Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juni 03, 2008

Beny Uleander

Suara Nurani JB Mangunwijaya

Masyarakat dunia terkejut campur heboh. Tepatnya, Jumat (30/5), ekspedisi organisasi Survival International yang mendukung suku-suku pedalaman di seluruh dunia, mengambil gambar Suku Indian langka yang dikira sudah punah di pedalaman Hutan Amazon perbatasan Brasil dan Peru. Foto mereka tertangkap dari pesawat udara sedang mengarahkan busur dan panah ke arah pesawat.
Apa hikmah penemuan menggemparkan tersebut bagi bangsa Indonesia? Di tengah sergapan peradaban modern, kita lupa bahwa gaya hidup materialistik demi perut dengan mengekploitasi alam membuat kehidupan penduduk asli di tanah Papua kian terpinggirkan dan tergusur. Sebagian suku ada yang punah sementara hasil alamnya dijarah habis-habisan. Di Sumatra, habitat hidup suku anak dalam yang hidup bersatu dengan alam pun mulai terusik akibat revolusi hutan jadi perkebunan kelapa sawit.
Penggalan kegusaran kembali melukai rasa bangga sebagai orang Indonesia. Pada tahun 2007 lalu, Candi Borobudur tergusur dari penilaian masyarakat internasional sebagai 7 keajaiban dunia. Kembali tahun ini, dalam pemilihan 7 Keajaiban Alam yang dilakukan secara online di situs http://www.new7wonders.com/, tiga tempat wisata nominator Indonesia: Gunung Krakatau (Banten), Danau Toba (Sumatera Utara,) dan Taman Nasional Komodo (NTT) masuk nomor buncit.
Dalam survei The New7Wonders Foundation tersebut, Taman Nasional Komodo mendapat urutan nomor 36, Gunung Krakatau urutan 70, dan Danau Toba urutan 71. Posisi ketiga tempat wisata Indonesia ini masih jauh di bawah tempat-tempat wisata di Asia. Saat ini 7 Keajaiban Dunia yang baru adalah The Great Wall of China, Petra, Chichen Itza , the Statue of Christ Redeemer, the Colosseum, Machu Picchu and Taj Mahal.
Minimnya suara pemilihan destinasi wisata dunia ini tidak lepas dari ketidakpekaan Departemen Pariwisata Indonesia untuk menggalang dukungan lokal dan internasional lewat kampanye dan sosialisasi. Padahal destinasi wisata yang masuk 7 keajaiban dunia dengan sendirinya akan menyedot perhatian dan kunjungan masyarakat dunia.
Mosaik fakta ketertinggalan dan kerapuhan pembangunan menandai peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Pada era Budi Utomo, semangat kebangkitan dipicu oleh gairah melawan satu musuh yaitu penjajahan kolonial Belanda. Dari satu muara perlawanan itu mengalir rasa kebangsaan, persatuan dan pengorbanan materi maupun nyawa.
Pertanyaan penuh gugatan kritis dilontarkan saat bangsa ini merindu-kenang kebangkitan nasional di era reformasi ini. Siapakah musuh bersama bangsa ini? Merumuskan dan mengidentifikasi musuh bersama amat penting. Sebab energi bangsa ini akan terhimpun untuk melumpuhkan musuh yang satu dan sama.
Menilik situasi sosial Indonesia, kita melihat bahwa wajah kemiskinan terbentang dari Sabang sampai Merauke. Warisan kekayaan sumber daya alam tinggal kebanggaan semu. Negara yang sempat dijuluki macan Asia itu sudah menjadi macan ompong, dalam iklan layanan masyarakat HKTI oleh Prabowo Subianto, ada benarnya.
Krisis ekonomi yang kembali mencekik bangsa ini bisa dilihat sebagai “padang gurun” refleksi bahwa ada yang keliru dengan strategi pembangunan di negeri ini. Kemelaratan hidup adalah akibat ketidakcerdasan mengelola potensi dan peluang. Ada arah pembangunan yang salah dan perlu segera diperbaiki. Menurut bahasa mantan Presiden BJ Habibie, pembangunan Indonesia yang macet ini perlu “direstart” meminjam istilah sistem kerja mesin komputasi.
Perombakan paradigma untuk membangun Indonesia baru dalam perspektif sederhana dimulai dengan menata hati nurani. Politik hati nurani yang dulu gencar disuarakan budayawan (alm) Jusuf Bilyatar Mangunwijaya pada tahun 1995 seperti hilang ditelan pertikaian agama, konflik antar etnis dan gontok-gontokan antar partai politik. Hati nurani adalah pelita yang bercahaya dalam jiwa. Menerangi lorong-lorong kehidupan. Suara yang menuntun ziarah langkah kita. Tekad yang membenihkan harapan di tengah himpitan kehidupan. Percikan keluhuran manusia yang tak bisa ditukar dengan uang. Hidup akan berakhir dan raga menuju kebinasaan, tetapi hati nurani tetap hidup di segala zaman. Saatnya kita merasakan sentuhan jari jemari nurani untuk merasakan detak jantung bangsa ini.
Hati nurani yang bening bisa melihat dengan jelas sumber masalah di negeri ini. Pendidikan bergaya kapitalis harus ditinggalkan agar semua anak Indonesia dapat menempuh pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi. Pemberantasan korupsi tidak sekedar tebang pilih sehingga keadilan hukum menjadi roh di negeri ini. Uang negara pun akhirnya efektif untuk pengembangan fasilitas layanan sosial dan prasarana fisik lainnya.
Hati nurani yang jernih memberi visi baru: kebangkitan pasar dengan menajamkan daya saing (pendidikan untuk kecerdasan rakyat bukan untuk mempertebal kantong), merangsang investasi asing dengan persyaratan ketat merekrut dan memperdayakan SDM pribumi, menajamkan filosofi Pancasila sebagai identitas bangsa yang plural dan bermartabat. Akhirnya modal dasar kekayaan SDA dan tenaga kerja tidak lagi menjadi kutukan karena hati nurani yang berbicara. (Beny Uleander/KPO EDISI 153/JUNI 2008)


Read More

Selasa, April 15, 2008

Beny Uleander

Revolusi Hasrat

Kita menjejak kaki di sebuah jaman yang penuh ketakmengertian dengan rombongan manusia yang menapak pasti ruang-ruang kegilaan. Demikian teropong kegelisahan para pengamat postmodernisme yang berupaya meretas batas-batas kesadaran baru. Kultur sosial yang serba anyar terbangun cepat. Gaya hidup yang semula asing begitu mudah diserap golongan muda yang paling dinamis. Dan, jejak langkah perangkat digital terutama televisi menjadi matahari yang berputar mengeliling tata peradaban baru. Serta merta, terciptalah generasi bermental instan yang terperangkap dalam kerapuhan hedonistik dan terpasung mental konsumtif.
Ketika televisi ditemukan sebagai kotak ajaib, manusia kian sadar bahwa masih banyak kejutan potensial dalam rahasia semesta yang belum terungkap. Alam masih menyimpan berbagai penemuan untuk masa depan, tinggal manusia yang berupaya keras mendalami ilmu pengetahuan dan merakit teknologi untuk mendapatkannya. Kini, televisi telah menjadi industri hiburan dan informasi yang menyerap angkatan kerja yang amat besar.
Di ranah media massa pun telah terjadi pergeseran. Era media cetak memasuki fase buram. Masyarakat digital lebih suka menikmati berita daripada membaca berita. Gambar yang bergerak jauh lebih menyapa daripada gambar mati –hitam putih.
Masyarakat juga lebih merasa terbangun empati dan simpati dengan musibah tokoh publik yang disiarkan di televisi. Pemirsa melihat langsung air mata dan tangis sedih selebritis pujaannya. Sekelebat, televisi menjadi jembatan temu kangen dan tali kasih yang efektif tanpa komunitas face to face. Lantas demam publisitas pun dikemas dalam berbagai audisi yang menawarkan glamoritas hidup menjadi bintang selebritis dadakan. Tidak sedikit remaja muda yang terjerat rayuan dan sihir ingin menjadi artis instan. Gairah kompetisi lewat polling SMS terbukti cuma kedok bisnis perjudian terselubung. Banyak di antara mereka menjadi bintang lalu menjadi buntung. Jatuh miskin dan hidup terlunta-lunta di ibu kota Jakarta.
Publisitas televisi direfleksikan sebagai kejahatan terkini “dunia baru” bagi tegaknya nilai-nilai humaniora. Dalam lorong-lorong penalaran yang merdeka, industri televisi saat ini berarak menuju gerakan pembebasan diri –khususnya “pembebasan hasrat”- dari berbagai kungkungan keluarga, masyarakat, negara. Bahkan agama dianggap menghalangi “kebebasan total” manusia. Itulah “revolusi hasrat” yang menggiring generasi tua muda menapak tangga-tangga pembebasan hasrat, sebagaimana dikatakan Felix Guattari, berarti “…menghancurkan segala bentuk penekanan dan setiap model normalitas (normality) yang ada di dalam masyarakat.” Dan, tanpa kita sadari program-program acara yang ditayangkan di televisi menghipnotis penonton untuk melawan realitas-realitas terberi. Contohnya, sinetron remaja didesain apik menonjolkan kemewahan dan kekayaan. Dunia kampus yang seharusnya menjadi laboratorium penelitian ilmiah menjadi laboratorium cinta eros dan narsisme. Virus-virus false love -cinta yang memberi dampak negatif dalam hidup seseorang- seperti jadi penipu demi cinta, seks karena cinta, putus sekolah karena cinta dianggap sebuah sikap satria. Padahal jenis cinta ini (false love) selalu berakhir dengan kehancuran. Ada juga pemuda yang mengagungkan captive love, yaitu cinta yang membelenggu seseorang, sehingga tidak ada hal lain yang dipikirkan dan dikerjakan kecuali cinta. Akhirnya bagi pemuda digital membagi cinta adalah sebuah seni mengantar kekasih ke lembah kekecewaan. Toh jatuh cinta adalah sebuah petualangan untuk mencari cinta sejati.
Itulah aksi-aksi kriminal kebudayaan yang secara langsung menyuntik kultur baru bagi generasi muda. Tak heran bila etos kerja keras disertai keuletan dianggap sebagai “kebudayaan kolot” masa lalu. Padahal bagi bangsa Jepang dan Cina, kerja keras dengan pikiran fokus penuh dedikasi adalah kunci peradaban super modern. Jangan heran bila perilaku korupsi susah diberangus di Indonesia karena budaya kerja keras telah luntur.
Dalam perspektif teologis, manusia adalah tuan atas ciptaan. Ia diberi kekuasaan untuk menggunakan “ciptaan” (termasuk televisi) untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Tapi di jaman komputerisasi ini, ciptaan-ciptaan (produksi) sosial adalah semata produksi hasrat itu sendiri. Itulah sebabnya, setiap industri televisi secara piawai mengeksplorasi dan mengeksploitasi hasrat demi hasrat terpendam dalam diri manusia dalam rupa-rupa program tayangan. Ditambah lagi dengan iklim kompetisi pertelivisian yang “saling sikat” merebut rating dan kue iklan, membutakan mata “tim kreatif”. Mereka kadang membiarkan berbagai ketidakpantasan terpampang di layar kaca demi rating. Dan, tentu saja memuaskan hasrat pemirsa. Siapa yang salah? Benarkah hidup kita mengalir mengikuti energinya sendiri? Hidup kita dikondisikan di dalam keadaan “keseketikaan” dan “kesesaatan” (temporality) yang terus-menerus, menurut Yasraf Amir Piliang, tanpa ada konsistensi menuju tujuan yang pasti, misalnya “apa kehendak” Tuhan. Semoga kiprah televisi swasta lokal kian arif menghindarkan diri dari pusaran hasrat televisi swasta nasional yang terlanjur mengorbit dalam lintasan kapitalistik-hedonistik. (Beny Uleander/KPO EDISI 150/APRIL 2008)
Read More

Rabu, Desember 05, 2007

Beny Uleander

Akselerasi Kesadaran Sosial

Sekeping mimpi tentang negeri impian menaungi George Washington menyatukan Amerika Utara dan Selatan untuk hidup rukun berdampingan. Visi tentang modal sosial sebagai sumber kecerdasan menata organisasi kenegaraan dan kebangsaan menggelitik naluri renung Soekarno merajut falsafah bangsa ini: Pancasila. Kesadaran bahwa perut rakyat yang lapar tidak bisa menapak tangga-tangga gereja memicu Hugo Chavez Presiden Venezuela itu menganak-emaskan pendidikan. Kemandirian di bidang ekonomi tercapai bila rakyat cerdas. Bagaikan matahari yang terbit di ufuk timur, itulah simbol harapan setiap penghuni bumi bahwa kehidupan adalah rahmat. Tanah dan kekayaan alam adalah karunia kehidupan. Tinggal bagaimana manusia (pemerintah) dan negara (organisasi) mengolah dan mengoptimalkan potensi negerinya demi kesejahteraan hidup warganya.
Jejak cerita abad 14-18 adalah koleksi kisah penemuan demi penemuan pusat-pusat peradaban di berbagai belahan dunia. Manusia Eropa saat itu adalah manusia yang memandang kekayaan alam sebagai pilar-pilar pembangunan tata masyarakat Mesir, Babilonia, Mesopotamia, Inca, Astek, Yunani, Romawi-Bizantium-Konstantinopel hingga Shindu di Asia Tengah. Karena itu sejarah penemuan “dunia baru” sekaligus menjadi mosaik tragedi perampokan dan penjarahan harta karun. Hasrat untuk menguasai dan menjajah tidak lain adalah ekspresi kemiskinan negeri Barat. Kerajaan Spanyol dan Portugis berkompetisi mengisi lumbung-lumbung istana dengan emas dan rempah-rempah terbaik dari Asia. Belanda surplus gulden usai memanen program tanam paksa yang menyebabkan warga pribumi Hindia Belanda (Indonesia) dilanda kelaparan hebat. Itulah sepenggal contoh dan kajian kiblat historis bahwa sumber daya alam saat itu masih dilihat sebagai sumber keunggulan sebuah negara.
Lalu di awal abad 19, perlahan-lahan lahir sebuah kesadaran bahwa hidup bisa dipermudah dengan teknologi. Lantas akselerasi ilmu pengetahuan melahirkan masyarakat industri, lalu menurunkan masyarakat informasi dan kini hadir “cucu sosial” masyarakat digital. Dalam hal ini kita harus acung jempol sekali lagi buat bangsa Barat. Setelah puas menikmati kekayaan negeri jajahan, mereka terpental oleh gerakan kemerdekaan dan separatis atas dasar nasionalisme. Apa upaya mereka? Mereka kembali ke negerinya yang minim sumber daya alam, tapi mulai mengembangkan dengan tekun sumber daya manusia. Luar biasa. Penemuan demi penemuan meramaikan jagat teknologi. Jerman, misalnya, tidak memiliki laut tapi menjadi pengekspor ikan terbesar di dunia. Kakek buyut Oliver Kahn bukan pelaut, namun kapal laut buatan mereka disebut terbaik di dunia.
Kilasan fakta di atas menjadi kerangka validitas di abad 21. Buktinya, orang terkaya di dunia versi Forbes 2007 adalah pendiri Microsoft Corp Bill Gates –dengan harta sekitar 59 miliar dollar AS (sekitar 560 triliun). Lalu di urutan 4 ada Larry Ellison, perintis dan CEO Oracle dengan kekayaan 26 miliar dollar AS. Sergey Brin dan Larry Page, dua pendiri perusahaan Google Inc berada di urutan 5. Kekayaan mereka sejak tahun 2004 mencapai 18,5 miliar dollar AS. Nilai kekayaan mereka jauh melampaui kekayaan sumber daya alam negara-negara dunia ketiga. Kajian ini mempertegas paradigma baru bahwa penguasaan ilmu pengetahuan adalah sumber utama kelangsungan hidup sebuah negara. Percuma suatu bangsa seperti Indonesia yang kaya sumber daya alam tapi warganya miskin. Karena penduduknya tidak kompetitif mengembangkan keahlian untuk mengelola potensi alam negerinya. Ditambah lagi kenyataan pahit bahwa pendidikan masih menjadi anak tiri di Bumi Pertiwi. Kita ibarat induk ayam yang mati kelaparan di atas tumpukan jerami.
Bercermin pada situasi sosial di atas, kita hendaknya progresif memproklamirkan Indonesia sebagai negeri impian. Sebuah negeri yang menjanjikan kenyamanan hidup, kesejahteraan sosial dan perlindungan negara terhadap hak-hak dasar manusia. Optimisme baru ini bisa tumbuh bila orang Indonesia mulai berpikir. Bisakah orang Indonesia berpikir? Ini adalah sebuah pertanyaan yang menohok harga diri dan mengejek kualitas intelektual manusia Indonesia. Sebab, sebagai bangsa kita memiliki identitas diri atau jati diri dan ideologi atau falsafah hidup.
Menurut Kishore Mahbubani (2005), bangsa-bangsa yang menyadari kelemahannya, bisa jadi justru bisa bangkit dan mencapai derajat kesuksesan seperti bangsa Barat. Jepang, Cina dan India adalah negara yang sudah mengadopsi “pola pikir” negara maju bahwa penguasaan teknologi adalah hal mutlak dalam kompetisi global. Menurut dugaan sejumlah ahli, pada tahun 2020 Cina akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Saat ini saja tingkat pertumbuhan per kapitanya sudah sangat tinggi, mencapai rata-rata 5,5% per tahun dibandingkan pencapaian negara-negara OECD yang hanya 2,5%. Terlebih lagi Cina mampu mencapai tahap berkembang hanya dalam tempo 10 tahun, dibandingkan dengan bangsa Inggris, 58 tahun, AS 47 tahun, dan 33 tahun bagi Jepang. Sungguh sebuah keajaiban.
Beberapa dekade lalu, Indonesia tampil sebagai macan Asia Tenggara yang diperhitungkan dunia internasional. Tapi sekarang tingkat pertumbuhan ekonomi kita kalah jauh dan beda tingkat dengan Malaysia, negara pulau kecil Singapura –seperti Pulau Flores-NTT, bahkan pertumbuhan ekonomi Vietnam mulai meninggalkan Indonesia. Padahal kita punya kekayaan dan cadangan sumber daya alam yang melimpah.
Karena itu, masyarakat dan pers harus terus ‘menekan’ pemerintah agar sungguh-sungguh memperhatikan subsidi sektor pendidikan yang amburadul. Biaya sekolah amat mahal dan jadi milik anak orang mampu. (Beny Uleander/KPO EDISI 137)
Read More
Beny Uleander

Namaku Cassandra

Hari itu, Selasa sore (10/7) 2007, sebuah kebanggaan yang sudah lama pudar kembali bercahaya di langit-langit Kota Jakarta. Gairah nasionalisme tumpah ruah dari Stadion Gelora Bung Karno mengalir sampai pelosok-pelosok desa. Pekik gempita 70.000 suporter membahana pada menit 64 saat Bambang Pamungkas menjadi pahlawan penentu kemenangan tim Merah Putih atas Bahrain. Kemenangan 2-1 memang fantastis dan istimewa. Semua orang mafhum, kualitas sepak bola tanah air kita masih di bawah standar dan miskin pengalaman internasional.
Sukses memetik 3 poin, menyalakan optimisme yang sudah lama padam. Ternyata kita dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Selama ini, mental sebagian besar anak bangsa terjebak dalam rasa minder akut. Tenaga kita adalah mesin-mesin manual di perkebunan-perkebunan kelapa sawit Malaysia. Ibu-ibu kita adalah jongos-jongos lugu di Jazirah Arab.
Budayawan YB Mangunwijaya rajin memprodusir makna kebangkitan generasi baru. Ia tidak mau masuk dalam kerangkeng pesimistik bahwa bahwa orang Indonesia ditakdirkan menjadi manusia kelas dua dalam persaingan global. Mangunwijya berupaya menatap jauh akar-akar jiwa minder yang tersemai di rahim putra-putri Pertiwi. Ia melihat kultur penjajahan Belanda yang feodalistik dan monopolistik telah menjadi roh gerak pertumbuhan bangsa ini. Meski penjajahan telah berakhir secara fisik, namun insting dan nafsu menaklukkan plus birahi eksploitasi masih bersemayam subur di hati anak-anak inlander. Apa jadinya? Rakyat miskin papa kembali menjadi tungganan elite borjuis modern. Pelayanan birokrasi menjadi sistem yang menindas kreatifitas dan inisiatif masyarakat dalam menapak hidup mandiri. Wajar bila aturan biroktratis banyak yang tidak bermuara pada pemberdayaan masyarakat, apalagi menjurus ke terminal kesejahteraan rakyat (bonum commune).
Jurnalis Mochtar Lubis pernah dilanda suatu kerinduan mahadahsyat untuk melihat wajah anak Nusantara era Majapahit dan Sriwijaya yang telah lenyap dalam arus peradaban. “Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas. Siapakah itu orang atau manusia Indonesia? Apa dia memang ada? Di mana dia? Seperti apa gerangan tampangnya?” Itulah pelbagai pertanyaan-pembuka yang dilontarkan oleh budayawan-wartawan senior Mochtar Lubis dalam ceramah yang sempat menimbulkan kontroversi seru di kalangan masyarakat kita. Beberapa nama menanggapi ceramahnya tersebut, seperti almarhum Margono Djojohadikusumo --ayah almarhum begawan ekonomi Indonesia Sumitro Djojohadikusumo, psikolog Sarlito Wirawan Sarwono, Wildan Yatim, dan Dr. Abu Hanifah.
Dalam refleksi panjang ihwal manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyampaikan secara terbuka, terus terang, dan tanpa tedeng aling-aling meski menyulut bara kontroversi.
Menurut Mochtar, ada enam ciri negatif manusia Indonesia. Pertama, munafik --berpura-pura, lain di mulut lain di hati. Ciri ini merupakan ciri utama manusia Indonesia yang telah ada sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya. Menurut Mochtar, sifat munafik ini bersumber dari sistem feodal kita di masa lampau, yang menekan dan menindas segala inisiatif rakyat.
Ciri kedua, manusia Indonesia enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya. “Bukan saya” adalah jawaban untuk mengelak dari tanggung jawab itu dan kerap dilontarkan oleh pejabat dan masyarakat kita. Sangat sedikit pemimpin kita yang tulus-ikhlas menyatakan bertanggung jawab atas segala tindakan, pernyataan, dan kebijakannya. Belakangan, ada jurus baru untuk mengelak dari tanggung jawab, yaitu menyalahkan pers sebagai “salah kutip” atau “tukang pelintir”.
Ciri ketiga, manusia Indonesia memiliki jiwa feodal. Mochtar mencatat, kendati tujuan proklamasi kemerdekaan adalah untuk membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru kian berkembang dalam diri masyarakat Indonesia. Sikap-sikap ini, menurut Mochtar, dapat dilihat dalam tata cara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian. Dalam hubungan yang timpang ini sikap asal bapak senang (ABS) tumbuh subur. Akibatnya tak ada dialektika dan pikiran baru yang berkembang. Hubungan (komunikasi) antara penguasa dengan rakyat berjalan satu arah.
Ciri keempat, manusia Indonesia suka dengan hal-hal yang berbau takhayul, klenik, dan mistik (aliran kebatinan). Manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, patung, keris, kuburan, memiliki kekuatan ghaib, keramat dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan semua itu. Untuk menyenangkan dan tak membuat mereka murka, maka kita harus memberi sesajen, meruwat, kuburan disiram kembang, dan meminta berkah kepada mereka. Selain itu, manusia Indonesia juga percaya dengan hari atau bulan baik atau sial.
Ciri kelima manusia Indonesia adalah artistik. Manusia Indonesia lebih banyak hidup dengan mengandalkan naluri (insting), perasaan, atau perasaan sensualnya. Dari sini lahirlah berbagai kerajinan tangan seperti tenun, batik, patung, ukiran kayu, dan semacamnya. Selain itu, lahirlah musik, seni tari, folklore, yang semua itu, menurut Mochtar, merupakan koleksi yang dibanggakan dan digemari. Bagi Mochtar, inilah sisi positif yang paling menarik dan mempesonakan yang bisa menjadi sumber dan tumpuan harapan bagi masa depan manusia Indonesia.
Ciri keenam, manusia Indonesia berwatak lemah, dan kurang kuat memegang atau memperjuangkan keyakinannya. Bahkan demi untuk survive, seseorang rela mengorbankan idealisme atau kredibilitas intelektualnya. Munculnya istilah “pelacuran” intelektual di kalangan masyarakat akademis menunjukkan sisi gelap watak manusia Indonesia tersebut.
Pesona steoretip yang ditebar Mochtar Lubis menempatkan dirinya sebagai Cassandra modern. Dalam mitologi Yunani kuno, Cassandra adalah putri raja Priam dan Hecuba dari Kerajaan Troya. Cassandra dianugerahi keistimewaan oleh Dewa Appolo sekaligus kutuk. Ia bisa meramal kejadian di masa depan dan melihat peristiwa di masa lalu. Tapi, kutukkannya yaitu tidak ada seorangpun yang percaya pada apa yang dikatakan Cassandra.
Lalu, bagaimana kita sebagai manusia Indonesia, mencermati berbagai ciri buruk di atas? Saatnya kita menjejak dialog otentik ala Martin Buber (1878-165) dalam bingkai i-thou (subyek-subyek). Manusia Indonesia adalah subyek bukan obyek. Sementereng apapun pembangunan harus berbaju orientasi pemanusiaan (human being). Ataukah, benar pula prediksi Eric Fromm bahwa ciri relasi manusia post-modern i-it, yaitu mengeksploitasi ide, ketulusan,pengorbanan untuk meretas pembangunan prestise-being. Semoga kita “bebas dari kutukan” Appolo; menjadi orang yang percaya bahwa begitulah isi jiwa manusia Indonesia yang harus diubah. (Beny Uleander/KPO EDISI 132)
Read More
Beny Uleander

Manusia Ingenerasi

Homo Proponit, Deus Disponit. Demikian pepatah Latin memaknai alur hidup manusia yang sudah ‘digariskan’ Sang Pencipta untuk dilalui. Manusia boleh merencanakan selusin proyek kehidupan masa depan tetapi hasil akhirnya ditentukan berdasarkan kehendak Tuhan. Inilah takdir atau suratan nasib yang tidak bisa dihindari. Benarkah demikian? Persoalan batasan takdir dalam wilayah tafsir teologis melahirkan ragam perspektif dan tercetus aneka mazhab yang mengklaim sebagai pemegang cara pandang yang tepat. Memang nilai-nilai agama selalu menjadi rujukan akhir ketika manusia menemukan titik batas kerapuhannya. Tubuh yang rentan oleh penyakit, tulang belulang yang mudah patah, fisik yang kian melemah dan tatapan mata yang memudar.
Manusia seperti bunga di padang yang bersemi di pagi hari dan layu di sore hari. Di manakah letak kekuatan manusia yang memiliki jiwa, getaran spiritual, rindu dendam, hasrat hati, cinta dan benci, empati dan antipati? Manusia sebagai individu hanyalah sebuah nama bukan sosok abadi. Gajah mati meninggalkan gading, manusia wafat mewariskan nama….Bagaimana nama itu bisa abadi dalam kenangan masa, itulah suatu seni tersendiri.
Ada manusia Mesir, manusia Romawi, manusia Babilonia, manusia Eropa, manusia Indian. Sebutan manusia berdasarkan lokasi yang merujuk pada sederetan parade peradaban dalam lembaran sejarah. Manusia adalah makhluk dinamis dengan sejuta kegelisahan eksistensial: bertanya dalam ketidaktahuan, mencari dalam rona penasaran, berziarah dalam ketidakpastian dan melangkah dalam gairah yang kadang berani; kadang berjalan surut dan seret. Ada kisah kepahlawanan, ada kenangan tentang pengorbanan tanpa pamrih, ada ceritera tentang penemuan rahasia-rahasia alam yang penuh misteri dan ada kisah tragis tentang pembantaian, pembunuhan dan hukum nyawa ganti nyawa yang bergema dalam syair-syair perang.
Waktu berlalu bersama selaksa taburan pengalaman di langit-langit kehidupan. Bumi tetap berputar pada porosnya seraya mengelilingi matahari. Masih banyak rahasia alam yang terpendam. Penemuan demi penemuan terus berjalan dalam rajutan interaksi kreativitas, inisiatif dan keberanian berpetualangan menggapai pengalaman baru. Manusia datang dan pergi. Patah tumbuh hilang berganti. Inilah yang menjadi titik persoalan antara kualitas regenerasi atau ingenerasi.
Regenerasi dimaknai sebagai ruang tumbuh manusia dalam sebuah sistem dan tatanan nilai yang sudah terbangun. Daya cipta dan karsa dikerucutkan menjadi kesediaan mempertahankan jejaring nilai yang telah berdiri. Desain kreativitas adalah serangkum energi reformasi, yaitu kembali kepada tatanan awal, mempertahankan tradisi dan menumbuhkembangkannya kembali. Itulah ruang regenerasi. Lahirlah stigma manusia Mesir, Romawi, Eropa atau Indian dengan tipikal yang khas membentuk stereotip sosial.
Kecenderungan sekelompok manusia yang mempertahankan identitas diri bisakah dilihat sebagai suratan takdir? Sudah begitukah nasib tanah suci Palestina yang direbutkan Israel dan Palestina. Bangsa pilihan Allah –Yehuda-Israel Kuno mewariskan sebuah garis permakluman yang disucikan soal sebuah tanah terjanji dengan Yerusalem menjadi pusat tanda lahariah. Nabi Musa hanya melihat pemandangan tanah suci dari puncak Gunung
Sinai. Anak cucunya menyirami tanah itu dengan air darah. Itulah barangkali ungkapan sejati tanah tumpah darahku. Ini sekedar contoh ‘menggugat’ regenerasi sosial.
Bagaimanakah dengan konsep ingenerasi? Dalam paradigma ‘bhinneka tunggal ika’, perspektif ingenerasi mudah dijelaskan secara gamblang tanpa meminjam istilah ‘plularisme’ yang kini sudah mulai ‘babak belur’ disekat oleh ikatan mazhab-mazhab yang penuh saling curiga. Juga peminjaman istilah ‘leluhur’ ini bukan langkah inkosistensi dalam menggurat jati diri paradigma ingenerasi. Isi ingenerasi adalah pertumbuhan atau kelahiran seorang individu sebagai pribadi yang bebas sekaligus menjadi berkat bagi masyarakat manusia. Manusia tercipta berbeda satu dengan yang lain bukan untuk membangun persaingan sehabis-habisnya. Sebaliknya, manusia adalah makhluk rapuh yang memerlukan uluran tangan untuk mewujudkan jati dirinya. Aku sebagai subyek menjadi berarti karena keberadaan Anda. Aku menyatakan diri karena Anda ada. Aku sebagai subyek pun akan bertumbuh sama seperti Anda yang mengandung daya pertumbuhan. Inilah relasi eksistensial Aku dan Anda sebagai subyek yang bukan lahir dari rahim batu tetapi dari hasrat cinta dan nafsu.
Ingenerasi adalah kemandirian subyek memanfaatkan potensi diri secara bertanggung-jawab. Ketika Anda bertindak bebas tetapi melukai pertumbuhan Aku, maka Anda tidak bertindak dalam kebebasan yang bertanggung-jawab. Ingenerasi adalah gairah pertumbuhan batin dan jasmani secara serentak dan sinergis.
Manusia Indonesia sudah lama berkubang dalam ranah regenerasi. Dalam perspektif sosial telah terbukti bahwa berbagai aliran, mazhab maupun ideologi berguguran dalam ziarah peradaban umat manusia. Pada era pencerahan, di abad pertengahan, para filsuf dengan tunggangan kuda rasional berkelana di bentara wacana sambil mengejek segenap mitologi Yunani sebagai sekeranjang sampah ketidakmampun manusia membedah realitas hidupnya. Hidup dan peradaban dibangun dengan pilar-pilar sains dan teknologi sebagai anak kandung rasionalitas. Benarkah manusia di bawah kolong langit ini sejahtera lahir batin dengan rasionalitas yang mentereng?
Kini, remaja Harry Potter tertawa renyah melihat komunisme, sosialisme, nasionalisme dan kapitalisme sebagai dongeng alias mitologi modern. Saatnya pula remaja Indonesia bertumbuh dalam ranah ingenerasi. Tumbuh menjadi generasi yang mempertanyakan dan menggugat program demi program pembangunan semesteran, tahunan dan periodik yang berulang tanpa berujung pada kesejahteraan. Bencana datang jadi proyek. Penyakit yang mewabah dimanfaatkan sebagai ladang proposal. Dana yang tersisa dimanfaatkan untuk plesiran atau pengadaan sarana-prasarana fiktif. Program pembangunan harus dilihat sebagai mitos agar Aku dan Anda tetap bertumbuh dalam kebebasan yang bertanggung jawab.
Anak Indonesia tidak selamanya ditakdirkan menjadi generasi plagiat dari generasi tua. Biarlah generasi tua itu hilang lenyap seperti bunga yang layu di senja hari. Jika tidak demikian maka mereka yang berpenyakitan tetapi kita yang menderita sakit. Orangtua yang ketagihan narkoba, anak yang sakaw. Raihlah paradigma ingenerasi. Bertumbuh bersama dalam pemanfaatan bakat dan potensi yang beragam. Aceh berkembang sesuai sumber daya alamnya, Papua bertumbuh menyatu dengan alamnya dan Bali diselimuti budaya dalam balutan keindahan alam. Ingat keteledoran dan kerakusan penguasa dan elite politik menyebabkan penyakit dan benca serupa –contoh demam berdarah- terus terulang setiap tahun, bahkan dengan jumlah korban yang kian menggila. Manusia ingenerasi berupaya menciptakan peluang pembangunan, terbenihnya lapangan pekerjaan dan bertumbuhnya kesejahteraan Aku dan Anda…bukan melulu perut Aku…Kita mati meninggalkan nama sebagai manusia ingeneratif. Semoga hal ini sudah ditakdirkan bagi generasi Indonesia abad 21 !!! (Beny Uleander/KPO EDISI 95)
Read More
Beny Uleander

Sketsa Idealisme

Air mata duka membasahi lubuk hati Soedjatmiko, Duta Besar RI untuk PBB pada era 1960-an, ketika mendengar kabar kematian tragis intelektual muda Soe Hok Gie di puncak Gunung Semeru, 19 Desember 1969. Soedjatmiko, si kutu buku yang mendulang ilmu sosial secara otodidak itu, memaknai alur idealisme dan laku hidup Hok Gie di ranah Nusantara ibarat sketsa tipikal sejati roh kaum muda Indonesia.
“Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok Gie, salah seorang intektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi pasca kemerdekaan….Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan ….bagi saya memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat, 27 tahun,” ujar Soedjatmiko di dalam pertemuan The Asia Society di New York (Belok Kiri, Jalan Terus, hal 70, 2005).
Sejarah Bumi Pertiwi tidak pernah sepi dari torehan kisah pergumulan idealisme dan pencarian jejak jati diri bangsa yang mekar merunyak di sanubari kaum muda. Airlangga yang menjadi raja di usia 17 tahun sudah meretas aturan-aturan hukum negara yang melindungi hak asasi warga kerajaan, Soekarno dalam usia 27 tahun sudah menjadi target individu berbahaya di mata kolonialis Belanda, Syahrir muda mulai menggulirkan ide masyarakat sosialis sebagai masyarakat pembangun, Chairil Anwar mendendangkan bara api perjuangan yang patut dihidupi kaum muda hingga seribu tahun, dan masih banyak lagi penggalan kisah anak muda yang sudah mampu membangkitkan kesadaran baru di kalangan saudara sebangsanya.
Nama Soe Hok Gie kali ini menjadi sorotan berkat ucapannya yang ‘bertuah’ untuk situasi carut-marut pembangunan ekonomi, hukum dan politik di era pemerintahan SBY-JK ini. “Kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. Dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi chaos. Lebih baik mahasiswa yang bergerak.” Masalah perut kini menjadi seuntai lagu duka di negeri ini. Rakyat kelaparan di atas negeri yang kaya sumber daya alamnya. Sementara kaum muda memilih jalan sendiri untuk bertahan hidup. Ada yang merantau ke Malaysia, Brunei, Jepang Amerika hingga Arab Saudi untuk menjadi pekerja kelas bawah. Sebagian sibuk membentuk kelompok pembela identitas agama/sekte lewat aksi kekerasan dengan pentung di tangan dan belati terselip di pinggang. Kalau di daratan Amerika ada cowboy yang memegang senjata api dengan menunggang kuda mengejar musuhnya. Di negeri ini, para ‘cowboy; menunggang atribut agama sambil membantai siapa saja yang bukan kelompok mereka. Aparat keamanan pun dibantai brutal hingga tewas bersimbah darah.
Di persimpangan lain, organisasi kepemudaan sulit merumuskan isi perjuangan bersama untuk dijalani di negeri ini. Tingkat kesulitan itu bukan pada tataran idealisme tetapi lahir dari kepentingan dan mata rantai menangguk untung sebesar-besarnya dari proposal proyek-proyekan –maaf termasuk proyek fiktif tetapi laporan operasionalnya dibubuhi meterai.
Terasa sekali, kaum muda saat ini kehilangan vitalitas dan kekeringan spirit kebangsaan dalam mengelola organisasi. Mereka yang terjun ke partai mulanya berteriak atas nama rakyat. Ketika jadi wakil rakyat berteriak soal tambahan tunjangan kesejahteraan. Mereka yang memilih jadi jurnalis mulanya mengaku terinspirasi oleh idealime. Ketika sudah memiliki nama dan pengaruh lantas menjadi corong menulis bait-bait keberhasilan penguasa. Tanpa peduli akibat dan fakta sesungguhnya di lapangan. Mereka yang berlomba jadi presiden mengeluarkan slogan bersama kita bisa. Setelah berkuasa, rakyat berjalan sendirian dalam kelaparan. Kini bersama kita sekarat, bersama kita serbu rumah ketua RT yang tak tahu menahu soal kriteria pendataan KK miskin dan bersama kita gorok leher kepala desa yang tidak mengerti proses pendataan warga miskin versi BPS.
Bangsa ini sedang dalam situasi sekarat. Kenaikan harga BBM yang gila-gilaan efektif memindahkan pokok persoalan ketidakjeniusan ‘orang-orang istana’ mengatur negara kepada masalah ‘baku hantam’ antar rakyat di tingkat akar rumput. Beban hidup kian berat ditambah daya beli yang rendah menyebabkan hampir semua warga berlomba-lomba mencatatkan diri sebagai KK miskin. Percuma kita mengutuk sesama warga menggadaikan harga diri sementara elite penguasa sudah tidak punya harga diri.
Apalagi berdasarkan teori dan fakta historis, rakyat yang miskin merana akan nekat berbuat apa saja. Tak sadarkah pemerintah negeri ini bahwa sebagian kasus kriminal maupun penyakit sosial yang menjamur di negeri dilakukan karena motif ekonomi? Suami jual ganja untuk beli pakaian lebaran buat isteri dan anak. Gadis SMP menjajakan diri ke om-om senang untuk menombok biaya sekolah. Seorang pemuda mencuri sepeda hanya untuk membeli makanan karena lapar. Apalah arti lantunan slogan dibalut kepiawaian berpidato sementara setiap hari masalah demi masalah di negeri ini beranak-pinak. Rupanya kita harus jujur kepada diri sendiri bahwa kita bukanlah generasi impian karena masih berkubang dengan kehebatan diri, egoisme, gila jabatan dan nikmat kekayaan dari tunjangan fasilitas negara. “Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh - - dan pemuda, bangkit dan berkata, stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apapun, dan bangsa apa pun, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik,” tandas Hok Gie yang lahir 17 Desember 1942. Inilah visiun Hok Gie yang harus menjadi sketsa menata pencarian identitas kaum muda Indonesia yang tak sekterian, pluralis dan melihat karya agung Tuhan terpampang indah dalam keragaman budaya, suku dan agama serta jejak eksotik alam sekitar.
Bangsa ini tetap merindukan hadirnya sosok-sosok kaum muda yang genius intelek, visi dan moralnya. Kita tetap optimis karena kita adalah keturunan dari nenek moyang yang sudah menghidupi sebuah peradaban yang tinggi di masa lampau. Hingga kini masih ada segelintir kaum muda negeri ini yang mampu menunjukkan prestasi cemerlang di bidang akademik, musik, perfilm, olahraga dan sebagainya. Sekarang tinggal pertanyaan bernada harapan. Sejauh mana pemerintah merespon api ‘sketsa idealisme’m kaum muda agar turut membakar gairah kaum muda yang lain. Persoalannya, selama korupsi masih dipelihara selama itulah berbagai penyakit sosial tumbuh subur di negeri ini. Juga semakin banyak generasi muda yang membudayakannya. Maukah kita terus berkubang di tubir-tubir keserakahan diri? KPO/EDISI 92
Read More
Beny Uleander

Kaisar Aji Mumpung

Ibnu Khaldun, pemikir Islam, kelahiran Tunisia, 1332, tekun mendalami naskah-naskah sejarah karya Homerus. Penulis Muqqadima ini, mencatat bahwa kisah sejarah sering dicampuradukkan dengan mitos. Homerus menulis kisah seekor lebah hinggap di bibir bayi Plato yang tertidur pulas. Orangtua Plato merasa heran dengan petunjuk alam ini sehingga mereka mendatangi seorang ahli nujum.
Dikatakan, kelak pada masa dewasa, dari bibir Plato akan meluncur kata-kata manis, penuh hikmat dan petuah kebijaksanaan. Banyak orang akan datang bersimpuh di hadapannya hanya ingin mendengar ajaran dan pengetahuannya. Memang benar, Plato kemudian dikenal sebagai filsuf Yunani masyhur sejajar dengan gurunya, Sokrates. Bahkan, nama muridnya, Aristoteles pun tetap tersohor hingga abad ini.
Setiap zaman selalu melahirkan tokoh-tokoh besar yang berpengaruh terhadap kehidupan sesamanya. Mereka menjadi besar karena kedalaman pengetahuan, kepekaan batin menangkap tanda-tanda zaman, kebeningan nurani dalam mencermati carut-marut kehidupan masyarakat, dan mereka tidak larut dalam eforia gaya hidup temporal. Sebaliknya, ketokohan mereka terletak pada gaya hidup bersaja dan bermartabat yang menjadi obor kehidupan banyak orang.
Di Bumi Nusantara, ada sederetan tokoh besar di bidang ketatanegaraan, agama dan kesusasteraan. Ada nama Kertanegara, Patih Gajah Mada, Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, KH Agus Salam, Soekarno, IJ Kasimo, Sutan Takdir Alisyahbana, HB Jassin, Abdurahman Wahid, Nuscholish Madjid, atau Iwan Fals.
Satu keunggulan mereka adalah konsistensi sinergis antara pikiran, ucapan dan tindakan. Terkadang pola pikir mereka yang sudah jauh maju ke depan membingungkan orang pada zamannya. Tetapi generasi kemudian akan menikmati loncatan pemikiran mereka. Di sini, seorang tokoh adalah seorang pertapa yang masuk dalam keheningan batin dan mengumpulkan realitas penggalan kebenaran yang tercecer dalam album kebijaksanaan.
Dalam kultur masyarakat feodal-patrilineal, seperti di Indonesia, figur tokoh memegang pengaruh sentral atas kehidupan sosial tertentu. Sebab, konstruksi sosial dan sistem budaya tersebut memberikan privelese tertentu kepada orang yang ditokohkan. Adakalanya, kehidupan dan perkataan sang tokoh menjadi sumber identitas dan rujukan gaya hidup masyarakat sekitarnya.
Dalam iklim inilah, Jayabaya meramalkan akan datangnya seorang Ratu Adil yang memimpin negeri ini. Kerinduan historis akan kehadiran Ratu Adil ini dimanfaatkan efektif para pemimpin negeri ini. Soeharto mengidentifikasi kekuasaannya dengan personifikasi Kerajaan Mataram kuno. Kala meletakkan jabatannya, ia menggunakan term keraton; lengser keprabon. Padahal, kursi presiden itu adalah kursi rakyat, dan tak dapat diwariskan kepada anak cucu.
Demikian pula, kehadiran Megawati Soekarnoputri yang diusung partai Wong Cilik, membangkitkan kembali memorial historis akan sosok Ratu Adil. Namun, dalam fakta politik, Ratu Adil tidak pernah dialami konkrit penduduk negeri ini kecuali dalam wadah harapan. Barangkali, dalam teropong niskala, Jayabaya sudah melihat jauh ke depan bahwa bangsa yang besar ini akan selalu dikendalikan pemimpin yang serakah, tamak, dan otoriter. Mereka semula menjanjikan perubahan namun setelah berkuasa mulai membangun kerajaan bisnis keluarga dan partai. Mereka ibarat serigala berkulit domba.
Dalam seting inilah, mungkin Jayabaya meramalkan kedatangan Ratu Adil sebagai sebuah pelipur lara bagi rakyat yang tertindas agar tetap bertahan hidup. Barangkali pula, Jayabaya membungkus ramalannya sebagai seruan profetis (kenabian) bahwa seorang pemimpin di negeri ini akan dicintai rakyat bila ia perlahan-lahan mengembangkan karakter kepemimpinan Ratu Adil. Bukan sebaliknya, memupuk karakter Ratu Otoriter, Raja Diktator atau Kaisar Aji Mumpung.
Krisis multidimensi yang melanda negara Indonesia saat ini bersumber pada krisis kepemimpinan. Kita bersyukur, kini bangsa ini berhasil memilih sendiri presidennya. Kelebihannya, rakyat bebas menentukan hak-hak politisnya tanpa didikte kekuatan partai ataupun elit politik. Kekurangannya, kalau presiden pilihan terbaik itu tidak memenuhi harapan rakyat maka rakyat tidak bisa mempersalahkan partai atau MPR/DPR.
Kembali ke akar krisis kepemimpinan nasional. Indonesia bangsa yang besar dalam jumlah penduduknya tetapi untuk menemukan sosok yang memiliki spirit ketokohan seperti mencari jarum di tumpukan 100 ton jerami. Sulit! Kalau mencari tokoh maling berdasi tak perlu repot-repot. Setiap hari wajah mereka selalu nongol di koran dan televisi sebagai pejuang hak-hak rakyat.
Sudah terlihat, para wakil rakyat yang baru terpilih kini melakukan korupsi moral maha dahsyat. Badan-badan kelengkapan DPR hingga kini belum terbentuk, sejak dilantik 2 bulan lalu. Entah kepentingan apa dan siapa yang ada di balik tarik-ulur pembentukan komisi. Yang pasti, bukan kepentingan rakyat. Kedok mereka terungkap jelas menjadikan kursi rakyat sebagai lahan mencari nafkah bukan jadi medan pengabdian. Kesejahteraan rakyat yang mereka dengungkan selama kampanye masih sebatas retorika.
Kini, rakyat Indonesia perlu hati-hati bahwa Ratu Koruptor bukan hanya mengancam pemimpin nasional tetapi juga sudah menjadi embrio raksasa di senayan pusat dan daerah. Ini bukan lagi kisah mitos tetapi fakta riil yang perlu dibongkar dengan linggis kritis dan digilas sterika reflektif. Hati-hati. Rakyat yang terus ditipu akan muak dan marah. Hai, pemimpin dan anggota dewan pilihan rakyat, anda belum terlambat mengkonstruksi jati diri Ratu Adil. Selamat berkarya! KPO/EDISI 69
Read More

Sabtu, April 15, 2006

Beny Uleander

Parkinson Sosial Bikin Bonyok Wajah Tradisi

Wajah tradisi bonyok! Bukan disirimi air keras seperti dialami Liza yang kini sedang dirawat intensif di RSUD dr Soetomo, Surabaya. Tapi diguyur fenomena plagiat dan wabah parkinson massal.
Ragam warisan khasanah kebudayaan dan teknis pengetahuan tradisional tidak dikumpul dalam ‘koridor kurikulum’ pendidikan formal. Akibatnya, manusia muda Indonesia gampang dan cenderung mengabaikan ‘peradaban leluhurnya’. Di sudut dunia yang lain, ada individu asing yang takjub melihat kekayaan warisan tradisional di Bumi Nusantara. Mereka datang mempelajari dengan cermat dan tuntas. Lantas warisan budaya itu dibawa pulang gratis ke negerinya untuk ditumbuh-kembangkan. Kita pun senang mencicipi tahu buatan Jepang dan memakai kebaya tenunan Inggris.
Sungguh ironis jika Rendang yang menjadi ciri khas masakan Padang dipatenkan di Malaysia, atau Tempe yang dipatenkan Amerika. Padahal kedua masakan itu sangat tidak asing lagi sebagai masakan tradisional Indonesia. Begitu juga dengan lagu tradisional kita, kalau tidak segera dipatenkan bisa diakui orang asing.
Kita pun terus berziarah di tengah kejutan-kejutan sosial (social shock) dalam jurang ketidakmengertian. Mengapa warisan budaya kita cepat menguap bagai embun di atas daun talas di pagi hari? Kita pun berlangkah tertatih-tatih untuk kembali mempelajari ‘ilmu-ilmu’ klasik. Ada tantangan internal. Selain ditertawai, literatur tertulis pun amat minim. Gulungan lontar hanya omong bisik-bisik soal sejarah politik. Arsitek mana yang mampu membuat kembali Borobodur. Siapa yang bisa menjelaskan tuntas teknik-teknik pengobatan tradisional yang ikut punah seiring meninggalnya sang dukun atau balian.
Parkinson sosial itulah pukulan kemajuan yang membuat bonyok wajah tradisi kita. PT Karya Pak Oles Tokcer dengan salah satu semboyan, ‘’Membangun Desa Membangun Bangsa’’ memahami secara filosofis dan fundamental makna pengembangan potensi lokal. Salah satunya pengembangan pengobatan tradisional dan fitofarmaka. Potensi obat alami Indonesia memang melimpah, seperti aneka produk jamu, mulai dari yang digosok, ditempel, dikumur sampai diminum, semuanya tersedia, juga encok, pegel linu, jerawat, pelangsing, penggemuk sampai penghancur batu ginjal, dan banyak pilihan obatnya. Kini tinggal ‘good will’ pemerintah dan berbagai pihak yang berkepentingan untuk mengembangkannya agar pelayanan kesehatan tidak semata-mata tergantung pada obat-obat modern.
Departemen Kehakiman dan Perindustrian harus lebih agresif mengusahakan perlindungan hak paten dan hak cipta sebab zaman ini marak praktek tiru-meniru sebuah merk yang sudah dikenal masyarakat luas.
Menurut situs World Economic Forum, barang-barang palsu di seluruh dunia telah menimbulkan kerugian sekitar US$ 450 milyar bagi seluruh produsen aslinya. Disinyalir, usaha dan bisnis barang palsu ini telah menjadi usaha sindikat kriminal yang sangat rapi.
Kapan Standar Nasional Indonesia diberlakukan? Ingat jangan terlambat, liberalisasi ekonomi sudah berjalan di Indonesia meski masih ‘ngumpet’ ala Freeport atau Blok Cepu. Bila lamban, kita kembali terjebak dalam Parkinson sosial dan dikerjain terus plagiator dari negeri tetangga.
KPO/EDISI 102 APRIL 2006

Read More

Rabu, Februari 15, 2006

Beny Uleander

Jangan Dulu Merasa Hebat, Bung!!!

Pendidikan itu mahal. Menjadi orang pintar pun butuh proses. Belajar lihat, bertanya, membaca dan mendengar adalah simpul pembelajaran yang efektif sekaligus penuh mobilitas otodidak. Karena itu, orang bijak senantiasa menampilkan profil diri dalam kualitas gelas kosong. Bukan gelas yang penuh terisi air. Logika filsafat gelas kosong amat sederhana. Untuk menjadi pandai, terlatih dan bersikap profesional seseorang harus menempatkan diri sebagai individu yang selalu dilanda sebuah gelombang kegelisahan eksistensial dan intelektual. Dengan kedua belah mata pisau bedah ini, seorang individu terpacu menggugat realitas, mempertanyakan seluk-beluk sebuah profesi dan lebih dari itu selalu merasa kurang dan kosong. Ia siapkan dirinya diisi penuh dengan tuangan ilmu kehidupan. 
Demikian pula, sumber daya manusia yang berkualitas dalam sebuah perusahaan ditumbuhkembangkan melalui sebuah proses belajar dan pelatihan yang berjalan kontinyu, sistematis, terprogram dan mengangkat tema-tema lapangan yang akurat, penuh pergulatan masalah orthodoksi dan pergumulan praksis. 
Keengganan untuk belajar bisa terlihat dari hasil karya, daya cipta dan kualitas kerja yang keropos, mudah luntur dan tidak berbobot. Dalam analisis manajemen pemasaran, sebuah produk barang dan jasa diakui dan diterima pasar karena berkualitas. Jadi kualitas bukan hasil pengakuan diri sendiri tetapi lahir dari pengakuan publik. Di sinilah tersembunyi pundi-pundi kebijaksanaan dan kebersahajaan hidup. 
Mengakui kelebihan orang lain sebagai sebuah prestasi ketimbang merasa diri hebat tetapi produk yang ditelurkan tidak matang. Karena itu, jangan dulu merasa hebat Bung. Di atas langit masih ada langit. Memang susah mengajak orang untuk rendah hati belajar dari senioritas, pengalaman terberi, buku dan data riwayat masa silam. 
PT Karya Pak Oles Tokcer gencar menggelar pemantapan karyawan, serangkaian workshop dan kunjungan lapangan demi memotivasi karyawan untuk belajar hingga akhir hayat. Mari belajar bersama sebelum mati tiarap di jurang kebodohan yang diciptakan sendiri. (Beny Uleander/KPO EDISI 99 FEBRUARI 2006)
Read More

Rabu, Oktober 05, 2005

Beny Uleander

Serpihan Ledakan Bom Bersimpuh Di Kaki Penjor

Hari Raya Galungan tiba. Penjor-penjor berdiri berbaris rapi di halaman depan setiap rumah di Bali dalam lengkungan keindahan. Sepanjang Jl Legian Kuta hingga Denpasar menjelang Hari Raya Galungan, Selasa sore (4/10), warga sibuk menggali lubang dan mendandani penjor –bambu melengkung yang dihiasi janur dan bunga- ditanam di halaman depan rumah. Penjor adalah simbol kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan) yang diperingati lewat Galungan.

Keagungan penjor kali ini seakan menyeret manusia penghuni Pulau Bali masuk dalam benteng-benteng perlindungan tak kelihatan. Benteng yang menjaga manusia Bali dari amukan badai bom Bali II yang memporak-porandakan Jimbaran dan Kuta Square, pekan lalu. Juga benteng yang memberi ketenangan batin bahwa kebaikan adalah jiwa kehidupan yang tak mungkin binasa oleh aksi kebiadaban. Serpihan pecahan bom di Sea Food Centre Jimbaran dan Kuata Square bersimpuh di kaki penjor. Itulah dandanan eksotik Pulau Surga ini.

Warga Kuta yang tinggal di jantung pariwisata Bali dengan wajah sukacita menghiasi penjor. Beberapa remaja terlihat bercengkrama akrab menggali lubang. Selain rumah warga, toko-toko, restoran, pub, bar dan warung-warung kecil pun memasang penjor di halaman depannya. Sementara di kawasan Kuta Square beberapa polisi masih berjaga-jaga di lokasi pemboman yang porak-poranda dan sudah diisolasi untuk kepentingan penyelidikan polisi. Sebuah pemandangan yang kontras tetapi memberi peneguhan bahwa kejahatan selalu terjadi di atas muka bumi tetapi kehidupan senantiasa diperkaya dengan kegembiraan, ketenangan, kesabaran dan kedamaian.

Manusia Bali tetap bersolek dalam balutan kecantikan spiritual dalam menyambut Galungan. Sehingga pada Senin (3/10), warga desa Jimbaran beramai-ramai mengadakan upacara penyucian ‘Pamrastitha Sayud Dur Mangala’ di Pantai Muaya, Jimbaran. Prosesi dan ritual penyucian ini untuk mempersiapkan desa secara ‘sekala’ dan ‘niskala’ –jasmani dan rohani—memasuki rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan, yang jatuh pada 15 Oktober depan.

Pada Galungan, Rabu (5/10), sejak pagi pukul 07.00 Wita, warga Kota Denpasar dan Badung melakukan persembahyangan di pura-pura Kahyangan Tiga di banjarnya masing-masing. Sebagian kemudian bersembahyang di Pura Jagatnatha, pura terbesar di Kota Denpasar –setelah rampung menghaturkan sesaji di rumah dan tempat kerja masing-masing. Kaum perempuan berdandan kebaya membawa canangsari, banten berisi bunga dan buah-buahan aneka rupa. Sedangkan kaum lelaki mengenakan destar putih, kemeja putih dan berkain saput putih kuning. Di dalam pura, dua orang ‘pedanda’ –pemimpin keagamaan- perempuan berusia renta memimpin jalannya upacara. Denting genta dari tangan para pedanda memecah keheningan pagi. Untaian doa dalam semangat Galungan membawa harapan pulau ini dibersihkan dari aura kejahatan yang ditebar para teroris.

Usai bersembahyang, warga Hindu melepas lelah, duduk-duduk di lapangan Puputan, tepat di depan pura. Sebagian memesan makanan dari pedagang bakso, sate ayam, dan jajan lain yang sudah memenuhi pelataran pura sejak upacara dimulai.

Perayaan Galungan diperingati setiap tahun dalam kalendar Bali atau tepatnya setiap enam bulan dalam tahun masehi bersamaan dengan hari pertama bulan Ramadhan. Warga Bali yang muslim sejak Selasa malam sudah ramai melakukan sholat tarawih di masjid-masjid yang bertebaran di Denpasar. Terbentang pemandangan indah soal toleransi beragama yang begitu kuat tumbuh mengakar di dada manusia Bali. Waktu Nyepi yang jatuh pada hari Jumat lalu, warga muslim diizinkan keluar bersembahyang di masjid. Padahal semua aktivitas dibekukan pada Hari Nyepi. (Beny Uleander/KPO EDISI 91/Oktober 2005)

Read More

Jumat, Juli 15, 2005

Beny Uleander

Evakuasi Tradisi

Dunia semakin tua. Demikian lontaran kegelisahan penduduk dunia akhir abad 20 silam. Tahun 2000 sempat diklaim sebagai tahun penutup kisah hidup manusia. Apalagi banyak ramalan tokoh visioner yang melihat perguliran sejarah berhenti di akhir milenium II. Ternyata, paradigma akhir jaman yang diyakini institusi agama dan juga beberapa sekte menjadi ruang persemaian tradisi versus modernitas, pertarungan kebijaksanaan dan keahlian serta terkini tarik ulur globalisasi dan evakuasi tradisi.

Semula gagasan dunia semakin tua ketika melihat alam sebagai ibu kehidupan tidak ramah lagi membentengi manusia dari bencana dan prahara semesta. Adanya pemanasan global akibat rentetan efek rumah kaca, perubahan iklim yang sulit diramalkan diikuti hutan di muka bumi yang kian berkurang ratusan hektar setiap tahun dan rahim bumi yang kian keropos digaruk tangan-tangan serakah. Para pakar lingkungan membuat prediksi bakal ada persatuan manusia antar bangsa dengan satu sikap, nasion-global, mempertahankan bumi dari kehancuran dan penyakit. Sungguh sebuah estimasi yang menakutkan –kalau benar terjadi- sekaligus suatu pengakuan bahwa manusia adalah entitas sejarah, subyek peradaban dan kumpulan daging hidup yang berakhlak.

Ketidaksiapan menuju akhir jaman adalah ‘tahun rahmat’ manusia komunis-sosialis, liberal-kapitalis atau ekstrimis kanan-kiri dan konservatif-moderat untuk kembali memetakan batas-batas kemampuan intelek-psikisnya, cakupan pola interaksi yang mengglobal dan penggalian identitas kultural-politis individu sebagai manusia, masyarakat dan warga negara.

Lantas tradisi-tradisi besar yang dikawal para penjaga agama rasional menjerit histeris ketika terjadi pergolakan soal pengawasan atas hidup dan perilaku manusia. Tradisi besar yang membangun fondasi pada rasionalisasi agama, sebuah proses yang bergantung eksistensi teks-teks skriptural.

Di persimpangan ini, masyarakat dunia harus jeli melihat dan menempatkan secara proporsional gerakan kaum homoseks, gay, waria dan lesbian dalam mencari identitas politik dalam tata sosial.

Selama ini, sisi humanis kaum waria selaku golongan minoritas jauh dari sentuhan ‘tradisi kasih sayang’ masyarakat lokal dan juga sentuhan jurnalisme empati. Sepak terjang mereka dibredel dengan teks-teks wahyu yang sudah diintepretasi masyarakat feodal dan patrialkal. Lalu, waria manusia yang tercipta dengan keunikan dilihat sebagai musuh atau manusia ganjil berperilaku sakit dari kacamata pria dan wanita.

Pernyataan batin Henry Wadsworth layak dijadikan pijakan melihat waria sebagai insan terberi yang lahir atas kehendak penguasa kehidupan manusia. “Jika kita dapat membaca kisah rahasia tentang musuh-musuh kita, kita seharusnya menemukan cukup banyak kesedihan dan penderitaan dalam kehidupan setiap orang untuk menghapus segala permusuhan,” ungkap Henry Wadsworth.

Saatnya, manusia sebagai individu menikmati anugerah kehidupan yang gratis ini dengan segala bakat dan kemungkinan-kemungkinan terjauh pengembangan diri yang dapat diaktualisir individu. Adalah suatu visi humanis bila masyarakat dan negara mengembangkan ketrampilan lunak di era bertebarnya beragama perangkat lunak elektronik.

Ketrampilan lunak mengacu pada teknik-teknik yang berhubungan dengan pengelolaan diri (intra-personal skills), ketrampilan dalam pengelolaan orang lain (inter-personal skills) dan ketrampilan dalam mengelola sumber daya atau lingkungan di luar dirinya (extra-personal skills). Ketiga komponen ketrampilan lunak tersebut, menurut, Aribowo Prijosaksono (Bisnis Maya Laba Nyata, 2002), disebuat sebagai Skills of Life Trilogy.

Memang tidak mudah menerjemahkan secara praktis ketrampilan lunak dalam jelajah pencarian pengakuan eksistensi kaum waria, gay dan lesbian di ranah agama dan komunitas sosial. Meski keinginan kelompok tengah (baca: bukan pria atau wanita) untuk berkeluarga mengguncang tradisi-tradisi besar tidak berarti kiprah mereka di sektor publik dikutuk dan dianggap najis. Norma moral keagamaan tetap kukuh mempertahankan institusi perkawinan sebagai persatuan pria dan wanita untuk melahirkan keturunan. Bukan berarti, kaum waria terus ditindas sebagai makhluk kutukan Tuhan. Mereka perlu dicintai dan diberi kebebasan berekspresi sebagai manusia.

Karena itu, kaum waria dan lesbi harus memulai pencarian jati diri dengan mengembangkan tiga ketrampilan lunak di atas. Intra-personal skills dimaknai sebagai memberdayakan diri sebagai manusia yang bermartabat, pola pikir (mindset), sikap (attitude), karakter dan kepribadian, kemampuan untuk belajar (skill of learning), manajemen waktu (time management), ketrampilan mendayagunakan pikiran (mind management), mengelola emosi (emotion management), self marketing dan kecerdasan spritual.

Inilah kunci membuka diri bagi komunitas social dan langkah elegan mengevakuasi tradisi sepihak yang merantai identitas waria. Selama kaum waria dan lesbi berjalan sendiri tanpa bersatu di atas ‘panti waria’ maka gema perjuangan mereka akan hilang ditelan kesunyian jagat semesta nan tandus. Bukan tidak mungkin, waria dan kaumnya akan menjadi manusia yang membawa sakit hati hingga ke liang kubur.

“Ini di atas segalanya: kepada diri sendiri engkau harus jujur, dan begitu pula, seperti siang berganti malam, engkau tidak boleh bersikap tidak jujur kepada siapapun.” (Shakespeare-Hamlet). Semoga. (Beny Uleander/KPO EDISI 85/15 Juli 2005)

Read More

Jumat, Juli 08, 2005

Beny Uleander

Hukum Belum Memberi Ruang, Masyarakat Mulai Menerima

Antara ada dan tiada, kira-kira seperti itulah eksistensi Wanita pria alias WARIA di bumi nusantara ini. Sejatinya komunitas yang melakukan penyempalan dalam kehidupan normal ini secara sosiologis ada. Kendati jumlahnya relatif lebih kecil dari kelompok-kelompok masyarakat lainnya, namun dari sisi hukum kaum ini sama sekali tidak dikenal. Artinya, praktis keberadaan mereka tidak diakui.

Dalam hukum positif hanya dikenal dua jenis kelamin, yakni laki-laki dan perempuan, sedangkan wanita pria atau pria wanita hingga kini sama sekali belum pernah disebutkan. Sehingga keberadaan mahluk yang satu ini ketika mengusung kesetaraan gender dan persamaan hak membuat banyak kalangan, bertanya tanya. Namun sejauh ini lembaga yang berkompeten di bidangnya juga melancarkan jurus ambigu untuk melakukan penyikapan terhadap fenomena yang lambat laun kian meruyak ke permukaan.

Keberadaan kelompok masyarakat yang satu ini, sebenarnya sudah cukup lama diketahui, namun baru beberapa dekade belakangan ini, kelompok ini semakin transparan dan semakin berani menampakan jati dirinya, sehingga mereka tidak canggung lagi tampil didepan publik, baik dalam mengenakan busana,memilih profesi maupun menyatakan status.

Keterbukaan bagian masyarakat ini terus bergulir selaras dengan perkembangan jaman, bahkan beberapa diantaranya bahkan tanapa tedeng aling-aling dalam sikap dan laku serta tindakan radikal mengubah bukan saja penampilan tetapi juga vermak pisik dengan melakukan penggantian kelamin dari laki-laki menjadi wanita, termasuk juga perubahan secara yuridis. Gejala semacam itu tidak menjadi porsi kalangan masyarakat metropolis tetapi sudah merebak ke daerah seperti apa yang dilakukan putra Bali asal Buleleng sekitar 80 km arah utara Denpasar.

Kahumas Kejaksaan Tingggi Bali Nunuk Sugiyarti, SH, ketika diajak mendiskusikan fenomena Waria menyebutkan, sepanjang kaum yang satu ini melakukan interaksi secara sosial dalam masyarakat tidak terlalu mencolok, kehadirannya dapat dipahami menyusul adanya sikap yang cukup permisif dan ‘cenderung sudah menerima’. Namun, ketika mereka semakin berani menuntut hak-haknya yang sama dengan masyarakat normal misalnya kawin sesama Waria, pasti akan menimbulkan persoalan sosial maupun hukum.

Dalam UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan telah diatur, pada dasarnya perkawinan sebuah perikatan antara laki-laki dan perempuan, kala dilakukan antar sesama jenis jelas tidak mencocoki perumusan UU, kecuali salah satu diantaranya merubah status hukum maupun pisik sehingga memenuhi perumusan UU. Dengan demikian secara hukum positif perkawinan sesama jenis tidak diberikan ruang, karena tidak dapat memenuhi unsur-unsur yang terdapat dan diatur dan UU perkawinan. Bilamana perkawinan seperti itu terjadi, dapat dikatagorikan sebagai sebuah pelanggaran hukum bisa saja dikatagorikan pencabulan “ujar Nunuk dengan nada sedikit ragu. Fenomena Waria ini semacam perkembangan hukum yang harus dikaji dan dicarikan jalan keluar untuk menyikapi realita semacam itu, lebih-lebih belum adanya aturan yang secara jelas mengatur hal-hal seperti itu.

Dasar hukum dari sebuah perkawinan di Indonesia adalah UU No 1/74 yang diimplementasikan ke dalam PP No 9 tahun 1975 dan hukum adat yang ada pada setiap etnik baik secara tertulis ataupun tidak, namun masih hidup dalam masyarakat, sehingga status hukumnya jelas. Perkawinan sesama jenis diakui secara yuridis sepanjang salah satu di antaranya telah melakukan perubahan fisik dan biologis melakukan penggantian alat reproduksi yang disertai perubahan status hukum melalui penetapan hakim. Perubahan status sangat penting karena erat kaitannya dengan terjadinya peristiwa hukum lain di kemudian hari. Dengan demikian secara yuridis formil perkawinan harus dilaksanakan dan diakui, seperti diatur dalam koridur hukum perkawinan UU no1/74.

Perkawinan antar sesama jenis tidak diakui dan tidak diatur oleh UU No 1/1974, termasuk nilai dan norma yang ada dalam masyarakat, jelas Ka Humas dan Hakim senior pada Pengadilan Negeri Denpasar Made Suraatmaja SH, sembari mempertanyakan adakah tokoh masyarakat dan lembaga atau apapun namanya yang mau melakukan (menikahkan) perkawinan seperti itu?

Prilaku dan tindakan sebagian masyarakat terhadap perkawinan sesama jenis khususnya dikalangan kaum Waria yang dianggap kemudian sebagai pengekangan, adalah refleksi dari semacam penolakan baik secara sosiologis dari komunitas masyarakat tertentu maupun secara tidak langsung UU tidak mengatur, selama status menyangkut jenis kelamin pasangan tsb belum jelas secara biologis dan atau secara yuridis. Di Indonesia masyarakat secara hukum maupun secara sosiologis belum dapat menerima perkawinan sesama jenis seperti yang terjadi pada sejumlah negara di luar negeri.

Sistem perkawinan masyarakat Bali dengan perubahan status (nyentana) memiliki perbedaan yang sangat substansial dengan perkawinan ala waria, kendatipun sama-sama dilakukan perubahan status. Nyentana dalam hukum perkawinan adat masyarakat Hindu Bali, fisik biologis antar pasangan adalah normal, hanya saja status hukumnya yang berubah, dimana perempuan menjadi laki-laki (purusa) dan staus laki-laki menjadi perempuan (predana).

Hal ini terjadi diakibatkan sesuatu hal khususnya yang menyangkut keturan laki-laki dalam satu keluarga perempuan. karena masyarakat Bali menganut paham patrilinial, barangkali ini boleh disebut sebagai sebuah terobosan, karena salah satu fungsi hukum adalah mengakomodir perubahan, tambah hakim Made Suraatmaja.

Khusus mengenai Waria, sejauh ini belum ada satupun produk hukum yang mengaturnya, kendatipun demikian hal itu semestinya tidak dapat dikatakan sebagai sebuah pengekangan, apalagi dikait-kaitkan dengan HAM. Karena kedua permasalahan itu harus dapat dipisahkan secara jelas dan tegas.

Senada dengan hakim senior Made Suraatmaja, praktisi hukum belia, Ida Bagus Radendra Suastama SH, MH menyebutkan, kendati secara sosiologis waria itu ada dalam masyarakat, namun dalam hukum positif mereka bahkan tidak dikenal. Misalnya dalam pembuatan surat otentik atau pencantuman status dikenal hanya dua jenis kelamin yakni laki-laki atau perempuan.

Waria dapat dikategorikan dalam sebuah anomali dalam masyarakat normal, sehingga tidak memiliki ruang dan dapat diterima secara yuridis formal maupun hukum agama Hindu “jelas Ida Bagus Radendra. Persoalan adanya perasaan terkekang akibat tidak bebas melakukan perbuatan layaknya komunitas normal adalah cara pandang semata-mata dan belum layak dikait-kaitkan dengan HAM, karena perbuatan kaum ini juga bagi masyarakat normal dianggap menabrak norma-norma susila yang ada. Namun sesungguhnya hak sebagai manusia secara hakiki seperti hak hidup, bernapas, memilih tempat tingal dan memlih pekerjaan sama sekali tidak dibatasi.

Dewasa ini sejatinya sudah ada perubahan paradigma dalam masyarakat sehingga keberadaan Waria secara implisit telah diakui, dan karena itu kehadirannya tidak dianggap sebagai penyakit sosial, atau sampah masyarakat, namun dalam prilaku tertentu, khususnya dalam perbuatan hukum yang masih menjadi kendala, sebab tidak mudah untuk mengubah sebuah norma yang sudah mendarah daging dalam masyarakat.

Stigma anomali terhadap kaum Waria akan semakin membatasi ruang gerak mereka dalam kehidupan sosial, kendati hukum telah melakukan sedikit keberpihakan yang menerima mereka setelah merubah fisik dan biologis, tetapi mereka tidak akan pernah secara sempurna menerima kodrat sebagai wanita yang dapat menyusui, menstruasi dan hamil. (Agus Eriyana/Beny Uleander/KPO EDISI 85/JULI 2005)

Read More

Sabtu, Juli 24, 2004

Beny Uleander

Teknologi Tak Bermaksud Lahirkan Manusia Besi

Etos Kerja Bushido
Sulit dipungkiri bahwa tantangan itu tetap ada sepanjang sejarah eksisnya sebuah perusahaan, apalagi di tengah era kekinian yang kian keras dan bias. Untuk itu, setiap karyawan wajib meningkatkan kerja keras dan disiplin tinggi dengan cepat, tepat dan dapat menghasilkan penjualan. Untuk menghadapi tantangan dunia perdagangan yang kian mengglobal, konsep etos kerja Jerman, Jepang dan Semberani patut dihayati dan dilaksanakan.
Penemu 27 jenis produk berbasis teknologi EM mengakui, kamajuan dan peningkatan usaha tidak terlepas dari produksi, teknologi dan sumber daya manusia (SDM). Produksi dan teknologi dapat tercipta jika kualitas SDM memadai, ditunjang dengan managemen yang rasional, kerja keras dan disiplin tinggi. Khusus karyawan yang terjun di bidang penjualan, penting mengetahui kiat mendekati konsumen. Antara lain, saat bertatap muka dengan karyawan di NTB, adalah kemampuan untuk menggabungkan etos kerja Jerman, Jepang dan Semberani.
Teknik mendekati konsumen agar tertarik sama produk yakni keberanian, penampilan rapi, sopan santun, murah senyum, menjelaskan dengan gamblang mutu dan manfaat serta khasiat produk. Untuk lebih sukses, kedepankan tindakan rasional, disiplin tinggi, kerja keras, hemat bersahaja, tidak berfoya-foya, menabung dan investasi (etos kerja Jerman). Etos kerja Bushido dari Jepang, terletak pada aspek spiritual (semangat bushido) yang menjadikan sesorang satria sejati. Jika semua SPG menerapkan etos kerja ini, peningkatan penjualan justru jauh lebih gampang.
Dalam prakteknya, etos kerja Bushido ada yang dikenal dengan Gi (keputusan dan sikap yang benar), Yu (berani dan satria), Jin (murah hati), Re (sopan santun), Makoto (tulus), Melyo (moral) dan Chugo (mengabdi dan loyal) yang disokong dengan Semberani. Semberani juga menjadi kunci kesuksesan karena di dalamnya mencakup dasar keseimbangan, sejati, baik dan sabar yang dalam huruf kanji Cina dinamakan Zhen, Shan, Ren. Sejati dan sabar merupakan karakter alam semesta yang bersifat menumbuhkan dan membesarkan.
Karena itu agar SPG, organisasi bisa tumbuh dan berkembang, haruslah mengikuti karakter alam semesta. Disebutkan, ilmu pengetahuan harus dipraktekkan agar bisa menambah keyakinan. Keyakinan yang diperdalam dengan ilmu perkiraan akan menimbulkan kebijaksanaan. Dasar keberanian adalah cepat, tegas dan tanpa pamrih. Semberani menyangkut sikap hidup yang isinya sila adanya perbuatan baik, Samedi (pemusatan pikiran), panna (kebijaksanan). Sikap satria (kesederhanaan, cepat dan berani yang diikuti pengendalian pikiran dengan pernafasan. (Beny Uleander & Yuli Ekawati/KPO EDISI 63/MINGGU I AGUSTUS 2004)
Read More

Rabu, Juli 14, 2004

Beny Uleander

NTT, Kaya Budaya Tapi Mandul Kreativitas

Ajang seni yang paling kesohor di tanah seribu pura ini adalah penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diadakan rutin setiap tahun sejak tahun 1978 silam. Uniknya, pesta kesenian ini diikuti juga juga daerah-daerah lain di seluruh Indonesia. Setiap kabupaten berusaha menonjolkan kekhasan budaya daerahnya yang tertuang dalam aneka barang kerajinan seni dan pentas kesenian seperti seni tari.
Hal yang patut disoroti dalam PKB adalah ketidakikutsertaan berbagai kabupaten di NTT dalam ajang kesenian di Art Centre, Denpasar. Yang patut diacungi jempol cuma Pemkab Alor di bawah Bupati Ir Anis Takalapeta yang berani menginvestasikan citra budaya Pulau Kenari di mata masyarakat internasional. Perlu diingat, Bali adalah ikon pariwisata Indonesia dan salah satu komunitas internasional. Amat disayangkan mayoritas kepala daerah di NTT tutup mata dan telinga dalam menangkap peluang dan kesempatan tersebut.
Di gedung Bali Production Export, pengunjung dan wisatawan asing tahu budaya dan kesenian NTT hanya lewat ‘miniatur tenunan khas Alor’. Padahal selama ini NTT berkoar-koar sebagai propinsi dengan ratusan pulau (ada 556 pulau di NTT) dan ratusan budaya dan bahasa daerah. Tetapi ‘kemegahan’ budaya itu cuma menjadi kepuasan semu dikandang sendiri.
Memang pemerintah daerah NTT perlu memiliki semangat generasi muda dalam diri Katrida Omalor, Farida Obail dan Imanuel Maateng yang setia memperkenalkan ‘mosaik kebudayaan NTT’. Ketiganya tanpa kenal lelah menunggui stand pameran Pemkab Alor hampir selama sebulan penuh.
Di stand Pemkab Alor ini dipamerkan tenunan ikat motif Alor bergambar binatang seperti kura-kura, kupu-kupu atau gajah yang berasal dari Kolana, Pura, Lembu dan Kuwi. Ada juga peninggalan zaman perunggu pertengahan seperti moko dan nekara. Hasil tanaman perkebunan daerah Alor yang diperkenalkan berupa cengkeh, vanili, buah pinang, biji kenari dan jagung titi.
“Saya ingin memperkenalkan kebudayaan khas daerah Alor kepada dunia. Saya ingin orang luar negeri itu tahu kekayaan seni budaya kami,” ungkap Katrida. Memang disayangkan, ajang ‘nasional’ pertukaran dan perkenalan budaya ini diabaikan pemda kabupaten se-NTT, kecuali Alor. NTT memang kaya akan khasanah budaya daerahnya tetapi miskin dalam kreativitasnya. Sayang.
Read More

Senin, Juni 28, 2004

Beny Uleander

Free Man Vs Preman

Secara harafiah, kata preman berasal dari kata Free dan Man (Free Man); yang berarti orang yang bebas atau merdeka, dan yang mempunyai hak penuh sebagai warga negara. (Kamus Bahasa Inggris terbitan Oxford University Press 1969). Paruh abad ke-16, masih ada jejak-jejak orang yang mengasingkan diri dari keramaian dunia (fuga mundi) untuk mencari makna kehidupan. Mereka tinggal di hutan, gua-gua atau di padang gurun dalam kesunyian dan doa. Masyarakat abad pertengahan menghormati mereka sebagai guru kebenaran. Sebab, mereka yang tidak mau sibuk dengan urusan duniawi itu dianggap manusia bijak yang bebas dari ambisi, aroma balas dendam dan apalagi intrik politik.
Mereka ini disebut manusia bebas (free-man). Dalam kultur feodal itu, figur manusia bebas dicari dan didambakan rakyat jelata sebagai tokoh pembebas. Karena mereka tidak tahan hidup dalam situasi tertekan dan tertindas oleh ulah kerakusan tuan-tuan tanah. Tokoh free man yang mendengarkan suara rakyat dan terlibat aktif memperjuangkan hak-hak pokok rakyat inilah yang disebut bandit, yang berani berbicara atas nama kebenaran dan terus mengutuki kelaliman penguasa. Alhasil, bandit adalah tokoh intelektual, pembebas rakyat dan musuh nomor wahid kalangan bangsawan dan penjilat raja.
Dalam perjalanan sejarah ada bandit yang tidak puas di jalan ahimsa ala Ghandi. Segelintir bandit tergoda menggunakan cara-cara kekerasan untuk membela kepentingan rakyat. Mereka menghasut rakyat untuk membakar ladang, merampas tanah kaum ningrat atau membunuhnya. Akhirnya, tokoh bandit merosot menjadi penjahat berbahaya, ditakuti rakyat dan penguasa tentunya. Di Indonesia, bandit identik dengan preman yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan suka mengganggu orang lain. Kaum preman di Indonesia berkembang pesat di era 1980-an mulai dari desa sampai kota. Sepertinya ada rasa bangga dan tidak malu menyebut dirinya sebagai seorang preman. Bentrok antara preman (gangster) sering terjadi dan menyisakan virus keresahan bagi warga sekitar. Jika belum ada terapi yang jitu, Indonesia ini bisa menjadi negara Barbar. Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa.
Di sudut ini, preman sudah memasuki hampir semua lembaga institusi pemerintahan, eksekutif, legislatif dan yudikatif. Mereka cukup lihai mencatur permainan di Indonesia termasuk suksesi kepala daerah. Mereka lantang berbicara tentang aspirasi tapi dalam aksinya sangat tidak aspiratif. Sering berbicara tentang HAM, tapi aksinya banyak yang melanggar HAM, berbicara tentang berantas korupsi tapi justru penyubur korupsi, bicara tentang membuka lapangan kerja, tetapi banyak selingkuh dengan pengusaha demi sebuah keputusan PHK sepihak, dan seterusnya.
Untuk itu, rakyat tidak boleh malu-malu berkata bahwa ada preman yang menjadi wakil rakyat. Sebelum duduk di kursi rakyat, mereka menampilkan citra diri sebagai pembebas masyarakat dari rezim otoriter dan penguasa diktator. Dalam pidato, mereka biasa menelanjangi kebobrokan pemerintah, lalu mengajak rakyat berkoalisi mendepak penguasa dan antek-anteknya untuk membangun negara dan pemerintahan baru. Rakyat jelata yang selama puluhan tahun dibekukan kesadaran politis sering terkecoh dengan ‘ketokohan’ orator tipe ini.
Ingat! Bukankah pohon yang baik dikenal dari buahnya? Berbagai kebijakan publik yang amburadul, membingungkan dan membawa perpecahan dalam masyarakat bisa menunjukkan sejauh mana kualitas para perumus dan pengambil keputusan. Misalnya, UU Penyiaran dan UU Pendidikan Nasional yang kontroversial tetap disahkan, padahal secara substansial berpotensi membawa perpecahan. Yang tak kalah seru adalah pembatalan UU Teroris oleh Mahkamah Konstitusi dengan dalih lebih mengedepan hukum formal ketimbang memperhatikan fakta riil di lapangan.
Ada yang lupa bahwa saat dua bom diledakkan di Jl Legian Kuta, Bali, ratusan nyawa melayang sia-sia, denyut nadi lokomotif industri pariwisata Bali sempat terhenti, ribuan pekerja di-PHK. Lupa, kali. Singkatnya, banyak pejabat yang tidak rela menangis dengan rakyat banyak yang sedang menangis dan tidak ingin tertawa bila rakyatnya sedang tertawa seperti kata penerima Nobel Perdamaian 1997, Mgr Carlos Ximenes Belo, SDB dalam bukunya The Voice Of Voiceless (1997).
Di Bali sendiri, belakangan ini banyak warga yang mengelus dada menyaksikan tingkah wakil rakyatnya yang lantang berjuang untuk dapat Dana Purna Bhakti atau dana pengabdian (supaya agak halus). Ketika gaung purnabhakti mendapat sorotan dan penolakan dari berbagai unsur masyarakat, mereka bukannya minta maaf malah ngotot dengan dalih pengabdian wakil rakyat harus dihargai. Ini juga dalih mereduksi pengabdian sebatas uang. Bisakah kita memilah mana yang preman dan yang benar-benar free man. Mungkin lupa bahwa mereka itu wakil rakyat, ber-Bakti dan meng-Abdi karena dan demi rakyat banyak. Jika demikian, mengapa para wakil rakyat yang terhormat dan dihormati itu menuntut untuk tetap mendapat Dana Purna Bakti.
Pribadi yang tergolong dalam tipe free-man adalah mereka yang mengabdi dan bekerja tanpa pamrih serta menunjukkan kualitas diri sebagai solving maker bukan trouble maker. Memang setiap pekerja layak menuntut upah sebab untuk hidup manusia membutuhkan biaya alias duit, tapi bukan satu-satunya, melainkan dari semua yang disabdakan Tuhan. Tetapi besarnya angka Dana Purna Bhakti menunjukkan kurangnya kepekaan wakil rakyat akan situasi kemiskinan yang membelenggu rakyat akibat terpaan krisis ekonomi.
Kriteria seorang pejabat itu preman adalah saat kepentingan rakyat banyak terang-terangan diabaikan dan dirugikan. Contoh, pencemaran teluk Buyat yang diketahui ada pejabat yang super cuek dan mengeluarkan statemen bahwa kondisi itu lumrah dalam dunia industri. Menyakitkan sekali, kala mendengar mereka berbicara tanpa beban dalam dialog interaktif di TV.
Sudah saatnya, individu dalam masyarakat harus peka nurani --berani berbicara atas nama kebenaran guna melawan para ‘preman’ yang berbicara atas nama perut. Di tikungan ini, kehadiran seorang preman jalanan jelas meresahkan masyarakat tetapi keberadaan dan keberanian preman di lembaga Legislatif, Yudikatif dan Eksekutif justru akan meruntuhkan negara. KPO/EDISI 63
Read More

Minggu, Juni 27, 2004

Beny Uleander

Karyawan Perlu Miliki Sense Of Belonging

Tradisi pemantapan karyawan terus dilakukan secara rutin sebagai sarana merekat dan membangun hubungan personal dengan perusahaan. Pembekalan tentang sejarah perusahaan, spiritualitas, Semberani dan perbaikan menejemen tetap diberikan guna menyadarkan tingkat emosional dan motivasi untuk lebih giat menjalankan tugas yang diemban.
Berdirinya perusahaan ini melewati masa pencarian identitas, perintisan, pengembangan pasar dan investasi. Masa pencarian identitas adalah waktu studi Pak Oles; sang pendiri, yang teramat panjang mulai masa kuliah di Fakultas Pertanian Unud pada tahun 1980-an hingga Program S1 di Jepang. Tahap perintisan dimulai pada tahun 1995, dengan usaha mengembangkan resep tradisional pengobatan secara turun temurun dari Lontar Usadha Bali dan diproses dengan Teknologi EM (Effective Microorganism), yang menghasilkan berbagai produk Ramuan Pak Oles.
Ramuan Pak Oles adalah Ramuan Tradisional Bali yang terbuat dari kombinasi tanaman rempah yang berkhasiat obat. Ramuan Pak Oles diproduksi Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) Bokashi Bali di Desa Bengkel, Busungbiu, Buleleng. Saat ini, Ramuan Pak Oles telah dipasarkan di seluruh Pulau Bali, beberapa kota besar di Indonesia dan luar negeri.
Tahap pengembangan pasar dimulai dengan pembukaan berbagai divisi usaha, perekrutan karyawan, pengembangan pasar dan pendirian kantor cabang di berbagai daerah di Indonesia serta penetapan target. Sedangkan tahun 2000-2005 merupakan tahun investasi, pemantapan struktur kerja dan pembenahan menejemen perusahaan.
Untuk mendukung eksisnya perusahaan ini, tidak berlebihan jika pemilik perusahaan ini meminta agar setiap karyawan perlu miliki sikap sense of belonging terhadap perusahaan. Disadarinya, setiap karyawan adalah pribadi yang memiliki karakter dan keunikan tersendiri yang harus dikembangkan demi kemajuan perusahaan.
Kepintaran spiritual adalah kemampuan menggabungkan kecerdasan intelektual dan emosional. Spiritualitas semberani yang ditawarkan Pak Oles adalah seperangkat sikap hidup yang terdiri dari keseimbangan (sejati, baik dan sabar) dan keberanian (cepat, tegas dan tanpa pamrih).
Mengapa harus semberani, padahal masih banyak jalan spiritual lain yang bisa ditempuh? Jawabannya, ada dalam pepatah Latin; nemo dat non quam habet. (Tak seorangpun dapat memberi apa yang tak dimilikinya). Sikap Semberani merupakan hasil permenungan dan pengalaman konkrit Pak Oles dalam tahap pencarian identitas, perintisan usaha, pengembangan pasar dan investasi. (Beny Uleander/KPO EDISI 61/MINGGU I JULI 2004)
Read More