Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan

Jumat, Februari 15, 2008

Beny Uleander

Politikus Paternalistik

KETIKA kebohongan dibicarakan setiap hari, maka orang akan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Demikian pula saat posisi wanita dalam tatanan sosial ditempatkan sebagai makhluk kelas dua, maka eksistensi wanita sebatas menjadi pelayan bagi kaum pria. Serta merta, hak-hak kaum wanita dalam ranah publik dipangkas. Selebihnya, ruang gerak wanita --makhluk yang lemah-lembut-- ada di rumah saja. Paradigma yang telah terbangun ini butuh waktu berabad-abad untuk memperbaikinya. Sampai-sampai Friedrich Nietzsche (1844-1900) mengatakan bahwa wanita adalah kesalahan terbesar Allah yang kedua!
Pada era Winston Churchill (1874-1965), banyak kalangan memprediksikan bahwa para wanita akan menguasai dunia pada tahun 2010. Lantas apa tanggapan Churchil? Ia terhenyak sambil berkata, “Tapi….? Hanya itu kata sanggahan Churchill. Singkat, padat dan jelas kandungan artinya. Meski hanya kata “tapi”, khalayak umum sudah paham kalau Churchill sealiran dengan Sokrates yang berpendapat bahwa sekali disamakan dengan pria, wanita menjadi superiornya. Maklum di daratan Eropa, pandangan filsuf Philo amat dominan, yaitu para isteri harus bekerja untuk suami-suami mereka. Mereka harus bekerja dengan mengembangkan ketaatan dalam segala hal.
Di jaman digital ini, posisi wanita yang layak dan bermartabat menunjukkan kemajuan sosial tertinggi sebuah komunitas. Sebab, wanita adalah manusia istimewa. Di mata Rudyard Kipling dalam Plain Tales from The Hills, tebakan seorang wanita adalah lebih tepat daripada kepastian lelaki. Wanita dengan sejumlah keunggulan adalah teman sepadan bagi pria. Apalagi Joseph Conrad menegaskan bahwa menjadi seorang wanita adalah ketrampilan yang sangat sulit, karena pada dasarnya tugasnya adalah menangani pria. Luar biasa apresiasi yang disematkan Conrad pada kualitas keibuan yang diemban kaum wanita.
Pergumulan menempatkan eksistensi wanita di kancah domestik dan publik tak pernah tuntas. Sinetron komedi “Suami-suami Takut Istri” yang ditayangkan Trans TV memantulkan “kelucuan yang lahir dari ketidakpantasan” sikap para istri terhadap suaminya. Perguliran wacana emansipasi dan demokratisasi peran setara pria dan wanita terus diprodusir dari lembaga agama hingga intelektual kampus. Sayang seribu sayang, saat debat dan perjuangan pengakuan akan kiprah wanita di ruang publik kian gencar, para aktivis hak wanita lupa akan rajutan moral kesehatan reproduksi wanita. Ya, termasuk batasan kewajiban negara menjamin kesehatan ibu dan anak sejak dalam kandungan.
Apalah artinya perjuangan emansipasi wanita, sementara banyak kaum ibu dan anak yang jauh dari pelayanan kesehatan. Perhatian negara terhadap kesehatan ibu dan anak merupakan ekspresi peradaban yang luhur. Sebab, negara dibentuk oleh komunitas pria dan wanita. Aktivitas seksual pria dan wanitalah yang terus menambah daftar penghuni planet bumi ini. Tidak ada kisah mitologi sekalipun yang mengisahkan pria melahirkan anak. Yang ada adalah kisah nenek masih bisa melahirkan anak. Dan, tidak ada cerita rakyat soal seorang manusia yang keluar dari rahim batu.
Perjuangan emansipasi wanita yang sejati terkandung di dalamnya perjuangan menjaga panggilan suci ibu dalam mengandung, melahirkan dan merawat anak. Kita akan menjadi bangsa yang prematur bila terus membiarkan angka kematian ibu dan anak terus meningkat, yakni 307/100.000 kelahiran. Reformasi gagal memperbaiki persoalan perempuan Indonesia. Kasus kekerasan, perdagangan, tekanan budaya dan adat istiadat, rendahnya pendidikan, serta dominasi kaum pria dalam rumah tangga masih terjadi. Dalam hal ini, pemerintah sekarang tidak perlu malu meniru gebrakan posyandu yang dahulu dipopulerkan Presiden Suharto. Bagaimana posyandu masuk sampai di desa-desa pelosok. Ada tenaga medis yang telah dikondisikan untuk mengabdi di daerah terpencil.
Saat gerakan posyandu redup,kita terkejut melihat fakta busung lapar yang menyayat hati. Pada simpul ini kita bisa menggugat bahwa kematian ibu dan anak yang terus bertambah dari tahun ke tahun menjadi tanda bahwa kaum wanita masih dijajah “politikus paternalistik”. Bukankah negara dikelola oleh lembaga-lembaga yang beranggotakan manusia? Jadi kepedulian negara terhadap kesehatan reproduksi wanita menjadi barometer tingkat kepedulian sebuah komunitas sosial.
Pertanyaan terbesar…yang belum dapat kujawab, meskipun aku telah melakukan penelitian selama 30 tahun mengenai jiwa wanita adalah “Apakah yang diinginkan oleh wanita?” Itulah kata Sigmund Freud (1856-1939). Mungkin pertanyaan kegelisahan Freud ini layak pula diajukan kepada kaum wanita Indonesia. Di mana suaramu sebagai mayoritas penduduk Indonesia? Ataukah sebagian besar wanita Indonesia masih dininabobokan petuah Aristoteles bahwa kaum perempuan adalah kaum laki-laki yang tidak sempurna, yang secara tidak sengaja dihasilkan oleh ketidakmampuan seorang ayah atau oleh pengaruh jahat dari angin selatan yang basah! Pada simpul ini kita mengamini bahwa perjuangan demi kesejahteraan kaum ibu dan anak (juga kaum yang lemah) adalah perjuangan peradaban yang menjadi tanggung-jawab setiap individu. Pria dan wanita mengembangkan tugas terberi untuk menyucikan kehidupan ini demi kelanjutan generasi yang berkualitas, sehat rohani dan jasmani. (Beny Uleander/KPO EDISI 146/FEBRUARI 2008)
Read More

Sabtu, Desember 22, 2007

Beny Uleander

Wanita Dan Tubuh Motor

Refleksi Pemotretan Model MONTORKU & KORAN PAK OLES
Besi tak bernyawa dirangkai dengan sensasi visoner jadi kuda besi. Ditempeli dapur pacu mengeluarkan deru bertalu-talu. Lingkaran roda ban bergulir menjejak jengkal aspal. Melaju dalam kecepatan dan bunyi berderit di setiap tikungan. Ada akselerasi, ketepatan dan kemahiran membawa kuda besi tanpa pelana.
Di sebuah purnama dalam segala rangkuman keromantisan, bayang-bayang kecantikan alam menyembul dari cahaya lembut dewi malam. Sebuah moment terekam apik, perempuan memeluk manja motor besar tanpa desahan binal. Meski selangkang kerap terbuka menunggang Harley Davidson. Tubuh molek bestari rebahan pasrah di samping Ducati Spotser. Mata mereka memandang penuh intensitas dalam waktu dan tempat yang menyatu. Sebuah siluet menakjubkan sekaligus memikat hasrat.
Perempuan memelas penuh asa membelai tangki motor besar. Tanpa gejolak jiwa untuk mencengkram. Tangan mereka lembut terulur mengukir. Wajah mereka seperti bulan tidur di hati. Perempuan berpose indah di samping moge meniadakan hati kelam dan kedinginan seorang anak Hawa. Senyum mengembang membuat hati berdesir.
Ada kabut misterius menyingkap tirai keindahan dan kedalaman hati perempuan jika ia sendirian diterpa angin tanpa sentuhan visioner. Keindahan wanita tidak sebatas imajinasi. Demikian pula keunikan desain motor besar tanpa visualisasi adalah keindahan hampa yang menyakitkan. Itulah sebabnya para builder tak pernah kapok berkreasi. Ada sentuhan seni di alam teknologi. Lahirlah keindahan futuristik yang menjanjikan sensasi baru untuk memacu adrenalin.
Itulah pentas terselubung kolaborasi keindahan wanita dan keindahan mendesain kuda besi. Keindahan adalah bongkahan impian jiwa yang dirajut rapi, terus dituang dalam konsep perubahan. Sepeda motor generasi terbaru terus diciptakan tanpa koma dan titik.
Kita melihat karya surga dari mata seorang hawa. Dentingan kelembutan dan belaian kasih sayang seorang ibu adalah harta pertumbuhan jiwa. Di telaga kasih bunda, kita temukan samudera kasih Pencipta. Di ranah otomotif, kita pun diajak untuk melihat karya seni nan monumental dibangun builder dan modifikator dari rahim idealisme. Keindahan tubuh perempuan yang memeluk manja kuda besi adalah ekspresi dahsyat tentang keindahan yang tidak pernah punah di alam imajinasi dan visualisasi.
Tabloid MONTORKU dan KORAN PAK OLES rutin menggelar pemotretan model di Handlebar Jakresto & Grill, Sunset Road, Kuta sejak tahun 2004. Wajah cantik dan eksotik model didikan Point Management, C&C Angency Modelling, dan Profile Art Entertainment terus menghiasi Rubrik Modif MONTORKU dan Rubrik Eksklusif Life KORAN PAK OLES. Ekspresi dan gaya mereka lahir dari eksplorasi seni lewat sentuhan modis. Tidak ada figur binal dan liar dalam pose mereka. Tinggal mata pembaca yang dituntun merekam jejek keindahan terberi. Tetapi pikiran dan hasrat liar bin binal mengekspresikan keindahan dangkal yang masih tersemai rapi di jiwa yang kerdil.
Konon, kaum Adam akan kembali dalam satu purnama untuk menikmati keindahan wanita bukan dari tubuh yang molek tetapi dari dentingan lembut kasih sayang kaum hawa. Motor besar dan wanita cantik, ibarat cahaya lembut bulan yang menerangi malam hari. Malam pun jadi indah dan romantis.
Keterangan foto: Lokasi pemotretan model Montorku dan Koran Pak Oles selalu digelar di Jak Resto Handle Bar & Grill, Jl Sunset Road 135, Kuta, tempat mangkal dan markas Motor Besar Club (MBC) Bali, pimpinan Agung Jaka.
Catatan: untuk memenuhi permintaan Ayu dkk untuk dipublikasikan dalam blog sejak pemotretan edisi 2004, nanti akan direalisasikan oleh Kadek Fajar & fotografer Putu Wirnata.
Read More

Rabu, Desember 05, 2007

Beny Uleander

Kacamata

Boleh saja sastrawan Inggris, William Shakespeare menertawakan arti sebuah nama. Namun dalam alur sejarah kehidupan manusia, nama seseorang selalu menandakan suatu masa perayaan nilai-nilai humastik dan kemenangan akal budi manusia atas rujukan kepastian agama yang keliru dan sempit.
Sebut saja nama Galileo Galilei, orang selalu terkenang pada teori heliosentris bahwa bumi mengelilingi matahari seperti pernah diungkapkan Copernicus sebelumnya. Penemuan Galileo sarjana astronomi tahun 1616 dikecam habis-habisan oleh institusi agama Katolik karena bertentangan dengan paham Geosentris yang dipegang Gereja. Mataharilah yang berputar mengelilingi bumi. Ternyata, kemajuan ilmu pengetahuan mampu meruntuhkan pandangan agama yang keliru. Bukan berarti gugur pula ajaran-ajaran suci yang tertulis di buku suci. Kitab Suci bukan buku ilmu pengetahuan tetapi buku iman yang berisi dialog cinta Pencipta dan manusia. Adakalanya, Pencipta menyampaikan pesan kasihNya berdasarkan situasi dan simbol yang dapat ditangkap manusia dalam konteks zamannya.
Fakta inilah yang meneguhkan Charles Darwin, ilmuwan Zoologi asal Inggris bahwa manusia berasal dari primata alias kera melalui proses evolusi ribuan tahun. Meski Darwin telah meninggal dunia, namanya tetap dihujat oleh sesama manusia yang merasa harga dirinya runtuh disamakan dengan binatang. Mereka mengutuk Darwin merendahkan kemampun tertinggi manusia yakni memiliki akal budi, kesadaran dan kebebasan pribadi menentukan cita-citanya.
Kalau mau ditelaah secara mendalam, manusia Darwin tidaklah serendah yang kita bayangkan. Teori Darwin dalam The Descent of Man (Asal Usul Manusia), 1871, didukung dengan penemuan fosil manusia Neanderthal tahun 1856, yang diperkirakan hidup 100.000 tahun lalu. Memang ada proses evolusi fisik manusia dari zaman tersier hingga kini. Darwin tetap mengimani bahwa manusia diciptakan Tuhan. Hanya, proses penciptaan itu berlangsung dalam hukum evolusi di atas bumi ini.
Sebenarnya Darwin dicaci maki karena ajarannya diplintir oleh Ernst Heinrich Haeckel (18334-1919) sarjana pengetahuan alam dan dipakai sebagai pembenaran kerangka ideologi komunisme oleh Karl Marx. Keduanya dari Jerman, negeri yang kaya dengan kisah petualangan ilmu pengetahuan dan bertebaran aneka mazhab filsafat dan doktrin teologis.
Haeckel secara tegas mengklaim dunia ini kekal dari awal mula sehingga tidak ada proses penciptaan manusia dan hidup tercipta secara mekanis. Atas pengaruh Haeckel ini timbullah kebiasaan menyamaratakan manusia dengan hewan. “Ah, manusia berasal dari kera”. Itulah kacamata Haeckel.
Memang kisah pencarian asal usul kehidupan dan awal kehadiran manusia di muka bumi ini secara ilmiah tidak pernah menemukan jawaban yang tepat, tuntas dan memuaskan. Pasalnya, akal budi manusia amat terbatas menyelami misteri jagat raya yang demikian luas ini. Jawaban ‘sempurna’ disodorkan agama. Intinya, ada proses penciptaan, kematian dan kehidupan kekal. Ada juga yang meyakini proses reinkarnasi berdasarkan darma bakti manusia di dunia.
Fakta di atas mau menampilkan bahwa hidup manusia adalah suatu pencarian dan selalu berada dalam situasi ketidakpastian, entah arah hidup, nasib, cita-cita dan kematiannya. Dalam teropong filosofis, kegelisahan batin dan intelektual adalah awal manusia menggugat eksistensi dan jati dirinya. Demikian pula, dalam hidup bermasyarakat, setiap individu tak pernah lepas dari kegelisahan itu.
Kegelisahan itu ciri kesejatian manusia yang berakal budi. Di Republik ini seharusnya setiap individu harus merasa gelisah ketika angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas menakjubkan tetapi penderita busung lapar terjadi di mana-mana. Ini berarti dari tahun 1997, rakyat Indonesia tetap hidup dalam situasi kemiskinan dan kemelaratan. Hanya anehnya, kog manusia Indonesia begitu diam atas kegetiran hidup yang dialaminya. Ataukah memang chanel-chanel komunikasi rakyat dan penguasa tidak terbangun apik di era keterbukaan?
Bisa benar bisa juga salah. Salahnya, barangkali inti kegelisahan dalam dada anak-anak bangsa bukan soal tujuan terdalam hidup manusia, upaya mencapai keluhuran hidup dan menggapai kebebasan sejati. Fakta berbica, selama ini selalu muncul berbagai opini yang berkutat dengan doktrin seputar selangkangan saja. Seorang ibu rumah tangga merasa hidupnya sempurna bila dapat mengikuti berita perceraian para selebritis dari awal sampai akhir.
Berbondong-bondong anak bangsa menghujat kontes ratu-ratuan sebagai ajang pemuas syahwat hewani karena mempertontonkan aurat. Sementara lomba renang puteri atau voley pantai puteri dengan pakaian super terbuka dinikmati sambil makan kacang goreng. Bukankah aksi itu dilakukan di depan umum juga?
Kenapa anak bangsa ini berkutat dengan kegelisahan dangkal. Padahal, ada banyak peristiwa yang menuntut persatuan rakyat untuk dibenah, ditata dan diperbaiki. Tidakkah, Suciwati isteri alm Cak Munir merasa sendirian mencari kebenaran? Butakah mata hati kita ada korupsi besar-besaran di tubuh KPU yang heboh dalam pemberitaan tapi sepi di tahta pengadilan dan hukum. Bukankah ada rezim yang menyampaikan data fiktif pertumbuhan ekonomi Indonesia padahal yang terjadi adalah kelaparan dan kematian balita?
Di manakah kegelisahan yang sejati itu. Barangkali tak usah malu, kita mengadopsi dan maaf memakai ‘kaca mata’ cara pandang dan mental para model dan ratu kecantikan yang selalu dilanda kegelisahan menampilkan citra budaya dan jati diri bangsa yang sejati di depan publik. Mereka semula diobok-obok ketika terjun di bidang modeling atau kontes tertentu tetapi mereka telah berhasil membuktikan diri sebagai anak bangsa yang berjiwa besar, mandiri dan kreatif.
Patut diakui, ada banyak model yang sukses sebagai artis, penyanyi, desainer ataupun politikus, sebut saja Okky Asokawati, Poppy Dharsono atau Angelina Patricia Pingkan Sondakh. A Sondakh mengakhiri masa keputriannya dengan meluncurkan buku setebal 185 halaman berjudul Kecantikan, Bukan Modal Utama Saya. Ia sangat menyayangkan peran yang diberikan kepadanya selama menyandang gelar Putri Indonesia yang lebih banyak tampil untuk acara demo kecantikan dan berbicara tak pernah jauh dari topik kecantikan.
Irma Priscilla Hardisurya, mantan ratu kecantikan pertama Indonesia (Miss Indonesia di International Beauty Pageant 1969 Tokyo, Miss Asia Manila 1970 dan Penerima Tropi Miss Tourism Hollywood International 1972, sukses sebagai wartawan Femina, konsultan dan pelukis realisme romantik.
Sayang, ada segelintir remaja putri yang terobsesi menjadi terkenal secara instan tanpa ada kesadaran untuk menempa kualitas diri di bidang behaviour dan brain. Mereka bertumpu semata pada kecantikan fisik, mudah mengimpor kultus hidup anak muda luar negeri dan meninggalkan ciri khas nilai-nilai budaya lokal yang dihidupinya. Sejarah juga mencatat, wanita yang meniti karir di dunia modeling dengan menjual kecantikan fisik semata akan mengakhiri karirnya dengan kehancuran hidup pribadi. Marllyn Monroe, contohnya.
"Saya datang bukan hanya untuk mendapat mahkota, tapi juga membuat negara saya bangga," tukas Amelia Vega, ketika terpilih jadi Miss Universe 2003. Pernyataan matang Amelia Vega di atas adalah potret historis betapa kepintaran dan kerendahan hati kian mempercantik penampilan fisik wanita.
Di belahan Asia, Angelina Patricia Pingkan Irma Priscilla Hardisurya, mantan ratu kecantikan pertama Indonesia (Miss Indonesia di International Beauty Pageant 1969 Tokyo, Miss Asia Manila 1970 dan Penerima Tropi Miss Tourism Hollywood International 1972, sukses sebagai wartawan Femina, konsultan dan pelukis realisme romantik. Sejarah juga mencatat, wanita yang meniti karir di dunia modeling dengan menjual kecantikan fisik semata akan mengakhiri karirnya dengan kehancuran hidup pribadi. Marllyn Monroe, contohnya. Tepatlah kata model AS keturunan Kuba, Daisy Fuentes. "Diperlukan kerja keras untuk menjadi model," tegas Fuentes, yang terkenal di Amerika Latin karena hubungan cintanya dengan penyanyi Meksiko, Luis Miguel.
Teilhard de Chardin sosok rohaniwan yang tenang menata teropong filosofis. Lelaki tercipta dengan otot yang kekar, badan tegap dan dengan langkah ksatria berjalan menaklukkan kekerasan alam. Namun mengapa kaum lelaki selalu takluk di kaki wanita? Benarkah sikap feminim, kelembutan dan pesona keibuan yang dipancarkan seorang wanita menjadi sumber keindahan? Jawabnya bisa bermacam ragam. Apakah keindahan itu? Setiap orang tentu punya definisi masing-masing. Artinya, keindahan itu tidak mutlak, tetapi tergantung dari sisi mana seseorang memandangnya. Filsuf tersohor dari tanah Arab, Al-Ghazali mengklaim keindahan sebagai sesuatu yang dapat memuaskan hati.
Dunia fashion, modeling, akting, lukis dan tari tak luput dari sentuhan feminitas, sensualitas dan kemolekan tubuh, keanggunan, keagungan wanita dan sejumput keibaan. Nah, inilah sudut pandang melihat keterkaitan dunia fashion dan modeling. Seorang desainer dengan kreativitas dan kemampuan membaca trend terkini menawarkan busana pilihan ke hadapan publik. Peran model amat besar sebagai jembatan penghubung antara maksud desainer atas suatu busana dan tawarannya bagi konsumen. Model yang berjalan di atas cat walk harus mampu bersikap sesuai dengan tujuan pakaian. Untuk itulah, seorang model tidak hanya harus cantik tapi memiliki wawasan yang luas dan kepribadian yang menarik. (Beny Uleander/KPO EDISI 83)
Read More
Beny Uleander

Ibu Kehidupan

Raja Sulaiman yang hidup 250 ribu tahun silam dan bertahta di Yerusalem dijuluki sebagai Raja Kebijaksanaan. Suatu ketika ia disodorkan perkara perebutan seorang bayi oleh dua perempuan yang mengaku sebagai ibu kandung. Tanpa banyak kata, Sulaiman memerintahkan kepada pengawalnya agar tubuh bayi itu dibagi dua saja dan diserahkan kepada kedua perempuan itu agar hukum keadilan ditegakkan. Kontan, perempuan yang sesungguhnya menjadi ibu kandung sang bayi menangis histeris dan memohon dengan memelas pada Sulaiman agar bayi itu jangan dibunuh tetapi diserahkan saja pada perempuan ‘ibu palsu’ itu.
‘’Pengawal serahkan bayi itu kepada wanita yang menangis itu sebab dialah ibu kandung yang sesungguhnya,’’ tegas Sulaiman. Pembelaan atas kehidupan seorang anak manusia merupakan kriteria dasar bagi Sulaiman dalam mengambil keputusan yang bijaksana. Seorang ibu yang dengan susah payah mengandung dan melahirkan anaknya mengusung harapan agar rajutan kehidupan yang dijalinnya secara rahasia dalam misteri penciptaan di rahimnya tak binasa.
Sepenggal kisah tua di atas seakan menjadi inspirasi yang kuat dalam mendengar kembali nyanyian tangisan akan lakon sepak terjang manusia yang terus saja saling membinasakan. Dahulu peperangan antara kerajaan atau dinasti sekedar untuk memperluas imperium kekuasaan. Raja taklukkan diwajibkan membawa upeti tahunan sebagai ungkapan pengakuan atas kekuasaan Raja ‘penjajah’ dan penduduknya dijadikan budak. Ingat, penduduknya tidak dibantai. Bahkan diberi makan agar menjadi pekerja yang giat.
Kini suara tangisan penduduk dunia tak pernah berhenti karena selera membunuh antar manusia tak pernah pudar. Bau anyir darah tersebar di mana-mana. Wajah kematian begitu akrab di mata kita. Televisi dengan setia menayangkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan potongan daging manusia yang berserakan. Ada mayat berambut pirang di Irak, ada jasad tak berkepala di Poso, Kalimantan, ada tubuh tua renta terbujur kaku di jalan metropolis Bombay, dan ada badan yang terus hidup tanpa ditopang kesadaran jiwa. Ini yang paling tragis, mati sebelum ajal. Itulah sosok getir tubuh para pecandu narkoba. Umumnya mereka masih muda.
Generasi muda Indonesia kini di ambang kehancuran. Tak ada upaya pemerintah yang konkrit menciptakan angkatan muda yang berkualitas dalam berbagai lini kehidupan. ‘’Siapakah yang peduli dengan nasib kelam generasi muda Indonesia saat ini,’’ tanya Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan kawakan yang lama meringkuk di penjara kini mengisi hari tua dengan sepenggal harapan melihat kebangkitan generasi muda yang penuh kreativitas dan gairah meracik cita-cita. Mungkin sampai hidup berkalang tanah penulis tua itu tak bakalan melihat kebangkitan kaum muda Indonesia dalam membawa perubahan arah dan masa depan bangsa.
Alasannya, generasi muda yang melek akan menjadi ancaman kemapanan kekuasaan dan bangunan hukum di Indonesia. Bayangkan, hanya membutuhkan sepenggal waktu nan singkat, kaum muda berjuang, tahun 1998, pemerintahan Orba langsung tergusur. Coba kalau generasi muda merakit perjuangan secara sistematis pasti banyak pejabat birokrat dan aparat yang mati serangan jantung.
Mungkin di balik inilah kita bisa memahami mengapa lalu-lintas narkoba begitu lancar, aman dan cepat beredar di Indonesia. Bayangkan, uang kartal yang beredar dalam perdagangan narkoba diperkirakan mencapai 300 triliun setahun. Sungguh fantastis sekaligus sebuah rekor yang dapat menambah melimpahnya hujan air mata. Orangtua menjerit dengan suara yang meyayat hati melihat anak mereka cuma badannya saja menjadi milik mereka. Sedangkan jiwanya sudah menjadi jiwa pecandu. Pedih, perih dan mengharukan.
Namun bagi sebuah rezim yang berkuasa, situasi generasi yang demikian menjadi incaran mereka. Bukankah setelah kecanduan, generasi muda akan menderita seumur hidup dan tak lagi ambil pusing dengan masa depan negaranya. Bahkan tak peduli hukum dibuat selentur tali karet. Mudah diubah, ditarik dan dijulur ke sana ke mari tergantung kepentingan penguasa dan kalangan berduit.
Mereka juga tak gubris, bandar-bandar besar Narkoba lepas dari tangan polisi dengan alasan kesulitan menemukan barang bukti. Meski mereka tahu ada juga barang bukti yang hilang di tangan aparat. Adakah manusia di bumi pertiwi ini berhati ibu yang peduli dengan kelanjutan hidup angkatan muda? Memang ada! Tetapi para pejuang moral kemanusiaan selalu mati muda. Lihatlah Munir. Ia mati diracuni seperti Sokrates yang dituding meracuni generasi muda pada zamannya dengan pikiran-pikiran progresifnya.
Narkoba memang menjadi racun dan alat efektif dalam tindak genocide sebuah suku bangsa. Hancurkan generasi mudanya dan keruklah kekayaan alam di negerinya. Itulah visi para pelindung keberadaan jaringan narkoba di setiap negara. Mungkin visi serupa ini sedang berjalan di tanah Papua. Di sana terjadi peningkatan penderita HIV/ADIS lewat jarum suntik. Umumnya korban adalah angkatan muda. Duhai penduduk negeriku, masih adakah ibu kehidupan di rumah, sekolah, tempat ibadat, rumah sakit, supermarket dan kantor-kantor pemerintah? Semuanya diam… Ataukah semua sudah diracuninya? Duh, betapa panjangnya duka derita di negeri ini.
Manusia Indonesia abad ini adalah manusia yang menderita kesepian tak berujung. Hukum ditegakkan bagi rakyat jelata. DPR terus ricuh tanpa nada harmonis. Sementara di negara kapitalis, liberal, dan sekuler seperti AS atau Australia, posisi narkoba dan masalah pornografi masih dalam koridor wajar dan ketat.
Tidak bisa sembarang orang berkunjung ke Sex Shop, menyetir melewati kecepatan maksimum, minum alkohol berlebihan, atau menggunakan narkoba. Semua masih ada aturan dan kepastian hukum yang ketat. Hukuman bagi pelanggar adalah, hukuman kurungan badan (penjara), atau membayar,denda dan dalam pengawasan, atau dalam tanggung jawab pengacara.
Di negeri ini, invasi narkoba sudah sedemikian reaktif. Garis edarnya sudah ke pelosok desa. Transaksi narkoba meski masih ngumpet-ngumpet, tetapi sangat mudah mendapatkan sesuai kebutuhan. Karena, pengedarnya gentayangan, siap melayani pembeli.
Seorang kiai di Tasikmalaya, Jawa Barat, pernah mengatakan, narkoba sudah merasuk ke anak-anak SD dan pesantren, dengan modus jualnya berbentuk permen. Korban sudah banyak berjatuhan, masyarakat biasa, anak pejabat, pejabat, sampai selebritis. Nama seperti pelawak Polo, Derry, dan beberapa selebritis lainnya.
Seharusnya, pemerintah sadar, rakyatnya sedang digerogoti virus yang mematikan. Mungkin juga, bisa membunuh Indonesia. Anggota DPR semestinya menjadi ibu kehidupan yang menyanyikan tangisan anak-anak negeri ini, terutama nasib kaum dewasa muda yang menjadi pecandu napza. Hai wakil rakyat buatlah hukum untuk melindungi anak-anak bangsa ini agar tak jatuh dalam pelukan ibu palsu yakni narkoba yang menyusui mereka dengan halusinasi dan impian kosong tak bertepi. Teganya kau berdasi naik Volvo disaksikan daging-daging hidup. Kau bukan ibuku?! KPO/EDISI 70
Read More

Senin, Mei 10, 2004

Beny Uleander

Wanita Kerap Alami Pelecehan Seks

Pelecehan seksual sering menimpa kaum wanita di tempat kerja. Dua tahun terakhir, media massa memberitakan nasib kelam tenaga kerja wanita Indonesia di luar negeri yang diperkosa, dihamili atau digeranyangi majikannya. Bahkan ada pembantu rumah tangga yang tak sadar bahwa mereka diperdagangkan sebagai budak seks. Mereka disekap berhari-hari di dalam kamar cuma bertugas melayani nafsu syawat tuannya.
Fenomena pelecehan seksual tenaga kerja wanita menjadi salah satu sorotan dunia. Asia Pasifik dan Timur Tengah merupakan kawasan utama tujuan buruh migran perempuan termasuk korban yang diperdagangkan. Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Saudi Arabia, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Palestina, Qatar merupakan negara tujuan para pekerja asal Indonesia, yang selama ini menjadi salah satu negara pengirim buruh migran khususnya buruh migran perempuan terbanyak dari kawasan Asia Tenggara. Kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, Batam, Dumai, Medan, Pontianak merupakan daerah transit penyaluran TKW Indonesia ke luar negeri.
Meski ada berita tak sedap tentang nasib wanita Indonesia di tanah rantau, setiap tahun TKW yang mengadu nasib di luar negeri terus meningkat. Kondisi ekonomi negara yang terus terpuruk mendorong sebagian wanita mencari dollar di luar negeri. Buktinya, kebanyakan TKW itu sudah berkeluarga. Mereka mengirim uang untuk suami dan anaknya di kampung halaman. Juga, penghasilan tiap bulan ditabung untuk modal usaha, membeli tanah guna membangun rumah dan membiayai pendidikan anak.
Kenapa wanita Indonesia di luar negeri kerap menjadi objek pelecehan seksual? Ada banyak faktor yang bisa dikaji. Faktor budaya patrialkal yang masih kuat -juga di negara tujuan TKW- melibas fungsi wanita sebatas 3 R (dapur, sumur dan kasur). Wanita adalah pelayan lelaki. Kalau kata Aristotels wanita adalah binatang piaraan. Arti sumur, wanita tak punya pengaruh dalam menentukan aturan-aturan sosial. Ia cuma manut, taat dan menurut apa kata suaminya. Dan kasur, wanita adalah penerus keturunan kaum lelaki. Tugas pokoknya adalah melahirkan dan menyusui anak.
Di Indonesia terdapat pengakuan bahwa bentuk-bentuk perburuhan eksploitatif sektor informal, perburuhan anak, perekrutan untuk industri seks, dan perbudakan berkedok pernikahan, yang sebelumnya telah ada dan diterima masyarakat, sebenarnya merupakan bentuk-bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia dari individu yang terlibat. Pekerjaan-pekerjaan sebagai buruh migran dan pembantu rumah tangga diketahui paling banyak dijadikan sebagai tujuan perdagangan perempuan dan anak di Indonesia.
Masalah pelecehan TKW Indonesia di luar negeri sebenarnya sudah tercium dari kampung halamannya. Umumnya, TKW direkrut oleh badan pencari tenaga kerja yang ilegal untuk menjadi buruh migran. Pekerja karena kekurangan informasi tidak mengetahui jelas jenis pekerjaan mereka. Daya tarik utama, biaya pemberangkatan mereka ke Malaysia, Singapura, Arab Saudi melalui biro jasa ilegal lebih murah. Padahal, biro jasa ilegal itu tidak akan menjamin keselamatan TKW Indonesia. Bahkan kehadiran mereka di suatu negara tidak terdaftar di KBRI setempat.
Pengiriman TKW Indonesia oleh biro jasa ilegal ke luar negeri kerap digambarkan sebagai bagian dari organisasi kejahatan lintas negara yang terorganisir. Meski gambaran tersebut ada benarnya dalam sebagian kasus namun ada juga pelaku perdagangan yang bukan bagian dari kelompok kejahatan terorganisir, mereka bekerja merekrut dan mengirim tenaga kerja secara independen, baik secara kelompok maupun individu, dan ada juga tokoh masyarakat di daerahnya. Namun, banyak dari aktor yang terlibat dari perdagangan perempuan dan anak ini, sebagian terlibat langsung, tidak menyadari apa yang mereka lakukan.
Pada tanggal 30 Desember 2002, Presiden Megawati menerbitkan Keppres RI Nomor 88 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Penghapusan Perdagangan (Trafficking) Perempuan dan Anak. Keppres tersebut akan berdampak nyata jika ditindaklanjuti dengan aktivitas konkrit di lapangan, yang dilaksanakan oleh penyelenggara negara (eksekutif, legislatif, yudikatif) maupun kelompok-kelompok masyarakat untuk melawan eksploitasi TKW Indonesia. Sejauh ini pemerintah telah membentuk tim gabungan antar instansi untuk melakukan penanganan terhadap perempuan korban pelecehan seks, dan mensosialisasikan rencana aksi nasional tersebut hingga ke pemerintahan daerah.
Solidaritas Perempuan (SP) telah melakukan advokasi terhadap buruh migran perempuan (BMP) khususnya pekerja rumah tangga (PRT) dan menemukan banyak kasus pelecehan seksual terhadap TKWI yang bekerja di luar negeri. Sebagai gambaran, sepanjang tahun 2002, SP menangani 280 jenis pelanggaran hak-hak BMP yang dialami oleh 142 Buruh Migran Indonesisa (BMP), termasuk di dalamnya kasus spesifik perdagangan perempuan dan anak (4 kasus). Sedangkan pada tahun 2003 sendiri, tercatat 55 kasus kekerasan terhadap BMP, terdiri dari 43 kasus kekerasan umum (kekerasan fisik, psikis, ekonomi, seksual) dimana terdapat 12 kasus perdagangan perempuan dan anak, baik yang terjadi di dalam maupun di luar negeri.
Kondisi perempuan Indonesia yang menjadi korban seks sangat menyedihkan. Hak-hak mereka terus dilanggar, ada yang ditawan, dilecehkan, dan dipaksa bekerja diluar keinginan mereka. Hal ini menempatkan mereka pada kondisi seperti perbudakan, dalam mana mereka tidak lagi memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri, hidup dalam situasi ketakutan dengan rasa tidak aman.
Diperlukan berbagai upaya untuk mencegah dan melindungi perempuan korban pelecehan. Salah satu upaya melindungi korban adalah membantunya mendapatkan kembali hak-haknya atau rehabilitasi fisik maupun psikis. Banyaknya korban akibat pelecehan seksual berbanding terbalik dengan pelayanan dan bantuan yang mereka terima untuk mengembalikan hak-haknya yang terampas. Tidak banyak pusat-pusat pelayanan yang dapat diakses para korban. Mereka sangat membutuhkan pelayanan integral berupa pelayanan hukum, pelayanan kesehatan psikis maupun fisik, tempat penampungan sementara (shelter/rumah aman). (Beny Uleander/KPO EDISI 58/MINGGU II MEI 2004)
Read More