Tampilkan postingan dengan label Perspektif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perspektif. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 30, 2008

Beny Uleander

Bandit Kapitalis

Kesejahteraan tidak selalu dipungut dari perut bumi. Kesejahteraan juga bukan hujan yang meluncur turun dari langit. Itulah sebabnya, bangsa-bangsa Eropa pada abad pertengahan berkelana ke setiap jengkal benua baru. Segala hasil alam yang ada di perut bumi dilihat sebagai sumber-sumber kesejahteraan baru.
Namun catatan sejarah membagi pengalaman berharga. Bukan perkara gampang memungut bulir-bulir kesejahteraan. Perebutan kekayaan alam antar bangsa melahirkan penjajahan dan perang. Itulah awal kesadaran setiap komunitas membangun pertahanan diri. Sebuah visi baru bahwa kehidupan adalah hak setiap manusia. Demikian pula kekayaan alam adalah anugerah bukan kutukan. Dalam perspektif yang lugas, pengkhiatan terhadap ruang-ruang kehidupan dan kemanusiaan adalah awal kemiskinan.
Gairah mengumpulkan hasil-hasil alam akan berbeda di tangan kapitalis maupun humanis. Penyembah kapitalis terpesona penuh takjub melihat sumber-sumber kekayaan alam sebagai harta karun tak bertuan. Di mata batin kaum humanis, alam dan segala isinya adalah anugerah kehidupan. Alam adalah bentangan ladang kesejahteraan.
Mosaik kemiskinan, kemelaratan dan keterbelakangan sudah bergulir sejak era kekaisaran klasik hingga kepresidenan konstitusional modern. Siapakah yang menyalakan lentera kemiskinan di muka bumi ini? Mengapa kemiskinan yang diperangi setiap zaman selalu tampil lagi dengan potret yang lebih memilukan hati? Kemiskinan selalu terlahir di tengah komunitas yang sebagian warganya melihat kekayaan alam sebagai harta karun tak bertuan. Rona kemelaratan adalah buah sejati dari upaya sistematis dan strategis mengusir yang kecil tak berdaya menikmati kekayaan alam.
Di medan perang, prajurit-prajurit kapitalis adalah serdadu barbar yang menyebar virus-virus kematian. Mereka menertawakan Republik Ide yang dibangun Plato sebagai khayalan akan hadirnya surga dunia. Bagi mereka, De Civitate Dei yang dirindukan filsuf Agustinus pada abad ke-5 adalah tiran baru anti kedai anggur dan rumah bordir. Itu berarti, tak ada kesempatan buat merayu, tak ada tempat pertemuan rahasia yang selama ini dinikmati penyembah kapitalis.
Mereka juga mengejek kisah perjalanan Raphael Hythlodaeus, satu dari 24 orang yang dibawa sang penjelajah termashur, Amerigo Verpucci, dalam perjalanan dan ditinggal di Cabo Frio, Brazil. Bagi dedengkot kapitalis, penemuan pulau utopia oleh Raphael Hythlodaeus -tokoh rekaan- Sir Thomas More pada tahun 1515 itu tak lebih dari ungkapan frustrasi “orang-orang saleh”.
Kehidupan adalah sebuah petualangan sekaligus pertarungan. Memang benar adanya. Petualangan untuk mencari dan mengusahakan merekahnya keadilan, kebaikan dan keluhuran dari rahim bumi. Bukanlah hal yang mustahil untuk terwujud selama kita percaya pada pengembangan dan penemuan terdalam kemanusiaan itu sendiri. Hanya pribadi-pribadi yang sudah mencapai “pencerahan humanis” yang berani tampil sebagai pemimpin yang menghancurkan benteng-benteng kapitalis. Hak-hak rakyat harus dilindungi di tengah pasar bebas yang sangat menguntungkan para tengkulak. Negara dan pemerintah belum berani melakukan intervensi terbatas kebijakan harga sembako dan produk pertanian yang selama ini tidak bersahabat dengan rakyat kebanyakan. Tapi apa yang mau dikata, negeri ini masih dipadati pemimpin-pemimpin karbitan yang dibesarkan kampanye media massa dan iklan.
Bisakah kesejahteraan bersemi di negeri kita? Bila ditanya dari mana datangnya kesejahteraan, maka jawaban historis amat panjang mengurai debat ideologi. Setiap ideologi pembangunan berlomba-lomba menawarkan kesejahteraan kepada para penganutnya. Yang pasti, jalan menuju kesejahteraan akan dipandu oleh pemimpin yang melihat kekayaan alam sebagai rahmat bukan kutukan. Hatinya sakit dan menderita melihat rakyat agraris hidup miskin di tanah pertanian.
Tak ada salahnya di tengah pertarungan iklan calon pemimpin bangsa jelang pilpres 2009, kita terus berdoa lahir tokoh pemimpin yang mendesain sketsa besar tapi membumi bagaimana dengan cara-cara singkat membuat rakyat di pedesaan sejahtera.
Karena itu, seorang pemimpin sejati adalah pribadi yang terus-menerus menerapkan ideologi kesejahteraan yang diyakini membawa kemaslahatan bagi bangsa.
Ideologi bukan sekedar kumpulan ide atau gagasan yang dipahami Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 sebagai "sains tentang ide". Ideologi adalah perbuatan yang membangkitkan rasa percaya rakyat. Sehingga rakyat pun terdorong untuk bekerja lebih keras. Karena rakyat tahu buah hasil kerja keras mereka akan mendatangkan peningkatan pendapatan.
Saat ini, rakyat terus diteror dengan kanaikan-kenaikan harga. Pelaku pasar bebas dengan santai berujar pada akhirnya rakyat akan menyesuaikan daya belinya. Wahhh…kasihan, rakyat miskin-papa-hina-dina-lemah- dibantai serdadu-serdadu kapitalis yang berpikir Jakarta adalah Indonesia. Mereka tak peduli menajamkan ideologi dan visi bagaimana 70 persen uang yang beredar di ibukota negara itu terdistribusi juga ke daerah-daerah. Bangsa kaya raya, tapi pemimpinnya idiot ataukah bandit-bandit kapitalis baru? Sejarah yang akan bercerita lagi kepada anak cucu kita, siapa itu pemimpin sejati di negeri ini. (KPO EDISI 155)

Read More

Minggu, Juni 15, 2008

Beny Uleander

Menata Agrowisata Terkonsep

Sudah saatnya, pembangunan industri terutama industri pertanian berada di desa. Bukankah segala sumber daya yang berhubungan dengan industri pertanian berada di desa? Desa, dengan segala aktifitas dan potensi pertaniannya tetap menjadi aset utama pembangunan industri di seluruh wilayah perkotaan. Bila masyarakat desa sejahtera, maka Indonesia juga akan sejahtera.
Untuk mengembangkan industri pertanian di desa, misalnya PT Karya Pak Oles Tokcer menggulirkan lima gagasan pokok. Pertama, Konsep Pengembangan. Konsep pengembangan industri pertanian harus lebih banyak menggunakan bahan baku lokal, yang diproduksi petani setempat. Petani dibina agar mampu memproduksi hasil pertanian sehingga hasilnya bisa ditampung oleh industri dengan harga yang telah disepakati, masing-masing mendapatkan keuntungan nyata untuk saling menghidupi antara petani dan pengusaha industri. Industri pertanian hendaknya terletak tidak jauh dari sentra pengembangan bahan baku demi menekan biaya transportasi, mampu menyerap tenaga kerja di pedesaan.
Industri memberikan pendapatan kepada desa berupa pajak desa dan bantuan insentif yang bertepi pada pembangunan desa. Industri mampu meningkatkan investasi Pemerintah Daerah untuk pembangunan infrastruktur di desa-desa, sekitar lokasi industri. Dengan begitu industri mampu meningkatkan daya beli masyarakat desa karena adanya aktivitas ekonomi dalam bidang jasa dan perdagangan di desa.
Kedua, Teknologi Pengembangan. Industri pertanian dikembangkan berdasarkan teknologi lokal atau nasional (bukan impor), mesin-mesin dirakit dan dimodifikasi secara nasional. Teknologi yang digunakan hendaknya dikembangkan berdasarkan budaya lokal yang dimodifikasi untuk kebutuhan industri modern. Modifikasi teknologi merupakan tugas lembaga penelitian yang dibiayai pemerintah daerah untuk mengembangkan industri pertanian, sehingga efisiensi, kualitas dan kontinyuitas produksi dapat ditingkatkan. Penggunaan teknologi lokal dapat menghasilkan harga jual produk yang dijangkau masyarakat luas, sehingga rakyat terpenuhi kebutuhannya dengan harga yang riil dan industri dapat menghidupi dirinya, karena pangsa pasar mampu membeli dan memberikan keuntungan riil.
Ketiga, Konsep Pemasaran. Pangsa pasar produk industri adalah masyarakat lokal (Indonesia). Potensi penduduk sebanyak 220 juta jiwa merupakan pangsa pasar yang sangat besar dan belum tergarap. Selama ini, justru negara lain yang datang untuk berdagang produk industri pertanian ke Indonesia, karena kita selalu menganggap enteng potensi pasar yang dimiliki. Industri dari hasil pertanian sebagian besar berupa produk makanan dan minuman, yang hasilnya bisa dikonsumsi masyarakat Indonesia, jika produknya didukung kualitas, jaringan pasar dan informasi yang kuat.
Keempat, Konsep Permodalan. Industri pertanian hendaknya didukung permodalan dari bank dalam negeri, yang uangnya bersumber dari dana masyarakat. Uang yang dipinjamkan secara perlahan akan membesar sesuai kemajuan perusahaan. Untuk mengembangkan industri pertanian tidak diperlukan modal yang besar karena faktor produksi seperti bahan baku, sumber daya manusia. Industri juga harus didirikan dari kecil dan perlahan menuju yang besar. Modal yang dimaksud bukan semata-mata uang yang dibutuhkan dari bank, tapi jauh lebih penting adalah modal kreatifitas, ilmu pengetahuan dan modal keberanian untuk menjalankan usaha. Bila semua modal itu cukup kuat dan saling menopang, jelas memberikan nilai tambah secara terus-menerus kepada produk, dan itulah yang menghasilkan penjualan dan keuntungan bagi sebuah perusahaan.
Kelima, Konsep Pemanfaatan Sumber Daya Manusia (SDM). SDM yang digunakan hendaknya direkrut dari SDM lokal (asal Indonesia). Kita bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku yang masing-masing mempunyai keahlian (bakat alami) sesuai adat istiadat setempat. Perlu menempatkan SDM pada tempat yang tepat sesuai keahliannya, dan meningkatkan SDM melalui program pendidikan dan pelatihan secara kontinyu. Gunakan sesedikit mungkin atau tidak sama sekali tenaga-tenaga dari luar negeri karena biayanya sangat besar. Kalaupun ada SDM luar negeri, segera diserap ilmu dan pengalaman mereka untuk diajarkan kepada SDM lokal. Dengan cara ini, SDM lokal miliki nilai keahlian yang lebih untuk bekerja di bidang menejerial menengah ke atas.
Pola pikir industri pertanian bukan berarti harus membangun dalam skala besar, memakai teknologi tinggi dan mahal, alat canggih dan perizinan ketat. Industri pertanian berarti produksi yang kontinyu, harga produk stabil, kualitas terstandar, pemasaran terjamin dan keuntungan jelas. Konsep pembangunan pertanian harus dibalik dari hilir ke hulu, dari industri pasca panen ke produksi budidaya pertanian.
Konsep tersebut akan merubah pola pikir petani dari pemasaran ke produksi. Pasar yang jelas akan memperkuat produksi budidaya. Sebaliknya produksi budidaya tidak menjamin pasar yang baik, dan sebaliknya justru bisa merusak pasar. Membangun industri di desa adalah usaha mendidik dan mengajarkan kepada para petani untuk memberikan nilai tambah dari produk yang dihasilkan. Salah satu nilai tambah, yakni dengan memperluas cakrawala berpikir petani ke arah industri, baik perorangan (industri rumah tangga), kelompok (koperasi) maupun perusahaan. Secara ilmiah, aktivitas untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian itulah yang lebih dikenal sebagai pengolahan pasca panen, dan dalam bahasa menejemen, menjalankan industri pertanian. (KPO Edisi 154)

Read More

Selasa, Juni 03, 2008

Beny Uleander

Suara Nurani JB Mangunwijaya

Masyarakat dunia terkejut campur heboh. Tepatnya, Jumat (30/5), ekspedisi organisasi Survival International yang mendukung suku-suku pedalaman di seluruh dunia, mengambil gambar Suku Indian langka yang dikira sudah punah di pedalaman Hutan Amazon perbatasan Brasil dan Peru. Foto mereka tertangkap dari pesawat udara sedang mengarahkan busur dan panah ke arah pesawat.
Apa hikmah penemuan menggemparkan tersebut bagi bangsa Indonesia? Di tengah sergapan peradaban modern, kita lupa bahwa gaya hidup materialistik demi perut dengan mengekploitasi alam membuat kehidupan penduduk asli di tanah Papua kian terpinggirkan dan tergusur. Sebagian suku ada yang punah sementara hasil alamnya dijarah habis-habisan. Di Sumatra, habitat hidup suku anak dalam yang hidup bersatu dengan alam pun mulai terusik akibat revolusi hutan jadi perkebunan kelapa sawit.
Penggalan kegusaran kembali melukai rasa bangga sebagai orang Indonesia. Pada tahun 2007 lalu, Candi Borobudur tergusur dari penilaian masyarakat internasional sebagai 7 keajaiban dunia. Kembali tahun ini, dalam pemilihan 7 Keajaiban Alam yang dilakukan secara online di situs http://www.new7wonders.com/, tiga tempat wisata nominator Indonesia: Gunung Krakatau (Banten), Danau Toba (Sumatera Utara,) dan Taman Nasional Komodo (NTT) masuk nomor buncit.
Dalam survei The New7Wonders Foundation tersebut, Taman Nasional Komodo mendapat urutan nomor 36, Gunung Krakatau urutan 70, dan Danau Toba urutan 71. Posisi ketiga tempat wisata Indonesia ini masih jauh di bawah tempat-tempat wisata di Asia. Saat ini 7 Keajaiban Dunia yang baru adalah The Great Wall of China, Petra, Chichen Itza , the Statue of Christ Redeemer, the Colosseum, Machu Picchu and Taj Mahal.
Minimnya suara pemilihan destinasi wisata dunia ini tidak lepas dari ketidakpekaan Departemen Pariwisata Indonesia untuk menggalang dukungan lokal dan internasional lewat kampanye dan sosialisasi. Padahal destinasi wisata yang masuk 7 keajaiban dunia dengan sendirinya akan menyedot perhatian dan kunjungan masyarakat dunia.
Mosaik fakta ketertinggalan dan kerapuhan pembangunan menandai peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Pada era Budi Utomo, semangat kebangkitan dipicu oleh gairah melawan satu musuh yaitu penjajahan kolonial Belanda. Dari satu muara perlawanan itu mengalir rasa kebangsaan, persatuan dan pengorbanan materi maupun nyawa.
Pertanyaan penuh gugatan kritis dilontarkan saat bangsa ini merindu-kenang kebangkitan nasional di era reformasi ini. Siapakah musuh bersama bangsa ini? Merumuskan dan mengidentifikasi musuh bersama amat penting. Sebab energi bangsa ini akan terhimpun untuk melumpuhkan musuh yang satu dan sama.
Menilik situasi sosial Indonesia, kita melihat bahwa wajah kemiskinan terbentang dari Sabang sampai Merauke. Warisan kekayaan sumber daya alam tinggal kebanggaan semu. Negara yang sempat dijuluki macan Asia itu sudah menjadi macan ompong, dalam iklan layanan masyarakat HKTI oleh Prabowo Subianto, ada benarnya.
Krisis ekonomi yang kembali mencekik bangsa ini bisa dilihat sebagai “padang gurun” refleksi bahwa ada yang keliru dengan strategi pembangunan di negeri ini. Kemelaratan hidup adalah akibat ketidakcerdasan mengelola potensi dan peluang. Ada arah pembangunan yang salah dan perlu segera diperbaiki. Menurut bahasa mantan Presiden BJ Habibie, pembangunan Indonesia yang macet ini perlu “direstart” meminjam istilah sistem kerja mesin komputasi.
Perombakan paradigma untuk membangun Indonesia baru dalam perspektif sederhana dimulai dengan menata hati nurani. Politik hati nurani yang dulu gencar disuarakan budayawan (alm) Jusuf Bilyatar Mangunwijaya pada tahun 1995 seperti hilang ditelan pertikaian agama, konflik antar etnis dan gontok-gontokan antar partai politik. Hati nurani adalah pelita yang bercahaya dalam jiwa. Menerangi lorong-lorong kehidupan. Suara yang menuntun ziarah langkah kita. Tekad yang membenihkan harapan di tengah himpitan kehidupan. Percikan keluhuran manusia yang tak bisa ditukar dengan uang. Hidup akan berakhir dan raga menuju kebinasaan, tetapi hati nurani tetap hidup di segala zaman. Saatnya kita merasakan sentuhan jari jemari nurani untuk merasakan detak jantung bangsa ini.
Hati nurani yang bening bisa melihat dengan jelas sumber masalah di negeri ini. Pendidikan bergaya kapitalis harus ditinggalkan agar semua anak Indonesia dapat menempuh pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi. Pemberantasan korupsi tidak sekedar tebang pilih sehingga keadilan hukum menjadi roh di negeri ini. Uang negara pun akhirnya efektif untuk pengembangan fasilitas layanan sosial dan prasarana fisik lainnya.
Hati nurani yang jernih memberi visi baru: kebangkitan pasar dengan menajamkan daya saing (pendidikan untuk kecerdasan rakyat bukan untuk mempertebal kantong), merangsang investasi asing dengan persyaratan ketat merekrut dan memperdayakan SDM pribumi, menajamkan filosofi Pancasila sebagai identitas bangsa yang plural dan bermartabat. Akhirnya modal dasar kekayaan SDA dan tenaga kerja tidak lagi menjadi kutukan karena hati nurani yang berbicara. (Beny Uleander/KPO EDISI 153/JUNI 2008)


Read More

Selasa, Mei 27, 2008

Beny Uleander

Lumbung Padi Dunia

James Simpson, penemu Chloroform, ketika ditanya apakah penemuan terbesarnya? Ia memberikan jawaban yang mengguncang kepongahan manusia. “Penemuan terbesar yang pernah kubuat adalah bahwa aku adalah orang berdosa yang tersesat,” ujarnya mantap. Secuil kisah pengakuan Simpson memberikan gambaran faktual bahwa manusia adalah pribadi-pribadi yang menghidupi tiang-tiang peradaban. Kerapuhan, kebodohan dan kesombonganlah yang membuat manusia jauh tersesat dari rahasia kekayaan alam.

Kemampuan manusia mengekplorasi alam dan tatanan sosial tidak lahir dari kipasan mimpi, tapi dari pencarian nilai-nilai abadi. Tentu saja, rasa rindu imanen tertanam rapi dalam lubuk jiwa. Ya rindu akan perdamaian abadi, kesejahteraan dan kerukunan hidup membuat kita tetap bertahan sebagai satu bangsa dan negara. Meski hidup makin sulit, tapi optimisme bahwa kesejahteraan itu benar-benar ada di muka bumi ini. Kemakmuran bukanlah ideologi “pepesan kosong”.

Dalam ranah kegelisahan melihat situasi sosial politik Indonesia, kita dapat mengambil sketsa tubuh sebagai penjara jiwa versi Plato. Komponen tubuh merujuk pada kebijakan politik artifisial yang mengikat dan mengatur kehidupan rakyat. Sedangkan “ruang jiwa” berisi daya hidup dan daya cita pendirian bangsa ini yaitu: masyarakat adil makmur dan terciptanya perdamaian dunia.

Potret riil konstelasi politik saat ini mengingatkan kita bahwa sejarah tengah berulang. Ya, pemerintah dan elite politik tanpa kita sadari telah menjelma menjadi raja-raja feodal klasik. Rakyat jelata terus diberi beban membayar upeti yang terus meningkat. Tapi apa yang terjadi? Upeti itu bukan untuk meringankan biaya pendidikan, membantu pengobatan gratis atau memperbaiki fasilitas publik! Dana publik bergulir ke mana? Kenapa anak jalanan terus meningkat? Jiwa muda mereka laksana embun yang mongering di pagi hari tanpa merasakan kasih sayang. Kenapa gelandangan dan fakir miskin terlunta-lunta di pinggir jalan? Padahal kita punya departemen sosial? Dan, konstitusi kita –barisan tulisan ayat dan bab- mengatakan bahwa negaralah yang akan menjamin dan memelihara hidup mereka.

Rasa syukur dan bangga kembali terpatri saat kita melihat sederet anak bangsa dengan hati suci membuat berbagai gerakan pemberdayaan bagi kaum papa. Suatu pertanda bahwa di tengah bangsa yang bebal hatinya masih ada orang-orang yang mengaktualisir rindu rasa hati nan abadi.

Selama gairah menumpuk harta menjadi hawa kompetisi di bidang politik, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan, maka semakin jauhlah bangsa ini dari peradaban modern. Di bidang ekonomi terasa sekali berbagai bantuan untuk orang miskin justru jatuh ke tangan orang kaya. Memang wajar bantuan “kembang gula” selalu direbut semut-semut yang rakus untuk ditimbun sebagai persiapan di musim hujan.

Hal yang menggelikan melanda dunia pendidikan kita. Saat musim ujian nasional tiba, siswa-siswa “bebas dari tekanan mental”. Sebaliknya para guru dan orangtua yang cemas dan bingung bagaimana meluluskan anak-anak mereka. Memang lucu kita menyaksikan sekarang sebuah ujian sekolah dikawal polisi. Lebih tragis lagi, ada guru dan kepala sekolah yang digiring ke kantor polisi karena membocorkan soal ujian.

Bangsa ini membutuhkan “sumber air” yang mengaliri sungai peradaban. Dan, sumber air itu adalah kemampuan untuk menerima perbedaan. Itulah sumber kecerdasan sejati yaitu menempatkan keragaman sebagai mosaik peradaban. Selama berbagai perbedaan pendapat, pandangan hidup, budaya dan suku dilihat sebagai ancaman, maka sendi-sendi kebangsaan yang kita bangun selama ini penuh guratan kepalsuan.

Itulah sebabnya kita berharap pemerintahan SBY-JK tidak tumpul hati. Bahwa bantuan tunai langsung kepada orang miskin adalah bantuan yang sia-sia. Kenaikan BBM otomatis harga barang dan jasa turut naik. Toh hidup makin sulit. Janganlah rakyat disiksa terus-menerus dengan upeti-upeti demi kelanggengan kursi kekuasaan. Padahal garong besar dan lintah darat di tubuh Pertamina dibiarkan saja menggelapkan distribusi BBM bersubsidi.

Bantuan Rp 100 ribu per bulan selama ini belum dievaluasi total. Lebih baik dana yang besar itu digunakan untuk membuka lembaga-lembaga kursus yang mengasah ketrampilan putra-putri Indonesia. Kelak di tanah rantau –entah di Malaysia atau Arab Saudi- mereka dihargai sebagai orang-orang yang “berilmu”. Para majikan pun segan untuk menyiksa atau memperkosanya karena ada rasa hormat. Jarang kita dengar ada tenaga kerja asal Filipina yang diperlakukan kurang ajar. Karena mereka rata-rata dikirim sebagai tenaga perawat atau dokter dengan kualifikasi pendidikan yang baik.

Kunci perbaikan DNA manusia Indonesia ada pada akar “peradaban Shindu”. Kita lahir dari satu rumpun, tentu saja kita memiliki konstruksi budaya yang satu dan sama. Inilah sebenarnya “ikatan tersembunyi” yang jarang dieksplorasi demi penyegaran kontrak sosial budaya kita sebagai satu bangsa. Memang dari luar dunia internasional terkagum-kagum. Bangsa yang besar dengan keanekaragaman budaya, suku dan agama selalu kompak mendukung tim kesayangan entah timnas sepak bola maupun tim merah putih Thomas & Uber Cup.

Perbaikan konstruksi budaya adalah agenda besar yang tidak bisa ditawar lagi. Tapi itu adalah syarat utama membuat mimpi kita menjadi kenyataan. Kita bermimpi menjadikan Indonesia sebagai LUMBUNG PANGAN DUNIA! Laut dan daratan kita memiliki potensi tersebut. Kita tinggal perlu kemauan dan kemampuan mengerahkan kerja keras dan kerja cerdas kita di semua lini --iptek, sosial, ekonomi dan politik. Semoga seperti James Simpson, elit politik, garong besar dan lintah darat di negeri ini sadar bahwa mereka telah tersesat. (Beny Uleander/KPOEDISI 152/MEI 2008)

Read More

Senin, Mei 12, 2008

Beny Uleander

Virus Kutukan Klasik

Peluang pasar dan kunci sukses. Itulah dua topik hangat bidang ekonomi yang kini tengah tren di kalangan tua dan muda. Banyak buku telah beredar yang berupaya mengupas tuntas dari berbagai sudut pandang tentang rahasia sukses, kiat-kiat bisnis dan meretas manajemen usaha yang sehat, kokoh, dan dinamis. Perusahaan-perusahaan papan atas hingga kelas “sandal jepit” mengirim calon-calon manajernya mengikuti seminar-seminar smart yang membahas konsep manajer dan kepemimpinan yang tangguh di era global.

Ternyata di dalam lalu lintas literatur dan seminar yang menggodok ilmu kesuksesan maupun seni menjual terdapat satu virus kutukan klasik. Apalagi kalau bukan “omelan” tentang rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di saat “peradaban marketing kapitalisme” membutuhkan tenaga kerja outsourching yang handal, lagi-lagi SDM Indonesia selalu kalah masuk bursa kerja internasional. Itulah sebabnya mengapa kini manufaktur raksasa dengan brand mashyur membangun offshoring –pembukaan pabrik-pabrik perwakilan sebuah produk— jarang melirik Indonesia. Sebaliknya produsen hanya membidik potensi pasar Indonesia sebagai lahan empuk perdagangan produk mereka. Selain pertumbuhan penduduk yang mencengangkan, mental dan budaya konsumsi orang Indonesia amat menggiurkan.

Bukan berarti manusia Indonesia bodoh dan pandir. Kita adalah cucu dari leluhur terhormat yang telah menghidupi peradaban gemilang masa lalu. Warisan nilai-nilai adat yang imanen (luhur, satria, suci, manusiawi) hingga artefak kebudayaan amat mengagumkan. Dan, ada segelintir anak-anak genius dari rahim bumi pertiwi yang tersebar di berbagai kolong langit dengan keahlian di bidang tertentu. Sungguh sayang rezim yang berkuasa tidak memiliki komitmen merekrut ataupun mengundang mereka berbagai ilmu di kampung halamannya. Mereka lebih merasa nyaman dan cocok mengeksplorasi bakat dan talentanya di negeri orang. Itu berarti ada peluang bagi generasi mendatang menjadi angkatan pembaharuan yang superhebat bagi Republik ini. Asalkan, atribut-atribut pendidikan yang sudah kedaluwarsa dicopot dari kurikulum maupun “mainstream” pendidikan nasional.

Tiang-tiang pendidikan formal di negeri ini kerap dituding turut memperkeruh kompetisi kualitas SDM. Pertumbuhan ekonomi maupun daya saing kita terpuruk di kancah internasional. Pola-pola pengajaran sekolah yang “mencuci otak” siswa untuk melihat dunia selebar ruang kelas sudah saatnya tinggalkan. Padahal anak bisa menimba hikmah kehidupan dari realitas alam yang terberi. Demikian pula jurus-jurus menghafal teori dan kunci-kunci jawaban soal ujian nasional harus dilihat sebagai tragedi kecelakaan intelektualitas. Ruang kecerdasan dan kemandirian dalam berpikir untuk memecahkan sebuah persoalan telah hilang dari ‘sel-sel otak’ anak didik. Sebab sejak pendidikan dasar daya nalar siswa telah dibekukan dengan kebiasaan menghafal rumus-rumus mati. Kesuksesan pendidikan dikerdilkan dengan glamoritas gelar akademik ketimbang kehebatan otak kanan dan kiri membedah persoalan hidup, menata kepribadian dan merumuskan masa depan diri.

Harapan akan perubahan arah hidup bangsa ini tidak dimulai dengan melontarkan kutukan demi kutukan kepada generasi tua dari Orde Lama hingga Reformasi. Setiap generasi ditakdirkan oleh hukum sejarah untuk menulis kisahnya sendiri. Itulah hukum perubahan (the law of change) yang tidak dapat dibantah. Dan, skenario membantah maupun menolak perubahan adalah bagian dari perubahan itu sendiri. Tentunya kita berubah menjadi makin terbelakang atau makin progresif. Amatlah tepat bila generasi tua untuk belajar kembali kepada generasi muda yang dinamis. Atau sekurang-kurangnya, salah satu kunci berubah menuju istana kesuksesan adalah belajar memikirkan masa depan. Bukanlah saatnya lagi generasi tua mendikte generasi muda. Zaman telah berubah, termasuk di panggung perpolitikan nasional. Calon-calon pemimpin tua yang direstui DPP yang dihuni kalangan tua kalah telak dalam pemilihan langsung gubernur maupun bupati/walikota di beberapa daerah.

Pada tepian fakta lain, calon-calon manajer yang sukses adalah kalangan yang selalu merasa gelisah akan kemapanan status sosial dan ekonomi. Sehingga gairah dan nafsu belajar merupakan menu harian. Entah belajar menciptakan sesuatu yang baru ataupun belar dari jalan-jalan sukses perusahaan tertentu. Pemimpin harus bisa menciptakan sesuatu yang baru di jaman yang baru dan dengan semangat yang baru (the law of cause and effect).

Akhirnya kita berharap tokoh-tokoh pemimpin maupun manajer muda tidak terperosok dalam ketidakfokusan generasi sebelumnya (the law of justice). Dan, para pemimpin tua entah di organisasi swasta maupun birokrasi tak ada salahnya untuk terus memimpin asalkan memiliki semangat muda dan peka membaca perubahan zaman. Tantangan dan cobaan hanya bisa dilalui oleh perusahaan maupun negara yang cermat mengantisipasi perubahan itu sendiri. Musuh hanya bisa dikalahkan dengan belajar mengenal seluk beluk kelemahannya. Sudahkah kita mengindentifikasi “musuh-musuh sosial” yang bersemayam di dalam diri, organisasi, institusi, masyarakat dan negara? Saatnya kita depak virus klasik: lari dari tugas dan tantangan hanya karena tidak mau belajar dan merasa sudah pandai. (Beny Uleander/KPO EDISI 151/MEI 2008)

Read More

Selasa, April 15, 2008

Beny Uleander

Revolusi Hasrat

Kita menjejak kaki di sebuah jaman yang penuh ketakmengertian dengan rombongan manusia yang menapak pasti ruang-ruang kegilaan. Demikian teropong kegelisahan para pengamat postmodernisme yang berupaya meretas batas-batas kesadaran baru. Kultur sosial yang serba anyar terbangun cepat. Gaya hidup yang semula asing begitu mudah diserap golongan muda yang paling dinamis. Dan, jejak langkah perangkat digital terutama televisi menjadi matahari yang berputar mengeliling tata peradaban baru. Serta merta, terciptalah generasi bermental instan yang terperangkap dalam kerapuhan hedonistik dan terpasung mental konsumtif.
Ketika televisi ditemukan sebagai kotak ajaib, manusia kian sadar bahwa masih banyak kejutan potensial dalam rahasia semesta yang belum terungkap. Alam masih menyimpan berbagai penemuan untuk masa depan, tinggal manusia yang berupaya keras mendalami ilmu pengetahuan dan merakit teknologi untuk mendapatkannya. Kini, televisi telah menjadi industri hiburan dan informasi yang menyerap angkatan kerja yang amat besar.
Di ranah media massa pun telah terjadi pergeseran. Era media cetak memasuki fase buram. Masyarakat digital lebih suka menikmati berita daripada membaca berita. Gambar yang bergerak jauh lebih menyapa daripada gambar mati –hitam putih.
Masyarakat juga lebih merasa terbangun empati dan simpati dengan musibah tokoh publik yang disiarkan di televisi. Pemirsa melihat langsung air mata dan tangis sedih selebritis pujaannya. Sekelebat, televisi menjadi jembatan temu kangen dan tali kasih yang efektif tanpa komunitas face to face. Lantas demam publisitas pun dikemas dalam berbagai audisi yang menawarkan glamoritas hidup menjadi bintang selebritis dadakan. Tidak sedikit remaja muda yang terjerat rayuan dan sihir ingin menjadi artis instan. Gairah kompetisi lewat polling SMS terbukti cuma kedok bisnis perjudian terselubung. Banyak di antara mereka menjadi bintang lalu menjadi buntung. Jatuh miskin dan hidup terlunta-lunta di ibu kota Jakarta.
Publisitas televisi direfleksikan sebagai kejahatan terkini “dunia baru” bagi tegaknya nilai-nilai humaniora. Dalam lorong-lorong penalaran yang merdeka, industri televisi saat ini berarak menuju gerakan pembebasan diri –khususnya “pembebasan hasrat”- dari berbagai kungkungan keluarga, masyarakat, negara. Bahkan agama dianggap menghalangi “kebebasan total” manusia. Itulah “revolusi hasrat” yang menggiring generasi tua muda menapak tangga-tangga pembebasan hasrat, sebagaimana dikatakan Felix Guattari, berarti “…menghancurkan segala bentuk penekanan dan setiap model normalitas (normality) yang ada di dalam masyarakat.” Dan, tanpa kita sadari program-program acara yang ditayangkan di televisi menghipnotis penonton untuk melawan realitas-realitas terberi. Contohnya, sinetron remaja didesain apik menonjolkan kemewahan dan kekayaan. Dunia kampus yang seharusnya menjadi laboratorium penelitian ilmiah menjadi laboratorium cinta eros dan narsisme. Virus-virus false love -cinta yang memberi dampak negatif dalam hidup seseorang- seperti jadi penipu demi cinta, seks karena cinta, putus sekolah karena cinta dianggap sebuah sikap satria. Padahal jenis cinta ini (false love) selalu berakhir dengan kehancuran. Ada juga pemuda yang mengagungkan captive love, yaitu cinta yang membelenggu seseorang, sehingga tidak ada hal lain yang dipikirkan dan dikerjakan kecuali cinta. Akhirnya bagi pemuda digital membagi cinta adalah sebuah seni mengantar kekasih ke lembah kekecewaan. Toh jatuh cinta adalah sebuah petualangan untuk mencari cinta sejati.
Itulah aksi-aksi kriminal kebudayaan yang secara langsung menyuntik kultur baru bagi generasi muda. Tak heran bila etos kerja keras disertai keuletan dianggap sebagai “kebudayaan kolot” masa lalu. Padahal bagi bangsa Jepang dan Cina, kerja keras dengan pikiran fokus penuh dedikasi adalah kunci peradaban super modern. Jangan heran bila perilaku korupsi susah diberangus di Indonesia karena budaya kerja keras telah luntur.
Dalam perspektif teologis, manusia adalah tuan atas ciptaan. Ia diberi kekuasaan untuk menggunakan “ciptaan” (termasuk televisi) untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Tapi di jaman komputerisasi ini, ciptaan-ciptaan (produksi) sosial adalah semata produksi hasrat itu sendiri. Itulah sebabnya, setiap industri televisi secara piawai mengeksplorasi dan mengeksploitasi hasrat demi hasrat terpendam dalam diri manusia dalam rupa-rupa program tayangan. Ditambah lagi dengan iklim kompetisi pertelivisian yang “saling sikat” merebut rating dan kue iklan, membutakan mata “tim kreatif”. Mereka kadang membiarkan berbagai ketidakpantasan terpampang di layar kaca demi rating. Dan, tentu saja memuaskan hasrat pemirsa. Siapa yang salah? Benarkah hidup kita mengalir mengikuti energinya sendiri? Hidup kita dikondisikan di dalam keadaan “keseketikaan” dan “kesesaatan” (temporality) yang terus-menerus, menurut Yasraf Amir Piliang, tanpa ada konsistensi menuju tujuan yang pasti, misalnya “apa kehendak” Tuhan. Semoga kiprah televisi swasta lokal kian arif menghindarkan diri dari pusaran hasrat televisi swasta nasional yang terlanjur mengorbit dalam lintasan kapitalistik-hedonistik. (Beny Uleander/KPO EDISI 150/APRIL 2008)
Read More

Rabu, April 09, 2008

Beny Uleander

Megakorupsi & Megakonspirasi BLBI

Kenyataan menyedihkan menimpa negeri kita. Apalagi kalau bukan kerugian negara akibat skandal korupsi terbesar penyaluran dana Bantuan Likuiditas Indonesia (BLBI). Para penikmat dana BLBI terbesar tidak pernah tersentuh roh keadilan hukum pidana negeri ini.
Dengan konspirasi sangat sempurna, konglomerat “plat merah” era pemerintahan Soeharto sukses merampok uang negara (sejak 1999) lebih dari Rp 650 triliun plus bunga obligasi rekap yang harus ditanggung negara pertahunnya Rp 60 triliun sampai tahun 2030. Itu berarti kerugian yang harus ditanggung negara mencapai 250.000 triliun, ungkap Ismed Hasan Putro, Ketua Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI).
Keprihatinan berubah menjadi “rasa sakit” bagi generasi muda yang masih peduli dengan nasib negara kepulauan ini. Betapa tidak, meski negara telah dirugikan triliunan rupiah tapi tidak ada tindakan hukum atas kejahatan ekonomi dan megakorupsi yang mereka lakukan. Beban keuangan negara amat berat “menutupi” kerugian yang mencapai triliunan rupiah selama bertahun-tahun. Padahal kita tahu sektor pendidikan, kesehatan dan infrastruktur negeri ini perlu segera dibenahi dan memang membutuhkan modal yang amat besar.
Kasus BLBI secara singkat dapat dibagi menjadi dua. Pertama, para debitur yang telah mengantongi surat keterangan lunas dan debitur yang belum melunasi BLBI, seperti Sudwikatmono (Bank Surya), Ibrahim Risjad (Bank Risjad Salim International), Thee Nan King (Bank Danahutama), Hendra Liem (Bank Budi Internasional) Siti Hardijanti Rukmana (Bank Yakin Makmur), Anthony Salim (BCA). Untuk kelompok kedua aparat penegak hukum harus mengecek aset yang dijaminkan para debitur BLBI apakah sesuai dengan nilai aset yang dilaporkan ke BPPN. Selain itu, langkah pidana penggelapan yang dilakukan debitur, karena sebagian aset diagunkan kepada pihak lain, padahal kepemilikan aset sudah di tangan BPPN. Kita berharap Surat Keterangan Lunas (SKL) yang telah dikeluarkan untuk dibitur bermasalah kembali dikaji ulang.
Kelompok kedua adalah para pemegang saham yang mengemplang dana BLBI. Ada tagihan dari 8 debitur mencapai Rp 9,4 triliun. Mereka adalah Ulung Bursa (Bank Lautan Berlian), Atang Latief (Bank Bira), James Januardy dan Adi Saputra Januardy (Bank Namura Internusa), Lidia Muchtar (bank Tamara), Omar Putirai (Bank Tamara), Marimutu Sinivasan (Bank Putera Multikarsa) dan Agus Anwar (Bank Pelita). Untuk kasus ini, polisi dan jaksa diharapkan memproses secara hukum.
Sebelumnya kita bangga utang luar negeri kita berlahan-lahan bisa dilunasi. Sayang kini muncul utang baru akibat mismanajemen perbankan, campur tangan kekuasaan dan politik. Lagi-lagi rakyat yang menanggung bebannya. Bukankah kerugian negara itu ditutupi dari uang negara yang dipungut dari rakyat?
Terkuaknya kasus dugaan penyuapan Artalyta Suryani alias Ayin kepada jaksa Urip Tri Gunawan dilihat sebagian kalangan yang masih murni hatinya sebagai mukjizat di tengah megakonspirasi konglomerat, pejabat negara dan politisi. Sentuhan “Tangan Tuhan” inilah menjadi momen bagi aparat penegak hukum untuk berkomitmen membongkar berbagai kebusukan seputar penyaluran dana BLBI. Ini berarti kinerja kepolisian dan kejaksaan dipantau pers secara konsisten agar roh hukum yaitu rasa keadilan tegak di negeri ini. Bukan hanya penyalur dana yang mendapat sanksi pidana, sementara pihak penerima tidak tersentuh tangan hukum.
Kita mendukung langkah pemerintah yang menempuh beberapa langkah alternatif di antaranya mempercepat proses pengembalian uang negara melalui instrumen yang tersedia, melakukan tindakan hukum terhadap obligor yang tidak kooperatif dan menempuh langkah-langkah solutif yang harus menjamin keadilan, bebas intervensi dan bebas korupsi tentunya.
Kasus BLBI sesungguhnya merupakan pertaruhan harga diri dan kehormatan eksistensi negeri ini. Penyelesaian lewat jalur hukum yang seadil-adilnya menjadi indikator negeri ini masih dipimpin pemerintahan demokratis atau pemerintahan boneka buatan kaum kapitalis alias pemilik modal.
Ketidakseriusan pemerintah dan aparat penegak hukum menangani kasus ini kian melukai perasaan warga negara yang masih melihat eksistensi negara sebagai penyerahan kedaulatan rakyat.
Nilai yang kita petik dari megakorupsi BLBI adalah membangun usaha dengan semangat entrepreneur sejati tidaklah berarti menghalalkan segal cara. Kehormatan terletak dalam kerja keras yang jujur, tulis Grover Cleveland. Rasanya tepat kita memahat warisan mental Abraham Lincoln. “Ayahku mengajariku untuk bekerja; ia tidak mengajariku untuk mencintainya”. Kerja keras disertai kejujuran adalah ruang pertumbuhan bagi jiwa-jiwa muda progresif di negeri tercinta ini. (Beny Uleander/KPO EDISI 149/APRIL 2008)

Read More

Rabu, Maret 19, 2008

Beny Uleander

Pendobrak Tapal Batas

Raut wajah adalah ruang ekspresi getaran dan gejolak terdalam jiwa manusia. Wajah pucat menandakan jiwa yang sedang tergoncang. Wajah ketakutan mencuat saat keselamatan diri terancam. Suasana hati yang riang terpatri menjadi wajah berselimut kegembiraan. Lalu wajah-wajah kusut masai dijumpai pada individu yang frustrasi. Ibarat cermin, ketulusan jiwa terpancar pada wajah yang bersahaja. Ketegaran dan pahit getir kehidupan yang dijalani seseorang terpahat di wajahnya. Dalam refleksi kolosalnya, Charles Kingsley menyebut kecantikan wajah adalah tulisan tangan Tuhan. Terimalah itu di setiap wajah yang cantik, di setiap hari yang indah, di setiap bunga yang indah. Ada pertanda apa saat kita menyaksikan wajah-wajah gelisah dan pasrah rakyat di negeri ini pada babak awal tahun 2008 ini?
Kerumitan ekonomi global membuat pemerintah bingung. Harga minyak mentah dunia meningkat tajam melampaui prediksi pemerintah. Imbasnya, RAPBN 2008 yang rampung akhir September 2007 langsung kedaluarsa. Demikian pula harga komoditas dan pangan melonjak naik. Pelaku usaha ketar-ketir memikirkan kelanjutan investasi mereka. Pada saat yang sama, mulai mencuat berita anak-anak menderita busung lapar. Maklum, daya beli masyarakat terkapar di tangga-tangga kenaikan harga sembako. Kepasrahan di tengah kemiskinan menjadi mosaik kepedihan.
Di saat bangsa kita tengah terjerat gejala “resesi global”, terbit mentari optimisme bahwa kita akan dan harus menjadi bangsa yang memiliki harga diri dan kemandirian di bidang ekonomi. Tentu saja lantunan litani harapan ini bukan impian kosong atau khayal semu. Tanda-tanda kebangkitan Indonesia baru sudah mulai terlihat pada barisan pengusaha dan kalangan swasta yang tak mau pasrah pada situasi kelam Indonesia saat ini. Ya, kita kagum pada prestasi para chief executive officer atau CEO Indonesia. Dalam usia muda, 28-40 tahun, mereka fokus merintis karir maupun bisnis dari nol dan akhirnya mencetak prestasi gemilang di bidang usahanya.
Dalam bilik-bilik nuraninya, mereka menanam benih visioner bahwa kehidupan adalah rajutan investasi manajemen diri dan ekonomi. Dengan sikap ambisi yang positif, mereka pertama kali mendisiplin dirinya. Ini sebuah perkara tidak mudah. Sebab manusia dalam segala kerapuhannya berjuang memilah mana cita-cita dan mana keinginan. Disiplin kerja hanya tercapai bila setiap individu mulai menata kehidupan pribadi dan merumuskan cita-cita yang ingin ditorehkan dalam kehidupan yang cuma sekali ini. Dan disiplin diri adalah gerak sadar menata hasrat-hasrat liar yang kerap menghambat pertumbuhan diri. Seperti rasa malas, pasrah pada nasib, menyombongkan kepintaran “yang seujung kuku” dan sikap mental menggampangkan pekerjaan.
Kita bisa bertanya dari mana mereka menimba sumber inspirasi yang menggerakkan mereka untuk selalu menghargai waktu, bekerja keras penuh dedikasi dan tak jenuh mendorong sesamanya untuk maju. Dalam kajian pakar manajemen usaha Rhenald Kasali, perjalanan untuk menemukan jati diri dan mengeksplorasi potensi diri yang dahsyat tidak lain adalah gerak perubahan; recode DNA. Daya positif yang membangkitkan hasrat untuk maju, dalam teropong Kasali, bermuara pada kesadaran bahwa setiap manusia tercipta untuk sukses. Sayang potensi diri dengan segala keunggulan dan keunikannya sering terkubur karena lingkungan pergaulan yang salah, cara pandang yang sempit dan masih berkutat dengan pikiran-pikiran negatif bahwa hanya orang kaya saja yang akan terus sukses.
Lalu di mana titik picu yang menyebabkan terbangunnya kesadaran intelektual dan kepekaan bisnis tersebut? Kembali lagi pada mutiara kehidupan bahwa hanya orang yang rajin membacalah yang bisa menjadi pemimpin. Artinya gairah belajar tiada henti dari pengalaman, studi kepustakaan dan bercermin dari pergulatan hidup sesama mencari makna terdalam kehidupan adalah sumber inspirasi kehidupan yang tak pernah kering.
Dari secuil kisah kaum muda yang merengkuh sukses, kita memetik keyakinan mental bahwa Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara berkembang maupun maju sekalipun. Lalu dari mana kita bisa mulai memacu atau menabur benih-benih keyakinan itu? Di bangku sekolah? Ah, jarang cepat sukses karena tidak banyak guru yang sanggup membangkitkan potensi diri anak didik. Banyak guru yang lihai membangkitkan memori ingatan alias kemampuan menghafal teori demi kelulusan ujian. Lalu di keluarga? Memang keluarga adalah sel komunitas terkecil. Banyak generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia dan sopan budi pekertinya, tapi menjadi pengangguran?
Belajar pada pengalaman terberi, manusia adalah makhluk yang dikaruniai kebebasan. Dalam alur ungkap sederhana, kesuksesan adalah proses individual dalam memotivasi dirinya sendiri. Melihat kegagalan sebagai bagian integral kemajuan diri dan usaha. Jatuh bangun dalam berusaha dirasakan sebagai kenikmatan tiada tara. Pengalaman gagal adalah garam yang membuat kehidupan tidak tawar. Dengan kekuatan pikiran positif mereka berucap bahwa kesuksesan adalah milik setiap manusia yang harus dicari, diperjuangkan dan dipelihara terus menerus.
Rumus kemandirian bangsa bisa kita gapai bersama dengan (1) bergerak dari wajah konsumen menuju wajah produsen. (2) Bergerak dari wajah “tuan tanah” yang malas menuju wajah “penggarap tanah” yang saling percaya. (3) Bergerak dari wajah mayoritas rakyat yang membisu menuju wajah minoritas yang berpikir kritis-konstruktif. (4) Bergerak dari wajah calon penguasa menuju wajah calon manajemen. (5) Bergerak dari wajah penonton di pinggiran sejarah menuju pendobrak pada tapal batas. (6) Bergerak dari penerima dan pelaksana menuju pencipta, penyebar dan pelaku. (7) Bergerak dari pola cendekiawan pembela rumusan baku kepada cendekiawan penggali kebenaran. (Beny Uleander/KPO EDISI 148/MARET 2008)
Read More

Selasa, Maret 04, 2008

Beny Uleander

Petaka Jurus Mabuk

Kelaparan adalah tragedi kutukan mengerikan bagi negeri yang subur dan kaya sumber daya alam. Kelaparan itu adalah murni kebijakan politik strategis! Mengapa demikian? Demokrasi tidak bisa bertumbuh ideal saat perut rakyat kosong. Urusan perut harus ditahtakan kembali pada kursi peradaban. Seperti kata pepatah Yunani kuno, engkau tidak dapat berpikir dengan perut yang lapar, karena perut tidak punya telinga. Padahal salah satu sendi demokrasi adalah terbangunnya ruang dialog dan pemahaman sinergis kepentingan pribadi dan umum, keberimbangan simbiosis urusan privat dan ruang kekuasaan negara.
Derita balita busung lapar, bocah-bocah polos kurang gizi, ibu hamil dan anaknya yang mati kelaparan di sebuah kamar kos menjadi ironi di tengah gegap gempita uang miliaran untuk dana kampanye dan pilkada. Seuntai kesadaran mengalir dari kejernihan nurani bahwa wajah kelaparan tengah tergolek bonyok di tangan-tangan kekar kekuasaan. Mulai dari kepala desa hingga presiden, dari pengurus anak ranting partai hingga elite politik di lingkup DPP, dari kemewahan kursi DPRD hingga kemegahan Senayan. Ya, kelaparan adalah buah sistematis dari tumbuh kokoh-kuat-jaya pilar-pilar kekuasaan. Aneh untuk dinalar sekedar dengan minum secangkir kopi di pagi hari.
Di balik awan yang pekat, matahari terus bersinar menerangi bumi. Sebuah contoh alam yang indah untuk dikalungkan pada loh hati. Bahwa serunyam apapun kehidupan, kemerdekaan berpikir dan perpendapat harus terus diperjuangkan dan dipertahankan. Layak bila dikedepankan lagi kebeningan nurani tanpa kebohongan. Sudah banyak litani dusta yang ditebar partai-partai politik dan pemimpin pilihan rakyat. Seorang pemimpin setelah berkuasa –banyak diberitakan media massa—didemo konstituennya karena mereka lupa merealisasikan janji-janji manis saat kampanye. Pendidikan gratis, kesehatan gratis adalah hiburan bagi rakyat dengan perut lapar yang masih ingin anak-anak mereka cerdas, yang masih berharap buah hati mereka tidak kekurangan gizi. Kog tega ya, rakyat miskin terus-menerus dikibuli demi menapaki tangga-tangga kekuasaan!
Bencana kelaparan dan nafsu kekuasaan seperti dua sisi mata uang. Siapa yang mencintai rakyat negeri ini, yang tulus dan suci hatinya, pasti mengamini bahwa kelaparan bukan kutukan alam! Kelaparan dan kemiskinan bukan semata-mata karena kebodohan. Sebab kemegahan masa lalu telah mewariskan kebanggaan bahwa kita adalah keturunan dari para leluhur yang berbudaya dan berkepribadian adiluhung. Kearifan etis mereka bisa kita temukan dalam lontar dan naskah kuno. Rasa estetis mereka bisa kita nikmati dalam warisan megah Borobudur yang menjadi keajaiban dunia. Kerja akur dan kompak secara organisatoris dalam komunitas dan paguyuban dibangun nenek moyang kita dengan mata rantai gotong-royong, dedikasi, pengabdian dan pengorbanan. Betapa kaya norma-norma sosial yang hidup di berbagai suku dan etnik di negeri ini. Sebuah bukti unggul bahwa kelaparan dan kemiskinan terjadi akibat negeri ini salah diurus.
Kerumitan hidup rakyat negeri ini tidak dilihat sebagai tanda kekalahan. Seting kisah kelaparan massal adalah kisah miris zaman digital. Kebrutalan kapitalistik adalah “jenderal besar” yang otoriter dan anti demokrasi. Pemberdayaan potensi rakyat dan menggali keunggulan lokalitas agar memiliki daya saing di dunia usaha adalah musuh terbesar “jenderal besar kapitalistik”. Upaya melibatkan peran rakyat dalam berbagai kebijakan publik adalah rintangan sebesar pegunungan Jaya Wijaya yang bakal menghambat laju eksploitasi kekayaan alam. Itulah sebabnya tidak ada wakil rakyat di Senayan yang gigih berani memperjuangkan nasib rakyat korban lumpur Lapindo. Sebagian wakil rakyat telah menjadi boneka-boneka kekuasaan rezim kapitalistik yang angkuh, picik, licik dan kejam.
Kebiadaban rezim kapitalistik tidak bisa ditudingkan kepada negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara Eropa lainnya. Dalam ranah otonomi dan keberdikarian, kita masih berharap terbitnya wakil rakyat dan pemimpin negeri yang berani memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Satria yang berani melawan tekanan rezim kapitalistik. Kita meyakini, bila tampil pemimpin demikian, ia akan populer karena dicintai rakyatnya. Lebih dari itu, pemimpin sejati adalah insan yang merayakan kemanusiaan manusia di segala bidang. Itu bukan hal yang mustahil. Gandhi telah membuktikannya. “Luhurlah manusia itu. Baik hati dan suka menolong! Inilah yang membedakannya dari segala makhluk yang kita kenal,” kata Goethe. Dalam humanitas yang terwujud secara nyata inilah, kealamiahan dan kerohanian bersatu. Hugo Chaves telah merintis jalan ke sana. Evo Morales pun demikian, dan masih banyak lagi pemimpin di belahan negara lain yang telah sadar akan penjajahan modern.
Itulah sebabnya Wilhem von Humboldt (1767-1835) menekankan bahwa manusia etis-estetis bukan matematis rasional. Perbaikan mutu batiniah perlu didorong menjadi proyek bersama semua penghuni negara demokratis. Begitu juga di Indonesia. Agar para pemimpin kita berhenti saling mengolok dan menebar jurus mabuk. Agar rakyat tidak terus turun berdemo di jalanan kota hanya karena menagih janji-janji palsu! Semoga!!! (Beny Uleaner/KPOEDISI 147/MARET 2008)
Read More

Jumat, Februari 15, 2008

Beny Uleander

Politikus Paternalistik

KETIKA kebohongan dibicarakan setiap hari, maka orang akan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Demikian pula saat posisi wanita dalam tatanan sosial ditempatkan sebagai makhluk kelas dua, maka eksistensi wanita sebatas menjadi pelayan bagi kaum pria. Serta merta, hak-hak kaum wanita dalam ranah publik dipangkas. Selebihnya, ruang gerak wanita --makhluk yang lemah-lembut-- ada di rumah saja. Paradigma yang telah terbangun ini butuh waktu berabad-abad untuk memperbaikinya. Sampai-sampai Friedrich Nietzsche (1844-1900) mengatakan bahwa wanita adalah kesalahan terbesar Allah yang kedua!
Pada era Winston Churchill (1874-1965), banyak kalangan memprediksikan bahwa para wanita akan menguasai dunia pada tahun 2010. Lantas apa tanggapan Churchil? Ia terhenyak sambil berkata, “Tapi….? Hanya itu kata sanggahan Churchill. Singkat, padat dan jelas kandungan artinya. Meski hanya kata “tapi”, khalayak umum sudah paham kalau Churchill sealiran dengan Sokrates yang berpendapat bahwa sekali disamakan dengan pria, wanita menjadi superiornya. Maklum di daratan Eropa, pandangan filsuf Philo amat dominan, yaitu para isteri harus bekerja untuk suami-suami mereka. Mereka harus bekerja dengan mengembangkan ketaatan dalam segala hal.
Di jaman digital ini, posisi wanita yang layak dan bermartabat menunjukkan kemajuan sosial tertinggi sebuah komunitas. Sebab, wanita adalah manusia istimewa. Di mata Rudyard Kipling dalam Plain Tales from The Hills, tebakan seorang wanita adalah lebih tepat daripada kepastian lelaki. Wanita dengan sejumlah keunggulan adalah teman sepadan bagi pria. Apalagi Joseph Conrad menegaskan bahwa menjadi seorang wanita adalah ketrampilan yang sangat sulit, karena pada dasarnya tugasnya adalah menangani pria. Luar biasa apresiasi yang disematkan Conrad pada kualitas keibuan yang diemban kaum wanita.
Pergumulan menempatkan eksistensi wanita di kancah domestik dan publik tak pernah tuntas. Sinetron komedi “Suami-suami Takut Istri” yang ditayangkan Trans TV memantulkan “kelucuan yang lahir dari ketidakpantasan” sikap para istri terhadap suaminya. Perguliran wacana emansipasi dan demokratisasi peran setara pria dan wanita terus diprodusir dari lembaga agama hingga intelektual kampus. Sayang seribu sayang, saat debat dan perjuangan pengakuan akan kiprah wanita di ruang publik kian gencar, para aktivis hak wanita lupa akan rajutan moral kesehatan reproduksi wanita. Ya, termasuk batasan kewajiban negara menjamin kesehatan ibu dan anak sejak dalam kandungan.
Apalah artinya perjuangan emansipasi wanita, sementara banyak kaum ibu dan anak yang jauh dari pelayanan kesehatan. Perhatian negara terhadap kesehatan ibu dan anak merupakan ekspresi peradaban yang luhur. Sebab, negara dibentuk oleh komunitas pria dan wanita. Aktivitas seksual pria dan wanitalah yang terus menambah daftar penghuni planet bumi ini. Tidak ada kisah mitologi sekalipun yang mengisahkan pria melahirkan anak. Yang ada adalah kisah nenek masih bisa melahirkan anak. Dan, tidak ada cerita rakyat soal seorang manusia yang keluar dari rahim batu.
Perjuangan emansipasi wanita yang sejati terkandung di dalamnya perjuangan menjaga panggilan suci ibu dalam mengandung, melahirkan dan merawat anak. Kita akan menjadi bangsa yang prematur bila terus membiarkan angka kematian ibu dan anak terus meningkat, yakni 307/100.000 kelahiran. Reformasi gagal memperbaiki persoalan perempuan Indonesia. Kasus kekerasan, perdagangan, tekanan budaya dan adat istiadat, rendahnya pendidikan, serta dominasi kaum pria dalam rumah tangga masih terjadi. Dalam hal ini, pemerintah sekarang tidak perlu malu meniru gebrakan posyandu yang dahulu dipopulerkan Presiden Suharto. Bagaimana posyandu masuk sampai di desa-desa pelosok. Ada tenaga medis yang telah dikondisikan untuk mengabdi di daerah terpencil.
Saat gerakan posyandu redup,kita terkejut melihat fakta busung lapar yang menyayat hati. Pada simpul ini kita bisa menggugat bahwa kematian ibu dan anak yang terus bertambah dari tahun ke tahun menjadi tanda bahwa kaum wanita masih dijajah “politikus paternalistik”. Bukankah negara dikelola oleh lembaga-lembaga yang beranggotakan manusia? Jadi kepedulian negara terhadap kesehatan reproduksi wanita menjadi barometer tingkat kepedulian sebuah komunitas sosial.
Pertanyaan terbesar…yang belum dapat kujawab, meskipun aku telah melakukan penelitian selama 30 tahun mengenai jiwa wanita adalah “Apakah yang diinginkan oleh wanita?” Itulah kata Sigmund Freud (1856-1939). Mungkin pertanyaan kegelisahan Freud ini layak pula diajukan kepada kaum wanita Indonesia. Di mana suaramu sebagai mayoritas penduduk Indonesia? Ataukah sebagian besar wanita Indonesia masih dininabobokan petuah Aristoteles bahwa kaum perempuan adalah kaum laki-laki yang tidak sempurna, yang secara tidak sengaja dihasilkan oleh ketidakmampuan seorang ayah atau oleh pengaruh jahat dari angin selatan yang basah! Pada simpul ini kita mengamini bahwa perjuangan demi kesejahteraan kaum ibu dan anak (juga kaum yang lemah) adalah perjuangan peradaban yang menjadi tanggung-jawab setiap individu. Pria dan wanita mengembangkan tugas terberi untuk menyucikan kehidupan ini demi kelanjutan generasi yang berkualitas, sehat rohani dan jasmani. (Beny Uleander/KPO EDISI 146/FEBRUARI 2008)
Read More

Senin, Februari 04, 2008

Beny Uleander

Biofuel: Antroposentris Vs Ekosentris

Penggunaan energi terbarukan yang berasal dari bahan bakar nabati (biofuel) sangat terlambat dikembangkan di Indonesia. Biofuel adalah hasil pemanfaatan energi biomassa yang dikonversi menjadi bahan bakar. Biofuel bisa diproduksi dari kelapa sawit, tebu, jagung, singkong, tanaman jarak dan beberapa tanaman lainnya. Biofuel terbagi dalam tiga jenis: bioethanol, biodiesel, dan biogas.
Negara-negara maju dan berkembang lainnya sudah memproduksi energi biofuel seperti Amerika, Brasil, Swedia, Jerman, Australia, Cina, dan Ghana untuk menunjang aktivitas ekonominya. Brazil telah menggantikan bahan bakar untuk transportasi dengan ethanol dari bahan dasar tebu. Sedangkan Amerika memproduksi ethanol dengan menggunakan bahan baku jagung.
Indonesia memang selalu tertinggal dalam mengembangkan dan mengadopsi sebuah teknologi baru terutama di bidang pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam. Anehnya, sejak program pengembangan biofuel baru ditetapkan tahun 2006, gemanya kini melemah dan terkesan menghilang. Ada apa? Padahal para peneliti menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk pengembangan energi biofuel yang menyerap tenaga kerja dan menunjang perekonomian nasional. Selain itu masih terdapat ribuan hektar lahan tidur yang bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Terkait glamoritas wacana bioenergi, ada beberapa catatan kritis yang perlu dipertimbangkan matang oleh pemerintah dan sektor swasta yang ingin berinvestasi mengembangkan energi terbarukan dari minyak nabati. Perlu dikaji titik-titik matra antroposentris vs ekosentris pengembangan biofuel agar kebijakan yang berjalan kelak tidak tambal sulam. Pemilihan energi alternatif bertolak dari kesadaran ekologis atau lahir dari rasa cemas (manusia) akan keberlangsungan roda ekonomi.
Pertama, kita perlu memperhitungkan aspek ketersediaan bahan baku biofuel. Sebab akan terjadi tarik-menarik prioritas pemenuhan pasokan bahan baku seperti jagung, kedelai dan CPO/kelapa sawit untuk kepentingan pangan atau industri biofuel. Saat ini harga kedelai meningkat karena kedelai impor asal Brasil sebagian digunakan untuk menghasilkan bioethanol. Demikian juga harga minyak goreng akan terus naik karena sawit juga menjadi bahan baku industri biofuel.
Kedua, kebutuhan energi biofuel sangat besar karena digunakan setiap hari. Tentu saja kapasitas produksinya berskala besar dengan suplai bahan mentah yang sangat banyak. Itu berarti dibutuhkan areal penanaman bahan baku yang sangat luas. Padahal masa panen jarak, misalnya, hanya dua kali dalam setahun. Bila hal ini tidak diperhitungkan, maka akan terjadi penebangan hutan dan alihfungsi lahan pertanian untuk tanaman industri biofuel. Bukankah akan terjadi krisis pangan dan kehancuran ekologi bila hal ini tidak dikelola dengan bijak? Biofuel hanya membantu kita dalam hal pengadaan bahan bakar alternatif, tapi tetap tidak bisa memberikan solusi perbaikan kualitas lingkungan secara signifikan.
Ketiga, ada terobosan teranyar biofuel generasi kedua. Uniknya, bahan baku berasal dari limbah cair, residu, serta tanaman nonpangan. Tentu saja pemanfaatan limbah cair “perkotaan” ini sesuai dengan kondisi riil Indonesia. Selain itu tidak mengganggu tanaman tebu, jagung, kedelai, minyak sawit, ataupun bahan baku yang membutuhkan area lahan seperti biji jarak pagar. Teknologi generasi kedua biofuel ini memadukan teori biologi, kimia, maupun fisika mengolah limbah cair dari aktivitas rumah tangga, industri, perdagangan, pertanian, maupun fasilitas umum seperti rumah sakit menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan.
Bahkan gas metana yang berasal dari sampah bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen sebagai bahan bakar bio-fuel cell. Gas metana begitu melimpah di sekitar kita mengingat cara pembuangan sampah banyak memakai sistem open dumping. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tidak perlu lagi mengimpor gas metana untuk keperluan produksi bahan bakar hidrogen seperti yang dilakukan selama ini.
Kita perlu bertanya apakah anjuran pemerintah bagi rakyat untuk menanam jarak hanya untuk memenuhi permintaan industri biofuel Eropa? Hal ini beralasan mengingat parlemen Eropa tengah menggodok UU yang akan membebaskan pajak masuk bagi bahan baku nabati. Sebaliknya, bahan baku minyak bumi akan dikenai pajak 70 persen.
Pada konferensi dunia Biomassa untuk Energi dan Perubahan Cuaca II di Roma, tahun 2003, Volkswagen-Exxon Mobile menyebutkan bahwa berdasarkan jenis bahan bakar dan otomotif yang akan mendominasi pasar, dunia akan dihadapkan pada empat generasi bahan bakar transportasi. Generasi Pertama, merupakan generasi bahan bakar minyak (BBM) berbasis petroleum (minyak bumi) yang diperkirakan akan mendominasi pasar hingga tahun 2010. Generasi Kedua, merupakan generasi BBM mix atau campuran antara BBM terbarukan dan BBM petroleum yang saat ini telah cukup banyak digunakan, dan diperkirakan akan bertahan hingga tahun 2050. Masa ini ditandai dengan komersialisasi biodiesel dan bioethanol.
Generasi Ketiga, merupakan generasi BBM terbarukan (advance synthetic fuel), seperti flash pyrolisis oil (bio oil), Fischer Tropsch (FT) methanol, dan hydro thermal upgrading oil (HTU). Teknologi pembuatannya lebih sulit dan memakan biaya produksi yang tinggi. Produk ini diperkirakan baru akan ekonomis pada kisaran tahun 2050-2100. Generasi Keempat, merupakan generasi hidrogen. Pada tahun 2010, setelah minyak bumi benar-benar habis, hidrogen diprediksikan akan menjadi andalan, mengingat bahan ini memiliki nilai kalori yang tertinggi (143 MJ/kg) di antara sumber energi lainnya. Nilai kalori satu liter hidrogen setara dengan empat kali nilai kalori lima liter bensin atau empat liter diesel (solar). Semoga pemerintah Indonesia bijak membuat deregulasi yang mendorong tercapainya komersialisasi biofuel tanpa merusak hutan dan lingkungan sekitar. (Beny Uleander/KPO EDISI 145/FEBRUARI 2008)
Keterangan foto: Budidaya tanaman jarah sudah mulai dikembangkan di Nusa Penida, Klungkung, Bali. Di pulau berstatus kecamatan tersebut juga telah dibangun pembangkit listrik tenaga bayu dan surya.
Akankah penghuni bumi ini dengan aneka gaya hidup dalam glamour otomotif bersedia memanfaatkan kendaraan untuk menunjang aktivitas? Tidak gampang, dunia otomotif telah menjelma menjadi ruang rekreasi dan sketsa pencitraan gaya hidup.
Read More

Kamis, Januari 17, 2008

Beny Uleander

Robin Hood, Kusni Kasdut & “Suharto Hood”

Dalam kehampaan dan kebisingan makna hidup, manusia selalu tampil kuat perkasa melempar orientasi dan visi di langit mimpi, impian dan harapan. Di angkasa mimpi bertebar khayalan komik yang membuat kita terkagum-kagum akan pesona Superman, Hulk, Batman dan kini Harry Potter. Dalam bilik-bilik legenda, kita disajikan kisah-kisah heroik Werdukoro alias Bima, Tarzan, Zoro, Winnetou kepala suku Indian Mescalero-Apache dengan tokoh Old Shatterhand, manusia free-man Robin Hood atau sosok preman Ignatius Kusni Kasdut.
Di atmosfer impian, kita melihat sepak terjang sensional dan penuh guratan visi para negarawan yang humanis maupun otoriter. Pernahkah kita membayangkan Che Guevara berpelukan dengan Goerge Bush? Martin Luther King bersalaman dengan Adolf Hitler? Atau Ibu Teresa dari Kalkuta duduk semeja dengan Saddam Husein? Kita pasti membayangkan tidak mungkin dalam ranah diskusi pandangan-pandangan mereka akan bersinergi bagi kemajuan masyarakat. Ada tokoh yang memperjuangkan kedaulatan dan identitas kelompok dengan menindas dan meniadakan (genosida) ras dan kelompok lain. Ada pemimpin yang awalnya humanis lalu tergoda kekuasaan sehingga makin membuat rakyatnya menderita. Ada anak manusia yang terobsesi oleh keindahan hidup dalam kebersaman sebagai harta abadi kehidupan. Raga manusia memang fana, tapi jiwa manusia adalah pesona kesucian yang tersamar oleh dengki, terbungkus oleh doktrin-doktrin sesat dan pendidikan yang keliru.
Itulah sebabnya di belahan dunia ini selalu lahir tokoh-tokoh besar. Kiprah mereka sangat orisinal dengan berorientasi pada pemanusiaan manusia itu sendiri. Ada Gandhi di India, Paus Yohanes Paulus II di Eropa, Muh Yunus di Bangladesh, Cak Munir di Indonesia, dan masih banyak lagi guru-guru kehidupan yang menyinari lingkungan tempat mereka tinggal.
Manusia-manusia besar dalam sejarah adalah sekelompok kecil orang yang mampu menggerakkan orang lewat visi yang hidup. Mereka merebut hati saudara dengan kasih yang tulus. Mereka memberdayakan sesamanya dengan terobosan ekonomi kerakyatan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat bukan profit-oriented. Mereka dihormati bukan karena harta tapi jejak-jejak luhur jasa-jasanya. Dalam lubuk hati mereka tidak ada terbersit secarik niat bulus untuk mengeksploitasi atau memanfaatkan kelebihan maupun kelemahan sesamanya.
Jenderal Suharto telah terdaftar sebagai salah satu manusia besar dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Ia efektif memerintah 30 tahun dari tahun 1968 hingga Mei 1998. Ia terkenal dengan konsep wawasan nusantara yang mengarah pada stabilitas dan nasionalisme yang direkat kuat nilai-nilai Pancasila. Usai diturunpaksakan oleh aksi demo mahasiswa setanah air, Suharto hingga saat-saat kritisnya –pergulatan dan tawar menawar dengan maut- dihujat dan didemo agar semua tuduhan pelanggaran HAM dan korupsinya dimejahijaukan.
“Generasi MTV” yang lahir tahun 1980-an pasti bertanya siapa sih opa Suharto itu? Dalam seri biografi Intisari “Reaching the Best”, Mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew menulis dengan kehalusan rasa detik-detik kejatuhan Rezim Orde Baru. “Saya sedih menyaksikan di televisi akhir tragedi pada pukul 09.00, tanggal 21 Mei 1998, saat Suharto menyatakan pengunduran diri dan menyerahkan kepemimpinan kepada BJ Habibie. Ia kehilangan segala pembelaan. Setidaknya sampai 48 jam sebelum mundur jadi presiden, tak ada satupun kekuatan yang menginginkan ia berhenti di tengah jalan. Sungguh sebuah kenyataan pahit. Tokoh yang mengangkat Indonesia menjadi macan ekonomi yang baru bangun, yang mendidik bangsa dan membangun prasarana bagi masa depan, terjungkal oleh ketidakmampuannya mengendalikan diri. Ia membiarkan ketidakadilan berkembang, dan pasa saat kritis salah memilih orang dalam posisi penting. Padahal selama 30 tahun ia menunjukkan kualitas tinggi dalam menilai situasi dan memilih orang-orangnya.”
Ya Suharto seperti Robin Hood dari hutan Sheerwood, Nottingham yang tetap dikenang sebagai pahlawan dan penjahat. Ada perbedaan di antara mereka. Robin Hood sering melakukan aksi perampokan terhadap orang kaya. Lalu ia membagikan hasil jarahannya kepada rakyat miskin. Kondisi orang kaya pada saat itu adalah penindas rakyat kecil. Di mata pemerintah ia adalah penjahat, sedangkan di memori rakyat kecil ia adalah seorang pahlawan.
Di Indonesia ada juga bandit Kusni Kasdut yang merampok dengan membunuh korbannya. Ia membagi-bagikan hasil rampokkannya kepada orang-orang miskin. Ia akhirnya diadili dan dimasukkan ke penjara Cipinang Jakarta dengan hukuman seumur hidup. Ia sempat melarikan diri, akhirnya ditangkap kembali dan dijatuhi hukuman mati.
Sementara Suharto dituduh mengkorupsi uang negara dan melakukan pelanggaran HAM. Ada tudingan bahwa sekian juta uang haram itu disumbangkan ke berbagai yayasan sosial selain untuk mengenyangkan perut seluruh isi keluarga. Juga sebagian harta haram itu dibagikan kepada kroni-kroninya. Semuanya harus dibuktikan secara hukum dengan melihat segi keadilannya. Dan kalau korupsinya terbukti di pengadilan, maka tak ada salahnya harta korupsi itu dibagi-bagikan kembali ke rakyat. Dan kalau ada pelanggaran HAM yang telah dilakukan Rezim Suharto, maka sebagai bangsa yang besar kita menata jembatan rekonsiliasi nasional. Roh hukum adalah keadilan bukan pembalasan dendam.
Roh keadilan membantu bangsa ini meretas harapan hidup! Generasi baru lebih fokus mengejar keunggulan kompetitif agar dapat bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya. Akankah mereka kembali menulis kisah fiksi bahwa Suharto duduk semeja dengan Wiji Thukul membahas masalah seni, budaya dan perubahan kosa kata bahasa Indonesia seperti kata “semangkin”, “daripada” dan frase “klopencapir”?(Beny Uleander/KPO EDISI 144/JANUARI 2008)
Read More

Senin, Desember 31, 2007

Beny Uleander

Sayonara Mobil Mewah!

Alur seni terpatri sebagai jalur gelinding produktivitas keindahan yang mengalir dari kehalusan jiwa. Kedalaman kontemplasi memberi bobot pada pemaknaan karya seni yang diprodusir manusia. Demikian pula arsitektur otomotif menulis kisahnya sendiri. Semula denyut otomotif adalah dorongan keinginan anak manusia untuk menggampangkan hidup. Putaran lamban roda dokar yang mengandalkan tenaga kuda menimbulkan rasa geram ilmiah. Lantas mulailah diletakkan dasar-dasar pengembangan industri otomotif.
Definisi eksplorasi otomotif beranak-pinak pada ragam desain power mesin. Adu kecepatan, ketangkasan dan ketangguhan performa mesin. Itulah babak awal mengupas tekstur otomotif yang bertumbuh cepat, liar dan kadang sedikit galak. Pada dimensi ini, manusia belum berpikir soal batasan dan rajutan moral yang perlu dibangun dalam memaknai tumbuh kembang produk otomotif. Apakah manusia sebagai raja yang menentukan batas-batas pertumbuhan kendaraan roda dua dan empat? Ataukah laju kreativitas desain rangka dan interior sudah menjadi milik mesin waktu? Manusia hanyalah robot berakal budi yang selalu menggelar pesta syukuran dengan kelahiran-kelahiran kendaraan dari pabrikan Eropa dan Asia. Itu babak awal masa kecil “dunia otomotif”. Lalu apa yang terjadi pada babak selanjutnya?
Perlahan tapi sistematis, daya pacu mesin mulai dibarengi dengan mutu desain. Sinergi seni dan ilmu sukses merangsang hasrat kita untuk tak pernah puas membeli “label-label otomotif’’ geberan baru. Branding mode dan nama melekat erat dengan status sosial maupun cetusan gaya hidup. Seorang jutawan identik dengan kemewahan BMW. Tidaklah pantas dan humor gila bila konglomerat plesiran dengan mobil pick up L-300. Seting satir inilah yang cerdas digunakan para pebisnis yunior. Saat melakukan deal bisnis mereka menyewa sedan mewah dari rental untuk bertemu dengan partner bisnisnya. Apalagi yang dipertaruhkan kalau bukan prestise dan ingin mendongkrak gengsi bukan pebisnis melarat! Itulah ruang eksistensi otomotif di era akil balik.
Dan, fitur-fitur simbolis inilah yang memancing pelaku advertising melontarkan deretan kata-kata indah, menantang dan menggoda konsumen untuk mencoba sebuah produk otomotif terbaru. Memang pilihan adalah selera yang terbangun oleh desakan rayuan bahasa iklan yang datang bertubi-tubi. Jangan kaget bila konsumen kerap kaget lalu kecewa usai menikmati tunggangan mesin mereka. Ada kendaraan yang melaju bagaikan angin tornado, namun dengan “nakal” menguras kantong tuannya untuk selalu singgah di tempat pengisian bahan bakar. Selera tidak ada yang gratis.
Rupanya perguliran jaman tidak selalu memihak keindahan desain, termasuk kemewahan mobil yang dipuja BMW, Mercedes hingga Ford. Itulah realitas fantastik yang tumbuh secara terpaksa oleh situasi dan kondisi. Ketika harga BBM dunia merangkak naik, konsumen memalingkan wajah dengan ekstrim dari mobil mewah. Pilihan publik mulai merujuk pada kendaraan generasi terbaru yang hemat pemakaian bahan bakar.
Tahun 2007 menjadi catatan merah untuk pasar mobil bekas di Denpasar dan kota lainnya di Indonesia. Daya beli konsumen tergolong sangat lesu. Sementara konsumen sudah melambaikan salam perpisahan kepada cuap-cuap bombastis bahasa iklan di televisi, radio dan koran. Mereka dengan cermat memilih kendaraan yang lebih efisien, suku cadang (spare part) yang murah dan hemat konsumsi bensin maupun solar.
Inilah tamparan situasi yang menohok kemewahan mobil Eropa. Selera pasar lebih memilih produk keluaran Jepang ketimbang Eropa seperti BMW, Mercy, VW dan Jaguar. Kalau di era akil balik, konsumen lebih takjub dengan tampilan bodi dan daya pacu tanpa melihat susahnya mencari spare part serta tingkat keiritan BBM. Belakangan justru terbalik. Mobil dengan tawaran mewah malah dipandang sebelah mata.
Otomatis produsen otomotif dipacu mencetak sketsa dan kanvas mesin ekologis. Pada akhirnya, arsitektur industri otomotif harus dibingkai dalam kesadaran moral ekologis. Hal ini dengan elegan diungkap pemenang Nobel Perdamaian 2007 Al Gore. Sekarang saatnya penghuni bumi dengan rasa senang dan bangga merayakan kesempatan untuk menata hidup yang berpihak pada kelestarian lingkungan, penurunan emisi karbon dan pemanfaatan energi alternatif.
Dan, sesungguhnya alam adalah bentangan kemurahan karunia kehidupan dalam segala kelimpahan. Tinggal manusia kembali mengasah ilmunya untuk mencari energi alternatif yang tersedia di alam. Juga para produsen otomotif mulai merumuskan kerangka tumbuh kembang industri otomotif yang berpihak pada masa depan anak cucu. Kita menanti kehalusan jiwa mereka yang ditakdirkan berbakat mengembangkan industri otomotif. Saatnya ilmu dan seni kembali dipadukan untuk penyelamatan planet bumi yang kian keropos ini. Memang kita tidak berkawan dengan matahari dan bukan sahabat bulan. Ide dan daya ciptalah yang membuat matahari ramah menyinari 365 hari, di tahun 2008. (Beny Uleander/Sketsa Otomotif MONTORKU EDISI 59/DESEMBER 2007)



Read More

Sabtu, Desember 29, 2007

Beny Uleander

Revolusi Hijau Jilid II

Ada selarik harapan yang terujar dalam kesepian, serajut impian yang terkubur dalam keheningan, serangkum kecemasan yang menggelayut di dinding waktu. Itulah suara prediksi Robert Thomas Malthus (1766-1834). Pertumbuhan penduduk berdasarkan deret ukur, tapi kemampuan alam menyediakan kebutuhan manusia seperti deret hitung.
Bertebar momen yang terekam apik dalam sepenggal episode, indah dalam kesan, tak bosan untuk dikenang dan abadi untuk dipahat dalam loh hati. Itulah sekelumit kisah “Revolusi Hijau” yang indah untuk dikenang, bukan karena semarak kisah sukses, tapi karena petani tidak berkawan dengan kesejahteraan, rasa kenyang bukan sahabat karib rakyat kecil-buruh-jelata dan lahan tandus kurus terkapar loyo dari Sabang hingga Merauke.
Umat manusia (pemerintah/swasta/LSM) berlari menghindari “tsunami Malthus” yaitu ancaman bencana kelaparan global. Lantas beragam pola, teknik dan program meningkatkan ketahanan pangan diretas peneliti dan akademisi di laboratorium penelitian.
Di saat pola pertanian kita masih berskala sub sistem --tanam untuk keperluan perut, dibagikan ke tetangga dan kalau ada kelebihan baru dijual di pasar tradisional--, pemerintah meretas visi peningkatan produktivitas
pertanian tradisional diarahkan ke industri pertanian. Gema Revolusi Hijau yang sukses di Meksiko dan Filipina, lalu pada tahun 1970-an dipinang Indonesia untuk meraih kemandirian pangan dengan nama Bimas.
Padi (karbohidrat) menjadi anak tunggal swasembada pangan yang dikembangkan di seluruh negeri. Tahap awal adalah meretas teknik-teknik pertanian yang efektif untuk meningkatkan kuantitas pangan. Salah satunya adalah teknik pemupukan dengan menggunakan pupuk-pupuk modern (kimiawi). Mulailah saat itu, petani di berbagai daerah mengenal betul jenis, sifat, penggunaan dan manfaat pupuk kimia dan pestisida bagi kesuburan tanaman.
Memang ada parade kemenangan yang dituai dari Revolusi Hijau. Surplus pangan terjadi di mana-mana. Bahkan dengan gagah, pemerintah Indonesia mengirim bantuan beras bagi rakyat Vietnam yang saat itu mengalami paceklik pangan. Ada program subsidi terhadap pupuk, kredit pertanian, penetapan harga dasar gabah, diberdirikannya Bulog, pembangunan irigasi dari pinjaman luar negeri, penanaman bibit yang seragam, hingga penyuluhan.
Ternyata, 35 tahun kemudian, tepat tahun 2005, bangsa Indonesia menerima kiriman beras impor dari Vietnam dan Thailand. Apa yang terjadi selama kurun waktu yang panjang itu? Mengapa negeri yang awalnya kaya raya dengan tanah yang luas dan subur lalu tertimpa musibah kelaparan?
Pakar pertanian dan hortikutural dengan gamblang menyebut praktek pertanian berbasis pupuk dan pestisida kimiawi sebagai keruntuhan mazhab Revolusi Hijau. Air dan tanah rusak karena penggunaan pestisida dan pupuk yang tidak terkendali. Lambat laun alam jadi rusak dan produk pertanian pun tidak bebas dari racun kimia. Ujung-ujungnya pestisida meracuni tubuh manusia.
Revolusi selalu melahirkan kontra revolusi. Demikian pula kemegahan kerajaan Revolusi Hijau mulai digusur ekspansi Revolusi Organik dengan slogan mendunia, back to nature. Masyarakat modern, terutama negara maju di Eropa dan Amerika serius merintis produk-produk pertanian organik. Tapi di Indonesia kebijakan pertanian organik belum memiliki blue print (cetak biru) dalam hal: aplikasi teknologi pertanian yang ramah lingkungan. Hampir semua gerakan dan perjuangan kelompok tani maupun LSM kini menyuarakan kata: pertanian organik, tanaman organik dan pupuk organik. Namun mengapa lahan pertanian kian tandus dan berita busung lapar terungkap dari daerah dekat istana negara sampai pedalaman Irian Jaya?
Rupanya sinergi advokasi kalangan LSM dan swasta amat rapuh. Sama-sama bersiul tentang pertanian organik, tapi saling menjelekkan-jelekkan produk dan teknik pertanian yang ramah lingkungan. Di tengah kegamanan situasi pertanian nasional dan kerusakan lingkungan hidup, Koran Pak Oles memantapkan kembali kiprah awalnya sejak terbit Mei 2000 silam. Mulanya bernama Warta Oles sebagai media cetak dengan format sederhana untuk mensosialisasikan semboyan Organik, Lestari, Sehat dan Sejahterah (OLES).
Semboyan ini lahir seiring dengan visi Dr Ir Gede Ngurah Wididana, M.Agr merintis pertanian organik berbasis teknologi effective microorganisms, sejak tahun 1990. Teknologi EM kini telah diterapkan lebih dari 160 negara di dunia. Di Jepang dan Thailand, teknologi ini didukung pemerintah. Dan, teknologi temuan Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus Okinawa ini, sudah diaplikasikan sebagian kalangan petani di Indonesia menuju Revolusi Hijau Jilid II. Produktivitas tanaman meningkat, kesuburan tanah diperbaharui dan tentunya kita mulai mengonsumsi produk organik. Karena itulah, menyambut perguliran tahun 2008, redaksi Koran Pak Oles memfokuskan areal liputan pemberitaan di bidang pertanian organik, kesehatan organik dan pengembangan industri yang ramah lingkungan. Semoga komitmen ini kian mendorong pemerintah dan petani meninggalkan teknik pertanian yang merugikan kesuburan tanah, tanaman dan kesehatan manusia. (Beny Uleander/KPO EDISI 143/DESEMBER 2003)
Read More

Kamis, Desember 20, 2007

Beny Uleander

Kiamat Kecil Di Nusa Dua


Dalam komunitas agama, tema hari kiamat diungkapkan dalam ragam versi dan kisah. Kadang ada alur ungkap yang mengerikan soal akhir dunia. Bencana dahsyat menghancurkan bumi dan segala isinya. Goncangan gempa mahadashyat dan tsunami ganas menelan hahis semua yang hidup dan tinggal di daratan. Bumi terbelah. Jerit tangis menyayat hati menjadi balada terpilu.
Ramalan tentang hari kiamat memang menakutkan. Kesalehan kerap dipupuk lewat jalinan ramalan apokaliptik yang menggentarkan hati. Lantas amal saleh dan doa tulus dijadikan “tameng” kokoh dan “jalan tol” yang menghantar jiwa-jiwa tak berdosa menuju kehidupan baru. Sementara ganjaran dosa dan siksa neraka sering dipakai para guru agama untuk memotivasi umatnya menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik dan benar.
Isu kapan tibanya hari kiamat dalam sejarah klasik maupun modern-global saat ini menjadi iklan sabun yang mudah meninabobokan para pemeluk agama konvensional beralih ke aliran atau sekte baru. Ada kelompok kepercayaan yang membangun doktrin baru, hari kiamat akan tiba. Waspadalah….waspadalah….waspadalah….
Doktrin hari kiamat atau akhir dunia amat mudah dipercaya kelompok masyarakat di suatu wilayah/negara yang miskin. Beban hidup yang mahaberat menemukan gerbang pembebasan pada hari kimat yang bakal tiba. Kerja keras mencari sesuap nasi diganti dengan doa intens menanti detik-detik hari kiamat. Rasa lapar dan haus diabaikan.
Kata kiamat memang berasal dari bahasa Arab yang berarti bangkit atau bangun. Dalam kepercayaan Yudaisme, Islam dan Kristen, hari kiamat adalah gerbang menuju hari akhirat. Manusia akan diadili dan diberikan pembalasan yang sewajarnya dengan perbuatan mereka semasa mereka hidup. Momen Allah mengambil orang-orang yang baik untuk kehidupan yang baru.
Dalam perspektif agama, hari kiamat bisa didefinisikan sebagai hari keputusan, perhitungan, pengadilan, perpisahan, pengumpulan, penyesalan, kebangkitan atau hari terbukanya aib. Ya hari kiamat adalah hari yang agung dan muara abadi dari kerinduan umat beragama dari tradisi Nabi Ibrahim AS.
Rupanya tanda-tanda kiamat juga mulai tercium di Nusa Dua, Bali. Ya, nama Nusa Dua kini menjadi “buah bibir” masyarakat dunia. Tempat wisata eksklusif dengan hotel-hotel mewah ini menjadi saksi sejarah pertemuan penghuni planet bumi ini membicarakan kelangsungan hidup mereka.
Selama berlangsung Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Nusa Dua dari tanggal 3 Desember hingga “molor” sehari, sampai 15 Desember ini, setiap hari ada parade demo. Koalisi masyarakat peduli keadilan iklim dan aktivis lingkungan hidup mancabenua berupaya mengangkat “luka-luka” lingkungan hidup. Planet bumi sedang “demam berat” ini terungkap di areal perkampungan Bali. Sayang, pengakuan dan ungkapan kesaksian soal duka derita yang dialami penduduk di negara-negara miskin akibat perubahan iklim tidak bergemuruh di arena sidang. Itulah realitas yang menyedihkan dari kehebohan ajang akbar UNCCC di Bali.
Pertemuan yang diikuti 9.575 peserta dari 185 negara awalnya diharapkan sukses membuat dokumen Bali Road Map atau Peta Jalan Bali. Nyatanya diskusi transfer teknologi dari negara maju ke negara berkembang untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berlangsung alot. Pembahasan peningkatan target penurunan emisi di negara maju gagal disepakati. Dalam konferensi tersebut negara-negara maju dituntut meningkatkan kewajiban menurunkan emisi sebanyak 5 persen menjadi 25-40 persen dari tingkat emisi tahun 1990.
Kiamat kecil memang terjadi di Nusa Dua. Kegelisahan memaknai perubahan iklim yang kian ekstrem di muka bumi berubah menjadi diskusi ekonomi. Konferensi di Nusa Dua dikritik Direktur Walhi Pusat Chalid Muhammad telah berubah menjadi konferensi perdagangan karbon oleh negara maju, kaum kapitalis-pengusaha, World Bank, Asian Development Bank dan calo-calonya. Bencana yang memilukan dari perubahan iklim dipicu oleh gaya hidup modern yang konsumtif, mewah dan tidak ramah lingkungan.
Seharusnya, konferensi menjadi kiblat kesadaran bahwa planet bumi yang sudah tua ini sedang sekarat. Tapi yang terjadi? Kerakusan (nafsu jahanam kapitalisme) dan kebutaan hati membuat delegasi AS seolah tutup mata dengan aneka bencana yang mulai dinikmati penduduk di negara-negara miskin. Bahkan dengan angkuh, AS melihat upaya penurunan emisi karbon sama artinya dengan ancaman kelangsungan percepatan pertumbuhan ekonomi. UNFCCC gagal merumuskan penurunan emisi karbon. Gugurlah harapan masyarakat dunia yang memprihatinkan efek rumah kaca.
Apalah artinya kesejahteraan bila bumi tempat pijak hancur? Apalah artinya hidup nyaman bila alam lingkungan kerap dilanda bencana? Apa untungnya kemajuan ekonomi tapi akhirnya manusia sendiri yang menjadi actor terciptanya hari kiamat.
Dalam ranah agama, hari kiamat sepenuhnya dalam kuasa Allah, tapi dalam alur perubahan iklim, kehancuran planet bumi ini dalam genggam kuasa negara-negara maju yang arogan. Tidaklah salah bila parodi Republik Mimpi membahas Skema REDD yang menganjurkan negara berkembang untuk menanam pohon (deforestasi) penuh dengan ungkapan satir. REDD diplesetkan secara cerdas oleh mantan presiden dan penguasa Republik Mimpi; Suharta, Habudi, Megakarti, Gus Pur dan Wakil Presiden Jarwo Kuat. Tapi ada benarnya juga. Para peserta dan negara yang tidak peduli dengan krisis perubahan iklim layak disebut penjambret, kutu kupret atau kampret. Arena konferensi pun menjadi arena goyang dombret yang miskin aksi nyata. Bahkan Habudi yang berwawasan high tech menyebut UNFCCC di Nusa Dua tidak menghasilkan komitmen apapun karena pesertanya RED DEVIL; setan-setan; sebuah julukan kesayangan untuk tim setan merah Mancheser United. Aksi jambret kekayaan hutan dan isi bumi dilakukan setan-setan merah; aktor intelektual kiamat kecil di Nusa Dua. (Beny Uleander/KPO EDISI 142)
Read More

Rabu, Desember 05, 2007

Beny Uleander

Salam Hangat Hok Gie

Hasrat tak bertepi menggugah nurani kesadaran Soe Hok Gie. Kerapkali dalam kesendirian dibalut keheningan daerah pegunungan, pemuda kelahiran 17 Desember 1942 ini bertanya dalam diam. “Apa itu sebuah cita-cita penuh gelora muda?” Kegundahan pemuda Gie bermuara pada gaya hidup generasi muda pada zamannya. Semangat mereka berapi-api membicarakan kecurangan penguasa, tapi miskin aksi. Visinya mengkilat di langit idealisme, tapi kelimpungan menerapkan misi. Mimik pidato mereka amat meyakinkan, setelah turun mimbar mereka cengar-cengir mabuk, dugem, bolos kuliah dengan alasan bahwa seorang aktivis berada di luar kampus.
Kaum muda memang berjiwa progresif namun hanya segelintir orang yang memiliki inovasi nilai. Itulah sebabnya, Hok Gie rajin memprodusir teropong kesadaran konseptual soal peran dinamis dan potensial kaum muda di ranah kehidupan berbangsa dan bernegara. Gerak dinamis pemuda bukan gerakan sloganistis dengan pakem-pakem hiperbola. Saat ini kita membutuhkan kiprah kaum muda yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Itulah guratan inovasi nilai yang membuka ruang kesadaran gerak kaum muda Indonesia bukan saja pada zaman Gie, tetapi juga saat ini. Dan, Gie telah lantang mengumandangkannya dalam barisan tulisannya.
Padanan konseptual pemuda dan patriotisme memang harus terus ditafsirkan secara baru di setiap jaman. Hanya esensi patriotisme tidaklah berubah, tetap satu dan sama, yaitu keberpihakan kepada kepentingan rakyat. Karena itu, paradigma kaderisasi kepemimpinan nasional harus dikawal dalam sebuah “rel ideologi”. Sebab karakter bangsa ini amat mudah melupakan sejarah masa lalu, termasuk sejarah keluarga dan diri sendiri. Akibatnya bisa kita rasakan saat ini. Kaderisasi pemuda dipatok sebatas regenerasi jabatan politis di tingkat partai dan ormas. Selanjutnya, pewaris jabatan ikut serta mewarisi bakat korupsi, bermental instan, menggampangkan pekerjaan dan mencari selaksa pemasukan demi gaya hidup elitis. Itulah realitas saat ini yang pasti akan dikecam Hok Gie, kakak kandung sosiolog Arief Budiman, bila ia masih hidup.
Memasuki tahun 2008, wacana kepemimpinan nasional kembali mencuat seiring kian dekatnya suksesi kursi kepresiden. Di tengah hingar-bingar tebar pesona politisi gaek ataupun negarawan tua, ada satu ruang kesadaran yang amat kosong melompong yaitu kaderisasi pemimpin visioner. Kaderisasi pemimpin nasional ditiupkan ke tengah publik tanpa busana ideologis.
Selama ini diskusi kaderisasi dipetakan secara dangkal sebatas “kader-kader partai”. Fenomena banyaknya politisi pusat yang turun ke daerah memperebutkan kursi di kabupaten dan propinsi menjadi tanda bahwa partai gagal atau tidak punya konsep melahirkan pemimpin yang berkualitas di daerah. Itu salah satu contoh bahwa kini partai politik yang ada tidak memiliki visi yang matang soal kaderisasi pemimpin visioner. Memang di alam demokrasi, kita tidak bisa menampik peran partai sebagai esensi kedaulatan rakyat dan yang melahirkan pemimpin.
Pemimpin visioner adalah pemimpin, entah tua atau muda, yang menjadikan penderitaan rakyat sebagai kepedihan jiwa, aset-aset bangsa sebagai warisan pusaka di jari manisnya dan tegas menolak ekspansi kapitalis yang kerap menghancurkan kedaulatan negara.
Bagaimanakah mencetak pemimpin visioner yang militan? Inilah panggilan bagi kaum muda saat ini untuk berbenah diri baik dalam konsep, ruang gerak, cita-cita dan ambisi politik, tentunya. Negeri ini mendambakan kaum muda yang berpolitik dengan konsep matang mewujudkan Indonesia yang mandiri di bidang budaya (kepribadian), sumber daya alam (ekonomi) dan kemerdekaan hak asasi (tumpas pemiskinan hak-hak rakyat kecil).
Pemimpin visioner adalah pemimpin revolusioner yang mengagungkan kekuatan rakyat di pedesaan, menebar konsep membangun desa membangun bangsa. Inilah saatnya media massa sebagai pilar keempat demokrasi meretas kesadaran publik bahwa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan visioner.
Pemimpin visioner adalah cara baru kepemimpinan yang berpikir ke depan sekaligus merintis pola-pola dasar kemanusiaan. Artinya, rakyat tidak diasingkan dari hasil-hasil pembangunan, buruh tidak dialienasikan dari produk yang dihasilkan (anti kejahatan kapitalis) dan itu berarti pemimpin yang mampu mendorong rakyat di setiap daerah agar menghasilkan produk sendiri yang khas dan unggul.
Selama ini di tingkat partai politik bergulir kaderisasi koruptor, penjilat, penjahat berdasi, penindas rakyat, anti kemandirian, menyandarkan diri pada tipu muslihat kapitalis barat, dsb.
Segala ideologi yang menyengsarakan rakyat (manusia) harus dilawan. Pembangunan yang tidak berpihak kepada rakyat pun harus dihentikan dan dikoreksi. Saatnya kita menimba spirit dari puisi agung karya Soe Hok Gie dipublikasikan harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973:

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

(Beny Uleander/KPO EDISI 141)

Read More