasa. Produk yang dihasilkan harus memperhatikan kualitas, kuantitas, kontinuitas, diversifikasi, inovasi dan pengembangan. Citra atau merk produk yang dihasilkan juga perlu mendapat perhatian yang serius. Kekuatan citra atau merk akan mempengaruhi pasar. Kekuatan citra hanya bisa dibangun dengan komitmen yang teguh, manajemen merk, informasi dan jaringan. Semakin citra itu dibangun, maka kredibilitas dan image konsumen dan masyarakat pada umumnya terhadap produk tersebut akan semakin besar dan kuat, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi pasar.
Dalam suatu usaha, pemasaran menduduki posisi yang penting. Bila pemasaran tidak berjalan, maka semua produk yang dihasilkan akan mubazir dan masuk sampah. Pemasaran sangat menentukan eksistensi dan keuntungan suatu usaha. Pemasaran harus didukung sistem yang benar, jaringan dan informasi yang luas, dan ditangani oleh team pemasaran yang solid dengan SDM yang berkualitas. Kualitas SDM akan menentukan apakah usaha tersebut akan tetap bertahan atau tidak. Ada berbagai cara untuk meningkatkan kualitas SDM antara lain, motivasi, pendidikan dan latihan, kontrol, perbaikan, regenerasi. Peningkatan kualitas SDM ditandai dengan promosi, demosi, mutasi dan didukung oleh sistem penggajian, insentif dan bonus. Bila lima kunci utama ini diperhatikan secara serius maka usaha tersebut akan tetap bertahan sekalipun dilanda oleh berbagai krisis yang terjadi. Mudah-mudahan.
KPO/EDISI 102 APRIL 2006
Read More

Selasa, Maret 28, 2006

Beny Uleander

Tawa Satu Dunia, Tangis Sendirian

”Ketika anda tertawa maka dunia dan segala isinya akan ikut tertawa bersamamu. Tetapi ketika anda menangis, maka anda akan menangis sendirian, karena dunia dan segala isinya akan menertawakan tangisan anda.” (Pepatah China).
Tertawa suatu sikap alami yang secara kodrati banyak ditinggalkan manusia akibat terlindas rutinitas. Padahal, tertawa bisa menjadi solusi untuk menyingkirkan efek-efek negatif stress yang menjadi pembunuh nomor satu dewasa ini. Lebih dari 70% penyakit seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kecemasan, depresi, insomnia, sakit kepala, sistem kekebalan tubuh dan bahkan kanker berkaitan dengan stress.
Terapi tertawa merupakan salah satu cara untuk menanggulangi stress dalam hidup dengan cara tertawa secara alami. “Tertawa alami adalah tertawa yang datang dengan sendirinya dari dalam diri tanpa bantuan atau rangsangan dari luar seperti lelucon, lawakan, atau nonton dagelan lainnya,” ungkap Adolfina Grace Tangkudung, pendiri klub tertawan di Bali.
Dalam penelitian Dr Micheal Titze, seorang psikolog Jerman (sekitar 1950), manusia biasa tertawa 18 menit sehari, tetapi dewasa ini tidak lebih dari enam menit per hari. Anak-anak tertawa hingga 300-400 kali sehari dan frekwensi turun hingga 15 kali sehari kala seseorang sudah tumbuh dewasa. Tertawa bermanfaat sebagai penangkal stress yang paling mudah dan murah sekaligus cara terbaik untuk mengendurkan otot, memperlebar pembuluh darah dan mengirim darah ke semua otot di seluruh tubuh. Tertawa juga tergolong bentuk meditasi dinamis atau relaksaksi. Saat di mana orang tertawa adalah saat di mana orang mengekspresikan kebahagiaan dengan tanpa syarat. Alasannya, saat tertawa, seluruh kemampuan nalar dan logika tidak berlaku. Pada saat tertawa lepas, kondisi otak manusia berada pada gelombang alfa zero mind. Inderanya secara alami dan spontan bersatu dalam saat yang selaras untuk memberikan suka cita, damai dan relaksasi.
Tawa juga berperan dalam menjaga kekebalan tubuh. Para psikoneuroimunolog mengatakan, semua emosi negatif seperti kecemasan, depresi (kemarahan) akan memperlemah sistem kekebalan tubuh. Di sisi lain, Dr Lee S Berk dari Universitas Loma Linda, California AS menyatakan, tertawa bisa meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan meningkatkan tingkat antibodi. Tertawa juga menjadi latihan aerobik terbaik tanpa sepatu dan pakaian khusus.
Menurut Dr William Fry dari Universitas Stanford, satu menit tertawa sebanding dengan 10 menit latihan mendayung. Berkaitan dengan penyakit jantung, tertawa memperbaiki sirkulasi darah dan pasokan oksigen ke otot-otot jantung yang mengurangi terjadinya penggumpalan, di samping menaikkan tingkat endorphin dalam tubuh yang merupakan penghilang rasa sakit. Yang paling menarik, tertawa mampu mengurangi bronkitis dan asma, karena saat tertawa seseorang mampu meningkatkan kapasitas paru-paru dan tingkat oksigen dalam darah.
KPO/EDISI 101 MARET 2006
Read More
Beny Uleander

Tertawa Sebagai Obor Perdamaian Dunia

Kompetisi teknologi perang saat ini, kian memperuncing hubungan antar negara yang pernah terkoyak selama Perang Dunia I dan II. Fenomena tersebut diperpuruk dengan ketidakharmonisan antara Timur dan Barat, justru sangat potensial untuk melecut lagi perang. Tidak adakah cela lain, selain perang. Mungkinkah power tawa dan senyum bisa mencairkan suasana hati para petinggi yang sedang memegang tampuk komando? Ya, semua tetap diselimuti teka-teki. Tapi realita di simpang situasi yang tak menentu, bisa saja berujung dengan dan dalam tawa serta senyum, jika semua nurani para desision maker tersemai benih tertawa dan atau minimal tersenyum.
Siang itu, 11 Januari 1998. Lapangan yang biasa dijadikan arena pacuan kuda di Mahalaxmi, Mumbai, India sontak berbeda. Tidak ada suara derap kaki kuda yang terdengar dengan sambutan aplaus meriah. Suasana tampak sangat berbeda. Pun tidak ada erangan orang-orang yang kalah dan tawa ceria dari para pemenang lomba pacuan kuda. Yang terdengar justru gema tawa ria penuh bahagia yang menghiasi setiap raut muka ribuan orang dari berbagai penjuru India. Mereka berpakaian serba putih dengan topi berlogo TAWA dan memegang spanduk warna-warni menyunggingkan senyum seakan menyapa hamparan laut Arab di Worli Seaface.
Itulah perayaan hari tawa sedunia pertama yang dihadiri lebih dari 12.700 anggota yang terhimpun dari ragam Klub Tawa se-India. Dengan mengusung aneka plakat tertulis Perdamaian Dunia Melalui Tawa, Bergabunglah Dengan Klub Tawa, Gratis, dan sebagainya, mereka menyerukan Pawai Perdamaian sepanjang 4 km. Semua peserta penuh semangat menyampaikan pesan ke seantero dunia bahwa tawa bisa mencerahkan pikiran, meningkatkan semangat, memperbaiki kesehatan, menambah kesejahteraan, mendekatkan dan menyatukan setiap insan manusia.
Klub Tawa yang dirintis Madan Kataria, 13 Maret 1995 di sebuah taman kota Mumbai (Bombay) India, awalnya cuma lima orang anggota. Tidak diduga, hingga kini, gema klub tawa ini sudah menjadi sebuah gerakan damai yang pantas dilakukan hingga ke ujung-ujung dunia. Lebih dari 800 klub tersebar di seluruh penjuru dunia seperti India, AS, Australia, Jerman, Swedia, Norwegian, Denmark, Italia, Singapura dan Dubai.
Perayaan Hari Tawa pun terus digelar setiap tahun. Adalah Jan Thygesen Poulsen, seorang pemuda dinamis dari Copenhagen berinisiatif merayakan hari Tawa sedunia pada Januari 2000. Ia pun berhasil mencetak sejarah tawa dengan mengumpulkan hampir 10.000 orang di Town Hall Square, 9 Januari 2000. Kendati cuaca dingin, ribuan orang datang dan terhanyut dalam sesi tawa. Tidak heran bila peristiwa tersebut dicatat sebagai sebuah momen yang pantas diabadikan dalam Rekor Guiness Book.
Karena kondisi udara yang sangat dingin di sebagian besar negara Barat pada Januari, Klub Tawa Internasional memutuskan Minggu pertama bulan Mei sebagai Hari Tawa Sedunia (WLD: World Laughter Day). Pada tahun 2001, Hari Tawa Sedunia dirayakan di seluruh dunia. Di Bangalore, hampir 2000 orang berkumpul dekat gedung Pengadilan Tinggi. Di Puna, 800 anggota klub tawa gelar pawai sambil membawa spanduk Perdamaian Dunia bernada dasar tertawa.
Adapun di Baroda, India, perayaan Hari Tawa melibatkan 125 polisi bersama 100 anggota Klub Tawa lokal atas inisiatif Keshaf Kumar, Superintenden Polisi di Baroda. Di Copenhagen, Denmark, lebih dari 5000 orang berkumpul di Town Hall Square merayakan Hari Tawa sedunia. Hal serupa terjadi di New York, AS yang dihadiri 200 orang dari segala umur, suku, ras dan kebangsaan. Sementara di Berlin, Jerman, lebih dari 4000 orang berkumpul untuk merayakan Hari Tawa itu. Jika Klub Tawa bisa dibentuk di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, bisa saja rajutan hati yang penuh iri, curiga, tegang, dengki, dongkol dan terkesan terus saling menyalahkan, bisa berubah menjadi suasana yang penuh persaudaraan dan persatuan. Tertawa melahirkan perdamaian.
KPO/EDISI 101 MARET 2006
Read More
Beny Uleander

Sebar Tawa Global, Tebar Wabah Bahagia

Resensi Buku
Judul : Laugh For No Reason (Terapi Tertawa)
Penulis : Dr Madan Katarina
Alih Bahasa : A Wiratno
Diterjemahkan & Diterbitkan: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit Perdana : 1999
Tebal : x + 278 + 29 bab

Saat ini banyak media massa, khususnya televisi, menyajikan acara hiburan yang mengocok perut. Dengan menghadirkan bintang komedi nasional, media mencoba memberikan hiburan bagi rakyat bangsa ini yang tengah ditempa beragam kesulitan. Tiap kali bintang komedi beraksi, tidak dapat ditahan gelak tawa pun keluar. Suasana pun berubah menjadi ceria seketika. Beban hidup seakan hilang entah ke mana.
Tawa yang memiliki banyak manfaat, seakan tersingkir oleh rutinitas keseharian manusia. Buku ini mencoba mengeksplorasi manfaat tawa yang saat ini banyak dilupakan banyak orang, sekaligus sebagai alternatif meningkatkan sistem imunitas agar terhindar dari berbagai penyakit. Gerakan tawa dalam pandangan, penulis Dr Madan Kataria –Guru Tertawa asal Mumbai, India- adalah sebuah ‘Kebijaksanaan Ilahi’ yang diterima setiap manusia. Oleh sebab itu, anugerah ini hendaknya dimanfaatkan dengan baik agar mampu mengambil manfaat yang dikandungnya. Tidak jarang orang-orang di kota-kota besar berusaha menahan tawa mereka untuk menjaga penampilan dan wibawa diri di hadapan orang lain. Sehingga mereka kehilangan manfaat dari tertawa.
Namun, samakah tawa dengan humor? Menurut Madan, tawa dan humor berjalan bersama, keduanya tidak dapat dipisahkan. Humor lebih halus dan merupakan kesadaran dan kemampuan seseorang untuk melihat sesuatu dengan cara yang lucu. Sedangkan tawa adalah salah satu ungkapan humor. Tawa dan humor memiliki hubungan kausalitas, humor adalah sebab dan tawa adalah akibatnya yang membawa perubahan fisiologis dan biokimia dalam tubuh (h.131).
Madan lebih menekankan tawa tanpa rangsangan humor, karena humor merupakan fenomena yang menuntut pemikiran dan kecerdasan. Sehingga tidak aneh, jika banyak orang mengaku tidak memiliki selera humor yang tinggi. Oleh sebab itu, mereka tidak bisa banyak tertawa karena tidak memiliki rasa humor.
Lelucon tidak membuat kita tertawa sepanjang hari dan rasa humor tidak dimiliki setiap orang. Lantas, bagaimana cara membuat kita tertawa? Madan telah mengembangkan teknik baru membuat tertawa, yaitu tawa berdasarkan yoga (Hasya Yoga). Yaitu dengan menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya seraya mengucapkan Ho-Ho, Ha-Ha dengan diikuti berbagai teknik merangsang tawa, seperti tawa bersemangat, tawa hening, tawa menengah, tawa singa dan sebagainya. Hal ini dilakukan setiap hari selama 15-20 menit dan terbukti dapat merangsang tawa tanpa mengunakan lelucon. Dengan tawa, hidup kita menjadi lebih indah, ceria dan terhindar dari sifat pemarah yang hanya menjerumuskan kita dalam sikap emosional dan tidak terkontrol. Selain itu, hubungan interpersonal pun lebih harmonis dan akrab dengan tertawa. Mulailah tertawa hooo..hooo…hooo, hiii.. hiii dan haaa…haaa!
KPO/EDISI 101 MARET 2006
Read More

Senin, Juni 14, 2004

Beny Uleander

Mental dan Ideologi, Kemiskinan Terdahsyat Di Dunia

Kemiskinan terdahsyat bukanlah kemiskinan material, tetapi kemiskinan akan mental dan ideologi. Kenyataan ini menjadi inspirasi bagi Dr Ir IGN Wididana, M.Agr untuk merintis usaha industri kecil obat tradisional yang lebih dikenal dengan sebutan Ramuan Pak Oles. Namun semua usaha tersebut patut ditopang dengan kerja keras, percaya diri dan memiliki integritas moral yang tinggi, jujur dan berani.
Menurut pria yang diakrabi Pak Oles ini, visi dan misi perusahaan lahir dari sebuah spiritualitas yang menjadi sumber inspirasi, kekuatan dan pembentukan karakter pribadi maupun perusahaan. Kata spiritual berasal dari bahasa Latin yakni spiritum yang berarti hembusan napas atau roh dan semangat. Spiritualitas adalah suatu semangat, cita-cita bersama yang menjadi landasan berpijak setiap individu maupun kelompok organisasi dalam melakukan suatu pekerjaan.
Maju mundurnya sebuah perusahaan sangat tergantung pada kekuatan spiritualitas yang membentuk karakter dan kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Aspek ini meliputi ethos yaitu karakter moral yang menjadi dasar bagi kemampuan melakukan pendekatan (sejati, baik dan sabar), pathos kemampuan untuk menyentuh perasaan guna menggerakkan orang secara emosional dan logos kemampuan untuk memberikan alasan yang meyakinkan atas sebuah tindakan, guna menggerakan orang secara intelektual. Tiga hal ini terpatri dalam sosok sederhana seorang Pak Oles.
Pak Oles tak cuma lihai meramu obat-obatan tradisional, ia juga secara elegan merakit dialektika kesejahteraan material dan spiritual dalam 'kemasan produk' Spiritualitas Semberani (seimbang dan berani). Spiritualitas ini dikembangkan melalui metode latihan pernapasan atau meditasi yang dilakukan secara kontinyu. Meditasi tidak lain adalah kemampuan pemusatan dan pengendalian pikiran atau fokus. "Berpikir besar, hasilnya akan besar. Sebaliknya berpikir besar tanpa fokus akan sia-sia," ujar Pak Oles.
Pemusatan kekuatan pikiran membantu seseorang dalam menentukan agenda kerja setiap hari termasuk hari ini. ''Sasaran apa yang mau dicapai dan hal mana saja yang harus dihindari agar sasaran itu bisa tercapai. Dengan demikian kesuksesan akan diperoleh. Ini adalah suatu teknik memanfaatkan energi alam yang dikaruniakan Tuhan dan dipadukan dengan sikap hidup yang baik, pemusatan pikiran dan kebijaksanaan. Hasilnya, seseorang akan melihat kesejahteraan materi dan rohani sebagai suatu kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan,'' tegas Pak Oles.
Dengan keseimbangan moral ini, siapa saja akan termotivasi membangun diri dan perusahaannya dengan tetap berdasarkan keyakinan, semangat dan kerja keras. Tentunya, cara demikian merupakan suatu bentuk pewartaan bagi sesama akan kehidupan yang seimbang antara kesejahteraan rohaniah dan material. Inilah Spiritualitas Semberani yang ditanamkan Pak Oles dalam diri setiap karyawan PT Karya Pak Oles Tokcer yang tersebar di seluruh Indonesia khususnya, Bali, Jawa Timur, Jakarta, Bandung, Sulawesi Selatan, NTB dan Bandar Lampung. (Beny Uleander/KPO EDISI 60/MINGGU II JUNI 2004)
Read More