Tampilkan postingan dengan label Keagamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keagamaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Desember 30, 2017

Beny Uleander

Dosa Besar Menghina Agama Lain

By  
Narasumber: Beny Ule Ander, IKG Karyana Govinda, I Made Adi Surya Pradnya, K.H Nurul Huda dan K.H Mustofa
Dewan Pengurus Daerah - Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Provinsi Bali menggelar event refleksi akhir tahun perjalanan bangsa Indonesia dengan mengambil tema “Membangun Bali dengan Kerukunan Hidup Umat Beragama” di Pyxeleet Café, Renon, Denpasar, Jumat 29 Desember 2017.
Humas Flobamora Bali Beny Ule Ander tampil sebagai salah satu narasumber bersama aktivis NU Kyai H. Nurul Huda Pengasuh Pondok Pesantren Motivasi Indonesia, Dr I Made Adi Surya Pradnya Dosen Filsafat IHDN Denpasar, Kyai H. Mustofa Penasihat MUI Bali dan Sekum Walubi Bali Pendeta IKG Karyana Govinda, Mpd yang juga pengurus FKUB Bali.
Berbicara dari sisi sejarah perjalanan Gereja Katolik, Beny Ule Ander mengupas 3 hal: pusaka warisan, pusaka rohani dan deklarasi Nostra Aetate dari Konsili Vatikan II sebagai piagam “magna charta modern” yang bertumpu pada tinjauan biblis, teologis dan kristologis.
“Gereja adalah warisan dari ikatan spiritual antara Umat Perjanjian Baru dengan keturunan Abraham. Yahudi, Kristen dan Islam adalah putra putri Abraham dalam iman dan terangkum dalam panggilan Bapa bangsa itu,” urainya.
Menyinggung warisan rohani, Sekum Ikada Bali ini menyebut Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci di dalam agama-agama ini. Ini bertumpu pada Deklarasi Nostra Aetate yang disebut sebagai piagam Magna Charta Modern Gereja Katolik yang diajarkan kepada segenap umat.
“Dalam bahasa gaul, haram hukumnya bagi umat Katolik untuk menjelekan dan menghina ajaran agama lain, nabi atau tokoh sakral agama dan rumah-rumah ibadat mereka. Dosa besar jika kita merusak rumah ibadat agama lain. Karena iman Katolik bersumber dari alkitab, tradisi dan ajaran magisterium Gereja,” jelasnya.
Lebih jauh alumni STFK Ledalero ini  mengeksplorasi pernyataan Santo Cyprianus di abad III tentang Extra Ecclesia Nulla Salus yakni di luar Gereja tidak ada keselamatan. Pendapat Cyprianus ini “dipelintir” dan menjadi bola liar yang menjadi catatan kelam perjalanan Gereja Katolik masa lampau yang  berlumuran darah. 
Awalnya pendapat Cyprianus untuk para bidaah jaman ini yang membuat ritus di luar Gereja Katolik. Pembaptisan mereka tidak sah. Hanya pembaptisan dalam Gereja Katolik yang membawa keselamatan. Lalu gagasan ini diteruskan oleh para Bapak  Gereja seperti Irenius dan Clemens dari Alexandria. Ditambah lagi dengan pernyataan St Agustinus bahwa di luar gereja ada apa saja, kecuali keselamatan.
“Nah, dalam perjalanan waktu pandangan ini mengkristal menjadi keeksklusifan Gereja. Salah tafsir ini terbawa sampai jaman kolonialisme abad ke-16. Dipelintir lagi oleh aliran sesat Yansenisme saat itu. Gereja hadir menendang agama-agama lokal dan menghancurkan tradisi budaya yang ada di suatu bangsa sebagai kebudayaan kafir,” paparnya.
Perang salib yang dirasakan sebagai luka sejarah hingga kini dan pengadilan inkuisisi di Spanyol sebagai sejarah kelam Gereja. Para ilmuwan dibunuh atas nama Gereja. Perempuan dan anak-anak dibantai atas nama agama.
Karena itu, ulas Beny, Gereja telah meninggalkan kisah memalukan masa lalu itu. Semua dikubur dengan lahirnya Deklarasi Nostra Aetate. Karya perwartaan Gereja bukan untuk keselamatan manusia. Tuhan yang menyelamatkan manusia. Tapi pewartaan ajaran Kristus dan Yesus sebagai jalan, kebenaran dan hidup tetap berlanjut sampai akhir jaman. “Butuh waktu berabad-abad untuk mengkoreksi pemahaman yang kerdil dan keliru. Membunuh manusia atas nama agama dan ayat-ayat suci sebuah ketersesatan pikiran yang sudah ditanggalkan Gereja,” tegasnya.
Dalam konteks pembangunan di Bali, Beny mengutip etika global teolog Hans Kung. “Tidak akan ada perdamaian dunia tanpa adanya perdamaian agama-agama, tidak akan ada perdamaian agama tanpa adanya dialog antaragama, tidak akan ada dialog antar agama tanpa melacak nilai fundamental dari setiap agama.” Karena itu tugas dan panggilan Gereja di Bali adalah membangun dialog dan kerja sama denga semua penganut agama lewat dialog kehidupan, dialog karya dan dan dialog pengalaman iman.
“Bagi umat Katolik Pancasila dan UUD 45 sudah senafas dengan ajaran Katolik. Sekarang saatnya energi anak bangsa dikristalkan untuk pengembangan diri di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan perkembangan bangsa maupun umat manusia. Stop sudah kita bertikai soal agama. Mari bangun Bali sebagai jangkar peradaban Nusantara kita. Menjaga dan merawat kebersamaan di Bali sebagai panggilan hidup umat Tuhan,” tutupnya.
Read More

Minggu, Desember 24, 2017

Beny Uleander

Dialog Kunci Membangun Peradaban

Bertemu Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Din Syamsuddin 


Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Din Syamsuddin berpesan agar harmoni antar umat beragama di Pulau Dewata Bali selalu terpelihara. Jika setitik noda konflik ada di Bali, maka akan mudah tersebar luas di Nusantara bahkan dunia.

Sebagai UKP-DKAAP, Din Syamsuddin yang aktif berkeliling bersilaturahmi ke simpul-simpul kerukunan di berbagai daerah, memandang penting Bali sebagai kerukunan antar umat beragama. "Di pulau yang mayoritas penduduknya beragama Hindu ini terdapat komunitas agama-agama lain yang cukup signifikan dan telah hidup berdampingan secara damai sejak lama," kata Din Syamsyuddin dalam dialog antar tokoh agama, di Puri Den Bencingah, Bali, Jumat (22/12).

Sebagai tujuan wisata utama dunia, Bali selama ini dikenal di dunia dengan derajat kerukunan yang cukup tinggi. Ia mengapresiasi terhadap tingginya rasa saling pengertian antara umat Hindu dan umat agama-agama lain di Bali, yang bahkan terjadi pada tingkat desa di beberapa tempat di Bali.

Hal ini, menurut Din, adalah modal dasar penting yang harus dipelihara dengan baik terutama terhadap upaya segelintir orang yang berwawasan sempit dan eksklusif yang cenderung memecah belah masyarakat. Oleh karena itu, menurut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, dialog adalah jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan masalah yang ada.

"Kita semua harus meyakini dan menerapkan jalan dialog. Namun juga dialog itu harus bersifat dialogis, yakni berlangsung atas asas ketulusan, keterbukaan, keterusterangan, untuk penyelesaian masalah," katanya.

Yang terpenting menurutnya adalah masyarakat bersaudara, baik sebagai anak bangsa maupun sebagai anak manusia ciptaan Tuhan. Untuk itu, menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI pusat itu, bangsa Indonesia perlu terus menerus mengacu kepada Pancasila yang merupakan kesepakatan para pendiri bangsa dari berbagai golongan dan agama.

"Pancasila adalah titik temu pandangan umat berbagai agama, kita jaga sama-sama," katanya.

Sementara itu, Tuan Rumah Ida Penglengsir Agung Putra Sukahet menyambut baik kedatangan Utusan Khusus Presiden Din Syamsuddin ke Puri Den Bencingah di Klungkung (sejam dari Denpasar). Ia juga menjelaskan kerukunan adalah keharusan dalam kehidupan bangsa, dan musyawarah adalah keharusan untuk kerukunan warga negara.

Dalam dialog bersama 150 lebih tokoh lintas agama se Bali di Puri Den Bencingah, Klungkung, Bali, Jumat (22/11), turut hadir Sukahet, Ketua FKUB Bali sekaligus Ketua Umum Asosiasi FKUB se Indonesia, Ketua Umum Parisade Hindu Dharma Indonesia Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, para pimpiman majelis2 agama (MUI, PGI, KWI, PHDI, Walubi, dan MATAKIN), wakil PWNU, PW Muhammadiyah, serta para aktifis perempuan dan pemuda lintas agama Bali.
Read More

Rabu, Desember 05, 2007

Beny Uleander

Kerendahan Hati "Sang Lubang Hitam"

Kegusaran ilmiah melanda Stephen Hawking selama 30 tahun. Pada tahun 1976, ia memproklamirkan adanya bintang raksasa dengan gravitasi yang sangat besar membentuk lubang hitam yang menghisap semua materi dan energi di dekatnya. Ia terus memikirkan teori black hole yang menobatkan dirinya sebagai pewaris Newton dan Einstein di jagat fisika. Pasalnya, teori tersebut bertentangan dengan teori fisika kuantum bahwa energi dan materi tidak dapat dimusnahkan, tetapi hanya berganti wujud.
Pada Konferensi Internasional Gravitasi & Relativitas ke-17 di Dublin Irlandia, Rabu (12 Juni 2006), yang dihadiri 800 fisikawan dari 50 negara, Hawking yang telah dimakan usia itu, meralat teorinya. Ia mengatakan bahwa materi dan energi tidak dimusnahkan tetapi “dimuntahkan” kembali dalam keadaan tercerai berai. Tentu saja pembatalan teori ini mengecewakan para pecinta fiksi ilmiah yang terobsesi bahwa lubang hitam adalah jalan menuju kehidupan jagat raya yang baru. Tapi itulah kerendahan hati ilmu pengetahuan yang siap terus-menerus dikoreksi agar mencapai kebenaran sejati.
Saat ini, bertebaran film, cinema dan animasi yang mencoba mengeksplorasi kehidupan baru di luar bumi. Ada juga yang coba mendeskripsikan ciri fisik alien sebagai makhluk tanpa rasa, empati, cinta dan tepo seliro. Memang menarik untuk mengikuti gelora imajinasi di alam khayal. Bebas, liar dan tak terkendali. Namun, dalam kisi-kisi refleksi, kebebasan berpikir adalah sebuah matra, sedangkan substansi pemikiran adalah kristalisasi kegelisahan manusia mencari jawaban tuntas atas kiprahnya di pentas kehidupan. Sosok alien yang kerap dilukiskan bergerak mekanis, kaku dan dingin tanpa rasa, sebenarnya tidak lain adalah “pemindahan” figur semata.
Di pentas realitas, manusia sejak jaman Plato diyakini dibentuk dari jiwa dan badan. Meski saat itu badan dilihat sebagai penjara jiwa, namun setidaknya manusia tempo klasik mengamini bahwa di dalam tubuh yang rapuh ada hasrat cinta yang abadi. Manusia pun dalam peta teologis agama ditugaskan sebagai duta yang menebarkan senyum ilahi, menjadi perpanjangan tangan Allah bagi sesama yang menderita dan hatinya adalah surga mini Sang Khalik.
Deretan kekejam dan pembantaian yang dipertontonkan angkatan bersenjata maupun gerilyawan di sebuah masa dan tempat, menegaskan bahwa manusia tidak sepenuhnya ditakdirkan berjalan dalam kedamaian. Bahkan kemerdekaan dirancang bangun dengan pertumbuhan darah. Kedamaian dipertahankan dengan proyek nuklir dan pembaharuan peralatan persenjataan tempur. Itulah wajah dan rona kehidupan manusia di planet bumi dari zaman monarki hingga republik demokratis.
Kehancuran dan aksi bumi hangus maupun pembantaian massal menunjukkan bahwa inti kemanusiaan kita amat dekat akrab dengan sebuah “lubang hitam” yang bertipe menghisap dan memusnahkan. Tragisnya, kita sebagai pelaku sejarah belum bisa membahas tuntas soal “lubang hitam” yang selalu membayangi kehidupan kita. Kadang kita hidup rukun, kadang kita ditarik oleh gravitasi kekuasaan, nafsu dan ego untuk menghancurkan segala yang menghalangi pencapaian hasrat binal tersebut.
Benarkah nafsu adalah lubang hitam yang sangat primitif terus bercokol lengket dalam sanubari manusia? Kini kita melihat daya isap “lubang hitam” bukan saja menelan habis manusia dengan sebaris atribut citra diri. “Lubang hitam” itu juga mulai menelan rakus kekayaan alam. Kepala gunung ditebas buldozer, hutan sebagai busana bumi ditelanjangi dan perut bumi disodok-sodok pipa penghisap minyak dan gas. Iklim global terus berubah. Musim hujan menjadi musim panas, musim semi berganti musim salju.
Benarkah manusia zaman ini menurut Sokrates menjadi manusia yang menjalani hidup tanpa kekuatan refleksi? Negeri dan ruang privat kita, misalnya, mulai dirayapi proyek-proyek mercusuar yang lahir dari ekspansi gairah kapitalistik. Materi adalah segalanya. Akibatnya, kepekaan sosial yang menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang punya hati dan rasa cinta mulai pudar. Kemiskinan sosial dan struktural adalah buktinya. Jutaan penduduk miskin terus bertambah tiap hari. Balita kurang gizi meningkat tajam setiap menit. Dan, setiap detik, dunia ini ditinggal pergi oleh mereka yang mati dalam kemiskinan mengharukan dan mengenaskan.
Sementara masyarakat bumi yang terkotak dalam berbagai agama dan aliran tidak mampu membangun dialog otentik akan panggilan kemanusiaan. Bahkan, di beberapa negara kita masih menyaksikan para pemuka agama dan pembela agama bertualangan di rimba orthodoxi. Padahal awal kehadiran sebuah agama adalah spirit perdamaian, kasih, dan selaksa sentuhan kemanusiaan. Sayang sungguh sayang, manusia dalam kekerdilan pikiran kerap menganggap dirinya harus mempertahankan kesucian Allah di dunia. Sejatinya kekudusan dan kesucian Allah bukan terbentuk berkat bantuan manusia.
Stephen Hawking adalah contoh manusia intelektual yang selalu gelisah dan terus merefleksikan pemikirannya. Zaman ini, kita dipanggil untuk merumuskan kembali warta agama yang berwajah kemanusiaan, demokrasi yang humanitarian dan kekuasaan yang melayani rakyat. Jika kita gagal merumuskan panggilan hidup yang baru, jangan-jangan kita adalah transformasi makhluk alien yang masuk ke bumi ini. Tanpa cinta, hambar hati, miskin empati dan hampa rasa sayang. Kehidupan yang tidak direfleksikan tidak patut dijalani, sergah Sokrates. Bulan suci Ramadhan menjadi momen strategis meretas jati diri dan fitrah manusia di tengah dunia. Selamat menuaikan Ibadah Puasa! (Beny Uleander/KPO EDISI 136)
Read More
Beny Uleander

Rindu Suara Guru Bangsa

Hidup tanpa suara, mungkinkah? Manusia hidup tanpa kuping alias budek bin tuli masih mungkin. Namun hidup tanpa suara adalah sebuah kematian identitas, keruntuhan komunitas, kehancuran bangsa dan kemunduruan peradaban. Suara bukan sebatas bunyi, denting nada musik, lengkingan tangis bayi, desing bising raungan mesin Harley Davidson, ataupun lolongan panjang anjing hutan di tengah malam sepi. Manusia yang tuli tetap akan mendengar ‘bisikan suara’ yang menggema lembut di telinga batinnya. Itulah suara kehidupan.
Suara kehidupan adalah daya pertumbuhan yang menyertai jejak hidup manusia. Suara ini adalah serangkum kesadaran untuk menjalani semusim kehidupan. Tanpa suara kehidupan, manusia kehilangan arah hidup. Mereka yang bunuh diri karena terbelit kegelisahan dan kecemasan adalah mereka yang tidak lagi mendengar suara kehidupan berdentang di telinga batinnya. Memang suara kehidupan adalah milik manusia, sebuah anugerah dan harta karun kehidupan yang sering dilupakan dan terkubur sepi dalam tidur dogmatis.
Suara kehidupan adalah sebuah gerak pertumbuhan kejiwaan yang kadang bersifat menyapa, menghibur, menguatkan, menyadarkan dan bisa juga membawa manusia pada sebuah ruang keheningan untuk diam, tafakur dan siap mendengar Sabda Alam. Manusia prasejarah, klasik, modern, post modern, global atau hiperglobal tak pernah bisa lepas dari suara kehidupan. Itulah sebabnya, mengapa demi mendengarkan suara kehidupan dalam jejaring sosial, lahir para nabi, guru, rohaniwan/wati untuk menyebut kaum spiritualis, rahib dan pertapa. Suara kehidupan itu begitu agung, suci, mulia dan memiliki daya hidup. Kita pun sudah terbiasa atau pun pernah sekurang-kurangnya merasa disapa oleh suara hening alam, sapaan memanggil dari naas kitab-kitab suci, tergerak oleh tulisan-tulisan sastra di papirus atau lontar, terinspirasi oleh selarik pantun dan puisi yang indah menakjubkan.
Dari mana asal suara kehidupan itu? Suara kehidupan bisa datang dari langit dan bisa pula tumbuh mekar dari rahim bumi. Suara langit adalah suara transenden yang ‘dianugerahkan’ kepada seorang atau sekelompok nabi dalam sebuah komunitas, lalu disebarkan kepada komunitas masyarakat lainnya sebagai sebuah ajaran, sebuah agama, sebuah keyakinan transendental.
Suara kehidupan yang berasal dari bawah; bumi adalah hasil pergumulan batin manusia sepanjang sejarah peradaban dalam mencari yang baik, benar dan indah. Itulah kesadaran imanensi yang tidak bertentangan dengan suara dari langit. Keduanya saling melengkapi. Itulah sebabnya, kaum spiritualis berani mengatakan bahwa kebenaran ada dalam lubuk hati yang jernih ikhlas dan polos bening. Jauh lebih berani lagi, para rahib dan pecinta keheningan berujar bahwa Tuhan bisa ditemukan dalam lubuk hati sebagai guru, ayah-ibu ataupun sahabat yang mencintai kita. Ah, memang terasa indah akhir dari mencari suara kehidupan.
Bangsa Indonesia saat ini amat membutuhkan ‘nabi-nabi baru’; guru-guru bangsa baru yang membawa suara pencerahan tentang kesalahan mengurus bangsa saat ini. Kita membutuhkan suara-suara yang tidak sekedar suara formal sebagai wakil rakyat. Sebab, kini suara rakyat sudah kian kabur, abu-abu dan menjelma menjadi suara kelompok. Bangsa ini pernah dan masih memiliki putra-putra bangsa yang fasih membawa dan memperdengarkan suara kehidupan. Mereka menjadi pusat perhatian di kala revolusi menjadi barang dagangan, di saat idealisme mulai kehilangan makna dan pada waktu suara jutaan rakyat adalah komoditi.
Kenapa bangsa ini merindu suara profetis ‘nabi’ baru? Karena kaum cerdik pandai yang kita harapkan menjadi pembawa suara kehidupan ternyata hanya seorang jago membanyol. Mereka yang pintar dan terpelajar ternyata gagal menciptakan lapangan pekerjaan baru. Malahan orang pintar sering beramtem berebutan lahan usaha yang sama. Banyak orang mati kelaparan justru di samping makanan. Orang jujur hidup prihatin. Banyak orang berpangkat justru mengingkari tugas dan tanggungjawabnya. Orang lupa asal usul dan hakikat hidupnya. Itulah sebabnya kita sebagai bangsa kehausan akan suara-suara bijaksana yang mampu menyatukan negeri yang majemuk dan multikultural ini.
‘Nabi’ ataupun guru baru bukanlah manusia setengah dewa, tapi manusia yang berani untuk bertindak tegas dan berkata tidak kepada hal apa saja yang membuat harga diri bangsa merosot, rakyat menjadi menderita dalam kemiskinan dan yang membuat pengangguran kian meningkat. Rakyat yang kebingungan di tengah jalan mendamba suara-suara pencerah yang membuat kita berani bangkit menjadi bangsa yang besar. Amat menyesakkan hati, di saat yang sama ‘rakyat yang kebingungan’ adalah juga ‘rakyat yang dimanfaatkan’. Meski begitu, kita tetap terhibur bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang bisa mendengar suara kehidupan dari langit… (Beny Uleander/KPO EDISI 131)
Read More
Beny Uleander

Mencari (Wajah) Tuhan

Apa keistimewaan pigura peradaban abad 21? Globalisasi? Kapitalisasi raya? Terorisme? Digitalisasi dan komputerisasi (piranti lunak)? Pigura peradaban 21 adalah trend interaksi fisik yang ditandai dengan tingkat mobilisasi manusia lintas Negara yang amat tinggi. Dinamika kehidupan suatu bangsa selalu bersinggungan dengan globalisasi, kapitalisasi raya, digitalisasi & komputerisasi yang berkembang luar biasa cepat dan ekses negatif benturan peradaban terkristal dalam gelinding liar terorisme.
Kemajuan teknologi memang sukses menghapus berbagai tingkat kesulitan hidup sekaligus membangun pilar pemisah: gaya hidup masa lalu dan pola hidup manusia modern. Tempoe doeloe, raja berplesiran ditandu pegawai istana. Lalu, putera mahkota mewarisi kereta kuda dilaburi emas ditarik seekor kuda jantan nan gagah dikendalikan kusir istana yang terampil. Siapa sangka jauh ke depan, seorang raja, sultan atau kepala Negara menggelar jumpa pers di atas pesawat terbang?
Ketika laju industri dan geberan informasi yang beradu cepat dalam iklim kompetitif industri media, manusia modern ‘dibombardir’ ketakutan primitif. Ancaman pembunuhan, pembantaian massal (genocide), bom bunuh diri, perampokan dan perang nuklir. Kemajuan teknologi adalah berkah tetapi sepak terjang suatu ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diselimuti filosofi, moral dan nilai keagamaan, maka aroma kematian pun mengintip setiap sisi hidup manusia.
Siapa kira, pelaku bom bunuh diri sebelumnya merekam visi, misi dan kegiatan mereka dalam kepingan CD? Siapa duga, kemajuan iptek gagal menjinakkan naluri membunuh yang bersemayam rapi di haribaan hati setiap manusia? Beribu sayang, ketakutan massal yang kini mencengkram benak manusia modern tidak dapat dihapus dengan siraman rohani ataupun khotbah moral yang berapi-api. Toh, perangkat moral dan tatanan agama pun dieksploitasi dan diekplorasi sekehendak hati menjadi benteng pembenar rangkaian aksi brutal. Bagaimana, Presiden AS George W Bush mengklaim dirinya ditempatkan Yesus Kristus di Gedung Putih. Lalu, ekspansi brutal ke Irak atas kehendak Tuhan? Kekerasan dan kebiadaban diciptakan manusia tetapi Tuhan ‘dipaksa’ untuk ikut bertanggung jawab? Apakah trend pigura 21 mencatat nafsu suci manusia menjadikan Tuhan sebagai manusia berbudi, karsa dan karya? Ataukah, manusia modern memformulasikan secara baru ke-tuhan-an versi Friedrich Nietzsche: Tuhan adalah Aku (Übermensch). Untuk konteks ter(aktual)isasikan: Bush menjadi tuhan dan Amerika adalah surganya??? Lembaga PBB adalah bala malaekatnya dan Israel (termasuk sekutu AS) adalah nabi yang diberi misi khusus menjaga ‘kehendak kudus’ tuhan Amerika di Bumi Timur Tengah dan Negara-negara miskin, termasuk Indonesia!?
Kala torehan perbandingan disodorkan, antara Nietzsche dan Bush terbentang jurang kecerdasan yang amat dalam. Sebagai tokoh pembunuh Tuhan (dalam Also sprach Zarathustra), Nietzsche memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat di zaman-nya (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau Umwertung aller Werten) yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti kehidupan). Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht). Sedangkan, Bush mengagungkan kebenaran aksi Bala Keselamatan-nya seraya memporak-porandakan kehidupan dan kedaulatan suatu Negara untuk berkuasa. Nietzsche membunuh tuhan yang abstrak, sedangkan Bush membunuh manusia yang riil. Mengabaikan eksistensi Tuhan disebut ateis. Meniadakan eksistensi manusia dinamakan: teroris!?
Bagaimana sikap dewasa manusia Indonesia menelaah cermat, bijak dan bermartabat realita ‘kufur’ modern ini? Apalagi Presiden Bush (akan) berkunjung ke Indonesia, 20 November 2006. Ada dua peristiwa penting dalam Bulan November yang mewarnai sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Pertama, tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan untuk mengabadikan gelora perjuangan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan yang diraihnya dengan tetesan darah dan nyawa. Kemerdekaan itu tidak gratis. Ini pelajaran mahal yang sudah dilupakan anak bangsa. Di sini, kita memetik hikmah bahwa peperangan fisik adalah bagian integral dari menjaga kedaulatan bangsa.
Kedua, tanggal 13 November, Perundingan Liggarjati. Perundingan ini layak diangkat kembali karena untuk pertama kali, Belanda mengakui eksitensi Indonesia sebagai Negara dalam komunitas internasional. Sekaligus, sebuah prestasi gemilang Indonesia di jalur diplomasi. Sebuah pelajaran penting bahwa selain lewat jalur perang fisik ada juga ruang dialog, komunikasi, dan diplomasi.
Secara arif kita melihat sepak terjang rezim Bush di atas bumi ini sebagai pelajaran terselubung. Pasca kekalahan kubu Republik dari Demokrat dalam pemilihan umum di AS, Bush langsung bertandang ke Indonesia. Ada apa? Apakah Indonesi memiliki peran strategis di mata Bush dan Republik dalam memperbaiki citra mereka yang buruk di mata komunitas Negara-negara Islam? Dalam konteks ini, saatnya Indonesia menerapkan taktik diplomasi luar negeri yang bermartabat.
Langkah menentang aksi kapitalistik AS yang brutal tidak bisa diselesaikan sebatas demonstrasi dengan mengusung simbol-simbol agama tertentu. Konsep ketuhanan, nabi, isi ajaran dan tata cara ibadat adalah sekat internal institusi agama. Titik temu sekaligus pintu dialog adalah ranah etika dan tanggung jawab sosial. Inilah peran Indonesia menyampaikan kepada AS bahwa langkah peradaban dan perdamaikan dunia adalah tanggung jawab komunitas internasional. Dalam kerangka pemikiran itu, nilai hidup yang paling tinggi adalah kemerdekaan. Perdamaian internasional terwujud bila kedaulatan setiap Negara dengan latar belakang budaya dan agama dihargai. Perdamaian dunia adalah proyek bersama bukan proyek Amerika di belahan dunia tertentu. Setiap Negara harus bertanggungjawab atas hidup warganya dan penduduk dunia di belahan wilayah lain. (Beny Uleander/KPO EDISI 116)
Read More
Beny Uleander

Kebenaran Ganda

Kalau anda cinta kedamaian di Bali & hidup di Bali...
Mohon ikut demo untuk segera eksekusi mati Amrozi dkk!!
Pemerintah tidak serius hadapi teroris,
demonstrasi besar-besaran dilaksanakan 12 Oktober, jam 4 sore, di LP
Kerobokan. Tolong sampaikan pesan ini ke 10 teman yang lain...
Mari nyatakan perang dengan teroris!!!
Acara ini akan diliput langsung oleh 5 TV Lokal Indonesia dan CNN secara Live.
Cuma dengan cara ini kita bisa membuka mata. Terima kasih.


Itulah bunyi SMS yang beredar di antara krama Bali paska pemindahan Amrozi cs, pelaku bom Bali I, ke LP Nusakambangan, Cilacap,Jateng sehari sebelum peringatan tragedi Legian 12 Oktober 2002. Menarik mengkaji fenomen magnet sms yang mampu mengumpulkan ribuan massa secara spontan di depan LP Kerobokan Kuta itu.
Ternyata, ponsel sebagai media komunikasi yang praktis juga menjadi wadah curhat sosial akan suatu luka bersama yang dialami sebuah komunitas sosial.
Meminjam kajian Thomas Hobbes tentang persamaan nasib sebagai latar belakang persatuan sosial sekumpulan manusia, kita bisa membedah tentang realitas Bali sebagai Pulau Oase di Bumi Pertiwi. Bali adalah pintu masuk wisatan mancabenua.
Otomatis, Bali menjadi barometer pertumbuhan pariwisata Indonesia. Bali adalah perkampungan internasional. Sebagai tempat pertemuan dan perbauran sosial, Bali adalah ladang eksperimen kokohnya adat istiadat dan agama di tengah percaturan budaya asing. Setidaknya, pendapat John Naissbit bahwa keunikan budaya kian kokoh di tengah kemajemukan global dengan segala instrumennya menemukan kebenaran faktual.
Keunikan Bali di ataslah yang menyebabkan pulau ini memiliki prestise tinggi baik di kancah nasional maupun di gelanggang internasional. Berbagai event nasional maupun berskala internasional kerap diselenggarakan di Bali. Ketika, Bali kembali diporak-porandakan bom, kita -setidaknya yang memiliki nurani- terhenyak dalam kegamangan tak berujung. Apa yang menjadi obyek sasaran para pelaku yang dijuluki teroris ini? Persaingan dari mata rantai bisnis? Intrik politik mengalihkan pergolakan kenaikan harga BBM yang gila-gilaan? Permainan dari negara luar yang memiliki kepentingan tertentu. Memang ada banyak 'variabel' yang bisa mendukung kecurigaan publik mencari otak pemboman. Tetapi untuk saat ini, tuduhan mengerucut pada sekelompok aliran agama yang radikal dan menggunakan cara-cara kekerasan sebagai jalan menuju realisasi cita-citanya.
"Tuduhan dan kecurigaan massal" yang masih diselidik kepolisian ini memang ditunjang dengan sejumlah variabel. Seperti pemboman Bali I dilakukan kelompok garis keras yang menggunakan aribut agama Islam untuk melegalkan aksi mereka. Kelompok ini menafsirkan doktrin keagamaan secara harafiah dan 'berat sebelah'.
Semakin 'fanatik' seseorang semakin tinggilah derajat sosialnya dalam
kelompoknya. Kelompok ini ada di Indonesia. Pemerintahan Megawati Sukarnoputeri pun sempat dihadang 'kerikil-kerikil kecil nan tajam ini'.
Masyarakat Bali kembali terluka 'kaki pariwisatanya' terantuk kerikil-kerikil tajam ini yaitu teroris. Pemandangan mayat yang bergelimpangan kembali terpampang di Pulau Dewata ini. Sementara pelakunya ikut tewas. Sungguh sebuah pengorbanan yang sulit dicerna akal sehat dan nurani yang bersih. Banggakah teroris membunuh bocah, pasangan suami isteri dan remaja yang sedang makan di pantai Jimbaran ditemani hembusan angin pantai.
Kelemahan para pelaku bom bunuh diri adalah jalan pikiran yang tidak
normal.Mereka adalah manusia gila bukan pembela kebenaran. Alasannya sederhana.
Manusia dikaruniai akal budi sebagai mutiara kehidupan. Dengan akal budinya manusia menimbang-nimbang baik dan buruk perbuatannya. Akal budi pula mendorong manusia mencari asal muasal dirinya, alam semesta dan Sang Pencipta.
Adalah Muhammad Ibn Rushd (nama Latinnya, Averroes, (1126-1198), pemikir Islam yang mempengaruhi dunia barat dengan komentar-komentarnya seputar kebenaran filsafat Aristoteles. Suatu saat, Rushd yang gemar merenung mencari jawaban demi jawaban atas realitas hidup mulai sampai pada pertanyaan tertinggi dalam ranah filosofis. Apa itu kebenaran, di mana sumbernya dan kaidah-kaidah apa yang mendukung eksistensi sebuah kebenaran. Lantas Rushd yang tak pernah puas mulai menggali 'kebenaran ilahi' dalam Alguran. Inilah awal bagi Rushd yang tergoda untuk mengupayakan suatu harmoni antara agama dan filsafat (akal budi).
Menurutnya, agama sejati dan akal budi tertinggi dapat didamaikan. Berkat penyelenggaraan ilahi manusia dapat mengetahui apa yang perlu diketahuinya. Filsafat adalah sahabat puteri dari agama dan saudarinya sesusu. Inilah pernyataan matang Rushd yang kemudian dikenal sebagai teologi populer dengan suatu metode tafsir. Intinya, kebenaran tdak bisa menentang kebenaran.
Allah sebagai penggerak yang tidak digerakkan. Inilah sumbangsih Rushd bagi manusia jaman ini bahwa pencarian kebenaran lewat dogma atau intisari ajaran agama tidak sampai melecehkan akal sehat. Para teroris menyodorkan suatu kebenaran ganda. Demi kebenaran intepretatif yang kedudukannya lebih tinggi dari kebenaran agama yang masih 'abu-abu' dan diselimuti misteri, mereka lantas mengorbankan nyawa. Kalau dalam bidang agama, layakkah demi 'kesucian Allah' kita membantai sesama. Apakah kekudusan Allah bertambah dengan tumbal darah manusia tak berdosa?
Barangkali, kesadaran Petrus Abelardus dalam buku Sic et Non (Ya dan Tidak), 1121, membawa pencerahan bagi generasi muda bangsa ini. "Aku mau mengumpulkan ajaran-ajaran dari para bapa Gereja yang saling bertentangan. Aku juga mau mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk merangsang kaum muda agar berusaha keras menemukan kebenaran. Lewat penyelidikanku, aku mau mempertajam pandangan mereka. Melalui keragu-raguan, kita sampai pada minat penyelidikan; dalam penyelidikan, kita memahami kebenaran, sesuai dengan pesan Sang Kebenaran itu sendiri pada kita.
Menurut Tomas Aquinas (1225-1274), iman dan akal budi tidak mungkin bertentangan karena keduanya berasal dari Allah. Maka baik teologi maupun filsafat akan sampai pada suatu kebenaran hakiki. Hanya metodenya beda. Filasafat mulai dengan benda ciptaan (tentu dalam kawasan yang ilmiah) dan dari situ mencapai Allah. Sedangkan teologi sudah menerima Allah sebagai asal dan fundament kebenaran untuk penyelidikannya atas benda-benda ilmiah. Sayang, di benak para teroris rupanya tak berlaku hukum De Docta Ignorantia (Nicolaus Cusanus), 1440, ketidaktahuan yang diketahui. Semakin terpelajar seseorang, maka ia semakin mengetahui ketidaktahuannya. Dengan kesadaran inilah, Nicolaus Cusanus mau berusaha keras untuk menulis beberapa hal tentang ketidaktahuan yang diketahui itu. (Beny Uleander/KPO EDISI 91)
Read More

Rabu, Oktober 05, 2005

Beny Uleander

Serpihan Ledakan Bom Bersimpuh Di Kaki Penjor

Hari Raya Galungan tiba. Penjor-penjor berdiri berbaris rapi di halaman depan setiap rumah di Bali dalam lengkungan keindahan. Sepanjang Jl Legian Kuta hingga Denpasar menjelang Hari Raya Galungan, Selasa sore (4/10), warga sibuk menggali lubang dan mendandani penjor –bambu melengkung yang dihiasi janur dan bunga- ditanam di halaman depan rumah. Penjor adalah simbol kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan) yang diperingati lewat Galungan.

Keagungan penjor kali ini seakan menyeret manusia penghuni Pulau Bali masuk dalam benteng-benteng perlindungan tak kelihatan. Benteng yang menjaga manusia Bali dari amukan badai bom Bali II yang memporak-porandakan Jimbaran dan Kuta Square, pekan lalu. Juga benteng yang memberi ketenangan batin bahwa kebaikan adalah jiwa kehidupan yang tak mungkin binasa oleh aksi kebiadaban. Serpihan pecahan bom di Sea Food Centre Jimbaran dan Kuata Square bersimpuh di kaki penjor. Itulah dandanan eksotik Pulau Surga ini.

Warga Kuta yang tinggal di jantung pariwisata Bali dengan wajah sukacita menghiasi penjor. Beberapa remaja terlihat bercengkrama akrab menggali lubang. Selain rumah warga, toko-toko, restoran, pub, bar dan warung-warung kecil pun memasang penjor di halaman depannya. Sementara di kawasan Kuta Square beberapa polisi masih berjaga-jaga di lokasi pemboman yang porak-poranda dan sudah diisolasi untuk kepentingan penyelidikan polisi. Sebuah pemandangan yang kontras tetapi memberi peneguhan bahwa kejahatan selalu terjadi di atas muka bumi tetapi kehidupan senantiasa diperkaya dengan kegembiraan, ketenangan, kesabaran dan kedamaian.

Manusia Bali tetap bersolek dalam balutan kecantikan spiritual dalam menyambut Galungan. Sehingga pada Senin (3/10), warga desa Jimbaran beramai-ramai mengadakan upacara penyucian ‘Pamrastitha Sayud Dur Mangala’ di Pantai Muaya, Jimbaran. Prosesi dan ritual penyucian ini untuk mempersiapkan desa secara ‘sekala’ dan ‘niskala’ –jasmani dan rohani—memasuki rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan, yang jatuh pada 15 Oktober depan.

Pada Galungan, Rabu (5/10), sejak pagi pukul 07.00 Wita, warga Kota Denpasar dan Badung melakukan persembahyangan di pura-pura Kahyangan Tiga di banjarnya masing-masing. Sebagian kemudian bersembahyang di Pura Jagatnatha, pura terbesar di Kota Denpasar –setelah rampung menghaturkan sesaji di rumah dan tempat kerja masing-masing. Kaum perempuan berdandan kebaya membawa canangsari, banten berisi bunga dan buah-buahan aneka rupa. Sedangkan kaum lelaki mengenakan destar putih, kemeja putih dan berkain saput putih kuning. Di dalam pura, dua orang ‘pedanda’ –pemimpin keagamaan- perempuan berusia renta memimpin jalannya upacara. Denting genta dari tangan para pedanda memecah keheningan pagi. Untaian doa dalam semangat Galungan membawa harapan pulau ini dibersihkan dari aura kejahatan yang ditebar para teroris.

Usai bersembahyang, warga Hindu melepas lelah, duduk-duduk di lapangan Puputan, tepat di depan pura. Sebagian memesan makanan dari pedagang bakso, sate ayam, dan jajan lain yang sudah memenuhi pelataran pura sejak upacara dimulai.

Perayaan Galungan diperingati setiap tahun dalam kalendar Bali atau tepatnya setiap enam bulan dalam tahun masehi bersamaan dengan hari pertama bulan Ramadhan. Warga Bali yang muslim sejak Selasa malam sudah ramai melakukan sholat tarawih di masjid-masjid yang bertebaran di Denpasar. Terbentang pemandangan indah soal toleransi beragama yang begitu kuat tumbuh mengakar di dada manusia Bali. Waktu Nyepi yang jatuh pada hari Jumat lalu, warga muslim diizinkan keluar bersembahyang di masjid. Padahal semua aktivitas dibekukan pada Hari Nyepi. (Beny Uleander/KPO EDISI 91/Oktober 2005)

Read More

Jumat, Juli 30, 2004

Beny Uleander

Sebarkan Senyum, Pelaku Kekerasan Luluh

Wawancara Prabu Darmayasa
Kapan dan bagaimana perilaku kekerasan itu tumbuh dan terus berkembang biak dari satu generasi ke generasi berikutnya amat sulit ditentukan dan dijelaskan. Yang pasti tindak kekerasan itu setua kehadiran manusia di muka bumi ini. Perilaku kekerasan adalah buah kelakuan manusia yang tak terkontrol, merugikan sesama, kejam, beringas dan sesuai dengan kiat Machiaveli yakni homo homini lupus; manusia menjadi serigala bagi sesamanya.
Di samping itu, untuk memahami tumbuh-kembangnya perilaku kekerasan itu, kita tak bisa meneropongnya dari satu aspek saja seperti pengaruh lingkungan sosial atau pendidikan karena ada multi aspek yang mendukung terciptanya kekerasan itu sendiri. Umumnya, masyarakat cenderung mengutuki individu yang melakukan kekerasan seperti penganiayaan, penyiksaan, pemerkosaan dan yang paling sadis berakhir dengan pembunuhan. Pelaku kekerasan sulit diterima kembali sebagai sesama manusia dalam lingkungan sosial setelah menjalani masa hukumannya akibat perasaan traumatik yang terlanjur tumbuh di benak masyarakat apalagi korban dan saksi mata.
Trend sosial ‘memenjarakan pelaku kekerasan’ dari pergaulan bersama dinilai oleh spiritualis Prabu Darmayasa sebagai sikap batin yang keliru dan fatal. Alasannya, kekerasan itu adalah masalah bersama bukan masalah individu. Kemudian, salah satu faktor penyebabnya adalah getaran negatif yang ada dalam udara. Siapa saja yang tak mampu menyaring getaran negatif tersebut akan terjerumus dalam perilaku kejahatan, kebrutalan dan iri hati yang merupakan wajah kekerasan itu sendiri. Prabu Darmayasa yang bertahun-tahun berguru pada yogi kenamaan India, Shri Kamal Kishore Goswami Ji Maharaj (63) membeberkan tindakan apa saja yang perlu dilakukan sebagai langkah antisipatif. Berikut petikan tanya ikutilah wawancara berikut ini.

Perilaku kekerasan belakangan ini kian meningkat seperti perampokan dan aksi teror yang menimbulkan ketakutan bagi masyarakat. Apa yang menjadi latar belakang merebaknya fenomena kekerasan di Indonesia?

Kekerasan bisa menimpa siapa saja. Ada banyak faktor penyebab kekerasan. Pertama, pengaruh lingkungan dan keluarga. Kekerasan yang dilakukan orangtua cenderung diikuti anak-anaknya. Kedua, pengaruh pendidikan yang hanya menitikberatkan pada otak tetapi lupa penanaman budi pekerti, maka pendidikan itu akan gagal. Ketiga, adanya getaran-getaran tidak baik berasal dari kekuatan jahat yang berkeliaran di sekitar kita. Siapa saja yang bepergian ke mana saja kalau tidak ada persiapan diri terlebih dahulu akan mudah dipengaruhi dan dirasuki berbagai getaran negatif tersebut.

Dari mana berbagai getaran negatif itu muncul?

Sebenarnya getaran-getaran kurang bagus itu berasal dari kekuatan negatif yang ada di sekitar kita. Perlu diketahui, kekuatan buruk itu ada tingkatannya. Kekuatan itu masuk lewat kepala dan mempengaruhi kelakuan seseorang. Yang paling berbahaya adalah kekuatan buruk yang langsung menjadikan seseorang ahli dalam mengadu-domba sesama. Hanya orang-orang bijak yang memiliki pandangan batin bisa melihatnya dengan jelas.

Langkah apa yang perlu dilakukan untuk melawan kecenderungan aksi bergaya premanis itu?

Menurut saya, salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi kekuatan-kekuatan buruk adalah lewat meditasi. Sayangnya, ada orang yang batinnya lemah dan membiarkan dirinya dikuasi kekuatan jahat. Memang, pada mulanya berbagai kekuatan jahat nampaknya bersifat positif sehingga orang menyangka berguna untuk hidupnya. Namun ia terkecoh karena kekuatan itu secara perlahan membuatnya menjadi sombong. Ia mulai berpikir, akulah yang terkuat dan terhebat. Padahal, sebenarnya mereka orang yang rendah dan tak beriman.

Sejauh mana korelasi meditasi dan cinta kasih?

Meditasi jalan menumbuhkan dan mempertajam cinta kasih. Dalam ajaran yoga disebut yogos artinya tinggallah di dalam yoga itu sendiri. Dia tidak akan tersentuh oleh rasa iri dan nafsu yang membuat dirinya terjatuh dalam kekerasan. Ia mampu melihat kebaikan orang tanpa membeda-bedakan suku dan agama. Ia melihat sesamanya sebagai insan ciptaan Tuhan. Orang yang sudah tetap di dalam yoga akan memiliki cinta kasih. Ia berusaha menyempurnakan dirinya sendiri karena menyadari dirinyalah persembahan utuh bagi sesama. Dirinya adalah barang yang diberikan kepada orang lain.

Mampukah meditasi bisa merubah seseorang yang berprilaku brutal?

Ya. Karena itulah saya ada rencana untuk mengajarkan teknik meditasi yang benar dan tepat kepada orang-orang yang meringkuk di penjara. Sudah ada orang yang mengajak saya untuk membimbing para nara pidana agar dapat menemukan jati dirinya kembali.

Apakah ajakan itu karena ia melihat figur Anda sebagai tokoh spiritual yang memiliki kemampuan lebih untuk mengubah perilaku buruk seseorang?

Saya harus menekankan di sini bahwa saya bukan figur utama. Perlu digarisbawahi bahwa Tuhan adalah figur utama yang memberikan power (kekuatan –Red) bagi kita. Dalam peristiwa ini saya menggunakan power Tuhan. Tanpa power Tuhan tidak mungkin kita bisa membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dalam power Tuhan tidak ada hal yang mustahil. Segala sesuatu itu mungkin bagi Tuhan. Saya punya pengalaman di London, Inggris. Pernah ada seorang menderita lumpuh namun kemudian saya bantu lewat meditasi, akhirnya seminggu kemudian sembuh. Saya tetap berpendapat yang berperan di sini adalah kuasa, kehendak dan cinta kasih Tuhan. Saya hanya perantara. Memang saya diberi banyak gelar tetapi semuanya itu tidak saya pakai. Saya lebih senang dipanggil Pak Darmayasa saja. Yang lebih penting di sini adalah kalau orang mau ikut meditasi. Karena lewat meditasi, orang dibimbing dan diarahkan untuk bertemu Tuhan.

Banyak orang mengetahui tentang pentingnya meditasi, tetapi malas menerapkannya. Apakah ada kiat khusus?

Cara efektif membangkitkan minat meditasi yakni harus ada orang yang mengkoordinir mereka untuk melakukan meditasi bersama. Dengan adanya koordinir tersebut, orang terpaksa mau ikut. Nah, dari kebersamaan itu muncul tambahan semangat dan perlahan-lahan rasa malas itu terusir. Pada umumnya kita semua malas sebab kita sendiri memiliki kekuatan yang kecil tetapi kalau kita bersama-sama melakukan meditasi maka ada kekuatan lebih yang kita miliki. Hal inilah yang perlu kita kembangkan. Ingat, bersatu kita teguh. Demikian juga dalam kehidupan bernegara. Kalau kita cuma memikirkan kelompok sendiri maka saat itu kita akan gagal. Sebaliknya kalau kita memikirkan kebersamaan bahwa kita berasal dari berbagai suku, etnis, golongan, kebudayaan dan agama maka akan timbul perasaan persatuan. Sebaliknya kalau kita menonjolkan perbedaan maka akan timbul perpecahan.

Apakah kegiatan meditasi efektif menyatukan orang yang berbeda suku, budaya dan agama?

Untuk memupuk persatuan, saya kira kita harus memantapkan dulu diri sendiri. Kalau diri kita sudah mantap dan matang maka kita tidak mudah iri atau berlaku tamak melihat kelebihan orang lain. Juga kita tidak menjadi sombong ketika memiliki keunggulan tertentu. Intinya, kita perlu memperkuat uniti lewat dan melalui meditasi sesudah itu kita membangun unitas atau persatuan. Tanpa uniti tidak ada unitas. Dalam meditasi, seseorang mau masuk ke dalam dirinya dan belajar mengenal dirinya sendiri. Ia akan insaf ketika menyadari berbagai kelemahan dirinya. Hasilnya, ia akan menjadi tenang, penuh kedamaian dan diselimuti kasih. Seseorang yang makin maju dalam meditasi akan lebih melihat kebaikan yang ada dalam diri orang lain. Sebaliknya, orang yang belum matang dalam meditasi cenderung membanggakan kehebatan dirinya.

Bisakah meditasi meluluhkan hati orang yang keras dan brutal?

Kuncinya adalah cinta kasih. Cinta kasih itu diperoleh lewat dan dalam meditasi. Sebarlah cinta kasih maka hati orang sekeras apapun akan luluh dengan sendirinya. Saya punya dua pengalaman konkrit. Suatu ketika di India, saya menabrak mobil orang yang berhenti mendadak. Pemilik mobil itu berbadan besar dan galak. Ia mendatangi saya dengan wajah beringas. Saya cuma senyum. Eh dia juga akhirnya tersenyum. Juga pernah mobil saya dilewati sebuah sedan yang berkecepatan tinggi. Kaca spionnya kena badan mobil saya dan langsung pecah. Pemilik mobil itu mendatangi saya dengan penuh amarah. Saya menyodorkan tangan berkenalan dan mengajaknya pesiar ke Bali. Ternyata orang itu perpangkat Laksamana Madya. Akhirnya kami berteman akrab hingga sekarang. Itulah contoh nyata, kapan kita harus menyebarkan kasih dan memberikan senyum persahabatan. Orang tidak akan galak terhadap kita.

Ada preman yang bertobat setelah ikut meditasi yang dipelopori sebuah kelompok spiritual tetapi wajah para preman tidak menunjukan kegembiraan. Sebenarnya peristiwa apa yang terjadi dalam hal ini?

Saya kira ada dua hal. Pertama, para preman itu tidak sungguh-sungguh berbalik dari kehidupan gelap mereka. Mereka sedang ada problem yang belum terselesaikan. Memang minat spiritualnya sudah dibangkitkan tetapi mereka belum menemukan cara untuk menyelesaikan problem praktis sedangkan mereka sudah ingin maju dalam jalan spiritualnya.
Kedua, ada kelompok meditasi gadungan. Ada roh-roh biasa yang semula dikira roh baik lalu disembah dan diikuti. Contohnya, ada orang diberi keris, batu permata dan kekuatan untuk mengobati orang lain. Orang yang kurang berhati-hati lantas berpikir kehebatannya itu berasal dari Tuhan. Padahal pemberian itu menyesatkan orang tersebut. Tuhan itu tidak semurah itu.

Adakah ciri-ciri lahiriahnya?

Ya, yang paling mudah bagi kita untuk menerkanya adalah melihat cara hidupnya, bagaimana tutur katanya, pergaulannya, pemikirannya dan apa makanannya. Kita tak bisa ditipu. Cara lain adalah lewat foto aura. Banyak paranormal sekarang ini yang menolak difoto auranya. Karena mereka takut pantatnya (kedoknya –Red) terlihat. Sebab dalam foto aura, kita akan melihat dengan jelas seseorang yang masih dinaungi keinginan duniawi diliputi sinar merah menyala karena komplikasi keinginan. Mereka itu belum mengerti apa itu dunia spiritual sehingga terperangkap menjadi tuhan kecil, seperti kebal, bisa makan beling dan sebagainya. Mereka melihat dirinya sebagai pusat dan lupa bahwa tujuan utama spiritual adalah ketenangan di dalam Tuhan. Kita harus menyeberangi kekuatan-kekuatan tersebut kalau mau sampai kepada Tuhan.

Bagaimana cara orang membebaskan diri dari ikatan roh jahat?

Orang harus mendekatkan dirinya pada Tuhan. Orang yang sudah mencapai tingkatan tertinggi dalam yogi bisa mengalahkan roh-roh jahat itu dalam tingkatan mana saja, termasuk yang halus sekalipun. Ada juga pemutusan ikatan lewat teknik adat setempat. Kalau roh-roh itu di Jawa kita menggunakan teknik adat Jawa. Kalau di Bali kita melakukan lewat bebantenan, upakara, dan simbol-simbol Bali seperti rerajahan. (Beny Uleander/KPO EDISI 63/MINGGU I AGUSTUS 2004)

Biodata:
Nama : Prabu Made Darmayasa
TTL : Ubud, Gianyar, 10 Oktober 1959
Isteri : Luh Sarvini
Anak : Hari Darmabusana
Veda Darmabusana
Giriraja Darmabusana
Darmayasasaswini
Alamat : KBRI New Delhi, India
Pendidikan : S1 Sansekerta di Delhi University
Jabatan : Pendiri dan Presiden Divine Love Society 2000-sekarang.
Read More